
Seperti ucapan Mirna ada babi tertidur lelap didepan pintu masuk bimbel, dan dia mengenakan kalung lonceng. Tak ada babi lain yang tertidur di area parkir gedung bimbel, hanya ada satu saja dan dia menghalangi pintu masuk. Ini bukanlah perkara mudah untuk bisa masuk kedalam. Tidak ada pilihan lain selain mengendap-endap masuk kedalam. Walau pas sekali tubuh besar babi tersebut menghalangi jalan masuk kedalam gedung bimbel, namun mereka berdua tidak ada pilihan lain selain masuk kedalam.
“ladys First” ucap Yuda pelan.
Mirna memasang wajah masam kepada Yuda seakan dia ingin bilang kalau harusnya yang pertama coba adalah Yuda sebagai laki-laki bukan Mirna.
Mirna merapatkan punggungnya serapat mungkin ke jendela dinding. Ukuran jendela tersebut setinggi lantai satu bangunan. Sehingga bagian lobby gedung bimbel bisa terlihat jelas dari luar.
Posisi kepala babi yang tertidur menghadap kepintu seperti sekat antara pintu masuk dan keluar. entah ini hal bagus atau tidak. Karena jika kepala babi tersebut menghadap ke luar, mungkin aga sulit. Namun disatu sisi, jika mereka salah langkah atau tak segaja menginjak kepala babi, sudah bisa dibayang apa yang akan terjadi.
Mirna mengangkat tinggi-tinggi kaki kirinya seperti pemain acrobat, pelan-pelan Mirna menurunkan kakinya tepat disamping kepala babi. Mirna bisa merasakan ketegangan menyelimuti dirinya, dibawah badannya ada kepala babi besar yang bisa terbangun kapan saja. Tinggal kaki berikutnya perlahan menyusul kaki kiri. Mirna sepat saja oleng, tetapi Yuda dengan segap memegang tangan Kanan Mirna untuk membantu menyeimbangkan gadis itu. Mirna berhasil melewati kepala babi, tinggal Yuda, dia mengambil posisi yang sama dengan Mirna perlahan-lahan dia berusaha melewati kepala babi. Kaki pertama sampai disisi lain kepala babi. Kaki berikutnya….tetapi tiba-tiba saja bada Yuda aga oleng, Mirna langsung menarik tangan Yuda kearahnya.
TAK!
suara hentakan dari sepatu Yuda terdengar aga keras. Yuda maupun Mirna sama-sama bercucuran keringat takut apakah babi ngepet tersebut akan bangun atau tidak. Babi mengeluarka suara geraman tetapi dia tidak terbangun sama sekali. Ini kesempatan untuk Yuda dan Mirna yang langsung berjalan kedalam gedung bimbel.
Sebagai orang yang belajar disini, Yuda memimpin didepan sedangkan Mirna berjalan dibelakang Yuda. Untuk ketempat lokasi kelasnya, mereka harus menaiki tangga menuju lantai dua. dirasa aman, Mirna mengeluarkan senter dari salah satu tas peralatannya. dilantai dua ada 2 ruang kelas. Kedua ruang kelas tersebut hanya bisa menampung 20 siswa saja. Pintu ruang kelas adalah pintu geres. Sehingga mudah untuk membukanya walau harus pelan-pelan takut menimbulkan suara. Ketika masuk kedalam Mirna melihat seluruh siswa beserta guru les telah berubah menjadi patung batu. Mereka masih dalam keadaan duduk nyaman sambil memperhatikan guru menerangkan pelajaran. Bangku yang digunakan seperti yang digunakan dikampus.
Yuda tiba-tiba berjongkok didekat pintu menghadapan dinding bawah papan tulis. Dalam sorot lamput senter. Mirna bisa melihat lubang kosong seukuran permata sapphire yang mereka bawa. Inilah tempat permata sapphire yang dibawa Yuda. Pelan-pelan Yuda memasukan permata sapphire dalam lubang tersebut. tapi kemudian Mirna menghentikan Yuda.
“jangan sekarang Yuda” cegat Mirna.
“eh? Kenapa?” Tanya Yuda.
“untuk sekarang kita cuman memastikan dimana lokasi permata sapphire ditempatkan, jika kita letakan sekarang yang ada gedung ini akan jadi sasaran babi” jawab Mirna.
