
Mobil yang dikendarai Gin, Deren, Yuda, Andy dan Luca keluar dari lingkup gedung sate, menuju stasiun kereta. Ginlah yang mengemudi, Deren duduk disebelah sedangkan yang lain dibelakang.
Sambil melihat pemandangan diluar (hanya kegelapan dan kesunyian), Yuda tetap memikirkan penjelasan rapat diruang aula. Matis yang mereka lawan kali ini berjumlah satu tapi dapat menggandakan diri. Kalau begitu ini tak ada bedanya dengan melawan tuyul di misi terakhir. Cuman Gin tetap mengingatkan mereka kalau itu baru hasil teori pertama mereka mengenai kekuatan matis shadow. Sebab bisa saja dia memiliki kemampuan lebih dari itu. Sebab seperti apa yang diucapkan Deren, ‘mereka tidak tau bagaimana cara matis tersebut menduplikat diri’. Dengan kata lain. Mereka tidak boleh lengah saat pertama menginjakan kaki distasiun nanti.
“btw sebelum ke stasiun aku mau singgah dulu” ucap Gin
“singgah dimana?” Tanya Deren.
Heeee kok mendadak mau singgah kesuatu tempat? suara Rizky terdengar di radio headset.
“singgah kerumahku dulu sebelum misi” jawab Gin.
Jawaban Gin membuat Yuda bahkan siapapun yang mendengarnya terkejut. Jarang-jarang anggota Front Line yang bertugas menyempatkan waktu mereka untuk mengunjungi rumah atau keluarga. Bukannya mereka tak mau bertemu cuman, apa yang hendak mereka lakukan setibanya disana dan melihat seluruh anggota keluarga telah berubah menjadi patung batu tak bersuara. Bertemu pun malah menjadi sia-sia belaka.
Tetapi keputusan Gin tersebut diizinkan Deren, lagi pula lawan mereka tak akan meninggalkan wilayahnya sama sekali.
Lokasi rumah Gin terletak di jalan H. Wasid no xx. Letaknya tidak terlalu jauh dari gedung sate. Cukup menjelaskan kenapa Deren mengizinkan Gin untuk mengunjungi rumahnya. Rizky menjelaskan kepada Yuda, Andy dan Luca. Kalau kakaknya tersebut tinggal disana bersama istri dan anak laki-laki berumur 2 tahun. Sedangkan Rizky sendiri dia tinggal bersama kedua orang tuanya. Sang kakak memutuskan pindah rumah setelah satu minggu menikah.
Setiba dirumah Gin. Mereka semua disambut pagar besi warna putih dan juga teras rumah modern, rumahnya Gin tidak terlalu besar jika dilihat dari luar tetapi setelah masuk kedalam rumahnya cukup luas. Cukup ditinggali keluarga tiga orang.
Tak ada satu pun suara yang menyambut Yuda mau pun Gin ketika memasuki rumah, hanya kesunyian dan kegelapan layaknya ditempat lain. Tetapi pemandangan yang tak ingin Yuda lihatlah yang menyambutnya. Patung seorang perempuan muda tinggi berambut lurus sepinggang tengah mengendong seorang anak laki-laki. Patung tersebut terlihat tersenyum kepada sang anak yang memegangi boneka ditangan munggilnya.
Setiap orang yang melihat pemandangan ini pasti terasa pilu dan sakit hati. Tetapi Gin dia tetap berjalan tengan kearah patung wanita tersebut.
“Assalammuaikum sayang, aku pulang” ucap Gin.
Yuda terkejut melihat sikat Gin, walau dia sudah tau itu adalah patung siapa tetapi reaksi Gin terhadap patung istri dan anaknya benar-benar diluar dugaan.
“Hafiz, ayah pulang. Kamu senang kan, tapi maaf ya ayah lupa bawah oleh-oleh buat kamu”
Yuda meninggalkan Gin bersama keluarganya. Dia melangkah keluar rumah seperti rekan-rekannya yang lain. Dengan suasana ini mereka merasa tak nyaman untuk masuk kedalam rumah apalagi melihat apa yang didalamnya. Bahkan jika Yuda berada di posisi Gin, dia mungkin kurang sanggup melihat patung keluarganya atau orang yang dia kenal. Apalagi berdiri diatas teras rumahnya sendiri.
“semuanya maaf menunggu”
Gin tiba-tiba keluar dari rumahnya. Kedatangan dia membuat Yuda dan Andy terkejut setengah mati.
“sudah selesai?” Tanya Deren dengan wajah serius.
