Sapphire City

Sapphire City
Chapter 12: Misi Pertama : Tuyul di Studio Foto part 1


__ADS_3

Dua minggu, Yuda telah menyelesaikan pelatihannya yang melelahkan. Dari latihan itu dia akhirnya telah siap untuk terjun langsung ke lapangan. Walau pun, hatinya masih aga merasa tegang sebab, dia saja waktu pertama ketemu babi ngepet hampir saja mati, apa lagi nanti ketika dia mendapat misi pertama.


Meskipun, para seniornya sudah memberitaukan dia, kalau nanti dia tidak akan mendapat misi yang tingkatannya diatas C. selain itu juga untuk 2 misi pertamanya dia pasti akan satu tim dengan seniornya.


Sistem tim disini, setiap Front Line tidak memiliki tim tetap, setiap orang akan dikerahkan dalam satu tim yang telah dipilih anggotanya. Semua itu bertujuan agar setiap front line dapat mengenal dan bekerja sama satu sama lain, walau terkadang ada pertentangan.


Yuda duduk lesuh diruang latihan tembak. Dia merabah-rabah senjata yang baru saja dia terima. Assault Rifles, dia memilih senjata api jenis Assault karena baginya lebih mudah dan nyaman ditangannya. Untuk senjata tembahan, Yuda meminta sebuah pisau kembar, bisa dibilang walau Assault itu senjata jarak jauh, tetapi setidaknya dia harus menyediakan senjata lain untuk melawan musuh yang tiba-tiba muncul dari belakang.


Tiba-tiba seseorang berdiri depan dia, Mirna, dia masih mengenakan seragam hitam, dengan desain bawah adalah rok rempel sepanjang lutut, bagian atas baju kemeja hitam legan pendek hiasan pita merah. Pada ikat pinggang menggantung sebilah pedang. Itu senjata Mirna. Dia habis menjalankan misi.


“kamu ngapain disini sendiri?” Tanya Mirna.


“hanya merenung” jawab Yuda aga lesuh.


“tegang sebelum mendapat misi pertama ya? Semua orang pasti seperti itu” ucap Mirna, tiba-tiba saja dia duduk disamping Yuda.


“Mirna mau Tanya? Apakah ini pertempuran keduamu?” Tanya Yuda.


Mirna menundukan kepalanya seakan dia kelelahan dari misi “iya ini adalah pertempuran keduaku”


“waktu kamu terpilih gimana perasaanmu?” Tanya Yuda lagi.


Mirna awalnya terdiam sebentar, dia memandang langit-langi ruang latihan tembak seakan dia sedang berusaha memilah-milah apa yang harus dia katakana kepada Yuda.


“saat itu, perasaanku bercampur aduk. Kenapa semua ini terjadi, kenapa aku harus bertarung. Lagi pula apa yang aku pikirkan pasti semua orang juga merasakannya”


“kalau saat pertama kali ikut misi pertama gimana perasaannya?”


“sama halnya kaya kamu, tegang dan yang pasti ada perasaan aku enggak mau mati itu saja”


Apa yang diucapkan Mirna itu adalah umum dirasakan semua orang, pasti mereka semua takut mati dalam misi dan pertempuran, walau misi yang dijalankan tidak sendiri, tetapi resiko yang akan dihadapi tidak akan bisa diprediksi dengan mudah.


Mirna memperhatikan senjata yang dipegang oleh Yuda “kamu memilih senjata api rupanya”


Yuda mengangguk “bagiku, senjata ini terasa nyaman itu saja. Mirna sendiri kenapa memilih pedang?”


“aku hanya memilih senjata yang membuatku bisa mengakhiri pertarungan dengan cepat itu saja” jawab Mirna walau menurut Yuda itu bukanlah jawaban yang tepat.


Jika Yuda pikir kembali, tidak ada Front line yang berani menggunakan senjata pedang. Bisa dibilang hanya segelintir yang memberanikan diri untuk menggunakan senjata-senjata tertuntu atau bisa dibilang butuh keberanian ekstra.


Tanpa Yuda sadar, Mirna dari tadi memperhatikan dia. Ketika sadar, Yuda langsung refles melompak kesamping. Namun entah kenapa raut wajah Mirna seperti penuh rasa penasaran setelah selesai memperhatikan Yuda.


“kamu kenapa sih?” Tanya Yuda masih merasa tidak nyaman.


