Sapphire City

Sapphire City
Chapter 37: Bukan Kali Pertama


__ADS_3

            Peristiwa sosok matis melarikan diri ditengah pertarungan bukanlah kali pertama terjadi, sedari dulu jika matis ingin melarikan diri mereka pasti memilih untuk melakukan, tapi itu semua balik lagi pada keputusan dan situasi. Jika situasi sudah tidak memungkinan mereka untuk bertahan maka keputusan akan diambil. seperti yang dilakukan matis harimau, dia tau dirinya tidak bisa menang, walau dari segi kekuatan dia lebih unggul, namun dia kalah jumlah. Matis itu juga tau ada tim backup diluar wilayahnya yang siap menyerang kapanpun jika dipanggil, maka dari itu si matis memutuskan untuk melarikan diri,


            Sayangnya matis melarikan diri bukanlah perkara bagus, sebab jika dia melarikan diri, dia pasti akan menyampaikan informasi mengenai apa yang telah dia alami kepada rekan-rekannya. Itu berarti, kedepannya para matis yang dihadapi Yuda dan teman-temannya akan jauh lebih kuat yang yang terakhir mereka hadapi sebelumnya


 


 


            Yuda dan Andy, mereka berdua tengah saling latihan adu senjata menggunakan belati diruang pelatihan dengan ditemani Mirna dan Luca. Kedua pemuda itu menyadari betapa lemahnya mereka apabila berhadapan dengan matis yang sekiranya sulit untuk ditembak, maka dari itu mereka berdua memutuskan untuk berlatih bersama dan sama-sama menguji kemampuan mereka dengan menggunakan belati.


            “kalian berdua padahal bisa langsung saja belajar pedang dari kita” kata Luca.


            “susahlah” jawab Yuda “aku pake senjata api tambah pedang, nanti berat bawanya”


            “aku juga, belati cukup untukku” Andy sepakat dengan ucapan Yuda.


            Kedua pemuda saling membentukan belati mereka sampai-sampai silih dorong satu sama lain, hingga Andy membalas dengan tendangan kearah perut Yuda. Tapi Yuda menahan kaki Andy hanya menggunakan tangan kiri.


            “ngomong-ngomong ini sudah 2 minggu kita tidak mendapatkan misi, kecuali misi bertahan sih” kata Luca.


            “itu karena para petinggi sedang membahas untuk masalah kedepannya” kata Mirna.


            “apa karena matis melarikan diri di misi terakhir kalian?” Tanya Luca.


            “iya” jawab Mirna “mungkin itu terdengar sepeleh, tapi sebenarnya matis melarikan diri bisa menjadi masalah dikemudian hari”


            “masalah?” Tanya Yuda.


            “matis yang melarikan diri, bisa memberitaukan apa yang dia alami dan siapa yang menyerang dia kepada rekan-rekannya, itu berarti sama saja dia memberitau kelemahkan kita” jawab Mirna.


            “jadi kelemahanku sudah diketahui matis” kata Andy sambil mengindari serangan Yuda.


            “benar” kata Mirna.


            “bukan hanya itu saja” Yuda menambahkan “ masalah matis tingkat S jugakan?”


            “matis raksasa yang kamu lihat itu?” Tanya Luca.


            “iya, waktu Andy dan Mirna sedang menjalankan misi, aku sempat membantu tim Fontline yang bertugas mematai itu matis, tetapi padahal posisi kami sangat jauh, namun entah bagaimana dia bisa menghilang begitu saja. Sejak saat itu sosoknya tidak pernah muncul lagi” jawab Yuda.


            “matis itu penuh misteri” kata Andy


 


 


 


            Yuda tengah tiduran sendiri dikamar asramanya, memandangi permata yang dia temukan dulu saat misi melawan babi. Sampai sekarang belum ada petunjuk apapun mengenai maksud dan fungsi dari permata ini. Apalagi tidak ada yang istimewa dari pertama ini, berapa kali pun dia melihatnya bahkan dengan kaca pembesar.


            Seseorang membuka pintu kamar asrama, Andy masuk kedalam seorang diri. Dia terlihat seperti habis dari kantin sekarang membawa pulang beberapa kaleng minuman soda.


            Andy melihat Yuda sedang tiduran sambil memandangi permata aneh dengan ekspresi penuh tanda tangan, dia tau temannya ini selalu menyelidiki mengenai fungsi permata tersebut, tetapi sampai sekarang tidak ada hasil apapun.


