
Masuk kedalam, sudah disambut pintu-pintu dan dua lorong. Setiap pintu memiliki tulisan nama ruangan diatasnya. Tata Usaha dan Ruang Tamu, sedangkan lorong ada lorong depan diantara dua pintu, satu lari lorong dekat ruang Tata Usaha.
Kalau diingat lagi, mati besar tadi muncul dilorong dekat jendela, itu berarti dia masih ada dilorong sana.
“tapi kalau mau ke tangga harus lewat lorong ini” Raden nunjuk lorong samping ruang Tata Usaha.
“kan ada matis disana” Luca mengingatkan.
“kalau mau lewat jalan muter, kita kelorong depan dulu” saran Raden “lewat taman, terus masuk lagi ke gedung sekolah”
“untuk sekarang sesuai rencana awal kita observasi dulu gedung sekolah ini, sebisa mungkin jangan sampai ketemu matis” kata Senny.
Raden yang memimpin jalan, diikuti Senny, Yuda dan Luca. Sebagai orang yang menimba ilmu disini, Raden sudah tau betul seluk beluk sekolah ini, dia memang ingin memberitau mereka semua setiap jalan, rute dan sudut tiap sekolah.
Tetapi dia tidak ingin melakukannya, dan tetap diam lalu berbicara seperlunya saja.
Keluar dari lorong, disambut taman sekolah. Disetiap sisi taman ada ruang kelas yang dihubungkan oleh jalan keramik. Kanan dan kiri masing-masing ada dua ruang kelas. Bagian atas pintu ruang kelas ada papan bertuliskan kelas 3 IPA. Itu berarti disini khusus ruang kelas 3 IPA.
“disini khusus kelas 3 ya?” tanya Yuda.
“iya, ditaman IPA dan dilorong tadi IPS” jawab Raden.
Ada beberapa patung siswa yang keluar dari ruang kelas membawa tas mereka masing-masing, itu berarti mereka semua berencana untuk pulang kerumah.
BRAK! DUK! DUK!
Suara keras langkah kaki terdengar jelas mendekat masuk taman.
Senny batalkan rencana observasi, Perintah Rizky Matis mendekat kearah kalian, dia…
Tak sempat mendengar ucapan Rizky, sosok matis muncul dari arah pintu masuk lorong satu lagi. Padahal niat awal ingin kesana tetapi malah ada matis didepan mereka.
Ukuran matis itu benar-benar besar, gemuk, bajunya compang-camping, tinggi dia setinggi langit-langit lorong gedung sekolah, kulitnya juga hitam, lalu kedua matanya tidak ada pupil,
“GRRRRAAAAAAAAAAAAAAAA!” matis itu meraung sangat keras, saking kerasnya, samar-samar terdengar suara kaca pecah dari salah satu ruang kelas.
“tidak ada pilihan lain, semuanya lari masuk kedalam!” perintah Senny.
Si matis besar itu mulai berlari, langkah larinya menyebabkan gempa kecil disekitar. Senny menembaki matis itu dengan pistolnya, diikut Yuda yang ikut menembaki matis tersebut. sedangkan Luca dan Raden sudah lari duluan masuk lorong mereka berdua berdiri dikedua sisi pintu lorong menunggu dua temannya masuk.
Tidak ada satu pun peluru yang mengenai matis karena, tangan gemuknya dapat menepis satu persatu peluru dengan begitu mudah.
“tangan dia apaan sih” protes Senny “prisai bergerak!”
“Woi! Cepat kesini, pintu mau ditutup” teriak Luca.
“Senny duluan, tar aku nyusul” kata Yuda.
Senny balas mengangguk, sambil berlari masuk lorong sesekali dia berbalik dan menembaki matis meski dia tau kalau itu sia-sia.
Yuda tak henti menembak si matis, sampai ada kesempatan, dia lempar pisau tepat kearah wajah matis. Tetapi lemparan pisau dari Yuda ditangkap begitu saja dengan tangan kanan matis, dengan muda dia hancurkan pisau milik Yuda sampai hancur berkeping-keping.
__ADS_1
Justru saat matis itu menangkap pisau, Yuda mengambil kesempatan untuk lari ke lorong.
“Yuda cepat! Dia ngejar” kata Luca.
“CEPAT!” teriak Raden.
Walau badan dia besar, tapi masih bisa lari mengejar Yuda. Tau kalau dirinya akan ditangkap, Yuda meluncur seperti gerakan sleding tackle ala pemain bola sampai masuk kedalam.
Segera setelah Yuda masuk, Luca dan Raden langsung menutup pintu dan menguncinya dari dalam.
Padahal pintu sudah ditutup, tapi matis memaksa masuk dengan menggedor pintu begitu keras.
“gila, itu matis besar banget” kata Yuda sampai berkeringat.
“dia juga bisa nangkis peluru” tambah Senny.
“jadi sekarang kita harus gimana?” tanya Raden.
“untuk sekarang kita…”
Tangan besar muncul menciptakan lubang besar di pintu, diikuti tangan lain disisi sebelah pintu. Yuda dan teman-temannya perlahan-lahan mundur menjauh dari pintu. Dua lubang tercipta oleh kepalan tangan matis, sekarang pintu itu terhempas dan mendarat tepat didepan kaki Yuda.
Sosok matis muncul tepat didepan mereka, terlihat dari wajahnya kalau suasana hatinya sedang tidak bagus.
