
Baik Mirna dan Andy sama-sama disibukan oleh kedua matis. Lina dan yang lainnya berusaha membantu sebisa mereka. Mirna dihadang oleh matis pemimpin, walau segi penampilan sama seperti matis satu lagi, tetapi dia jauh lebih besar dan kekar, wajahnya sangar bisa membuat preman kota bandung lari terbirit-birit. Dia menyerang Mirna dengan keris berwarna perak dipegangan, ujung keris begitu tajam, tergores sedikit luka bisa dalam. Walau Mirna menghadapai dia dengan pedangnya, tetapi kecepatan matis jauh diatas Mirna, hingga membuat dia sekali pun terdesak.
Berbeda dengan Andy yang hanya membawa senjata api shotgus. Matis lawan dia mungkin tidak menggunakan keris sama sekali, tetapi dia jago silat, Andy sampai kesulitan menembak atau mengisi amunis karena matis tersebut terus menerus meninju dan menendang Andy, dia tidak akan membiarkan Andy menenbak sama sekali. Meski setiap serangan matis tidak berhasil mengenai atau melukai pemuda itu, tapi yaaa dia sama sekali tidak diberi kesempatan untuk menyerang balik.
“ Bayu, Lutfi, cepat bantu Andy. Aku akan bantu Mirna” perintah Lina.
Kedua pemuda itu, langsung berlari membantu Andy, mereka menambaki matis yang sedari tadi mengincar Andy. Tetapi tidak ada satu pun peluru yang mengenainya, lebih tepatnya dia menghindari seluruh tembakan tersebut dengan cari melompat, salto dan berputar. Matis berlari kencang, dia mendang kedua pemuda tersebut sampai menghantam pohon.
Andy terkejut, tendangan matis itu begitu kuat, jika saja dia kena tamat sudah. Sekarang si matis sosoknya menghilang.
“DINDA” teriak Andy terkejut plus panik.
Aku tau!, balas Dinda.
Tapi terlambat, sebuah pukulan meluncur tepat disamping kanan wajah Andy. Berkat shotguns dia masih bisa selamat walau sedikit terdorong kebelakang. Tetapi senjata itu hancur berkeping-keping.
Kekuatan mereka dalam wujud manusia benar-benar jauh dari saat berwujud harimau. Kedua pamuda yang tadi kena tendangan maut matis sampai sekarang masih belum tersadar, mereka pingsan?. Tapi dia tidak bisa mencemaskan orang lain untuk sekarang, si matis masih terus mengincar Andy. Satu-satunya senjata tersisa hanya satu handgus. Pukulan demi pukulan terus Andy hindari, tidak ada cela untuk membalas serangan.
“ini sulit tidak ada cela sama sekali” keluh Andy.
Terpaksa setiap pukulan, Andy mundur perlahan-lahan, tapi dia tau, tidak bisa terus menerus menghindar, apapun itu harus temukan cela untuk membalas sekarang.
Andy, arahkan matisnya ke pohon. Kata Dinda
“eehh?”
Andy kurang paham maksud dari Dinda, tetapi saat dia menengok kebelakang, ada pohon besar. Disini dia baru sadar dari ucapan Dinda, dengan susah payah Andy terus mundur dan mundur selagi berbagai pukulan diarahkan ke wajahnya.
Punggung Andy mengenai batang pohon, pas sekali pukulan diarahkan tepat kewajahnya, dengan cepat Andy menunduk kebawah. Tinju matis mengenai batang pohon sampai tembus kedalam. Tanpa buang-buang waktu, Andy tembaki matis tersebut bertubi-tubi tidak pake jeda. Peluru habis, harus diisi ulang. Tetapi, tepat dihadapannya, sebuah kepalan tangan seperti menggengam sesuatu. Wajah sinis dan dingin matis terus memandangi Andy, dari genggaman tangannya keluar butiran peluru!. Dia menangkap seluruh peluru dan menghancurkannya hanya dengan satu tangan.
“ini terlalu kuat” guman Andy.
Mirna terus membalas serangan matis selagi Lina menembakinya. Tetapi tidak ada satu pun dari sekarang mereka yang kena. Setiap tembakan dipantulkan, setiap tebasan ditangkis. Matis ini benar-benar kuat, bahkan saat dia menebas, Mirna sampai terdorong kebelakang dengan sangat cepat, jika itu orang lain yang kena pasti sudah terpantul.
Lina berlari kearah Mirna mengecek kondisi gadis itu, dia terlihat ok.
“dia kuat banget” kata Mirna.