Yuda hampir lupa. Para Matis mereka pasti mengincar permata sapphire, jika dia letakan sekarang sama aja dengan dia gagal dalam misi. Yuda pun memasukan kembali permata Sapphire kedalam tasnya. Dia dan Mirna pun langsung turun kebawah dari lantai dua.
Setiba dilantai bawah. Mereka mendapat sambutan tak terduga, babi berlonceng yang mereka kira sedang tertidur lelap terbangun. Dia tampaknya sangat tidak senang dengan kehadiran Yuda dan Mirna. Babi tersebut terus menerus menggesekan salah satu kaki depannya, dia sedang ancang-ancang.
“gawat kalau dia seruduk yang ada kita terjebak dalam reruntuhan” ucap Mirna.
Yuda tiba-tiba mendapat ide gila, meski sangat beresiko, tapi dia tidak ada pilihan lain. Yuda langsung menarik Mirna dan berlari kedepan. Mirna terkejut dengan tindakan gila Yuda.
“kamu gila?! Mau terobos babi!” teriak Mirna.
“udah ikut lari saja” jawab Yuda.
Si babi pula, sama-sama berlari kearah pintu masuk. Dengan ukuran sebesar itu, babi tidak akan bisa masuk sampai kedalam dan malah akan tersangkut dalam pintu, namun justru serudukan babi cukup meruntuhkan langit-langit atau enggak membuat Yuda dan Mirna sama-sama tertimbun dalam reruntuhan.
Si babi memamerkan gadingnya yang besar. Meski babi ngepet tetapi dia tak ada bedanya dengan babi liar yang selalu dihutan. Serudukan babi mengenai dinding samping kanan dan kiri pintu, tepat saat itu Yuda dan Mirna langsung melompat kearah lobby yang berlokasi disebelah kanan pintu masuk.
“TIARAP!” ucap Yuda
Mirna dan Yuda langsung tiarap, pecahan-pecahan kaca terdengar berjatuhan bahkan sebagai mengenai Mirna maupun Yuda. Untungnya tak ada satupun pecahan kaca yang mengenai salah satu dari mereka. Di rasa sudah aman, mereka berdua bangkit dan melihat ternyata kaca yang tadi mereka lihat telah pecah membukankan jalan keluar baru. Inilah yang direncakan oleh Yuda. Serudukan babi tersebut memang akan membuat dia aga tersangkut tetapi karena kekuatannya yang besar membuat kaca-kaca menjadi cepat.
“ayo” Yuda menarik tangan Mirna, mereka berdua keluar dari gedung bimbel dengan melewati jendela yang telah pecah, dan berlari sekencangnya kedepan.
Mirna, Yuda didepan sana bahaya! Anita langsung memperingati lewat headset.
Tetapi peringatan dari Anita ternyata telat. Didepan sudah banyak babi ngepet seukuran mobil menunggu kedatangan mereka. Jumlahnya ada 5 ekor. Mereka adalah babi tak berlonceng. Tidak ada jalan keluar sama sekali.
__ADS_1
“gi..gimana ini?” Yuda sudah hampir setengah panik, pemandangan mengerikan didepan matanya membuat dia bingung harus bagaimana. Kalau pun mereka berusaha habur dengan cara memanjat pagar, yang ada mereka akan diseruduk duluan sebelum turun dari pagar.
Terdengar bunyi lonceng dari belakang. Yuda melirik kebelakang, meski tubuhnya masih tersangkut dalam bangunan, si babi masih mampu membunyikan lonceng. Bunyi lonceng yang terdengar tidak berbunyi lama, malah bunyinya seperti tidak asal-asalan.
“Yuda ada bom cahaya?” bisik Mirna.
Yuda mengangguk dan bilang dia hanya punya dua buah, dari tangan kanan Mirna dia mengeluarkan bom asap, tetapi ada semacam garis putuh seperti segel menempel pada permukaan bom. Entah apa maksud dari segel tersebut. tetapi Mirna meminta Yuda melempat bom cahaya kedepan. setelah itu dia akan lanjut melempar bom asap.