Gin mengangguk “sudah, rasanya hatiku jadi tenang, ayo kita basmi matis di stasiun”
Satu persatu mereka semua keluar dari teras rumah menuju mobil yang terparkir didepan. Tetapi selagi Yuda memperhatikan Gin menutup pintu rumahnya, tak sengaja Yuda melihat tangan istri Gin yang sedang menggondong anaknya. Kalung emas bermata berlian kecil menggangung pada jemarinya. Yuda berniat bertanya soal kaling tersebut, tapi dia urungkan niat tersebut karena entah kenapa dia merasa tak perlu bertanya.
__ADS_1
Sulit untuk menemukan parkir distasiun kereta karena banyak mobil yang terparkir disana. Sehingga akan memakan waktu untuk memarkirkan mobil.
Setelah mobil terparkir, semua orang turun dari mobil, mempersiapkan segalanya untuk melawan shadow. Tak luput Gin mengingatkan kembali Yuda, Luca dan Andy untuk selalu waspada saat nanti pertama kali menginjakan kaki masuk ke stasiun. Meski sudah diingatkan berkali-kali pun. Yuda sudah merasakan hawa tak enak meski dia belum masuk kedalam stasiun. Hawanya sangat berbeda tidak seperti saat melawan Tuyul.
Ketika seluruh persiapan telah selesai. Seluruh tim memasuki stasiun kereta. Andy dan Gin membawa senter, menyinari jalan didepan dan belakang. Luca dan Deren memperhatikan setiap sudut dengan mata tajam mereka. Yuda bersama Assault Riflesnya, berfokus menjaga formasi belakang. Layaknya tentara yang sudah dilatih. Satu tim ini tak ada yang boleh berpencar selagi memasuki lobby stasiun sampai mereka memasuki pintu masuk rel kereta.
Rizky sebagai operator selalu memberitau lokasi matis kepada anggota tim tanpa jeda sedikit pun. Tak ada satu pun dari anggota tim ini hendak angkat bicara karena rasa tegang menyelimuti seisi tim, sebuah kata tetap ada dibenak Yuda ‘Fokus’. Itu yang selalu dia utarakan. Dalam keadaan kegelapan gelap bahkan disambut patung-patung manusia pun, Yuda sudah terbiasa dengan semua ini tak ada rasa terkejut seperti misi sebelumnya, karena rasa terkejutnya telah tenggelam oleh rasa tegang yang teramat dalam hingga keujung kaki.
Sepanjang langkah dilobby, enggak ada suara mencurigakan sedikit pun disini. Kesunyian yang begitu hening dalam lama hingga timbul rasa curiga dalam diri Yuda. Padahal jelas-jelas musuh menunjukan dirinya kepada tim pengintai, seakan dia memamerkan siapa dirinya kepada siapapun yang hendak datang kesini. Tetapi sekarang tidak ada apapun setelah masuk kedalam. Terasa sekali didalam diri Yuda kalau ini pastilah ‘perangkap’. Tetapi jika ini adalah perangkap dimana dia memasangnya.
“apa kalian menyadarinya?” bisi Gin kepada semuanya.
“iya” jawab Yuda.
“tentu” jawab Andy.
Luca mengangguk pelan.
“ini perangkap” lanjut Deren.
Gin sebagai orang yang memimpin jalan menghentikan langkahnya.
Masih jawab Rizky tidak ada tanda-tanda dipindahkan.
Yuda baru mengetahui hal ini, rupanya Matis juga bisa memindahkan Permata kosong. Itu berarti jika mereka tidak bisa menghancurkan pertama kosong, ada kalanya mereka memindahkannya untuk memancing para Front Line.
“baiklah kita akan bagi 2 tim” perintah Gin “Deren dan Andy, kalian pergi ke kereta dekat pintu keluar belakang, sementara aku, Yuda dan Luca kita ke kereta depan pintu ini. Lalu aku ingin kalian berjalan kearah berlawanan dari lokasi permata kosong”
Yuda cukup paham dengan rencana Gin, bisa dibilang Gin tak ingin mereka masuk dalam permainan Matis, setidaknya menuju lokasi yang berlawanan cukup untuk mengecoh dia walau ini bukanlah rencana yang bagus, tetapi ini lebih baik. Karena prioritas utama saat ini adalah mengalahkan matis itu sendiri. jika Yuda dan yang lainnya terlalu fokus pada permata kosong, misi pasti akan gagal.
Luca sebagai satu-satunya dalam tim yang membawa pedang, dia memimpin jalan selagi Gin berada ditengah dan Yuda dibelakang. Saat memasuki area tunggu kereta, banyak sekali patung-patung manusia dimana-mana. Mereka terdiri dari berbagai usia dengan segala macam aktifitasnya. Duduk, berdiri, bercanda-ria dengan teman atau keluarga, dan kebanyakan dari mereka menunggu sambil bermain hp. Itu semua adalah pemandangan umum disegala tempat, karena hp sudah menjadi bagian dari hidup.
