
“Hei ayo keluar”
Yuda tersadar ketika seseorang memanggilnya. Itu Luca dia berdiri didepan pintu penjara yang terbuka lebar, kenapa dia ada disini, tapi yang lebih penting kok pintunya penjara terbuka lebar, padahal baru saja satu hari mereka dipenjara.
“loh Luca kenapa kamu disini?” tanya Andy.
“aku disini untuk menjemput kalian semua keluar dari penjara” jawab dia.
Dari samping muncul sosok Derec dan Lia. Bukannya mereka berdua harusnya ikut dipenjara kenapa bisa diluar bersama Luca. Ini aneh, tetapi bukan hanya mereka berdua Gilang, Mirna dan Siska juga sudah berada diluar.
“aku akan jelaskan setelah kalian berdua keluar, ayo” ajak Luca.
Mau tak mau Yuda ikutin saja ucapan temannya itu, lagi pula yang lain juga pada ikut keluar. rupanya bukan hanya Yuda saja yang bingung. Teman-temannya juga sama bingungnya dengan dia. Mereka saling pandang satu sama lain, meminta penjelasan pada situasi ini.
Tapi yang bikin Yuda tambah bingung harusnya Derec dan Mirna itu istirahat dan enggak boleh jalan-jalan, tapi enak kenapa mereka tidak kelihatan kesakitan sama sekali, malah kelihatan sehat-sehat saja.
“lukamu gimana?” tanya Yuda.
“sudah aga mendingan” jawab Derec “tapi masih sakit, cuman kalau jalan-jalan seperti ini aku masih kuat”
Derec monster atau apa, kenapa dia masih kuat padahal waktu misi, luka dia paling parah dari pada Mirna.
“harusnya dia istirahat” Lia angkat bicara “udah bagus sel dia ada tempat tidur seperti diruang kesehatan, padahal Luca tadi udah bilang enggak usah dipaksakan, masih aja tetep turun”
“hei aku enggak mau hanya diam saja tanpa mendengarkan penjelasan apapun” balas Derec.
Mereka mulai debat, Yuda tak ingin mendengarnya. Memang Derec ini sudah memaksakan diri.
Setelah sekian lama berjalan, dan mereka sampai dipintu keluar ruang penjara Luca mulai menjelaskan semuanya.
“sebenarnya aku diminta Mba Nadira untuk membebaskan kalian” jawab Luca.
Yuda belum pernah mendengar nama itu, ini pertama kali dia mendengar nama tersebut dalam markas ini. Tetapi dari ucapan Luca dia sepertinya orang penting. Namun saat Yuda melirik Kearah Lia dan Derec wajah mereka diselimuti rasa terkejut.
Bukan hanya kedua senior itu yang terkejut, Mirna dan Gilang juga sama. Itu berarti posisi Mba Nadira ini memang terbilang tinggi.
“Mba Nadira siapa?” tanya Siska.
“Sekertarisnya Verdic” jawab Lia “tapi kenapa dia menyuruhmu untuk membebaskan kita?”
“dia bilang sih hasil otopsi sudah keluar, tapi katanya Mba Nadira ingin kalian semua keruangan dia buat lebih jelasnya” jawab Luca.
Luca dia sepertinya dia tau tapi tak ingin menjelaskan secara detil, mungkin karena dia bukan diposisi yang tepat untuk menjelaskan semuanya. Toh sepertinya teman-teman Yuda juga tak ingin bertanya lebih lanjut.
Saat keluar dari ruang penjara dan memasuki Lobby, seorang orang disana langsung memandangi Yuda dengan tatapan aneh, bahkan jelas sekali mereka saling berbisik karena membicarakan dia.
Mungkin berita mengenai Yuda dan teman-temannya telah menyebar luas dalam penjara. Pas menjadi sebuah gossip harian.
“entah kenapa, berasa jadi terkenal dadakan” bisik Andy bercanda.
__ADS_1
“jelas-jelas mereka semua membicarakan kita” balas Yuda.
Andy disaat seperti ini dia masih saja bisa bercanda, tapi ya lebih baik dari pada melihat orang-orang bergosip dibelakang yang jelas-jelas kelihatan banget.
Luca hanya bisa mengantar sampai depat pintu, dia tidak bisa ikut masuk maka sebagai gantinya dia akan menunggu Yuda dan Andy dikamar asrama.
Derec yang pertama mengetuk pintu ruangan Mba Nadira. Ada jawaban seorang wanita dari dalam, dia pun mengizinkan Yuda dan teman-temannya masuk setelah Derec bilang kalau semuanya ada disini.
