
“apapun yang terjadi jangan sentuh rambutnya” perintah Mirna.
Sudah disuruh pun Yuda tak ingin melakukannya setelah dia melihatnya sendiri bagaimana rambut itu bisa bergerak dengan sendirinya.
Awal memasuki lobby kampus, kesan horror begitu terasa dan kental sekali, tak ada cahaya apapun kecuali lampu senter Yuda dan Reza. Tawa kecil anak-anak selalu menggema dari berbagai sudut seperti tanda peringatan kepada mereka untuk tidak masuk lebih dalam. Karena ini adalah misi mereka ya sebisa mungkin mereka menghiraukan suara tersebut dan tetap fokus untuk maju kedepan, meski kedua kaki membantah untuk maju. Mirna yang paling berani dari ketiga laki-laki dalam timnya, dia tetap memimpin, memandu teman-temannya terus berjalan kedepan. Reza berjalan disamping Yuda fokus sambil memegangi senter, diliputi rasa takut tapi ada perasaan yang bisa melawan rasa takutnya, penasaran (Kepo). Reza tidak berhenti-hentinya melirik rambut-rambut hitam yang bergelantungan dan berserakan dilantai.
Mirna yang sudah mengenal Reza, mengetahui dari gerak-gerik (terlalu mencolok penasarannya) kalau Reza tertarik akan rambut yang menghiasi lobby kampus.
“hei Mirna boleh enggak?.....”
Belum juga Reza menyelesaikan kata-katanya, Mirna langsung mengacungkan pedang kearah dia “jangan coba-coba za. Aku tau kamu kepo tapi jawabanku tidak”
“ba..ba..baik, tolong turunkan pedangnya”
Dengan wajah cemberut dan enggan Mirna menyarungkan kembali pedangnya.
Sayangnya peringatan dari Mirna tidak diindahkan oleh Reza, rasa penasaran Reza terlalu kuat sampai-sampai dia menghentikan langkahnya sendiri, membiarkan teman-temannya terus berjalan sampai tangga menuju lantai 2.
Luca melirik pintu lift dekat tangga. Dia iseng menekan tombol lift yang tak ada efek apapun.
“percumah, enggak ada listrik” Yuda memberitaukan Luca.
“yaa siapa tau ada” balas dia.
Pada akhirnya sesuai rencana awal, mereka tetap menaiki tangga menuju lantai dua.
Ting.
Langkah mereka terhenti mendengar suara seperti bell berasal dari arah lift, diikuti suara pintu terbuka. Mirna, Yuda dan Luca sama-sama melirik kebelakang, sudah jelas tidak ada aliran listrik yang mengalir dalam gedung ini, semuanya mati. Tetapi jelas-jelas mereka mendengar suara bunyi dari pintu lift bersamaan dengan pintu terbuka.
Kali ini terdengar suara pintu tertutup, diikuti suara kerekan dari lift yang menuju kebawah. Suara tegang terasa jelas pada diri Yuda bahkan dia bisa merasakan jantungnya sendiri berdetak kencang.
“tenanglah kalian berdua…….” Mirna tersadar, sedari tadi cuman ada mereka bertiga “loh Reza mana?”
“lah bukannya tadi dia bersama kita?” ucap Luca.
“Rizky, Reza ada dimana?” Tanya Mirna.
Ini aneh, dari monitor sini terdeteksi kalau Reza ada didekat kalian.
Yuda berkali melirik kesana kemari, bahkan dia soroti cahaya senternya keberbagai arah, tidak ada sosok Reza didekat mereka.
“enggak ada tuh” ucap Yuda.
Ini aneh, monitor memperlihatkan Reza ada didekat kalian. Rizky terdengar aga panik.
__ADS_1
Pada akhirnya Mirna, Yuda dan Luca terpaksa turun kembali kelantai Lobby untuk mencari keberadaan Reza. Ditambah rasa penasaran Reza yang begitu besar, membuat Mirna kadang jengkel dan kesal akan tingkahnya yang suka menghilang begitu saja ketika misi. Tetapi jika Reza menghilang dari rombongan, seharusnya sosok dia sudah bisa langsung diketahui oleh Rizky dan disaat Reza sudah menghilang pasti Rizky sudah memberitau mereka. Tetapi Rizky memberitau kepada Mirna dan yang lain kalau harusnya sosok Reza ada didekat mereka. Sebenarnya apa yang sudah terjadi.
Berkali-kali Yuda dan Luca memanggil nama Reza, tidak ada balasan apapun. Sampai Mirna bilang kepada Yuda dan Luca, Reza ada didepan pintu masuk lobby kampus. Saat hendak dihampiri, Mirna menghentikan niatan Luca dan Yuda. Karena sosok Reza yang ada dihadapan mereka sudah berbeda. Tetapan wajah Reza kosong tidak ada emosi apapun, kepalanya miring kesamping, tangan kanan dia memeluk erat boneka yang tingginya sekitar 1 meter, boneka anak gadis rambut hitam sepanjang kaki, mata bening nan kotor, mulut masam, baju lusuh warna kuning dengan celana pendek warna biru. Tak ada apapun dari boneka tersebut, hanya kesan seram yang menyelimuti boneka yang dipegang Reza.
