Sapphire City

Sapphire City
Chapter 33: Matis Jelmaan


__ADS_3

            Andy menatap satu persatu setiap pohon yang dia lihat disepanjang jalan Cipaganti. Pohon besar dan rindang, kehadiran pohon-pohon ini membuat jalan ini begitu sejuk dan nyaman sehingga setiap kali Andy melewati jalan Cipaganti, dia begitu menyukai setiap sudut jalannya. Jika saja ini hari biasa pasti sekarang Andy kesini sekadar untuk makan baso dipinggir jalan., itu jika memang hari biasa, sekarang beda cerita. Seluruh jalan Cipaganti dipenuhi mobil mati beserta patung pejalan kaki. Seluruh lampu jalan mati, bahkan lampu-lamput disetiap rumah juga ikut mati, ditambah satu fenomena aneh segaligus jarang terjadi disini.. kabut putih muncul disepanjang jalan cipaganti. Padahal tak pernah ada kabut dimalam kota bandung, biasanya kabut muncul dipagi hari. Keanehan ini benar-benar terjadi.


            Ketua tim kali ini adalah seorang gadis berkerudung biru tua, Lina. Dia tampak seperti gadis remaja berumur belasan tahun atau mungkin sekitar berumur 17an. Dia kelihatan lebih muda dari Andy, walau begitu dari segi pengalaman dia lebih senior dari Andy. Lalu ada beberapa anggota lagi, 2 laki-laki dan satu perempuan, tentu saja sosoknya saat pertama kali muncul ketika berkumpul membuat Andy terkejut habis, Mirna. Padahal baru saja 2 hari dia selesai misi bersama Yuda dan Luca tapi sekarang malah misi bareng Andy, entah dia strong atau gimana, kaya orang overwork saja. 


            Andy ingat betul ketika sebelum dia menaiki mobil di basemen markas., Lina seperti menasehatin Mirna untuk istirahat dan jangan ambil misi terlebih dahulu. Tetapi Mirna menghiraukan ucapan Lina dan langsung masuk kedalam mobil, sehingga gadis berkerudung tersebut tidak punya pilihan lain selain membiarkan Mirna ikut dalam misi.


            “Dinda apa ada kabar posisi matis disekitar sini?” Tanya Lina ke Dinda lewat headset.


            Diradar belum ada tanda-tanda kemunculan matis. Jawab Dinda.


            Kabut sepanjang jalan Cipaganti membuat Lina cemas, entah mengapa dia merasa mereka sedang diawasi tetapi entah dimana sosok yang mengawasinya.


            Menurut informasi dari tim pengintar, sosok matis yang mendiami jalan ini adalah harimau putih. Tapi ada kemungkinan harimau putih tersebut adalah jemaan, karena terkadang ada beberapa mitos hantu jelmaan hewan. Ditambah, belajar dari misi terakhir, matis sekarang bisa lolos dari sensor radar drone sehingga jika operator bilang diradar tidak ada sosok matis, bisa saja matis sebenarnya ada dan tengah bersembunyi. Karena kejadian ini para tim hardware markas sibuk memperbaiki drone-drone supaya masalah dimisi sebelumnya tidak terjadi (walau sepertinya sudah terjadi kembali di misi ini).


            “bukannya harimau putih pernah muncul dimisi 4 tahun yang lalu?” Tanya seorang pemuda pertama front line.


            “iya, dulu mereka pernah muncul” jawab Lina “itu tuh lokasi di lapangan golf, jumlah 10”


            “serius?” kata pemuda kedua lagi “aku kira di gedung gitu, aku lupa soalnya”


            “asli, harimau di lapangan golf, berasa main kejar-kejaran” kata Lina dengan wajah yang mengatakan ‘aku benci misi itu’.


            “mau lapangan golf atau hutan pun tetap masalah” kata pemuda pertama “jalan Cipaganti ada banyak pohon, harimau tidak ada bedanya dengan kucing, pandai manjat”


            Ucapan pemuda front line ada benarnya, jalan ini benar-benar tempat yang cocok untuk jadi sarang harimau, hingga para matis tersebut bisa saja muncul dari mana saja termasuk atas mereka.


            Dinda memberitau Lina dan timnya kalau lokasi permata kosong ada didekat mereka, tepatnya didua pohon yang berdiri diantara zebra cross perempatan jalan. Ada dua permata kosong disini. Jika digambarkan ada satu zebra cross yang didekatnya berdiri pohon dikedua sisi. Kedua pohon tersebut didalamnya ada permata kosong. Layaknya dalam lubang tupai.