“otot-otonya bukan pamer belaka” kata Lina.
Mirna langsung mendorong Lina kesamping sampai gadis itu terjatuh. Lina membuka mata dan melihat Mirna menahan sekarang si Matis, padahal sebelumnya posisi dia jauh, sekarang sudah ada tepat dihadapan Lina. Setelah berubah dalam wujud manusia, kekuatan mereka menjadi jauh lebih kuat dari wujud harimau.
Mirna terlepas dari serangan Harimau, dia membalas dengan tendangan, tetapi kaki Mirna ditangkap begitu saja, hal terakhir yang terjadi, Mirna dilempar kebelakang Lina. Lemparannya begitu kuat, tetapi Mirna berhasil salto diudara, meminilmalisir pendaratan fatal dan dapat mendarat dengan mulus. Kalau orang lain yang kena pasti sudah……
Tinju melayang tepat didepan wajah Lina, pas dia gunakan senapan sendiri untuk prisai. Tak terduga akan hancur begitu saja, namun gadis itu langsung menunduk dibawah lengan matis. Pukulan keras tepat mengenai dagu matis diikuti tendangan kaki ke perut. Memang tidak terlalu sakit. Tapi cukup untuk mengulur waktu. Setelah serangan itu, Lina melompat mundur kebelakang. Mirna sudah menyusul tepat disamping.
“kamu enggak apa-apa?” Tanya Lina.
Mirna mengangguk “engak apa-apa kok, tapi jujur saja”
“dia sangat kuat” kata Lina.
“apa perlu kita panggil tim backup untuk membantu?” Tanya Mirna.
“ aku merasa kalau memanggil tim backup malah memperburuk keadaan” jawab Lina.
“maksudnya?”
Mirna tidak pahan ucapan Lina, sampai dia melihat keadaan Andy yang jauh didepannya. Pemuda itu bertarung sendiri dengan matis, sedangkan kedua pemuda yang tadi membantu Andy malah terbaring tak sadarkan diri.
“manusia lemah, teu bisa nanaon[1]”
Lina dan Mirna sama-sama kaget, matis dihadapannya baru saja berbicara.
__ADS_1
“ngan sakieu hungkul maraneh tiasa ngalawan[2]” kata si matis.
Jelas-jelas dia meremehkan Mirna maupun Lina. Tanpa aba-aba, si matis langsung berlari dan menyerang Mirna. Serangan keris ditahan oleh pedang Mirna, keduanya saling adu senjata berkali-kali, atas, bawah, samping kiri, kanan, atas, kanan terus tanpa henti. Disisi lain Lina mengambil pistol cadangannya, dia isi amunisi peluru, ujung pistol dipasang peredam suara. Menunggu saat tepat ketika adu senjata menjadi longgar.
Serangan terakhir Mirna terdorong pelan kebelakang, keringat bercucuran ditambah dia sudah hampir lelah, tetapi si matis tidak menunjukan rasa lelah sama sekali. Sekali lagi hendak menyerang kearah Mirna.
Jleb…..
Peluru menembus lengan berotot matis, tetesan darah keluar, peluru kedua mengenai lengannya kembali. Tembakan Lina berhasil, karena matis terlalu fokus dia tidak sadar kalau ada satu orang mengawasi aga jauh dan lokasi dan menunggu untuk menembak. Ditambah karena Lina memasang penyadap suara sehingga suara tembakan tidak terdengar sama sekali oleh matis.
Matis tersebut awalnya dia sesaat sampai dia menunjukan wajah garang dan kesal. Sasaran dia berubah dan langsung mengincar Lina, sadar karena diincar. Lina langsung melompat dan berguling keaspal sebelum tusukan keris mengenai perutnya.
Selagi berjongkok, Lina balas menembak ditambah serangan tiba-tiba dari belakang oleh Mirna. Matis tidak berkutik sama sekali, dia menangkap seluruh peluru dengan tangan kosong. Sedangkan serangan Mirna ditahan oleh keris. Sang matis membalas serangan kedua gadis, Mirna dibalas dengan dorongan sikut sampai terpental, sedangkan Lina dia ditendang keras sampai terlempar, tendangan tersebut mengenai lengan kiri hingga patah.
Lina perlahan bangkit, tetapi hanya bisa terduduk dan menahan rasa sakit lengannya.
Lin kamu enggak apa-apa? Tanya Dinda.
“aku masih ok, tapi lengan kiriku patah” jawab Lina.