“wajahmu” Mirna masih ragu “entah kenapa kalau diperhatikan dari dekat, kaya wajah orang eropa. Tapi dari jauh wajah orang asia. Aneh”


“ooh hahaha, teman-temanku juga bilang hal yang sama sepertimu. Tapi asal tau aja, kedua orang tuaku bukan bule”


Mirna membuang mukanya “gitu ya, hmmm sungguh misteri”


Mau Mirna yang bilang itu Misteri pun, Yuda saja masih bingung kenapa semua orang jika memperhatikan wajahnya dari dekat selalu bilang seperti orang eropa. Memikirkannya saja sudah membuat dia lelah.


 


 

__ADS_1


Yuda dan Andy dipanggil bersama keruangan khusus yang tak jauh dari Aula. Pasti ini panggilan untuk misi pertama, karena ketika dipanggil mereka harus mengenakan seragam lengkap parasite hitam seperti tentara walau kesannya aga beda dan lebih mudah untuk bergerak dengan senjata yang sudah diberikan. Yuda memperhatikan Andy yang membawa senjata sejenis Shotguns. Walau senjata tersebut memiliki jeda untuk menari pelatuk dibodynya. Tetapi Andy tetap memilihnya, namun karena senjata tersebut memiliki kelemahan tersebut, Andy harus membawa handguns bersamanya sebagai cadangan.


Setiba didalam, ada Lia gadis berkerudung yang semula menjelaskan soal pembagian posisi, dia berdiri disamping kepala meja sambil memegang tablet. Dihadapan kepala meja ada tiga orang berpakayan seragam hitam. Dua laki-laki tinggi sekitar 160an masing-masing dari mereka berambut hitam dan coklat pendek, warna kulit putih dan satu orang perempuan diikat kuda, warna rambut hitam. Tinggi sekitar 150an, kulit coklat. Mereka mengenakan baju seperti kemeja hitam dan celana jins, untuk laki-laki memakai dasi hitam, sedangkan perempuan pita merah dileher. Tentunya masing-masing dari mereka sudah membawa senjata tersendiri. Siperempuan membawa sepasang handgus dikedua pinggangnya, laki-laki rambut coklat membawa senjata yang sejenis dengan Yuda, sedangkan temannya membawa Launchers?!.


“Yuda dan Andy telah tiba ya” Lia menyambut kedatangan Yuda dan Andy “perkenalkan, mereka bertiga akan menjalankan misi bersama kalian. Senny, Gin dan Rio”


Senny melambaikan tangan kepada Yuda dan Andy. Gin hanya mengangguk sedangkan Rio tersenyum menyambut kedatangan dua juniornya.


“baiklah tanpa makan waktu, aku akan jelaskan misi kalian” Lia menyalakan layar proyektor ada tampilan sebuah bangunan studio foto yang lokasinya tepat dibelakang gedung sate “tugas kalian berlima adalah membasmi sekelompok Tuyul dan menyalakan 1 permata kosong”


Lia mengambil kotak coklat kecil, dia membuka kotak yang berisi permata Sapphire yang masih bersinar terang kepada Gin “ketua tim adalah Gin, dengar walau misi ini adalah tingkat C. tetapi jangan pernah remehkan musuh”


Setelah penjelasan dari Lia, satu tim meninggalkan ruangan, dan berjalan menuju pintu keluar. selagi mereka berjalan Gin, Senny dan Rio memperkenalkan diri mereka. Mereka bertiga adalah senior Yuda dan Andy yang sudah mengalami 2x pertempuran, bisa dibilang ini adalah pertempuran ketiga mereka. Gin juga menjelaskan yang pertama harus mereka incar adalah pemimpin Tuyul itu sendiri, dia memiliki ciri-ciri salah satunya ukuran tubuh lebih besar dari tuyul pada umumnya, tetapi yang lebih utama dari itu samua adalah sang pemimpin memiliki kemampuan Telepati.


“Telepati?” Andy terkejut mendengarnya.


