
Dengan kekuatannya yang besar, babi tersebut berlari dan langsung menghempas pagar besi gerbang tepat kearah Yuda. Dengan cepat pemuda tersebut merangkak untuk menghindar, kekuatan yang begitu besar dapat menghancurkan gerobat pedagang sampai berkeping-keping.
Yuda berlari sekencangnya, tapi Babi tersebut mengejarnya bahkan tak segan-segan melepar setiap mobil satu persatu kearah Yuda. Mobil-mobil berjatuhan tepat dihadapannya, bahkan ada yang hampir mengenainya. Dia tau jika berlari terus pasti terkejar,
Ada toko yang dia lewati tepat disamping kanannya, terpaksa Yuda bersembunyi kedalam satu satu toko baju bayi.
Dia masuk dan langsung menguncil rapat-rapat pintu toko dengan cara, mendorong rak sekitar, meja staf, tak peduli benda berat apapun yang penting bisa menutup rapat pintu. Setidaknya sementara dia merasa lega. Batu biru yang dia bawa dari ruang kelas bimbelnya masih ada ditangan, cahaya batu tersebut tak redup-redup sama sekali. Bagaikan senter, dia sinari seisi toko. Semua orang didalam bahkan staff dan pengunjung berubah menjadi batu. Jika dipikir-pikir bagaimana nasib dari penjual dan gerobak yang tertimpa gerbang, harusnya sih menjadi berkepingkeping.
Perlahan Yuda duduk, setidaknya dia harus mengambil napasnya sedikit, banyak sekali pertanyaan dalam kepala yang bahkan dia sendiri pun tak bisa menampung semuanya, cuman untuk saat ini, keluar dari situasi ini adalah yang terpenting.
Yuda melirik keluar, dia terkejut bukan main, si babi tau dia bersembunyi disini, cuman yang lebih buruk dari itu, dari kejauhan si babi sedang ancang-ancang, dia berniat menghancurkan pintu. Babi berlari sekencang-kencangnya, Yuda melompat kearah samping. Dalam sekali seruduk si babi berhasil menghancurkan setengah toko. Seruduk yang kuat membuat badan Yuda terhempas kesamping, hampir mengenai dinding. Kristal biru yang dia pegang terlepas dari tangan menggelinding keluar. suaranya membuat si babi yang semulah berusaha mencari Yuda, teralihkan ke batu biru. Yuda memperhatikan dengan diam. Babi tersebut tertarik pada batu biru untuk suatu alesan.
Kaki kanan depan yang besar terangkat, si babi berencana menghancurkan batu biru. Entah kenapa Yuda merasa seperti dia tak ingin batu biru tersebut hancur. Dengan cepat dia berlari dan langsung meraih batu biru tersebut sebelum sibabi menghancurkannya. Melihat usahanya gagal si babi marah.
“ini gawat”
Yuda berdiri dan berlari kencang menjauh, tapi mau berlari segimana pun si babi tetap mengejarnya, meski begitu dia tau sekarang si babi bukan mengincar dirinya melainkan Kristal biru yang Yuda bawa. Tapi kenapa, terlebih dia ingin sekali menghancurkannya.
Ada truk buntung didepan, Yuda berhenti sambil memegang pengait pintu truk. Dia menunggu sampai sibabi dekat dengannya. Babi lari kencang, sangat kencang, makin dekat dan dekat. Ketika sudah cukup dekat. Yuda melepas kunci pintu truk. Ton-ton pasir keluar dari truk mengenai mata babi. Kesempatan ini dia manfaatkan sekali sibabi sibuk membersihkan matanya.
Ketika sibabi sadar, Yuda sudah tak ada ditempat.
Yuda bersembunyi ditoko kue terdekat. Walau tak jauh, tetapi itu lebih baik dari pada berlari, dia harus keluar saat babi ngepet tersebut telah pergi. Cuman dilirik keluar, si babi tetap ditempat walau dia berlari kesana kemari.
__ADS_1
sebotol air putih dalam kulkas dia ambil dan diminum sampai habis, toh dalam keadan ini, gimana caranya dia bayar. Diatas meja kasir ada selembar kain, mungkin dipakai untuk mengelap meja, melihat batu biru yang ada ditangannya, cahaya batu tersebut cukup terang bahkan bisa menyinari seisi toko ini. Walau dinding toko ini tidak dilapisi kaca, cuman hanya tinggal menungu waktu saja sampai si babi sadar kalau Yuda sembunyi disini. Selembar kain tersebut dia ambil, lalu digunakan untuk mengingat bola permata sampai menutupi seluruhnya. Walau hanya bisa membuat sinarnya meredup tetapi setidaknya cukup untuk mengurangi walau sedikit.
Penjaga kasir yang telah berubah menjadi batu beserta beberapa karyawan dan pengunjung toko lainnya, seakan menambah kesan seram, lebih seram lagi karena dia adalah satu-satunya yang hidup disini,
“tunggu, jika ini toko kue”
Yuda berjalan pelan kearah pintu belakang, dapur, tempat mereka memproduksi kue-kue, semua koki disini telah berubah menjadi batu, bukan itu yang ingin Yuda pastikan. Dia mengambil sebilah pisau diatas meja. Babi ngepet sendiri adalah makhluk mistis Indonesia, tak mungkin bisa dilukai oleh benda fisik, tapi setidaknya, sebuah pisau sudah cukup untuk melindunginya, kalau bisa melukai si babi walau sedikit itu sudah lebih dari cukup.
Baru saja dia hendak membuka pintu, si babi ada didalam toko kue. Mungkin ini bagian dari yang Yuda perkirakan, meski cuman makhluk mistis, yang namanya babi tetaplah babi, penciumannya tetap tajam. Akan sulit menyelinap keluar jika dia sudah mengenali bau Yuda dengan sangat baik.