Lina harus bisa menahan rasa sakitnya lebih lama karena matis berjalan pelan kearahnya. dia mungkin tidak bisa bertarung dengan keadaan tangan seperti ini, tetapi jika dia tidak melawan akan jauh lebih parah lagi.
Ada yang menggelinding tepat dihadapan simatis, Lina tau benda apa itu, sebelum dia sadar, seseorang menari tangannya kebelakang diikuti cahaya silang dari benda tersebut, itu adalah bom cahaya.
Untuk saat ini Mirna berhasil bersembunyi bersama Lina, awalnya dia cemas sama Andy karena takut dia yang akan menjadi sasaran ketua matis, namun dari pengamatan Dinda, sang ketua matis tidak terlalu tertarik dengan Andy dan malah sibuk mencari kedua gadis tersebut, tambah dia juga memberitau kalau sekarang posisi Andy sudah terlalu terdesak dikarenakan dia memancing matis masuk kedalam halaman depan rumah orang, walau pemuda itu masih belum bisa membalas serangan dan hanya terus menerus menghindar.
“kalau seperti ini terus, kita tidak akan bisa menang” kata Mirna.
“iya, walau tadi ada kemajuan untuk menyerangnya, tetapi dia cepat belajar rupanya” kata Lina.
“memahami situasi dan belajar dari kesalahan dengan cepat” tambah Mirna.
“itu berarti, walau kita berhasil melukainya sekali, kedua kalinya pasti tidak mungkin” kata Lina.
Terpikir ide dalam benak Lina berkat ucapan Mirna. Lina ingat didekat ruang kesehatan ada ruangan seperti lab kimia walau digunakan untuk keperluan bedah, tetapi beberapa orang disana terkadang iseng mengekstrak racun ular untuk dibuat antibody racun, tetapi ada beberapa botol racun ular juga yang baru saja dikeluarkan dan belum bisa dijadikan obat, Jika Lina meminta racun tersebut untuk melawan matis harimau maka dia bisa melumpuhkan matis tersebut meskipun dia juga aga kurang yakin apakah efektif atau tidak. Tetapi tidak salahnya untuk dicoba.
“Dinda” panggil Lina.
Iya? Jawab Dinda.
“aku ingin meminta beberapa botol racun ular dari ruang lab” kata Lina.
Racun??? Dinda terkejut serius, tapi yakin nih?
“iya, aku ingin racunnya sudah disiapkan dalam 4 suntikan, lalu dikirim lewat drone. Kalau tim backup lagi yang bawa malah makan waktu”
Segera terdengar suara Dinda meminta staf yang disana untuk menyampaikan permintaan Lina ke ruang lab kimia, entah permintaannya tersebut diterima atau tidak, tetapi setelah beberapa saat menunggu Dinda memberi kabar kalau bagian lab Kimia sedang menyiapkan permintaan Lina dan dalam kurung waktu 10 menit sekotak isi 4 suntikan racun siap diterbangkan drone.
“pake racun, padahal itu disiapkan kalau ketemu matis yang bisa menggunakan racun, sekarang malah kita melawan dengan racun” kata Mirna.
“tidak ada pilihan lain” kata Lina “kita harus menggunakan apa yang kita punya”
“tapi kenapa minta 4, bukannya 2?” Tanya Mirna.
“2 lagi cadangan, takutnya…..tau lah” Jawab Lina
“aahh benar” Mirna memahami ucapan Lina.
Untuk sekarang, kedua gadis ini dihadapai dua pilihan, menunggu sampai drone muncul atau mengalihkan perhatian si matis sampai drone tiba. Walau ada dua pilihan yang bisa diambil tetapi keduanya sama-sama memiliki rasiko, si matis menghancurkan drone beserta paket berisi racun.
Eeehh teman-teman, aku pikir lokasi kalian sudah ketauan. Kata Dinda.
Ucapan Dinda benar, matis sudah dekat dengan mereka berdua, malah dia siap menyerang tepat kearah lokasi keduanya bersembunyi.
__ADS_1
“mampus kita” kata Lina.
Andy tidak habis-habisnya berdansa bersama matis didepannya (saling serang menyerang tapi tidak ada satupun yang kena satu sama lain). Walau dia sudah mencoba berbagai serangan untuk melukai matis, tidak ada satu pun yang kena, dan itu hampir membuatnya frustasi. Dua laki-laki yang tadi membantu dia, sampai sekarang belum sadar. Ada kemungkinan ketika mereka terlempar ke pohon kepala terbentur, jadinya dia hanya bisa mengandalkan dirinya sendiri.