Dirasa tidak ada jalan lain, Yuda ikuti ide dari Mirna. Lagi-lagi bunyi lonceng terdengar dan para babi didepan sudah mulai ancang-ancang. Dengan aba-aba dari Mirna Yuda langsung melempar bom cahaya ke langit. Cahaya silau yang dihasilkan membuat para babi menghentikan niat mereka untuk menyeruduk. Setelahnya Mirna langsung melempar bom asap ditangannya ke kawanan babi didepan. Asap putih menyelimuti para babi, walau masih dalam keadaan mata terkena silau cahaya, ditambah bom asap dari Mirna menambah jarak pandang babi menjadi turun. Tetapi ada semacam aroma aneh dari bom asap Mirna. Baunya terasa aga……..
“ayo sekarang!” ucap Mirna.
Mirna dan Yuda pun langsung berlari menjauh dari kawanan babi sebelum mereka menyadari.
Asap dari bom perlahan menipis lalu menghilang. Si babi lonceng akhirnya bisa membebaskan diri, tetapi dia begitu marah saat melihat kedua mangsanya telah menghilang. Kesal, dia bunyikan lonceng begitu nyaring dan keras, tetapi para babi yang dihadapannya hanya bisa mengendus-undus kebawah lalu berputar-putar ditempat. Kekesalan dia bertambah satu tingkat membuat kedua kaki depan babi lonceng langsung menghentakan tanah hingga membuat permukaan tanah disekeliling bergetar. Tanpa mikir panjang babi lonceng tersebut berjalan kedepan. tetapi ketika dia hendak menuju kawanannya. Dia merasa ada sebuah bau aneh masuk kedalam hidung yang bahkan mambuat hidungnya tak nyaman, dia lantas jadi bertingkat taka da bedanya seperti teman sekawan babi yang lain.
Yuda dan Mirna berhasil lolos dan sekarang bersembunyi dibelakang gedung bimbel. Anita memberitaukan lewat headset kalau untuk sementara para babi tidak bisa bergerak. Tetapi aroma dari bom asap tadi terasa sangat aneh.
“Mir tadi bomnya kok aga bau?” Tanya Yuda.
“oh itu ada campuran kapur barus dan terasi[1]”jawab Mirna.“aku dengar kalau melempar benda dengan bau itu penciuman babi akan terganggu, ternyata benar”
“biar menarik kayanya”
Jawaban Mirna yang apa adanya membuat Yuda hanya bisa heran sendiri. tetapi ide Mirna ini lumayan bisa menyelamatkan mereka. Itu berarti cara untuk mengatasi para babi tersebut bisa dengan cara sederhana bagaimana orang-orang mengusir babi liar. Bisa dibilang walau pendengaran mereka bagus, nyatanya penciuman merekalah yang lebih tajam.
“kalau kaya gini harusnya aku bawa parfum” guman Yuda.
“buat apa?” Tanya Mirna heran.
“ya buat ngehalau merekalah, kan mereka benci wangi parfum”
“itu pun kalau parfummu cukup menyengat untuk dicium babi”
Meski terkesan meledek, tetapi ucapan Mirna ada benar, harus parfum paling menyengat untuk bisa menghalau babi.
Eeehh permisi teman-teman suara pelan Anita terdengar di headset aku pikir ini waktunya kalian mengalahkan babi ngepet deh.
Ucapan Anita membuat Yuda dan Mirna langsung tersadar. Bagaimana bisa mereka menyelesaikan misi kalau para babi masih ada.
Kedua Front line itu masing-masing mempersiapkan senjata mereka. Mirnalah yang keluar terlebih dahulu dari tempat persembunyian, dia menebas para babi yang masih dalam posisi tadi tanpa ampun. Yuda mengikuti dari belakang dan menembaki setiap babi membantu Mirna menghabisi mereka.
Para babi tersebut tidak memiliki kesempatan untuk melawan karena penciuman mereka yang kacau membuat mereka seperti aga sempoyongan.
Yuda melirik sosok babi berlonceng yang dalam kondisi yang sama dengan babi lainnya.
__ADS_1
“Mirna, incar babi lonceng” ucap Yuda.
Tanpa membalas, Mirna langsung melesat kearah babi lonceng yang terduduk dekat gerbang. Tetapi berbeda dengan babi lainnya, babi lonceng masih bisa sadar dan menahan serangan Mirna dengan gading. Berkali-kali si babi berusaha menusuk Mirna, tetapi karena dia setengah sempoyongan membuat Mirna dengan mudahnya menghindari serangan babi. Lalu Mirna berputar kesamping dan langsung menebas leher babi diikuti dia menusuk babi tepat di dada.