Yuda terpikir untuk meninggalkan jejaknya disini, tapi bagaimana?. Pelan-pelan dia membuka setiap lemari dan tas pegawai yang ada disalah satu ruangan pegawai. Hingga dia menemukan sebuah baju koki dalam lemari. Sepertinya baju koki cadangan. Dia buka baju sekolah lalu berganti pakayan menjadi koki, sementara baju sekolahnya, gantung pada salah satu patung batu.
“maaf ya, tapi satu-satunya cara aku bisa lari”
Setidaknya permintaan maaf tersebut tak akan terdengar oleh orang yang telah menjadi patung batu.
Dilirik kembali, hidung tajam babi mencium bau, bulu kuduk Yuda berdiri selagi dia bersembunyi, berharap si babi fokus ke dapur dari pada lokasi dia sembunyi. Kuda-kuda kaki bersiap ditempat jika dia terpaksa berlari kencang apabila rencananya gagal. Si babi berjalan pelan kearah dapur, badan besarnya tersebut sampai menutupi setengah dari pintu dapur. Ini adalah kesempatan emas yang tak boleh dilewatkan, pelan-pelan meja kasir dipanjang, dan turun dengan perlahan. Berjalan pelan sampai pintu keluar.
Dirasa aman, Yuda secepatnya berlari meninggalkan toko kue sebelum…….
Suara bangunan runtuh, si babi….dia sadar lebih cepat dari yang Yuda kira. Filing kuat yang dirasakannya sekarang adalah amaran karena telah menipu.
Babi besar tersebut sudah keluar dari toko kue dengan aura yang makin mencekap. Dia berlari sangat kencang, Yuda melompat pas sekali sebelum dia terkena serudukannya. Tak ada pilihan lain, walau niatnya dia berlari terus mencapai jalan kereta api. Satu-satunya pilihannya sekarang adalah masuk kedalam sebuah bengkel kecil.
Baru saja masuk, si babi sudah ada dihadapanya. Kedua tanduk dia tepat ada dikanan dan kiri menancap dinding. Bau mulut busuknya seperti sampah busuk yang belum diangkut. Kesempatan ini tak datang dua kali. Dia keluarkan pisau dapur yang dibawanya. Dan langsung tusuk wajah babi tersebut. percikan darah keluar dari pisau yang menancap diwajahnya. Disini Yuda tau, dia bisa melukai babi tersebut. dengan tenaganya, Yuda terus sekuat tangan agar pisau tetap menacap pada wajah babi sampai dalam. Si babi yang tak bisa apa-apa karena tanduknya tersangkut pada dinding, hanya bisa merintik kesakitan. Hingga dengan kekuatannya, dia berhasil menarik keluar tanduknya. Akibat hal itu, membuat dinding dan langit-langit retak. Jika saja Yuda tidak cepat dia pasti sudah tertimbun. Babi telah tertimbun atap bengkel. Tapi, segitu belum bisa menjatukannya. Yuda menyadarinya karena kulit si babi cukup tebal.
__ADS_1
Yuda melihat sekeliling, dia berharap ada sesuatu yang bisa dia gunakan untuk melawan, jika si babi sudah sadar. Ada mobil polisi dekat gerbang lain menuju husen. Yuda berlari sekencangnya kearah mobil polisi, didalam mobil pasti ada senjata pistol didalamnya, walau seumur hidup belum pernah menyentuhnya, itu lebih baik dari pada tidak ada apapun untuk bisa melawan.
“sial pintunya dikunci”
Taman kecil dekat gerbang, pasti ada batu. Harus cepat mencari. Batu biru kembali digunakan sebagai penerangan. Ada batu ukurannya aga besar. Batu biru kembali diletakan dalam saku. Dibawa batu tersebut, dia hantapkan beberapa kali kaca mobil polisi dengan batu.
Suara benda jatuh pelan.
Dilirik asal suara, si babi mau sadar.
Sekuat tenaga, Yuda berusaha menghancurkan kaca mobil. Babi telah keluar dari reruntuhan bersamaan dengan kaca mobil yang sudah pecah. Ada pistol dekat jok mobil pengemudi. Pintu mobil dibuka cepat. Dia ambil pistol. Babi sudah berlari kencang kearahnya. Yuda mengarahkan pistol ke sibabi, dia Tarik pelatuknya. Suara kencang pistol bersamaan peluru yang keluar, mengenai babi, babi tersebut tersungkur. Tapi dia masih belum menyerah dan tetap berdiri.
Suara pistol lagi terdengar, itu bukan Yuda. Suaranya makin dekat. Dua tembakan, tiga sampai empat tembakan terdengar.
Seseorang berjalan tepat disamping Yuda, dia berjalan kearah sibabi, senapan larasa panjang ditangan, saat dia arahkan ke si babi yang sudah tak berdaya, amunisinya habis. Dilempar senapan tersebut, lalu berganti ke pedang yang disarungkan dipinggang. Dia tusuk sibabi tanpa ada ampunan sedikitpun. Babi tewas.
Yuda memperhatikan sosok orang tersebut, tinggi, berambut hitam sebahu, mengenakan pakayan layaknya tentara tapi aga lain, warnanya bukan hijau loreng, seperti hitam legam. Walau terlihat dari belakang, sosoknya seperti orang yang Yuda kenal.
Tangan kanan dia menyentuh sesuatu ditelinga.
“target sudah dibunuh, survivor selamat”
Suara yang tak asing.
“kamu enggak apa-apa?”
__ADS_1
Saat wajah mereka bertemu, saat itulah Yuda tau siapa yang sudah menyelamatkannya.
“Mirna?”[]