
“baiklah sekarang aku harus gimana” Yuda tak tau harus bagaimana atau lebih tepatnya dia tidak memiliki rencana untuk membebaskan Reza dari kesurupan. Tapi satu hal yang harus selalu dia ingat adalah, jangan pernah menyentuh boneka yang dipegang Reza.
Saat ini Yuda memilih untuk berjalan menyusuri lorong lantai 2, siapa tau dia memiliki ide atau cara menyelamatkan Reza. Tetapi jika diperhatikan baik-baik, lorong lantai ini, dipenuhi banyak patung manusia, malah sepanjang lorong dekat lift sampai ujung penuh dengan patung manusia. Entah mereka sedang mengadakan acara atau ada semacam kegiatan, tetapi keberadaan mereka justru akan memperlambat kaki Yuda jika dia berusaha melarikan diri dari kejaraan matis. Ini bukanlah tempat yang cocok untuk melawan matis, dia tidak akan bebas bergerak disini.
Yuda mencapai sebuah ruang kelas kosong berisi patung mahasiswa sedang lesehan. Ruangan ini bagian luarnya memang tidak dipenuhi patung-patung tetapi dinding kelasnya bukan beton, kaca. Aktivitas apapun yang ada didalam bisa terlihat jelas.
“ada yang bersinar” Yuda memperhatikan seksama benda bersinar didalam ruang kelas “bukan bersinar tapi terpantul cahaya senter”
Itu pisau/belati milik Yuda, tersimpan disalah satu patung mahasiswa yang sedang sila dekat pojok dinding. Yuda tersenyum pada dirinya sendiri, ini adalah perangkap, perangkap untuk memancingnya keluar. si matis rupanya sudah tau dia ada disini. Jika dia memilih masuk kedalam berarti jatuh dalam perangkap, kalau memilih tidak matis entah keluar atau enggak.
“hmmmm, aku ikut main saja deh” keputusan nekat tapi itu keputusan Yuda.
Pintu kelas tidak terkunci, sengaja. Kalau begitu si matis pasti datang. Rambut-rambut keluar dari langit-langit seperti seekor ulat yang baru saja membuat lubang pada buah, menggeliat lalu berayun-ayun setelah terbebas dari sesaknya langit-langit dinding. Hawanya ada dibelakang, dia tak bergerak, menunggu Yuda mengambil belatinya. Dengan cepat Yuda berputar, melontarkan kuda-kuda kaki kanan, tak peduli itu Reza atau bukan, dia harus melawannya.
Reza menangkap kaki kanan Yuda, tak bisa lepas, terlalu kuat. Senyuman lebar nan menakutkan terukir jelas diwajah pemuda tersebut. dia hendak mematahkan kaki Yuda. Tak boleh dibiarkan, Yuda langsung mengangkat kaki yang satu lagi, mengandalkan dorongan kaki yang ditahan. Yuda menghantap dagu Reza dengan sikut kaki kiri, membuat pemuda tersebut terjatuh dan cengkraman kaki Yuda terlepas. Sebelum dia bangkit Yuda langsung berlari meninggalkan Reza yang tak kunjung bangun.
“sorry kawan, sengaja” kata Yuda.
Yuda berlari menuju lorong depan yang aga sepi, tapi masalah utama dia adalah rambut-rambut yang menggantung dilangit-langit mengejarnya. Ini mengingatkan dia akan seri anime terkenal yang sangat dia suka tentang perburuan iblis. Tapi, tidak ada waktu berlaga seperti dalam anime, toh dia tidak ada niat untuk memotong setiap helai rambut tersebut.
Baru saja terbebas, dihadapannya berdiri gadis kecil yang sebelumnya dia lihat di lobby.
“akang bade kamana[1]?” Tanya dia.
Yuda diam tak menjawab.
“akang teu hayong maen sareng Neng Yuyu?[2]”
“Neng yuyu?” barulah Yuda bertanya pada gadis matis tersebut.
“iya neng Yuyu, tuh ditukang[3]” si matis menunjuk kearah belakang Yuda.
Reza berdiri tepat dibelakang Yuda, luka memar karena serangan dari sikut Yuda terpangpang jelas, itu tidak pentinng. Masalah utamanya adalah, siapa yang dimaksud Neng Yuyu? Tunggu! Yuda kebingungan, Yuda kembali melirik pelan kebelakang digadis matis masih tetap menunjuk kearah Reza, tapi dia bukan menunjuk Reza, yang dia tunjuk adalah boneka yang dibawa Reza selama ini. Boneka itu Neng Yuyu. Sekarang si gadis matis menghilang begitu saja. Menyisalah Yuda dan Reza yang masih kesurupan, sekarang salah satu tangan Reza yang bebas memegang belati milik Yuda.