“yep, setiap pemimpin matis pasti memilikinya, dan karena itulah mereka dapat mengatur anak buahnya dengan baik” Gin menjelaskan “jadi pertama yang perlu kita incar adalah pemimpin mereka, jika pemimpinnya sudah kita eksekusi, maka anak buahnya secara sendirinya akan tercerai berai”


Tiba-tiba saja Yuda teringat sesuatu “maaf mau Tanya, sebelumnya kami sudah dijelaskan mengenai matis independen dan territorial, lalu dari yang dijelaskan kalau matis independen memasuki wilayah matis territorial maka, mereka akan langsung bekerjasama, apakah matis Independen juga bisa telepati”


Gin mengangguk “itu benar, mereka bisa telepati. Tetapi mereka bisa melakukan lebih dari itu. Intinya para matis dapat melakukan sesuatu yang tidak bisa kita bayangkan”


Yuda menebak, dari apa yang Gin katakana, pasti dia pernah bertemu salah satu dari mereka. Toh dia memiliki pengalaman pertempuran 2x. pasti dia pernah bertemu dengan mereka. Lagi pula meski sudah diberitau untuk jangan selesai bertemu. Tapi Yuda punya perasaan kalau dia pasti akan bertemu dengan mereka.


Tidak perlu menaiki kendaraan apapun, lokasi studio foto yang menjadi wilayah kekuasaan Tuyul ada tepat dibelakang gedung sate. Padahal wilayahnya sedekat ini, kenapa mereka tidak membasminya dari, itu yang terpikirkan oleh Yuda ketika dia melihat lokasi misi mereka. Semua studio foto paling terkenal dikota Bandung, apalagi ketika masa saat sebuah kampus mengadakan wisuda pasti studio foto ini akan penuh dengan para keluarga wisudawan yang ingin berfoto bersama.


Meski lokasinya dekat, Gin sebagai ketua tim tidak mengizinkan berjalan lebih dekat lagi kedalam lokasi, dari jauh saja sudah terlihat para sosok mastis yang hendak mereka lawan. Bisa dibilang jumlah mereka, cukup banyak (Yuda memperhatikan wajah Andy memucat karena jumlah tuyul yang sudah tak bisa dihitung).


“jumlah mereka kira-kira berapa?” Tanya Andy, wajahnya masih memucat.


“WHAT!” Andy mau pun Yuda tidak bisa membentung rasa terkejut mereka.


“sesuai informasi ukuran mereka beraneka ragam rupanya” Gin menyela.


Yuda tak bisa membayangkannya, Tuyul yang selalu dia kira akan seperti apa. Ternyata jumlah mereka sangat banyak bahkan ukurannya beraneka ragam.


“permisi” ucap Andy pelan “apakah mereka dapat menggabungkan diri menjadi satu kesatuan”


Senny mengangkat kedua alisnya “bagaimana kamu yakin mereka bisa seperti itu”


“aku pernah main game Dread O*t, pas bagian tuyul muncul tuyul ukuran gembrot, aku menduga mereka bisa bergabung” ucap Andy.


Tiba-tiba saja Rio tertawa “tenang-tenang, mereka tidak akan seperti itu kok. Cuman mereka punya hobi maling”


“cuman pemimpin mereka memang berukuran gembrot sih” Gin mengakuinya


Gin memberikan Tablet kepada Senny supaya semuanya bisa melihat, sebuah denah studio foto berwarna hitam putih, tetapi ada beberapa titik berwarna merah keorenan seperti suhu tubuh, yang berarti merah bergerak-gerak, Yuda langsung melirik kelangit, walah tesamarkan oleh langit gelap. Tetapi dia dapat melihat ada benda bergerak seperti drone.


Gin menjelaskan itu adalah drone special yang digunakan setiap operator untuk mengintar, drone tersebut dibuat oleh seorang ahli teknik di bagian backup. Terlebih drone ini tidak mengeluarkan suara seperti drone pada umumnya.


Dari pantaun operator. Sang pemimpin yang ukurnya ‘aga lebih besar’ dari tuyul lainnya, bersumbunyi di ruang percetakan, bukan hanya itu saja sensor drone menangkap lokasi permata kosong dilokasi si tuyul.


“mereka menjaganya” ungkap Rio.


Dari kejauhan, sebuah cara silau berkelap-kelip disalah satu jendela studio. Sudah dibayangkan dalam benak kelima front line, para tuyul pasti sedang berfoto ria didalam sana.

__ADS_1


“bukan menjaganya, lebih tepatnya mereka bersenang-senang disana” kata Yuda.


Bahkan terlihat salah satu dari tuyul keluar dari studio sambil membawa kamera lalu memotret kawan-kawannya. Mereka sangat antusias sekali, seakan-akan ada pesta dadakan disana. Bukan hanya satu kamera, tepai lebih dari satu kamere mereka bawa.