Luca tanpa rasa takut menyerang matis dengan pedang, tetapi pedang Luca tidak satupun dapat menggores si matis, yang ada pedang Luca langsung digenggam kuat oleh tangan matis sampai sulit dilepas.
“hei lepaskan pedangku!” teriak Luca.
“Luca aku bantu” Yuda menembaki wajah matis, meski tidak mempan tapi cukup buat simatis aga jengkel dan mau melepas pedang Luca.
“kalian semua, setelah aku beri tanda, lari ke lorong sana” teriak Senny.
Senny, dia mengeluarkan bom dari tas kecil. Bukan 1 melainkan dua segaligus. Senny dia melempar bom cahaya, cahaya terang menyelimuti matis sampai dia berteriak-teriak karena tidak bisa melihat.
“sekarang!” teriak Senny langsung lempar bom asap.
Yuda, Luca dan Raden berlari sampai mereka tiba dipersimpangan menuju kamar mandi, tak lama setelahnya Senny muncul.
Ada gempa kecil terasa dibawah kaki, itu pasti berasal dari simatis, gempa tersebut terus muncul dan muncul namun efeknya sedikit demi sedikit menyusul seolah matis pergi menjauh kearah berlawan.
“aku rasa kita aman sekarang” kata Raden baru selesai melihat kelobby.
“tapi gimana caranya kita melawan matis yang segala serangan tidak mempan sama sekali?” tanya Luca.
“itu dia masalahnya, aku juga masih mikir ini” jawab Senny kebingungan “Rizky ada ide?”
Wah kalian bingung apa lagi aku, Rizky terdengar angkat tangan, paling pahit-pahitnya tuh matis harus dilempar ke portal.
“gimana caranya, badannya aja segede itu” balas Senny.
Semua orang kebingungan gimana cara menghadapi matis yang ukuranya sebesar lorong tersebut, dilukai saja enggak menyisakan goresan apapun, seakan-akan dia tahan banting.
__ADS_1
Pandangan Yuda tiba-tiba teralihkan ke kamar mandi, tapi ini jelas-jelas membuat dia heran sendiri, sudah kesekian kalinya setiap misi selalu bersembunyi dalam kamar mandi.
Namun ada yang aneh dengan kamar mandi sisi perempuan, ada beberapa patung manusia yang badannya terbelah, kepala hilang, atau tersisa kaki.
“hei coba lihat ini” ucap Yuda “patung-patung siswa disini kok anggota badannya enggak lengkap”
“masa sih?” tanya Luca, melihat yang ditunjuk Yuda “eh iya, kok hancur gitu”
“umumnya patung manusia enggak mungkin hancur tanpa sebab” Senny menjelaskan.
“terus kok bisa gini” Yuda terheran sendiri.
Raden memberanikan diri berjalan melewati patung-patung rusak masuk kedalam kamar mandi. Pemuda itu benar-benar enggak peduli dia masuk kamar mandi perempuan (walau semua penghuninya sudah jadi patung batu).
“lagi-lagi” terdengar suara Raden dari dalam kamar mandi, nadanya terdengar kesal.
“ada apa?” tanya Yuda masuk kedalam nyusul Raden.
Yuda melihat Raden berdiri disamping patung perempuan tanpa kepala, dengan salah satu kaki diangkat seperti hendak menginjak. Tetapi yang dilihat Raden bukan patung disebelahnya, melainkan sebuah patung didepannya.
Patung itu terlihat sedang tiduran dengan keadaan kepala ditutup kedua tangan,
Yuda sadar ada kejadian aneh dalam kamar mandi ini.
“sebenarnya kalian lihat apa sih, sampai masuk kamar mandi perempuan?” tanya Senny ikut masuk diikuti Yuda.
Jika diperhatikan baik-baik patung perempuan yang sedang tiduran tersebut terlihat masih utuh dan tidak ada cacat seperti patung yang lain. Tapi yang jadi masalah bukan patungnya yang rusak melainkan apa yang terjadi disini.
“kenapa semua patung disini rusak-rusak” ucap Luca heran.
“enggak semua” Yuda memberitau “patung dekat Raden utuh”
Raden memperlihatkan patung utuh tersebur kepada teman-temannya. Yuda terkejut, patung tersebut bukan hanya sekedar utuh tapi…
“tunggu ini” senny melihat sekeliling “walau patung yang lain rusak tapi gelagat dan tingkah laku mereka tetap bisa dibaca”
“yang ini bawa kamera” Luca menunjuk patung dekat cermin.
“sisanya cuman menonton” lanjut Senny.
“yang ini…” Yuda menunjuk patung samping Raden, dia tak sanggup melanjutkan ucapannya karena…
“Bullying” kata Raden “ada bullying disekolahku”
Yuda tidak bisa apa-apa, baru kali ini dia melihat bullying secara langung. Tapi ini terlalu jelas sampai-sampai sekujut tubuh Yuda mendidih melihatnya.
“aku tau kalian kesal, tapi yang jadi pertanyaanku kenapa patung-patung pelaku bullying rusak semua, sedangkan korbannya masih utuh” ucap Luca menyadarkan semua.
Ucapan Luca ada benarnya, semua rusak kecuali korban. Enggak mungkin ketika seluruh penghuni sekolah menjadi patung batu lalu rusak begitu saja. Jika dilihat baik-baik kerusakan patungnya tidak alami, seperti disengaja.
kalau emang sengaja tapi siapa pelakunya, tanya Rizky.
__ADS_1
Tidak ada satu orang pun yang jawab, semua terdiam membisu.[]