Tidak ada satu pun kesempatan untuk menembak dengan shotgun, mengambilnya dari pinggang saja sulit. Jadinya terpaksa Andy melawan dengan serangan silat seperi si matis, berkali-kali keduanya menyerang menggunakan tinju, tendangan kaki, sikut, tapi sama-sama ditahan. Matis meninju Andy, dia tahan dengan kedua lengan tangan. Andy balas dengan tendangan kaki, matis sama menahan dengan lengan kanan, tapi kaki Andy yang satu lagi langsung diangkat, dia serang dagu matis dengan sikut kakinya, serangan tersebut membuat matis tidak bisa apa-apa, Andy memanfaatkan itu, dia balas lagi, kaki kanannya langsung tendang kearah kepala matis hingga terjatuh dan kepalanya membentur aspal. Tendangan Andy tadi begitu kuat, orang biasa pasti sudah gegar otak.
Ini adalah hasil latihan gila pencak silat selama 2 minggu, dimana selama itu seluruh calon Frontline harus bisa pencak silat dalam kurung waktu singkat, bahkan ketika tidak ada misi mau anggota baru dan lama selalu latihan lagi dan lagi demi bisa menjadi kuat. Meskipun cukup menyiksa latihannya, sampai-sampai setelah selesai latihan Andy tidak sanggup makan malam di kantik, dia tetap giat berlatih tanpa ada kata mengeluh, dan ini adalah hasil latihannya.
Terdengar suara drone dari atas, umumnya drone-drone tidak akan terbang rendah karena terlalu beresiko, tetapi karena Andy sudah diberitau kalau tim mereka akan menerima paket pesanan Lina berisi racun. Itu berarti Andy harus menjaga drone tersebut jangan sampai jadi sasaran si matis. Andy bisa melihat penampakan drone tersebut. dia membawa sebuah koper hitam dan terbang kearah lokasi dimana Lina dan Mirna berada.
Matis sudah bangkit kembali, ada tetesan darah keluar dari mulutnya, serangan Andy berhasil melukainya. Tetapi matis sempat melirik kearah drone. Andy langsung berlari dan menyerang matis tersebut dengan pukulan, walau langsung ditahan, tapi tujuan Andy adalah menahan matis tersebut dan membuatnya tidak berpikir menyerang drone.
“sim kuring teh, nahan abdi ngara teu nyerang eta drone[3]” kata Matis.
“nya lamun maneh mikirna ciga kitu, anggep weh kitu[4]” balas Andy.
Keduanya adu tinju satu sama lain, tidak ada satu pun dari mereka mengalah satu sama lain. Andy kembali menendang kearah kiri kepala matis, kaki Andy ditangkap dan dia langsung dilempar kearah aspal, punggung andy terasa sakit seperti mau patah, tepat saat itu si matis melompat lalu hendak mendaratkan pukulan kearah wajah Andy. Pemuda itu berputar kesamping menghandar serangan matis. Pukualn matis mengenai aspal menyisakan bekas lubang kecil. Walau sakit tapi Andy tetap bangkit dan membalas serangan matis.
Mirna saling adu pedang dengan keris matis selagi Lina tengah mempersiapkan suntikan racun. Saat itu ketika drone muncul tepat kearah mereka, si matis yang awalnya mengincar mereka, langsung berbalik arah ke drone, dia bahkan berpikir melempar keris tepat kearah drone, Mirna yang sadar akan tindakan matis tersebut, berlari kearah simatis dan langsung menebas punggungnya, serangan tersebut berhasil mengenai matis dan merubah pikirannya untuk menyerang Mirna, selagi Lina mengambil kotak berisi racun.
Dikarenakan Mirna sudah diambang rasa lelah, lengan dan pipinya beberapa kali kena sayatan keris walau dia berusaha menghindar dan menahan serangan. Lina membuka kotak, 4 suntik racun tertata rapih diatas sterofom, bagian jatuh telah ditutupin penutup suntik. Lina akan mengambil satu buah, selagi sisanya dia masukan kedalam tas pinggangnya. Sekarang yang perlu dia lakukan adalah mencari timming tepat selagi Mirna menahan, tapi dia tidak boleh berlama-lama menungu, Mirna sudah lelah.