Saat masuk kedalam, terdapat ruangan kecil lengkap dengan meja kerja dan kursi didepan mojok ke dinding, lalu 2 pasang sofa coklat dan meja dekat pintu masuk, ada rak buku kayu disamping meja kerja. Seorang perempuan berdiri sambil membaca buku, usia dia kira-kira 20an, tinggi, mengenakan kerudung abu, wajahnya putih cantik khas wanita Bandung.
“duduklah” ucap Mba Nadira.
Semuanya ikuti ucapan Mba Nadira tanpa bertanya, seolah tidak ada satu pun dari mereka hendak bertanya terlebih dahulu, apalagi suasana dalam ruangan begitu sepi.
Mba Nadira duduk disalah satu kursi dekat sofa, dia melihat satu persatu tamunya dengan serius, seperti ingin mematikan semuanya ada disana.
“sepertinya sudah semua” ucap Mba Nadira terdengar serius “sekarang aku akan memberitau kalian kalau hukuman kalian semua telah dicabut”
Semua orang terkejut mendengarnya, bahkan Derec dan Lia juga mereka berdua seperti dihantam batu keras. Saat Derec meminta penjelasan langung dipotong oleh mba Nadira karena dia belum selesai bicara.
“tentu itu termasuk posisi Derec dan Lia, kalian berdua masih tetap diposisi masing-masing, enggak ada perubahan, ada yang ingin bertanya?”
“maaf tadi Luca bilang hasil otopsi sudah keluar, otopsi apa?” tanya Yuda.
Mba Nadira menjelaskan kalau mayat korban yang dibunuh matis langsung dibawa kemarkas untuk diotopsi, lalu hasilnya baru keluar 2 jam lalu. Ternyata ada fakta baru kalau sang korban setelah diseret langsung dibunuh. Ada beberapa bukti yang menguatkan fakta otopsi ditempat kejadian. Berupa bekas darah dan sisa-sisa sidik jari korban yang menempel ditempat tertentu.
Tak bisa Yuda sangkat, diorganisasi ini juga memiliki orang-orang yang bisa melakukan otopsi, bukan hanya itu saja. Mereka juga memiliki kemampuan seperti menyelidiki kejadian layaknya seorang detektif, awalnya dia mengira ini adalah tugas tim pengintai, tetapi ternyata Lia berbisik ke Yuda kalau itu tugas tim Backup.
Bisa dibilang setelah tim utama atau tim Frontline selesai dengan tugasnya mengalahkan matis dan mentrasfer cahaya batu sapphire, tim backup datang untuk mengerjakan sisanya, seperti yang mereka lakukan saat Yuda sedang misi di kampus.
Lalu karena ini adalah kasus khusus, demi penyelidikan tim backup, mereka meminta tim pengintai untuk membantu penyelidikan, karena bagaimana pun merekalah yang pertama melihat kejadian tersebut.
Namun, itu belum cukup membuat Yuda merasa tenang, rasa bersalah dalam dirinya masih tersimpan cukup dalam.
“selain itu ada alesan lain juga kenapa kalian dibebaskan” kata Mba Nadira “matis yang tersisa sekarang adalah tingkat A dan S”
Itu berarti matis class B kebawah rata-rata sudah dikalahkan.
“apalagi sekarang kita sedang dalam situasi dimana permata Sapphire ditemukan pecah, dan matis yang memecahkan belum ditemukan hingga sekarang, bukan hanya permasalah permata sapphire yang pecah, tapi kita juga dihadapkan dengan para matis yang memiliki kemampuan diluar prediksi”
Yuda disini enggak paham, apa maksud diluar prediksi, dia bisa dibilang baru diorganisasi ini. Tetapi untuk Mirna dan juga orang-orang yang lebih berpengalaman dari pada Yuda pasti paham ucapan dari Mba Nadira.
“kalian pahamkan maksudku?”
Siska dan Andy juga sama enggak paham dengan Yuda, bahkan mereka saling silih pandang satu sama lain.
“Yuda” panggil Mirna “apa kamu ingat matis dikampus? Dialah salah satunya”
Yuda disini terdiam, pengalaman gilanya dikampus yang dimana dia terpisah dengan teman-temannya dan harus main petak umpet dengan matis anak kecil dan boneka itu salah satu matis yang dipermasalahkan.