Luca yang pertama masu kedalam kereta, diikuti Gin dan Yuda. Kereta yang mereka masuki adalah kereta kelas ekonomi dengan kursi kereta yang saling berhadapan. Didalamnya ada beberapa kursi yang sudah diisi oleh penumpang dan beberapa lagi masih kosong. Ada kemungkinan kereta ini baru saja tiba di stasiun karena belum banyak kursi yang terisi penumpang.
“Luca tetep pimpin jalan” perintah Gin.
“ok” jawab Luca.
Aga sulit berjalan didalam kereta terlebih jika salah satu patung manusia ada yang menghalangi jalan, terpaksa walau aga memakan waktu. Yuda dan yang lain terpaksa harus memutar kursi penumpang sampai menghadap jendela demi bisa mendapat akses jalan.
__ADS_1
Walau hanya sekilah dan terburu-buru Yuda tetap memperhatikan sekitar, tanpa secuil apapun dia lewatkan.
Trak!
Kaki Yuda tak sengaja menginjak pecahan kaca, membuat dia kebingungan sendiri. kenapa ada pecahan kaca didalam gerbong kereta. Rasa penasaran Yuda ini membuat langkah dia terhenti. Jika saja Gin tidak menyadari Yuda menghentikan langkahnya dia pasti sudah ditinggal.
“kenapa kamu berhenti?” Tanya Gin.
“rasanya aku seperti menginjak kaca” jawab Yuda.
“kaca?”
Gin merasa keanehan yang sama dengan Yuda, dia memumut apa yang diinjak Yuda barusan……..kaca….
“mana mungkin kaca gerbong pecah” Gin terheran sendiri.
Selagi Yuda dan Gin memperhatikan kaca temuan mereka. Luca menyadari kalau salah satu kaca gerbong sudah mecah setengahnya.
“hei, kaca disini pecah” Luca perlahan-lahan berjalan ke kaca gerbong yang pecah, tak ada bekas palu khusus pemecah kaca disekitar sini. Terlebih Yuda sudah memeriksa lemari berisi palu pemecah kaca yang masih utuh tak ada tanda kerusakan.
“ini aneh” ucap Gin.
“aku pikir bukan hanya satu kaca saja yang pecah” Luca menunjuk kearah kaca lain gerbong, beberapa kaca gerbong lawau tidak semua pecah dengan kondisi yang sama.
“apa ini kebetulan?” guman Yuda.
Teman-teman suara Rizky tiba-tiba terdengar di headset kurasa kalian harus melihat ini, matis Shadow sedang berdiri ditengah-tengah jalur pejalan kaki antara dua kereta.
Karena ucapan Rizky, Yuda, Gin dan Luca langsung melirik kearah samping, ke lokasi yang dimaksud Rizky.
Sosok Matis Shadow berdiri seperti yang dimaksud Rizky. Layaknya manusia tinggi setinggi 170an cm, tetapi tubuhnya berbalut warna hitam dari ujung kepala sampai kaki, tak ada apapun yang dia pegang, tak ada jubang, senjata, maupun penutup kepala, semuanya berwarna hitam.
Tetap dalam waktu yang sangat singkat, sosok shadow tersebut menjadi air dan jatuh dalam genangan.
“apa itu tadi!” Luca terkejut bukan main.
Dia tiba-tiba menghilang Rizky memperingatkan semua orang.
Ketegangan menyelimuti semua orang dalam gerbong kereta, si shadow bisa saja muncul dimana saja entah diposisi tim Gin atau di tim Deren. Tetap dengan informasi kalau dia bisa menggandakan dirinya, dia mungkin akan muncul di dua tempat bersamaan.
Firasat buruk Yuda mengantarnya pada bawah kaki. Walau sekilas, dia melihat kaca-kaca yang tadinya pecah berubah menjadi hitam pekat. Meski sesaat lalu kaca tersebut masih bening hingga bisa terlihat lantai kereta dari kaca, namun sekarang tak ada lantai kereta dari balik kaca, hanya warna hitam pekat. Sebuah naluri dalam diri Yuda mengatakan untuk…..
“semuanya MENJAUH DARI KACA!”
__ADS_1
Entah butuh berapa lama hingga Yuda menyadari, dihadapannya sekarang ada duri-duri hitam meraja rela diseluruh penjuru gerbong. Bermunculan dari bawah dan samping kereta.[]