Lina mengambil pistolnya, penyadap suara dilepas, peluru diisi penuh, selesai langsung lari kedepan, Lina berlari sambil menembaki si Mantis. Mirna ikut membalas serangan mantis, diikuti tembakan dari Lina. Mereka berdua terus menyerang secara membabi buta sampai ada cela kecil muncul, tetapi matis tidak berdiam diri begitu saja, dia juga selalu menangkis dan menahan serangan dari kedua gadis tersebut. tetapi Lina tidak hilang akal, selagi dia menembak pas saat tembakan ke 4, dia tendang dada matis dengan sikut kaki kanan, diikuti tendangan kaki kearah wajah kiri mantis, bersamaan dengan tebasan pedang kepunggu belakang oleh Mirna. Matis teriak kesakitan, dengan cepat Lina mengambil jarum suntik racun, diarahkan ke lengan kiri matis, tetapi ditepis kuat-kuat oleh mantis sampai-sampai Lina terlempar, jarum suntik terlempar jauh dari jangkuan Mirna. Si mantis sadar ada sesuatu pada jarum suntik tersebut, dia bergegas berlari hendak menghancurkan jarum. Mirna jauh lebih cepat dia terlebih dahulu mengambil jarum suntik, dengan cepat dia langsung tusuk lengan kanan mantis, racun langsung turun masuk kedalam tubuh matis, membuat dia berteriak sejadinya, perlahan lengan matis mengamali bengkak sampai tidak bisa digerakan.
Kesempatan ini diambil Mirna untuk menyerang balik, walau masih bisa ditengkis tetapi kecepatan matis berkurang karena tidak bisa menggunakan lengan kanan. Mirna terus menyerang dan menyerang tidak peduli ditahan berapa kali oleh matis, karena beberapa serangan mirna berhasil mengenai matis tersebut.
Lina bangkit cepat, dia memanfaatkan situasi dihadapannya untuk menyuntikan racun kedua. Gadis itu berlari cepat, tangan kana telah memegang jarum suntuk. Kemunculan Lina tentu disadari matis, tangan kiri matis yang memegang keris, menebas kearah Mirna dan Lina segaligus. Tebasan keris hampir mengenai leher Mirna, sementara Lina dia berhasil menghindar dengan cara menunduk dan langsung menusuk perut matis dengan jarum suntik. Simatis langsung mundur cepat kebelakang. Dia sadar tubuhnya telah disusupi racun mematikan, sampai membuat dia tidak bisa berkutik, tapi matis tersebut masih belum mau menyerah dengan sisa tenaganya, dia menyerang Mirna dan Lina, Mirna maupun Lina jauh lebih cepat. Tebasan pedang dan tembakan peluru langsung mengenai mantis hingga tewas.
Mengetahui pemimpinnya telah tewas, matis dihadapan Andy menjadi murka dan langsung menyerang Andy hingga melukai lengan kirinya sampai dia terjatuh, belum sampai disitu saja matis tersebut hendak memukul wajah Andy.
Dorr dorr.
Suara tembakan 2 kali dari belakang, tembakan tersebut mengenai punggung belakang matis. Andy melirik kebelakang. Bayu dan Lutfi tersadar dari pingsan. Mereka bedua langsung menembaki si mantis tanpa ampun sedikit pun. Si mantis berhasil menghindari tembakan walau beberapa tembakan mengenai tubuhnya.
Dari arah lain, Mirna dan Lina datang untuk membantu. Sekarang simantis sudah dikepung dan tidak bisa berkutik lagi. Semua orang disana sudah siap untuk mengalahkan matis. Tetapi matis melakukan hal yang diluar perkiraan semua orang. Dia tiba-tiba saja mengeluarkan kabut tebal.
“apaan ini” kata Bayu.
“aku enggak bisa lihat” kata Andy.
Gawat matis melarikan diri kata Dinda.
“apa!” Lina terkejut “kejar dia jangan sampai lolos, tim backup bersiap untuk mengepung dia”
Tetapi sudah terlambat, si mantis telah melarikan diri dengan begitu cepat sampai tim backup tidak sempat untuk mencegatnya. Radar drone pun tidak bisa melacak keberadaan simantis karena sudah diluar jangkauan.
“ini masalah” kata Mirna.
“iya masalah” kata Lina “tidak kukira dia akan melarikan diri”
Kejadian ini membuat semua orang dilokasi menjadi terkejut mereka hampir tidak bisa berkata-kata yang pada akhirnya Lina memerintahkan teman-temannya untuk mentransfer cahaya permata sapphire ke permata kosong.[]
[1] Manusia lemah, tidak bisa apa-apa
[2] Cuman segini saja kalian bisa melawan
__ADS_1
[3] Kamu itu menahan aku supaya itu drone tidak diserang
[4] Ya kalau kamu mikirnya seperti itu, anggaplah begitu