            Andy menghampiri Yuda “hei mau minum” sambil menawari minuman soda yang dia bawa.


            “boleh” Yuda menerima tawaran Andy.

__ADS_1


            Keduanya duduk disofa sambil meminum sekaleng soda.


            “yang lain mana?” Tanya Yuda.


            “masih dikantin, ngemil” Andy memperhatikan permata yang masih dipegang Yuda dan belum dia lepas “masih penasaran soal itu?”


            “begitulah” jawab Yuda dengan lesuh.


            “aku tau kamu yang menemukan benda misterius ini, tapi kenapa tidak kamu serahkan ke tim khusus yang bertugas menanganinya?” Tanya Andy.


            “awalnya aku ingin menyerahkannya, tapi entah kenapa aku ingin menyelidikinya sendiri”


            “tapi kan belum ada hasil”


            “iya sih”


            Andy meminta Yuda meminjam permata tersebut, Yuda memperbolehkan dan memberikan permata itu kepada temannya.


            Struktur permata ini begitu halus bahkan dari pada permata, malah seperti kaca. Tetapi bagian pinggir yang bergerigi aga tajam malah seperti bentuk pecahan, seakan-akan ada bagian lain lagi.


            “menurutku enggak mungkin ada satu deh” kata Andy.


            “maksudnya?” Yuda belum memahami ucapan Andy.


            “maksudku, ada kemungkinan ada bagian lain, coba deh lihat pinggir tajamnya” Andy menunjuk bagian yang dia maksud “ini terlihat seperti bekas pecahan. Itu berarti ada bagian lain”


            Disini Yuda baru sadar, dia selama ini tidak terpikir sampai disitu dan hanya terlalu fokus akan bagian tertentu yang mungkin memuat tulisan misterius.


            “kenapa aku tidak kepikiran ya” kata Yuda.


            “kamu terlalu fokus pada permukaan bukan bentuknya” kata Andy.


            “dari dulu kali”


            Kedua pemuda itu saling tertawa satu sama lain dan menyadari kalau misteri yang Yuda temukan haruslah dipecahkan bersama. Tetapi ada satu hal yang mengganjal dalam pikiran Yuda, jika memang ada bagian lain dari permata yang dia temukan, dimana lagi permata tersebut bersembunyi.


 


            Diruang operator, Lia dibantu Rizky sedang memantau keadaan kota bandung bagian Sukajadi atas, mereka menggunakan cctv yang terpasang disetiap jalan untuk melihat kondisi dan situasi saat ini. Tugas operator itu selain mengawasi tim-tim yang sedang bertugas mereka juga mengawasi bagian wilayah tertentu dengan cctv, tidak seperti tim Frontline bagian pengintai yang mengawasi secara langsung dilokasi, tim operator mengawasi dari markas.


            Rizky melihat dari layar, tim pengintai Frontline telah sampai dijalan Sukajadi bawah, mobil yang mereka naiki diparkirkan di perempatan bawah jalan layang. Sekarang tim tersebut akan menempuh perjalanan dengan berjalan kaki. Sebenarnya mereka bisa saja mengendarai mobil terus sepanjang jalan Sukajadi, tetapi dikarena banyak mobil mati disepanjang jalan dan karena emang jalan ini adalah jalan rawan macen jadinya mereka terpaksa jalan kaki.


            “andai kita bisa memindahkan mobil-mobil itu” gerutu Andy sambil melihat kondisi jalan lewat monitor cctv.


            “mana mungkin kita bisa mindahin” balas Lia, kebetulan meja operator dia ada disamping Rizky


            “kan cuman andai saja” kata Rizky.


            Layar cctv berpindah ke lokasi jalan dekat mall, disana banyak mobil dengan jumlah banyak mengantri masuk kedalam mall. Jika saja lampu disepanjang jalan menyala pasti jauh lebih baik dari pada tidak, karena terkadang ada kesan seram dari balik jalan sepi tak bersuara dan taka ada kehidupan ditambah cahaya penerangan sepanjang jalan mati.


            “melihat mall, aku jadi ingin belanja” kata Lia.


            “kak Lia ingin belanja apa lagi, perasaan kak Lia sering banget ke mall” kata Rizky.


            “biarinlah, seruloh ke mall” kata Lia.


            “bagiku sih lebih seru main futsal di gor” balas Rizky.

__ADS_1


            “itumah kesukaan laki-laki” kata Lia.


