
Yuda terduduk di sofa kamar asrama, setelah dia mandi cukup lama (1 jam) membersihkan selaga macam aroma parfum dan pelembut dari sekujur tubuhnya. Bahkan setelah dia selesai mandi pun, aroma parfumnya masih menyelimuti kamar asramanya. Dia bahkan masih ingat betul saat dirinya dan Mirna kembali dari markas. Semua orang yang dilewati Mirna dan Yuda langsung menahan napas karena aroma parfum yang begitu meledak. Karena itulah mereka berdua terpaksa barlari ke kamar asrama masing-masing demi membersihkan sisa-sisa aroma parfum dan pelembut yang menempel.
Pintu kamar asrama Yuda terbuka perlahan, seseorang mengintip dari luar.
“baunya masih menempel rupanya”
Rupanya itu suara Luca, diikuti Andy dari belakang.
Yuda tak ada niatan untuk bangkit, rasa lelah telah matai tubuhnya.
“perlu aku akui, baru kali ini ada yang pulang misi membawa pulang bom parfum” komentar Andy.
“seisi lorong asrama masih wangi parfummu loh” tambah Luca.
“diam aku lelah” tanggap Yuda, masih duduk lemas
“ampun, kamu misi apaan sih, sampai pulang-pulang wangi parfum?” Tanya Andy.
“babi ngepet bro” jawab Yuda.
Luca dan Andy kebingungan, seolah-olah dalam pikiran mereka mengatakan apa hubungannya babi ngepet dengan parfum.
“katanya matis itu kalau dalam bentuk seperti hewan contohnya babi ngepet, itu cuman sosok fisik doang, tapi kelemahan hewan juga ikut kebawa” Yuda menjelaskan dengan posisi badan nyender ke sofa dan kepala dan lehet diatas kepala sofa, kedua tangan direntangankan ke kanan dan kekiri.
“jadi maksudnya meski dalam wujud babi ngepet tetapi sifat dan kelemahan babi seperti babi liar tetap ada” Andy mencoba meluruskan.
“betul” balas Yuda.
“oh iya juga” Luca baru saja sadar “babi itu kan penciumannya tajam, meski tajam tetapi kalau mencium bau tertentu malah akan mengganggu penciuman mereka”
“jadi itu sebabnya” kata Andy.
Setelah berbincang singkat, Luca dan Andy pergi keluar. mereka berdua ada kerjaan lain yang menunggu. Yuda tak tertarik untuk menyusul mereka. Seluruh penghuni kamar asramanya pun rata-rata pada ada misi dan kerjaan masing-masing, sehingga Yuda ditinggal sendiri dalam asrama.
Yuda memutuskan untuk berbaring ditempat tidurnya. Setidaknya dia ingin memejamkan matanya sejenak walau singkat. Yuda membaringkan badannya kearah kanan, dia melirik meja sebelah tempat tidurnya. Ada botol kaca berisi permata yang tadi dia temukan.
__ADS_1
Yuda mengambil permata tersebut dan mengamatinya sambil tiduran. Warna biru permata tersebut seperti biru langit tetapi lebih bening lagi. Permata tersebut panjang dan melengkung kesamping, tetapi ada gerigi disetiap sisi, seperti patah. Itu berarti ada bagian lain dari permata tersebut yang bisa Yuda satukan.
Namun jika diperhatikan baik-baik, tak istimewanya sama sekali. Warnanya saja tidak seperti permata sapphire yang selalu digunakan. Lalu kenapa babi ngepet tersebut memasukan permata biru ini kedalam loncengnya, jika sebatas untuk menghasilkan suara kayanya enggak mungkin.
Berbagai pertanyaan berkumpul dalam pikiran Yuda dan tak ada satupun yang dapat dia jawab. Tetapi kalau pun ini ada istimewanya, lalu untuk apa?.
“cape ah”
Yuda memasukan botol tersebut kedalam laci lemarinya, tak ada gunanya dia berpikir tapi tak ada jawaban apapun. Dia memutuskan menutup matanya dan tidur sejenak.
2 hari kemudian.
Yuda selesai berlatih bela diri diruang latihan. Beberapa orang selain dia juga sama-sama selesai, satu persatu dari mereka meninggalkan ruang latihan menyisakan Yuda seorang diri. Meski tidak ada panggilan misi apapun, sesi latihan tetap dilakukan demi meningkatkan fisik dan skill para anggota.
Dari arah pintu masuk, muncul Mirna dia datang seorang diri. Dia sepertinya hendak berlatih, tapi saat melihat ada Yuda disana, Mirna menghampiri Yuda.
“sendiri?” Tanya Mirna.
“yep, dah ini aku mau balik ke kamar” jawab Yuda.
“permata yang waktu itu kamu temukan gimana?”
“apa mungkin cuman buat ngehasilin suara doang”
“aku pun awalnya berpikir seperti itu” Yuda sependapat sama Mirna.
Mirna berdiri, dia mengeluar pedang yang sedari tadi dia pegang, itu adalah pedang yang sebelumnya dia pake dan waktu misi dibilas sama air parfum telah selesai diperbaiki. Yuda pikir pedangnya rusak dan mau diganti, ternyata kondisi pedangnya baik-baik saja.