            Sesuai ucapan sang operator, permata kosong ada didalam lubang pohon, tidak terlalu tingga dan mudah untuk digapai. Tapi masalah pertama sosok matis belum memunculkan diri sampai sekarang, ini terlalu mudah untuk mencapai lokasi permata kosong, seakan-akan mereka seperti sengaja dibiarkan kelokasi permata kosong.


            LIMA MATIS MENGEPUNG KALIAN DARI SEGALA PENJURU, Teriak Dinda.


            Lima harimau putih, muncul dari segala penjuru melompat keluar dari tempat mereka sembunyi. Lina langsung melempar bom cahaya. Seketika kelima harimau tersebut buta dan tidak bisa melihat apa yang ada didepannya. Ketika pandangan sudah jelas. Empat sasaran mereka telah tiada. Salah satu harimau menggeram hebat sampai kaki kanan depan dihentakan keaspal sampai hancur. Dia memperintahkan anak buahnya untuk mencari.


...***...


            Andy menghela napas lega, dia hampir gemetar hebat melihat matis harimau putih tiba-tiba saja melompat keluar dan hendak menerkam dia. Pas sekali Lina mengeluarkan bom dan langsung menarik yang lain untuk bersembunyi disebuah warung baso. Tetapi ukuran harimau yang tadi Andy lihat. Ukurannya tidak seperti harimau Sumatra, malah seperti harimau benggala yang terkenal karena ukuran besar dan terbesar didunia.

__ADS_1


            “mereka pandai menyembunyikan hawa ternyata” kata Lina.


            “tapi sampai sekarang kita tidak tau kemampuan utama mereka apa” kata Mirna.


            Maaf, aku kurang hati-hati. Kata Dinda.


            “enggak apa-apa kok Dinda, Karena kamu, kita masih bisa selamat kok” kata Lina “tapi, apa sekarang mereka menghilang lagi dari radar?”


            Iya, pas sekali saat kalian sembunyi, kelima harimau langsung menghilang. Jawab Dinda.


            “berarti itu salah satu kemampuan mereka” kata Lina.


            “mereka bisa menghilang?” Tanya Andy.


            “belum yakin juga sih, kitakan belum melihat secara langsung” jawab Lina dia menatap seluruh anggotanya “untuk sekarang kita akan mencari tau, apakah benar harimau-harimau itu bisa menghilang atau tidak, lalu Dinda”


            Ah iya?. Kata Dinda.


            “tolong minta tim Backup untuk membawa lampu ultraviolet kesini” pinta Lina.


            Eh buat apa?. Tanya Dinda.


            Ooohh ok ok, akan aku hubungi tim backup.


            Dirasa kondisi aman, Lina memimpin teman satu tim maju terlebih dahulu, diikuti Andy, Mirna dan 2 anggota Front line laki-laki. Jika bisa Lina ingin mengecoh para harimau tersebut, agar kejadian tadi tidak terulang, tetapi, dia saja tidak tau dimana persis posisi para Harimau tersebut. tim backup memakan waktu untuk tiba kesini membawa barang pesanan Lina.


            Kabut perlahan menyusul, membuat sebagian jalan dan pepohonan terlihat dari kejauhan. Ini cukup memudahkan untuk menyusuri jalan cipaganti. Terlihat jelas kekacauan yang disebabkan kawanan harimau tersebut. jalan-jalan dipenuhi jijak kaki, beberapa mobil dan pepohonan telah dicakar hingga rusak sebagian, menandakan mereka telah berada disini sebelumnya.


            Jantung Andy hampir mau lepas melihat pemandangan ini, berhadapan dengan matis menyerupai hantu-hantu sudah membuat dia hampir jantungan. Sekarang sekumpulan harimau haus darah, berasa seperti dihutan belantara sedangkan dia adalah seekor kelinci menunggu untuk dimangsa.


            “apa ada tanda-tanda matis?” Tanya Lina.


            “sejauh ini tidak ada” jawab Mirna.


            “Dinda?” panggil Lina.


            Aga jauh dari lokasi kalian, terdengar suara berisik dari headset oohh good news, tim headware mau kirim drone baru.

__ADS_1


            “aku harap lebih bagus” kata Andy.


            Mereka tiba diperempatan cipaganti bawah. Para tim backup sudah disana membawa lampu ultraviolet pesanan Lina. Ada 4 buah lampu, bentuknya seperti lampu neon, aga besar tapi cahaya birunya hampir seperti cahaya batu sapphire, cuman dengan ini setidaknya mereka bisa menemukan jejak harimau (kalau memang mereka bisa menghilangkan dirinya).