            Tim pengintai sudah berjalan jauh dan sekarang mereka hendak melewati mall dan terus menuju keatas hingga tiba disebuah taman ditengah-tengah jalan raya. Mereka hendak mendirikan pos khusus untuk mengawasi keadaan.


            Tetapi dari layar, Rizky melihat salah satu anggota tim pengintai paling belakang tiba-tiba saja menghentikan langkahnya, pandangannya terfokus pada pintu masuk mall yang berada jauh kebelakang.


            “dia ngapain sih berhenti” komentar Rizky.


            Tak berselang lama, orang itu pun memanggil teman-temannya untuk ikut melihat apa yang dia lihat. Dari gerak-geriknya mereka seperti melihat sesuatu yang tidak pernah mereka lihat sebelumnya.


            “eh pada ngerumpi” komentar Rizky.


            “kenapa?” Tanya Lia .


            “coba lihat ini”


            Lia berdiri dari kursi, dan berdiri tepat dibelakang Rizky, wanita itu melihat apa yang ditunjuk oleh Rizky.


            “kenapa mereka tidak melanjutkan misi” kata Lia, dia mengambil headset dari mejanya dan langsung berkomunikasi dengan ketua timnya “kenapa kalian diam dan bukannya jalan kelokasi?”


            Rizky ikut mengambil salah satu headset diatas meja dia untuk ikut mendengar apa yang dijawab oleh sang ketua tim.


            Itu….ada sesuatu yang aneh datang dari mall jawab sang ketua tim.


            Baik Rizky dan Lia sama-sama bingung. Rizky langsung memindahkan layar cctv yang semulai menghadap kejalan, jadi berpindah ke cctv yang menghadap ke mall.


            Semula tidak ada apapun yang bisa mereka berdua lihat, karena angle kamera tepat berada diatas sehingga sulit untuk melihat apa yang tim pengintai lihat. Tetapi tiba-tiba ada sesuatu yang berlari keluar dari mall. Awalnya Rizky dan Lia mengira itu adalah matis, tetapi setelah dilihat baik-baik itu adalah manusia.


            “itu manusia kan?” Tanya Rizky bingung “bukan matis menyerupai manusia?”


            “jelas-jelas itu manusia, sensor cctv kita menangkap kalau itu manusia” jawab Lia yang sama bingungnya dengan Rizky


            Lia, itu manusia atau matis? Tanya ketua tim.


            “manusia” jawab Lia


            Tapi wajahnya tidak kami kenal, dia siapa?,


            Kata-kata ketua tim membuat Lia dan Rizky terheran sejadi-jadinya, jelas sekali itu adalah manusia tetapi ucapan ketua tim mengatakan dia tidak kenal manusia itu, lantas dia siapa?.


            “apa mungkin dia matis yang menyamar?” Tanya Rizky.


            “itu tidak mungkin” Lia menyangkal ucapan Rizky “kalau pun dia matis, sensor tetap bisa tau kalau itu matis atau bukan”


            “lantas itu orang siapa?” Tanya Rizky lagi “mungkinkah dia terlewat”


            Lia menggeleng kepala “tidak mungkin, kalau pun dia calon anggota baru, harusnya sudah lama dia kita selamatkan”


            Hei, aku melihat dia melambai-lambaikan tangan, kata ketua tim, dia terlihat kacau malah wajahnya kaya berdarah gitu.


            Tanpa pikir panjang, Lia memintahkan tim disana untuk menyelamatkan orang tersebut. Rizky melihat dari layar, orang itu memang terlihat sangat berantakan, dan penuh luka, seakan-akan habis diserang. Dua orang dari tim masuk kedalam halaman parkir mall dan hedak menjemput orang tersebut.


            Entah  bagaimana, orang yang hendak diselamatkan tim pengintai, tiba-tiba saja terjatuh seperti orang kesandung, lalu dalam kurung waktu cepat dia diseret masuk kedalam mall. Situasi tersebut terjadi begitu cepat, bahkan tim pengintai yang ada ditempat maupun Rizky dan Lia yang melihat dari layar terdiam karena terkejut akan apa yang mereka saksikan.


            Dengan cepat, Lia memutar kembali cctv kebagian saat orang itu diseret masuk kedalam. Tidak ada apapun yang menariknya, dia diseret begitu saja.


            “apa ini polthegeis” kata Lia

__ADS_1


            “entahlah” kata Rizky “tapi apapun itu, apa yang ada didalam bukanlah sesuatu yang mudah untuk dihadapi”[]


__ADS_2