
Mobil yang ditumpangi Mirna berhenti dijalan taman sari, belakang gedung kampus paling terkenal di Bandung. Sesuai informasi, lokasi yang akan mereka tuju adalah gedung belakang kampus yang biasanya digunakan untuk berbagai acara termasuk acara wisuda. Selagi mobil melaju kearah gedung, suasana tak nyaman membuat seisi mobil terasa tegang. Bahkan tak segan-segan dari mereka sudah mempersiapkan senjata dari awal untuk berjaga-jaga.
Mirna
Suara seorang gadis terdengar dari headset Mirna.
“ada apa Dinda?” Tanya Mirna.
Sinyal Drone menangkap 4 permata kosong didalam gedung. Salah satunya ada dilantai 2 bagian luar gedung dan sisanya.
“didalam ya?” tebak Mirna.
Iya benar, selain itu sensor Drone juga menangkap ada sosok kehidupan didalam. Matis
“jumlahnya?” Tanya laki-laki disamping Mirna, di tengah memegang setir kemudi mobil.
Ada tiga, mereka Teritorial.
“informasi yang kita dapat mereka bukan sembarang Matis, bagaimana menurutmu Deren?”
Pemuda bernama Deren masih fokus melajukan mobilnya menuruni jalan yang tidak datar sampai ke lahan parkir.
“entahlah, yang jelas misi kali ini sebisa mungkin mini malisir penggunaan senjata jarak jauh, selain itu” Deren melirik kaca tengah samping kemudi atas, ada laki-laki dan perempuan di jok belakang “Lia cukup berani juga mengirim empat orang untuk misi tingkat A”
“meski begitu dia sudah memberikan kita, masing-masing permata Sapphire” ucap Mirna
“itu berarti, masing-masing dari kita akan mengurus setiap permata kosong satu persatu” lanjut Deren.
Mobil diparkirkan tak jauh dari lokasi gedung. Mirna memperhatikan sebuah gedung yang biasanya selalu ramai digunakan untuk berbagai acara, tetapi sekarang terkesan seram dan menakukan. Jika saja sedang ada acara, pasti banyak patung-patung manusia disini.
Deren mengambil beberapa pisau, lalu dia sarungkan di pinggang, kedua tangan memakai sarung tangan yang bagian tulang sendinya dilengkapi besi-besi kecil. Satu buah Handgun disarung kiri. Mirna, sebatas membawa pedang dan beberapa bom, tak lupa senter untuk penerangan.
Deren sebagai pemimpin tim, memerintah salah seorang anggota laki-laki pergi kelantai dua lewat tangga luar dekat pos satpam gedung. Rencana yang dibuat Deren adalah hanya tiga orang saja memasuki gedung, satu orang lagi mengurus permata kosong dilantai 2. Walau tidak terdeteksi matis dilantai dua. tetap tetap harus waspada , terkadang ada beberapa Matis yang tidak bisa terdeteksi sensos drone.
Semua persiapan telah selesai. Ketiga anggota Front Line memasuki gedung. Anggota perempuan lain maju duluan mendahului Deren dan Mirna. Dia membuka pintu masuk dari samping, pintu terbuka lebar perlahan, tak ada apapun yang menyambut mereka, hanya ada kegelapan ruangan tanpa ada lampu.
Lorong lobby, jalurnya membentu setengah lingkaran. Tak ada apapun dilobbi ini, begitu sunyi tanpa kehidupan. Ketiga Front Line masuk bersamaan dengan perasaan was-was, mata mereka tak pernah berhenti menatap sekitar, karena mereka tak tau sosok yang akan menyergap mereka. Apalagi anggota Front Line yang sebelum mereka melakukan penyelidikan tak pernah sekali pun melihat sosok penghuni tempat ini.
“Dinda bisa kamu perkirakan siapa pemimpin mereka?” Tanya Deren.
Aku kurang yakin Deren. Dinda terdengar ragu soalnya meski sudah tergambar sosok mereka dilayar, tetapi ukuran mereka bahkan tinggi dan rupa saja, meski cuman tergambar warna suhu. Sama persis, tak bisa dibedakan.
“ada kemungkinan mereka kembar” ucap Deren
Deren tak bisa yakin apakah matis yang akan dia hadapi kembar atau bukan, jika Dinda saja sampai tak bisa memprediksi siapa pemimpinnya, bagaimana dengan dia sendiri. bahkan Mirna sekalipun dia yang biasanya enggak pernah gugup dalam misi, baru kali ini merasa gugup. Kurangnya informasi mengenai tempat ini, membuat mereka harus bertaruh akan apa yang terjadi nanti dan bagaimana sosok matis yang mereka hadapi nanti.