Gin menyadari suatu hal langsung meminta teman-temannya sembunyi, ketika itu lampu flash dari kamera yang dibawa tuyul tiba-tiba saja menyorot mereka dalam waktu singkat, jantung Yuda berpacu kendang, dia tak sadar kalau salah satu tuyul akan menyorot kearah sini, padahal sedari tadi dia selalu memperhatikan teman-temannya, meski  cuman hal sepele, tetapi dia tak bisa meremehkahnya.


 Keadaan sudah aman, Gin memberi code kepada mereka. Yuda akhirnya bisa bernapas lega, kalau dia dan teman-teman satu timnya langsung ketauan bisa bahaya, enggak akan kebayang rasanya diserang puluhan tuyul dalam waktu singkat.


“tadi itu hampir” Senny menghela napas panjang.


“itu kamera yang langsung cetak hasil” Yuda baru sadar.


Gin mengangguk “benar, jika saja aku telat menyadari, kita pasti langsung ketauan”


Yuda harus belajar dari Gin. Pemuda ini sangat pandai membaca situasi, mungkin karena pengalaman dimasa lalu sehingga dia sudah banyak belajar.


“Sekarang gimana?” Tanya Senny.


Gin terpikiran sebuah ide, dia meminta Rio dengan Launcher untuk menembak kearah sebelah pintu masuk depan studio.


“hei Gin, kamu ingin mengadakan pesta tambahan dengan meledakan studio” Andy mulai bercanda.


“justru itu, kita akan bergabung dalam pesta” ucap Gin.


Rencana Gin, dia ingin Rio menembak Launcher di kearah pintu masuk depan atau sekitarnya, tetapi dia tidak boleh menembak disatu tempat terus, atau enggak posisinya akan ketaun. Jika bisa ada rentang waktu untuk setiap tembakan.


“jadi, aku umpan nih?” Tanya Rio sudah tersenyum.


“tentu kamu umpan, dengan suara ledakan pasti si gembrot itu akan menyuruh sebagian anak-anaknya untuk mengecek” Gin melirik kearah Senny, Andy dan Yuda “selagi para tuyul-tuyul mencari sumber ledakan, kita akan masuk lewat pintu samping.


“tapi kita punya masalah” Yuda mengungkapkan “ada beberapa tuyul dilantai dua studio, terlebih dari panduan yang aku baca, ke pemimpin tuyul selalu enggan meninggalkan tempatnya”


Gin kembali berpikir sejenak dan mendapat ide lain.


“kalian ada yang bawa duit?” ucap Gin sambil menyondorkan tangan kosong seperti hendak malak.


“haaaaaa, hei Gin mana ada warung yang buka dikondisi begini” Senny kaget dengan tingkah Gin.


“iiihhh mana ada, aku Cuman butuh duit aja. 50 ribu atau 100an lah”


Masing-masing dari mereka pada merogoh saku. Andy yang pertama mengeluarkan duit lembaran 50an.


“aku ada selembar, sebelumnya mau aku pake makan di warteg” Andy menyerahkan duitnya ke Gin.


Kali ini Rio memiliki dua lembar 100 ribu. Senny dan Gin sendiri masing-masing 50 ribu. Kalau Yuda dia hanya punya dua lembar 20 ribu, tapi Gin langsung sambil tanpa permisi. Semuanya pada bingung kepada Gin mendadak menjadi preman pemalak disaat seperti ini. Yuda memperhatikan Gin yang melipat-lipat uang kertas hingga membentuk segitiga kecil seukuran kripik samosa tersadar kalau ini ada dalam bagian rencananya.


“tuyul-tuyul suka duit ya, meski si pemimpin tidak akan meninggalkan posisinya. Tetapi jika menyangkut duit dia akan langsung berdiri benar bukan?” Tanya Yuda.


“benar” Gin mengangguk “meski tidak akan bertahan lama, tetapi setidaknya cukup untuk mengalihkan mereka”


Selesai melipat-lipat duit. Gin membagikan peredam suara ke Senny dan Andy. Mereka berdua akan membereskan tuyul dilantai dua. selagi Gin dan Yuda akan mengurus pemimpinnya.


“kalau rencana ini gagal?” Tanya Andy.


“kita ledakan studio dengan granat” Gin mengatakan itu dengan dingin selagi dia memamerkan granat kepada semuanya.[]

__ADS_1


__ADS_2