“za turunkan bonena itu sekarang” perintah Mirna.
“Reza teh Saha[1]?” suara anak perempuan yang keluar dari mulut Reza.
“enggak mungkin Reza kesurupan” kata Yuda tak percaya melihat apa yang dilihatnya.
“akang sareng teteh bade maen jeng neng Yuyu[2]”
Mirna melangkah diantara Yuda dan Luca “punten neng yuyu, tapi pang balikeun babaturan teteh[3]”
Ekspresi Reza berubah seperti anak kecil polos “babaturan teteh[4]?” dia menggeleng-gelengkan kepalanya “teu tiasa, akang ieu teh toh janteng milik neng Yuyu[5]”
Yuda dan Luca tidak bisa mempercayai apa yang barusaha mereka dengar. Itu bukanlah suara Reza bahkan sosok dihadapan mereka. Walau itu tubuh Reza, jelas-jelas itu bukanlah Reza. Dia sudah dirasuki. Itu berarti sosok dihadapan mereka adalah matis yang harus mereka hadapan.
Salah satu tangan Reza yang bebas menunjuk kearah Yuda, Mirna dan Luca.
“akang jeung teteh oge, ayeuna janteng milik neng Yuyu[6]”
Seketika, seisi lobby bergetar hebat. Entah apa yang terjadi tetapi samar-samar Yuda melihat sosok Reza tiba-tiba berubah menjadi gadis kecil berumur 7 tahun lalu memegang boneka, lalu kembali lagi menjadi sosok Reza. Kemudian tiba-tiba saja sebuah rambut dalan waktu singkat langsung menghantam wajah Yuda.
“ini aneh, seakan-akan aku lost kontak” Rizky terus menerus mengetik keyboard berharap ada petunjuk yang bisa dia ambil.
“apa ada Rizky?”
Rizky melirik kebelakang, sosok Lia berdiri tepat dibelakangnya, wajah dia diselimuti rasa terkejut dan cemas.
“aku tidak tau, jelas-jelas dimonitor, mereka ada lobby. Tapi perasakanku mengatakan kalau aku lost kontak sama mereka”
“situasi sebelumnya?” Tanya Lia.
“sebelumnya mereka terpisah dari Reza, dan langsung mencari dia di lobby. Tetapi dari yang aku dengar mereka berhasil menemukan Reza namun dia dirasuki”
“maksudmu dia kesurupan gitu?” Tanya Lia lagi.
“aku tidak tau” Rizky menggeleng cepat “tapi terdengar jelas kalau ada suara anak gadis berbahasa sunda berbicara pada mereka”
Maksud akang abdi[7]?
Rizky terkejut habis, suara anak kecil tiba-tiba terdengar dari headset dia sendiri. Lia yang melihat wajah pucat Rizky, langsung mengambil Headset yangt tidak dipakai.
__ADS_1
“kamu siapa?” Tanya Lia.
sanes sasaha, ngan Neng Yuyu hayong maen[8]
“neng yuyu” guman Lia.
Akang-akang jeung teteh ayeuna jadi maenan neng Yuyu, hehehehehe. Engkeu oge akang jeung teteh ngiring sareng sadayana didieu[9] hehehehehe.
Tiba-tiba saja layar monitor computer Rizky berubah menjadi penuh semut.
“dia mensabotase komunikasi dan drone” ucap Rizky.
“ini gawat, mereka semua ditangkap” lanjut Lia.
“lantas kita harus gimana?” Tanya Rizky.
Lia hampir tak bisa berkata-kata karena rasa terkejut yang menghantui dia maupun Rizky setelah apa yang mereka alami tadi. Dia tidak habis pikir ada matis yang bisa mensabotase komunikasi mereka sampai seperti ini.
“kita harus kirim tim backup, ini bukan lagi misi kelas B”
“apa!” Rizky terkejut mendengarnya “bukan kelas B, maksudnya ini sudah masuk kelas A!”
“entahlah, yang jelas ini lawan yang sulit untuk mereka hadapi berempat” Lia mengambil tablet didekat Rizky “kita kirim tim backup kesana, lalu Rizky kamu tetap monitoring situasi disana. Lalu kirim juga drone cadangan”
“baiklah kak Lia” jawab Rizky.
Walau perasaan Rizky masih tercampur rasa kaget sampai membuat bulu kuduknya berdiri, tetapi dia harus tetap tenang dan mencari keberadaan rekan-rekannya dalam gedung kampus. Dia harus percaya mereka semua masih selamat.[]
[1] Reza siapa?
[2] Kakak mau main sama Yuyu?
[3] Permisi yuyu, tapi tolong kembalikan teman kakak
[4] Teman teteh?
[5] Tidak bisa, kakak ini sudah jadi milik yuyu.
[6] Kakak juga, sekarang jadi milik Yuyu
[7] Maksud kakak saya?
[8] Bukan siapa-siapa, cuman Yuyu ingin main
__ADS_1
[9] Kakak-kakak sekarang jadi mainan yuyu, hehehe, nanti juga kakak akan ikut sama semua yang disini