Mirna dan yang lain sudah mengitari lorong lobby gedung, tak ada satu pun yang mencurigakan, Cuman yang menjadi masalah mereka adalah, lokasi permata kosong, terlalu mencolok dan mudah ditemukan. Termasuk anggota Front Line dilantai dua, dia sudah duluan menemukan permata kosong dari pada tim Deren.
Ini terlalu mudah, bahkan untuk Mirna sekalipun, walau saat ini dia bisa saja mentransfer cahaya pertama sapphire pada permata kosong sekarang juga, dia urungkan niat tersebut, karena ini terlalu mudah. Pasti ini adalah jebakan.
Deren meminta Dinda untuk menandai titik pertama kosong, dia tak ingin mengambil resiko saat ini. Yang terpenting adalah menemukan pemimpin matis terlebih dahulu. Terlalu berbahaya jika mereka bertindak sekarang.
Satu tempat belum di jelajahi Deren dan timnya, ruang auditorium, tempat dimana selalu diadakan seminar. Jika dilobby tidak ada, hanya ada satu tempat pasti.
Deren melirik pintu kembar didepannya, pintu menuju auditorium. Perasaannya mengatakan ‘mereka ada didalam’.
“Deren ayo” Mirna tiba diposisi Deren, begitu pula anggota satu lagi.
Deren melirik satu persatu wajah mereka berdua. Keduanya siap akan kemungkinan buruk. Selain itu dia juga tak ingin memakan banyak waktu lagi. Semakin lama disini rasanya semakin sesak.
__ADS_1
Deren membuka pintu ruang auditorium dengan kedua tangannya. Suasana gelap menyelimuti auditorium tak ada apapun didalam, selain kursi-kursi merah yang menghadap panggung. Susunan kursi tersebut seperti menangga dari atas kebawah, bentuk kursi seperti kursi dalam bioskop tanpa tempat minum, tak bisa dihitung berapa jumlah seluruh kursi, yang jelas ruangan ini bisa menampung lebih dari 50 orang, belum pertama kursi dilantai dua.
Masing-masing dari mereka berpencar, mencari petunjuk yang ada, walau tak ada yang bisa ditemukan dalam kegelapan yang peka ini. Tetapi ada satu keanehan didalam sini. Seluruh kursi tak ada satupun yang dilipat, semuanya terbuka lebar. Menunggu seseorang untuk duduk.
Mirna yang berjalan paling dekat panggung, menemukan sepucuk kertas putih bertuliskan warna merah.
...Pertunjukan akan segera dimulai....
... ...
Mirna memamerkan temuannya kepada Deren.
“kita ikuti permainan mereka” perintah Deren.
Awalnya perintah Deren membuat semua orang terkejut, tetapi dia menjelaskan kalau dicari sampai kapanmu tidak akan ketemu, satu-satunya cara untuk menemukan Matis adalah mereka harus mengikuti permainan mereka.
“kalian duduk diposisi berjauhan” perintah Deren.
Mirna duduk dibaris kedua depan dekat panggung, Deren aga belakang dekat dinding, sementara anggota perempuan satu lagi, dia duduk ditengah-tengah.
Tak ada apapun setelah mereka duduk, malah kesannya masih terasa seram. Tetapi lampu sorot panggung menyala, menyoroti dibawahnya. Tiga penari.
“Dinda apakah listrik disini menyala?” Tanya Deren.
Tidak, aku tidak menangkap adanya aliran listrik dari generator gedung. Jawab Dinda.
Ketiga penari mengenai baju sutra putih seperti gaun sampai menutupi kaki tanpa lengan, dipinggang masing-masing terikat selendang penari dengan warna berbeda, emas, merah, hijau. Terakhir ketiganya mengenakan mahkota emas, selain itu mereka seperti penari cantik berambut hitam panjang. Tarian mereka benar-benar lemah gemulai, meski mereka sedang memaikan tarian tradisional.
Tak ada satu pun dari ketiga front line terpesona akan tarian tersebut. termasuk Deren yang memasang wajah serius seakan sedang menunggu.
Tangan-tangan mungil penari memegang setiap ujung helai selendang, yang satu ditarik keatas satu lagi kebawah, kemudian mereka berputar. Tak ada alunan lagu gamelan yang mengiringi mereka, hanya kesunyian pekak. Kaki-kaki yang bergerak pelan nan lembut, diikuti gerakan manis kedua tangan, ketiga penari tersebut seakan menari seperti seorang professional.