__ADS_1
“bukan hanya itu saja, masih banyak matis-matis lain yang kemampuannya diluar prediksi itu, mungkin biar lebih mudah dimengerti, para matis mereka ‘upgrate’” Mba Nadira sadar sebagian dari orang-orang yang dipanggilnya kurang memahami penjelasannya.
“berarti White Lady juga?” tanya Lia.
Mba Nadira menganggu “benar, lalu kelompok matis harimau juga sama. Termasuk yang dibandara”
“waktu matis yang dikampus itu berbicara ke operator, jujur saja aku aga merinding” kata Lia mengakuinya “tak disangka ternyata itu bukan suatu kebetulan, apa mungkin mereka menyelidiki kita semua atau mempelajari?”
“entahlah, tapi untuk sekarang aku ingin kalian tetap fokus pada misi selainjutnya. Kecuali Lia” Mba Nadira melirik ke Lia “Lia kembalilah keruang operator, bantu Rizky dan operator lain melacak keberadaan matis dibandara, lalu” kali ini dia melirik Derec “aku ingin menerjunkanmu, tapi karena masih proses pengobantan (dia baru sadar harusnya Derec tidak boleh banyak bergerak) jadi untuk sekarang Derec istirahat diruang kesehatan”
Derec ingin angkat bicara, tapi langsung disela oleh Mba Nadira, dia pasti tau kalau Derec tipikal orang suka memaksakan diri.
“begitu pula denganmu Mirna” ucap Mba Nadira “jangan coba-coba mengajukan diri mengambil misi, sekarang kamu dan Derec pergi keruang kesehatan”.
Selesai dari ruang Mba Nadira, masing-masing dari mereka semua kembali kekerjaan mereka. Lia keruang operator, Derec dan Mirka keruang kesehatan (Lia terus menatap tajam memastikan keduanya tidak mencoba kabur), sementara sisanya memutuskan kembali ke kamar asrama.
Saat Yuda dan Andy menyusuri lorong menuju asrama, ada beberapa orang yang melewati mereka dengan tatapan aneh mungkin mereka tau kalau harusnya Yuda dan Andy masih dalam masa hukuman padahal sebenarnya sudah dicabut.
Tiba dalam asrama, Luca ada disana duduk disofa menunggu mereka berdua diatas meja ada beberapa kaleng soda dan sepiring isi lemper, bacang, lontong isi sayur disiapkan sengaja oleh Luca.
“ngapan kamu bawa makanan sebanyak ini?” tanya Andy heran.
“enggak apa-apa, setidaknya buat kalian jugalah ayo makan” jawab Luca.
Baik Yuda maupun Andy merasa aga kurang nyaman tapi pada akhirnya duduk disamping Luca sambil menikmati makanan yang dibawa pemuda itu.
“jadi gimana?” tanya Luca.
Yuda menceritakan semuanya kepada Luca mengenai kebenaran dari balik korban, beserta bukti-bukti lalu soal matis yang telah upgrate sehingga menjadi ancaman.
“jadi begitu, makanya sekarang masa hukuman kalian dicabut” ucap Luca “tapi apa kalian berdua baik-baik saja?”
“apa maksudmu?” tanya Yuda sambil minum kaleng soda.
“walau pun hukuman kalian dicabut, tetapi rasa bersalah pasti masih ada”
Luca bisa menebang dengan sangat baik, tak disangka dia tau rupanya. Pada akhirnya mereka berdua jujur, kalau masih ada rasa bersalah karena tidak sempat menyelamatkan korban apalagi membiarkannya mati ditangan matis.
“aku enggak pandai bikin kata-kata semangat, tapi” ucap Luca “ada baiknya kalian jangan larut dalam rasa bersalah, kita harus fokus biar kejadian kemaren tidak terulang kembali”
Ucapan Luca ada benarnya, kalau terlalu larut dalam rasa bersalah, dia tidak akan pernah bisa menjalankan misi dengan baik dan berakhir tewas ditangan matis.
“enggak pandai? Padahal kata-katamu itu bagus loh” balas Andy.
“setidaknya itu cukup buat semangatin kalian biar enggak lemas” Luca membalas ucapan Andy.
Entah bagaimana suasana dalam kamar asrama berubah menjadi ceria seperti ini, Luca dan Andy sama-sama saling ejek yang pada akhirnya mereka tertawa satu sama lain, dengan diakhi mereka tanding main ps.
Tetapi semua canda dan tawa itu hanyalah sementara saja, karena mereka tau setelah ini ada pekerjaan baru menanti.[]
__ADS_1