“woi Reza sadar!” percumah Yuda teriak, yang ada dia malah hampir ditusuk oleh belatinya sendiri.
Satu-satunya cara adalah melepas boneka neng yuyu tersebut dari tangan Reza, tapi susah. Kalau pun dia memilih lari, yang ada dikejar balik. Jika bisa dia harus mencari semacam benda atau apapun itu untuk membantunya melepas boneka tersebut.
Ada patung manusia di pojokkan sedang duduk lesehan, disamping dia tas dan juga……jaket. Yuda secepat kilat berlari untuk mengambil jaket tersebut. Reza yang kesurupan berupaya mengejar Yuda. Yuda berhasil meraih jaket tersebut. baru saja dia berbalik, Reza langsung menusuk lengan kanannya, tak pernah dia merasakan rasa sakit seperti ini sepanjang hidupnya, tapi ini kesempatan, tangan kirinya yang memegang jaket langsung meraih boneka neng Yuyu. Reza memberontak tak ingin melepas boneka tersebut.
“ohh ayolah lepas, aku tak kuat tau!” teriak Yuda.
Dengan sekuat tenaga, Yuda berhasil melepas boneka tersebut dan membuang jauh-jauh dari mereka. Tubuh Reza tiba-tiba sempoyongan dan terjatuh kebelakang, sedangkan Yuda dia terduduk lemas, dia harus melepas belati yang menusuk tangannya dan menghentikan pendarahan sebelum terlambat.
“ouuhh, aww daguku” Reza sadar dan bangun “tadi aku ingat ada di lobby kampus” Reza melihat Yuda dihadapannya dalam kondisi terduduk dan tangan tertusuk belati “hei Yud kamu kenapa kok bisa begini”
__ADS_1
“sama kamu tau, tanganku ditusuk” kata Yuda.
“loh kok aku” Reza tersadar “eh tunggu sebenarnya apa yang terjadi?” pemuda itu tak ingat akan apa yang dia alami selama ini.
“akan aku jelaskan, tapi bisa tolong bantu” kata Yuda.
Selagi Reza mengikat tali (baju dia sendiri dirobek bagian bawahnya) dibawah lengan Yuda yang ditusuk. Yuda menjelaskan seluruh perihal apa yang terjadi. Awalanya pemuda dihadapannya tidak percaya, tetapi setelah dia melihat sendiri kondisi dirinya dan lantai tempat mereka berada sudah berbeda dengan lobby kampus barulah dia percaya.
“lalu tau cara melawan mereka?” Tanya Reza.
Yuda menggelengkan kepala “sejauh ini aku tau matis itu adalah anak kecil, tapi boneka yang kamu bawa waktu kesurupan juga punya kekuatan untuk menarik siapapun untuk menyentuhnya”
“setelah disentuh akan kesurupan” lanjut Reza “dilihat dari kondisi sih, ini sudah bukan tingkat B lagi”
“tingkat A ya?” Yuda sudah menduganya.
“iya, karena bagaimana matis tersebut menggunakan kekuatannya melebihi tingkat B. umumnya matis tingkat B jarang ada yang punya kekuatan kecuali kasus yang stasiun. Tapi ini sih melebihi yang itu” kata Reza.
Yuda perlahan berdiri.
“hei, kamu yakin masih bisa bertarung?” Reza cemas dengan kondisi Yuda.
“aku enggak mau duduk doang, tapi ada baiknya kita pergi kelantai 6_”
Baik Yuda atau Reza, mereka menyadari rambut-rambut yang mengiasi langit-langit, bergerak lebih cepat dan tidak karuan seperti diterpa angin badai. Ini bukan pertanda baik. Firasat Yuda mengatakan matis itu entah marah atau tambah kuat.
Yuda setuju “iya, berharap saja dia berhasil menemukan Mirna”
Kedua pemuda itu berlari menaiki setipa anak tangga dalam keadaan lantai bergetar dan rambut bergerak gesit. Seperti seisi bangunan ini ikut bergetar mengikuti mood si matis. Ada suara teriakan kencang dari atas, suara anak kecil berteriak. Itu suara matis, dia terdengar begitu marah. Apakah karena Yuda berhasil membebaskan Reza matis tersebut marah? Tapi kalau karena itu harusnya dari awal Reza bebas langsung marah, pasti ada sebab lain si matis jadi marah.