Kedua tangan Mirna saja sampai gemetar sebari memegang kedua pegangan kursi. Godaan para penari begitu kuat, jika front line yang masih awam menjalankan misi ini, mereka akan langsung tewas ditempat.
Tarian mereka berhenti, penari berselendang emas duduk didepan dua penari yang berdiri dibelakangnya. Rasa godaan yang menyelimuti Mirna dan yang lain seketika luntur. Kedua penari yang berdiri pelahan mundur kedalam kegelapan, menyisakan penari berselendang emas. Ketika tinggal dia seorang diri dipanggung, dengan lembut bagaikan putri dia berdiri dalam keadaan kepala menunduk kebawah.
Jantung Mirna berpacu kencang, rasa tegang tidak karuan menyelimuti dirinya, perasaan tak biasa ini belum pernah dia rasakan semenjak pertempuran dimulai.
Pelan-pelan penari menegakan kepalanya kedepan, dia memamerkan wajah cantiknya seperti mutiara laut yang tak ternodai. Dari wajah cantiknya dia langsung memiringkan kepala ke kiri diikuti senyuman lebar yang membuat siapa saja yang melihatnya ingin kabur darinya.
Lampu sorot mati, tak ada cahaya apapun. Bahkan lampu senter tak bisa dinyalakan.
Tangan Mirna pelan meraih pedang dipinggang, keringat bercucuran, ini sudah bukan dari pertunjukan. Deren tetap fokus kesekeliling dia tak boleh lengah, meski dalam kegelapan tanpa lampu sekali pun, namun mereka semua sudah dilatih untuk kondisi seperti ini.
“SAMPING KALIAN!”
Mirna melepas pedang, pas sang penari tepat ada dihadapannya dengan sebilah pisau. Jika Deren tidak berteriak…..
Si penari begitu kuat, padahal Mirna sudah menahan serangan dia dengan pedangnya, tetapi dia begitu kuat.
“kalian bersiap!”
Deren melempar bom cahaya kelangit, seketika cahaya terang menyelimuti seisi auditorium. Ini kesempatan untuk Mirna membalas serangan, dia nyerangan si penari sampai pisau dia terjatuh. Penari tersebut berteriak kesakitan.
“sekarang nyalakan lampunya!”
Deren memerintah seorang anggota yang diluar untuk menyalakan separuh lampu Auditorium. Selama ini anggota laki-laki yang diperintah kelantai dua bukan hanya sekedar untuk pergi kelokasi permata kosong, tetapi dia juga harus ketempat generator segaligus diam-diam dia harus menyalakan beberapa lampu didalam auditorium.
Meski seisi penerangan kota bandung berubah menjadi gelap gulita, bukan berarti listrik menjadi padang sepenuhnya, dibeberapa tempat pasti memiliki generator.
__ADS_1
Lampu auditorium yang dilanyalan tidak semuanya tetapi cukup untuk menerangi seisi ruangan. Sosok ketiga penari terlihat dibawah cahaya lampu, walau mereka masih mengenakan balutan baju yang sama seperti sebelumnya. Wajah mereka yang semulah indah seperti mutiara, berubah menjadi pucat, gelap dan menghitam.
“Dark Face Sisters” ucap Deren.
Kalau yang kita hadapi Dark Face Sisters, susah untuk membedakan mana pemimpinnya, ucap Dinda.
“ya, layaknya saudara kembar mereka sangat kompak” kata Deren “jadi tak ada waktu untuk mencari siapa pempimpinnya, kita habisi mereka bertiga segaligus”
Sesuai perintah Deren, ketiga Front line tersebut langsung berpencar dan bersiap menyerang para Dark Face Sisters.
Mirna berlari kearah salah satu Dark Face Sister berselendang hijau, sebilah pedang bersiap ditangan kanannya. Dark Face Sister masih menutup wajahnya dengan kedua tangan dia. Mirna tepat sudah didekat sipenari dia arahkan pedangnya kelangit siap untuk menebas, dari balik kedua tangan sebuah mata menatap tajam kearahnya diikuti suara tawa menggema. Mirna merasakan sekujur tubuhnya rubuh seketika.
Bukan hanya dia saja yang merasakan, Deren dan Front line perempuan satunya juga ikut merasakan tekanan luar biasa ini. Dalam tawa ketiga menari menghilang dalam bayang tetapi tawa mereka tak ikut menghilang.
Mirna mau pun Deren tak bisa berdiri, mengangkat satu kaki saja susah. Seakan-akan tanah berusaha menari mereka atau dunia terasa berat.