Sisi lain. Yuda dengan senapannya berhasil menjatuhkan 2 ekor babi, sedangkan Mirna sudah mengalahkan 2 babi termasuk babi lonceng. Jika dihitung mereka sudah mengalahkan 4 ekor.
Tersisa satu lagi. Si babi melihat kawan-kawannya terbunuh satu persatu, membangkitkan amarahnya. Tak peduli tubuhnya bisa oleng kapan saja, tetapi dia langsung saja menyeruduk kearah Yuda.
Yuda awas!
Anita teriak tepat waktu. Yuda melompat kesamping pas sebelum salah satu kakinya kena oleh gading babi. Meski dia masih bisa berlari kencang seperti normal. Namun rasa tak nyaman pada hidungnya masih terasa. Bau dari bom asap buatan Mirna pengaruhnya sangat besar. Walau Yuda sudah tidak mencium baunya lagi. Tapi para babi pasti masih bisa mencium sisanya.
Lagi-lagi babi itu kembali ancang-ancang dan dia menyeruduk kearah Yuda bahkan sampai berkali-kali. Serasa seperti seorang matador dan babi adalah bantengnya. Saat Yuda melirik kearah Mirna, dia hanya menonton Yuda dengan begitu asiknya.
“hei malah nonton, bantui lah!” teriak Yuda, masih berusaha menghindar serudukan babi.
“enggaklah, seru lihatnya” jawab Mirna.
“aaahh nyusahin ini mah”
Si babi berlari menjauh bersiap menyeruduk kembali. Yuda mengambil kesempatan ini untuk menembaki babi tersebut. tetapi tembakannya tidak ada satu pun yang kena. Hingga tembakan terakhir mengenai kepala babi sampai babi terjatuh dan mati.
Yuda merasa puas campur lelah. Saat melihat Mirna dia membalas gadis itu dengan wajah masam karena kesal.
Mirna, Yuda ada kabar dari tim di bandara. Suara Anita terdengar.
“kabar apa?” Tanya Mirna.
Pemimpin Babi berhasil dikalahkan. Suara Anita terdengar girang.
Yuda maupun Mirna bisa bernapas lega, dengan jatuhnya pemimpin mereka, akan lebih muda mengalahkan anaknya. Sehingga keduanya bisa bernapas lega untuk saat ini.
Tringtringgtring….tringtringtring.
Terdengar suara lonceng yang membuat bulu kuduk Yuda merinding habis. Suaranya terdengar dari segala penjuru. Terlebih karena sunyi dan hanya suara itu saja yang terdengar, hingga suara lonceng terdengar begitu jelas.
“se…seremnya! Kok jadi keinget Ibu ya” ucap Yuda mulai gemetar.
“maksudnya Ibu dari film P*ngabdi S*tan”
Yuda mengangguk cepat 2x “iya betul”
“enggak mungkinlah” ucap Mirna tak terlihat takut sama sekali.
Eehhh teman-teman, aku rasa itu bukan lonceng Ibu deh, tapi….aku lihat dari dua sisi jalan Abdul Rahmatsaleh. 2 gerombolan babi mendekat. Kata Anita.
Ucapan Anita membuat Yuda dan Mirna terkaget bukan main. Harus kalau pemimpin mereka tidak ada. Para babi tersebut terkocar kacir. Tapi ini bagaimana bisa.
Mirna teringat jumlah babi Lonceng yang disebutkan Anita sebelumnya, jumlah mereka aga sedikit dari jumlah babi sebelumnya. Terlebih saat mereka terdesak didepan gedung bimbel. Berkali-kali babi lonceng membunyikan loncengnya yang kemudian pergerakan babi dihadapan berubah seiring dengan bunyi lonceng tersebut.
Entah tebakan Mirna ada benarnya atau tidak, tetapi dia merasa sosok babi lonceng ada pengaruhnya dengan para babi yang sedang berjalan kearah mereka.[]
__ADS_1
[1] Info by google, klarifikasi : harusnya kapur barus yang ditumbuk dicampur sama terasi ditutup kain hitam.