            Masing-masing memegang lampu ultraviolet kecuali Mirna yang dominan memakai pedang. Tetapi yang dinyalakan hanya 2 lampu saja, 2 lagi dibawa sebagai cadangan. Para tim backup menunggu dilokasi mereka datang, mereka hanya diperintahkan untuk bergerak jika keadaan darurat.


            Baru menginjakan kaki untuk kembali masuk ke area jalan cipaganti, dihadapan mereka, sekitar 1,5 km didepan kabut tebal menyelimuti area tersebut, padahal belum satu jam kabut baru saja menyusut sekarang sudah menebal kembali.


            “firasatku tak nyaman” ucap Lina


            “aku merasa mereka menunggu kita disana” tambah Andy.


            Ucapan Andy ada benarnya, Lina bisa merasa para matis haus darah tersebut ada disana. Tapi mereka harus melawan para matis tersebut, jika tidak misi akan gagal dan permata kosong tak akan mendapat cahayanya.


            Seluruh anggota Frontline berjalan menyusuri jalan cipaganti, sampai mereka tiba didepan kabut tebal. Seperti pintu masuk kedalam hutan belantara, padahal mereka masih dijalan utama disebuah ibu kota provinsi. Lina memerintahkan teman-temannya untuk mempersiapkan senjata  dan tetap siaga. Setelah mereka masuk kedalam kabut, jarak pandang akan berkurang. Dinda sebagai operator, tetap pasang mata, walau dia sendiri hanya bisa melihat lewat layar operator markas, tapi ketegangan dalam dirinya tetap terasa sampai ujung jari tangan.


            Kabut begitu tebal, bahkan melihat pun susah, lampu ultraviolet menjadi penerangan utama dalam gelap dan kabut. Tidak ada suara apapun setelah masuk kedalam kabut kecuali langkah kaki semua anggota. Andy memegang erat senjatanya baik-baik, tak pernah dia dalam hidupnya merasakan ketegangan seperti ini kecuali dalam misi terakhirnya memasuki sebuah hotel terkenal tapi besar, pada misi terakhirnya awalnya dia kira akan berhadapan dengan matis yang tidak terlalu menakutkan, alangkah terkejutnya Andy waktu itu saat  dia berhadapan dengan matis pengantin wanita berdarah plus pisau mematikan ditangan, melihatnya saja membuat Andy enggan lagi pergi menghadiri pernikahan orang yang memakai busana serba merah.


            Suara gerangan, terdengar dari segala penjuru.


            “tidak boleh berpencar tetap bersama” perintah Lina “Dinda”


            Tiga matis didekat kalian, 2 lagi aga jauh, kata Dinda oh syukurlah drone ini lebih baik, salah satu dari 2 matis adalah pemimpinnya.


            Entah ini membuat Lina merasa lega atau tidak, tapi yang jelas, informasi dari Dinda jauh lebih baik dari sebelumnya.


            Seekor harimau putih melompat dari balik kabut, Mirna dengan segap langsung menyerang harimau tersebut, si harimau terluka oleh serangan pedang Mirna. Dia langsung mundur masuk kedalam kabut begitu mendapat luka.


            Dua matis berlari kearah kalian!. Dinda berteriak.


            Semua orang bersiap. Tidak ada apapun kecuali kabut terbuka kosong dan menutup kembali. Seketika hening. Sesaat Andy terjatuh ketanah, ada yang mendorongnya. Begitu kuat dan berat. Kedua tangan Andy berasa dikunci ketanah. Mirna langsung menebas apa yang mencengkram Andy. Tetapi tak ada apa-apa seperti angin kosong.


            Mereka melompat mundur. Kata Dinda.


            Berasa berat sebelah, perkiraan sebelumnya ada benarnya.


            Lina dua matis berlari kearahmu. Kata Dinda.

__ADS_1


            Tanpa pikir apa-apa, Lina langsung melempar bom granat kehadapannya. Dia lalu memerintahkan seluruh teman-temannya untuk berlari mundur menjauh. Selang beberapa dekit, ledakan terjadi diikuti suara rintikan macan. Lina memerintahkan dua anggpota laki-laki memegang lampu ultraviolet untuk menerangi jalan dari dua arah depan dan belakang. Selagi mereka semua berlari menjauh dari lokasi.


            Untuk saat ini, Lina berpikir untuk mundur kembali, mereka harus memikirkan rencana matang-matang.


__ADS_2