“enggak berkarat tuh pedang?’ Tanya Yuda.
Mirna mengayunkan pedangnya keatas dan kebawah berkali-kali “untungnya enggak” wajahnya aga cemberut.
Gadis itu kembali fokus berlatih mengayunkan pedangnya berkali-kali. Melihat Mirna mengayunkan pedangnya membuat Yuda berpikir dia, Luca dan segelintir anggota saja yang mau menggunakan pedang. Sedangkan sisanya kebanyakan menggunakan senjata api. Namun jika sudah terjun dalam misi kedua jenis senjata tersebut bisa menjadi kombi yang pas.
Ada yang menggantung dari leher Mirna, sebuah kalung. Seperti kaca panjang, bagian atas lancip dan terpasang gantungan untuk tali. Kalung tersebut berbentuk balok yang dibagian atas dan bawah ada prisma segilima. Jika diperhatikan baik-baik panjang kalung kaca itu sekitar 3cm lebih. Warnanya yang bening memperlihatkan sesuatu dari balik kaca tersebut. benda panjang aga aneh dengan warna keemasan.
“kamu merhatiin apa?” Mirna menyadari Yuda memperhatikan dia.
__ADS_1
Dengan cepat Yuda berusaha mencari jawaban yang tepat “ma..maaf, itu aku penasaran sama kalung yang kamu pake”
Mirna mengambil kalung dia pake “ini?”
Yuda menganguk “iya, bentuknya unik jadi aku penasaran”
“ini kalung peninggalan nenekku” jawab Mirna “mau lihat”
Mirna meminjamkan kalung dia pake kepada Yuda. Kalung ini begitu ringan ditangan, benar-benar seperti terbuat dari kaca, begitu bening tak ada warna pucat apapun pada permukaannya. Tapi dalam kalung kaca ini Yuda penasaran. Benda panjang warna keemasan dengan kedua ujung atas dan bawah seperti mahkota bunga empat lapis yang hendak menutup.
“yang didalamnya apa?” Tanya Yuda.
“itu miniatur Bajra dan Vajra” jawab Mirna.
“apa itu?”
“kamu enggak tau? Itu senjata pusaka loh”
“masa sih?” Yuda masih tak percaya.
“iya” ucapan Mirna begitu meyakinkan “itu dulu dijadikan senjata”
Yuda masih tidak percaya, bukan hanya dia tidak tau akan sebuah senjata Bajra dan Vajra atau bisa dibilang Yuda baru tau ada senjata pusaka bernama Bajra dan Vajra. Selain itu bentuk miniaturnya yang ada didalam kalung Mirna membuat pemuda itu takjum dan merasa ini seperti miniatur asli.
“apa nenekmu yang memberikan ini?”
Mirna mengangguk sambil tersenyum kecil “iya, awalnya ini adalah kalung kesayangn nenek. Waktu aku berumur 7 tahun, aku sering melihat nenek selalu mengenakannya, kalung itu begitu bagus saat dipake nenek. Karena masih kecil, aku merengek ingin kalung yang dipake nenek. Pada akhirnya di ulang tahunku yang ke 8, nenek memberikan kalungnya sebagai kado ulang tahunku”
Yuda memperhatikan Mirna bercerita soal neneknya. Tak pernah Yuda melihat wajah Mirna seperti ini, dia yang jarang tersenyum dan kadang bersifat dingin. Bisa tersenyum lembut ketika bercerita soal keluarganya.
“tapi, sebulan setelahnya. Nenek meninggal” wajah Mirna berubah menjadi sedih.
“sorry, aku membuatmu teringat almahum nenekmu” Yuda merasa bersalah.
“tak apa kok. Tapi setiap melihat kalung ini, aku jadi selalu teringat sosok nenek. Ibuku selalu bilang untuk selalu menjaga kalung ini karena ini peninggalan nenek”
“begitu yah, lalu ibumu apa dijakarta?”
__ADS_1
Entah Yuda salah bertanya atau dia keceplosan, tetapi saat Yuda bertanya soal ibu Mirna, seketika wajah Mirna berubah yang semulah melembut menjadi pucat pasi. Tak ada kata-kata yang keluar dari mulut Mirna, dia hanya terdiam bisu. Setelah itu Mirna kembali memakai kalungnya lalu meninggalkan Yuda sendirian dalam keheningan.
Perginya gadis itu membuat Yuda bertanya-tanya akan sebenarnya apa yang terjadi pada ibunya Mirna, padahal saat dia bercerita soal neneknya, Mirna terlihat tersenyum hangat karena dipenuhi kenangan manis, tetapi saat dia Tanya soal ibu, tiba-tiba saja dia terdiam tak bersuara seakan-akan ada sesuatu yang enggak dia ceritakan. Yuda walau penasaran tapi dia tak begitu mau mencari tau, takutnya itu adalah masalah keluarga Mirna, Yuda yang merupakan orang luar tak berhak tau soal keluarga Mirna.[]