“sudah dilantai 6, tapi mana Luca” kata Reza.
Tidak ada hawa keberadaan Luca.
“woooii Yuda, Reza”
Luca berteriak dari sisi lorong, senjata Yuda dan Reza juga ikut dia bawa. Dibelakang ada sosok Mirna. Luca berhasil menemukan Mirna.
“akhirnya bisa ketemu” Luca memberikan senjata kepada Yuda dan Reza.
“Mirna kamu baik-baik saja?” Tanya Yuda.
“begitulah, aku dikurung di lab computer” jawab Mirna.
“sebenarnya apa yang terjadi? Kenapa matis tiba-tiba marah” Reza memeriksa amunis senjata dia.
__ADS_1
“soal itu_” Luca terlihat aga ragu-ragu.
Mirna enggak buka mulut, gadis itu malah menatap Luca seakan menyuruh dia untuk menjelaskan apa yang terjadi. Tatap Mirna membuat Luca gugup hingga membuat dia buka mulut. Luca menjelaskan setelah dia membebaskan Mirna, tak sengaja didekat lab tempat Mirna disekap ada ruang dosen berisi senjata mereka semua. Selagi memeriksa seluruh senjata, Luca tak sengaja menjatuhkan senter hingga terjatuh dan terbanting. Berkali-kali dia berusaha menyalakan senter. Saat senter berhasil menyala, tak sengaja sinarnya membuat mata Luca silau hingga dia mundur beberapa langkah dan……
“aku tak sengaja menginjak” kata Luca pelan.
“menginjak?” Tanya Yuda.
“eehhh sisir kayu” Luca pelan-pelan mengatakannya.
“sisir kayu?” Reza kebingungan.
“ada kalanya terkadang sebuah boneka tuh ada yang satu set dengan sisirnya” Mirna menjelaskan “sisir kayu yang tidak sengaja Luca injak kemungkinan milik tuh boneka”
“punya Neng Yuyu berarti” kata Yuda.
“Neng Yuyu?” Mirna menatap bengong kearah Yuda.
“gadis matis itu bilang bonekanya bernama Neng Yuyu. Aku merasa boneka itu juga adalah matis” Yuda menjelaskan ke Mirna.
“aku kira neng yuyu si gadis, eh bentar” Mirna tersadar akan ucapan Yuda “boneka…..sisir……neng Yuyu” tiba-tiba saja Mirna terkejut “oohh tidak”
“ada apa?” Tanya Reza.
“selama ini kita percaya kalau matis itu adalah si gadis, tapi sebenarnya matis yang sesungguhnya adalah boneka Neng Yuyu” kata Mirna.
Ucapan Mirna membuat semuanya ragu dan kebingungan hingga mereka pun merasa tak yakin apakah sebuah boneka adalah matis. Tetapi Mirna berusaha membenarkan ucapan dia, tanda-tanda matis tersebut adalah boneka karena boneka tersebut dapat mengontrol siapapun yang memegangnya, selain itu matis tersebut memiliki nama ketibang si gadis, bahkan dia punya sisir juga.
“lah kalau si boneka adalah matis utama lalu sigadis?” Tanya Yuda.
“matis pelayan” Reza langsung menjawab pertanyaan Yuda.
Semuanya melirik kearah Reza.
“kalian ingatkan setiap matis memiliki pemimpin, mau itu banyak atau dihitung jari” kata Reza “jika ucapan Mirna benar, maka kalau kita lihat kebelakang, berarti boneka Yuyu adalah matis pemimpin dan si gadis anak buah/pelayan”
“itu berarti kita harus hancurkan tuh boneka” kata Luca.
“tapi enggak akan mudah” tambah Mirna.
Ucapan Mirna benar, jika mereka ingin menyerang boneka Yuyu, maka mereka harus melewati matis si gadis dan berbagai perangkap disepanjang lorong atau seisi kampus ini. Tentunya walau hanya sebatas boneka tidak bergerak, mereka tidak boleh meremehkannya.[]
[1] Kakak mau kemana?
[2] Kakak enggak mau main sama yuyu?
__ADS_1
[3] Yuyu tuh dibelakang