Medan gravitasi!, Dark Face Sisters bisa mengendalikan gravitasi! Dinda berteriak karena panik.
“Sial!, aku tidak pernah dengar ada matis yang bisa mengendalikan gravitasi” keluh Mirna.
“kita semua sudah tau kalau para matis pasti memiliki kemampuan diluar nalar, tapi ini sudah diluar perkiraan” tambah Deren.
Tidak ada yang bisa mereka lakukan selain bercoba bertahan dan waspada pada seragan berikutnya, tetapi suara tawa mereka yang menggema membuat mereka bingung dimana lokasi sebenarnya para sisters tersebut. Dinda saja dia sampai kualahan untuk mencari lokasi mereka.
Deren melirik kearah Mirna, gadis itu berusaha semaksimal dia untuk bisa bangkit, tapi beban bumi menolak niat itu. Sampai wajah dibasahi keringat pun, tak ada satu pun perubahan.
“MIRNA!” Deren memberi kode kepada Mirna,
Arti kode itu, walau beresiko. Tetapi ini satu-satunya jalan untuk bisa terjerat dari medan gravitasi. Jika terlalu lama, satu persatu dari mereka bisa saja mati.
Tangan Mirna walau berat, dia meraih granat ditas pinggang belakang. Pelan-pelan dia lepas kunci granat. Dengan sekuat tenaga Mirna melempar granat kearah tengah-tengah kursi penonton auditorium. Seketika granat tersebut meledak. Membuat apa yang didekatnya terhempas, termasuk Mirna dan kawan-kawan. Sisters tak luput dari efek ledakan, sosok mereka yang semula tidak terlihat, menjadi terlihat. Diantaranya mengalami luka pasti karena ada yang berdiri dekat lokasi granat meledak.
Efek medan gravitasi menghilang karena ledakan. Deren memanfaatkan kondisi ini, dia melompat dari kursi ke kursi, walau tangan kiri dia ada luka Karena ledakan tetapi itu tidak peduli. Dia harus menyelesaikan pekerjaannya. Tepat sasaran Deren adalah si penari berseledang merah, dia tak bergerak karena terluka. Deren mengepal kuat-kuat kedua tangannya. Si penari rupanya menyadari kalau Deren menuju kearahnya. dia mundur kebelakang untuk menghindari Deren. Tetapi Deren justru lebih cepat, lompatan dia yang lebar memudahkannya untuk melaju cepat ketibang berlari mengelilingi jajaran kursi.
Lompatan terakhir Deren langsung melesat menuju penari, si penari belum sempat untuk menghilang, kepalan tinju Deren cepat mengenai perut penari hingga dia terpental ke lantai.
Kedua penari lain tiba-tiba saja bereaksi.
Deren yang kamu tinju. Itu pemimpinnya. Dinda langsung melapor ke Deren.
“pemimpinnya lebih ceroboh dari yang aku kira”
Karena pemimpinnya berhasil dikalahkan, sisters yang tersisa menjadi menjadi tertekan seakan mereka bingung harus berbuat apa.
Karena ini adalah keputusan emas, Deren memerintan para Front Line untuk menghabisi sisanya.
Ketiga sisters berhasil dikalahkan, bahkan keempat permata kosong telah menyala menjadi permata sapphire, warna terang yang dihasilkan bahkan bisa menembus tembok, lampu dari bohlam kalah olehnya.
“aku harus melaporkan kalau ada matis yang memiliki kemampuan control gravitasi” keluh Deren.
“rasanya seperti enggak adil” ucap Mirna “kita hanya bisa mengandalkan apa yang kita punya, tetapi mereka memiliki kemampuan layaknya sihir”
“makanya itu strategi dan memanfaat apa yang ada disekitar kita itulah yang diperlukan”
Tetapi selama ini, matis yang memiliki kemampuan special tersebut hanyalah rank A dan S, kata Dinda.
Deren dan yang lain kembali ke mobil mereka untuk beristirahat menunggu anggota Front line bagian Defensif untuk menatas sistem pertahan disini. Memikirkan mengenai pertarungan tadi sudah membuat dia cukup kualahan, mereka bisa bisa selama karena bom granat, itu saja. Lalu entah suatu keberuntungan atau kebetulan belaka, Mirna melempar bom tepat dilokasi si pemimpinnya. Mungkin jika itu bukan pemimpinnya pertempuran akan menjadi lebih sulit lagi.
__ADS_1
Dibawah langit gelap tak berbintang ini, masih banyak wilayah kota Bandung yang belum bercahaya biru, tentunya masih banyak para matis yang belum mereka kalahkan.[]