
Yuda tidak hentinya menembaki setiap matis yang dia temui, padahal jumlah matisnya hanya satu doang, tapi dia sudah kerepotan setengah mati. Si matis itu seperti tidak berniat untuk mendekati Yuda, malah dia berkali-kali terus bersembunyi diantara pepohonan.
Entah kenapa rasanya, Yuda seperti dipermainkan. Matis ini, dia bisa melewati zona pertahanan dan masuk begitu saja. Rasanya seperti matis yang ada dibandara.
Tidak ada pilihan lain, Yuda menjatuhkan assault rifles dan mengambil pisau belati dari sarung pinggangnya. Tanpa aba-aba apapun Yuda berlari melesat dan menyerang sang matis. Si matis itu rupanya menahan serangan Yuda hanya dengan pedang.
Sekarang dia bisa melihat sosok matis itu dari dekat, matis itu memiliki tinggi yang sama seperti Yuda, perawakan fisiknya manusia utuh, tetapi wajah dia ditutup tudung, sehingga dia tidak bisa memastikan secara pasti sosok matis tersebut.
“Sim Kuring didinya saha, naha nyerang kadieu?[1]” tanya Yuda berbicara bahasa sunda.
Setelah sekian lama menjadi seorang Frontline, Yuda memahami kalau ingin bertanya atau sekiranya berkomunikasi dengan mereka harus berbicara bahasa sunda lembut. Kenapa harus menggunakan bahasa sunda lembut, Yuda sendiri pun kurang paham.
Tetapi ketika dia bertanya ke Mirna, gadis itu hanya bisa menajawab kalau memang sedari dulu para matis itu berkomunikasi dengan bahasa sunda lembut.
Tidak ada jawaban apapun dari si matis, dia tetap diam ditempat, sampai tiba-tiba dia menghilang tepat dihadapan Yuda. Entah bagaimana caranya, dalam beberapa detik Yuda ditendang dari belakang sampai dia terjatuh.
Tendangannya tepat sekali dipunggung, terasa sakit seperti mau patah tulang, buat bangkit lagi hampir kesulitan.
Sekarang matis bertudung berdiri dihadapan Yuda, sebilah besi pedang dipamerkan tepat didepan kedua mata Yuda, sepertinya nyawa dia akan dicabut hari ini. Matis itu mengangkat pedang tinggi-tinggi. Sekuat tenaga Yuda berusaha bangkit, tubuhnya menolak untuk itu.
Pedang matis menancap ditanah pas sekali depan wajah. Rasanya jantung ingin copot. Dilirik simatis, rupanya matis itu berjongkok tepat didepan Yuda. Dia mendekatkan wajahnya yang tertutup tuduk kearah telinga kanan,
Kata-kata keluar dari mulut matis.
Beberapa jam sebelumnya.
Misi melawan matis White Lady sudah berlalu 3 hari yang lalu. Berita tentang Yuda dan teman-teman satu timnya dihukum penjara surut seperti air menyerap kedalam tanah. Tidak ada lagi orang-orang yang membicarakan dia dibelakang.
Sekarang semua teman-teman dia telah kembali kemisi mereka masing-masing, termasuk Yuda.
Saat ini dia sedang bersiap-siap untuk membantu tim pertahanan dijalan cihampelas bawah, mereka membutuhkan personil tambahan. Meskipun sebenarnya jalan Cihampelas Bawah jaraknya aga jauh dari batas pertahanan. Semenjak kasus permatas sapphire pecah, diberbagai sudut langsung dikerahkan keamanan ketat.
Selesai membawa semua perlengkapan termasuk senjata (assault rifles, pisau belati, beberapa peluru cadangan, 2 bom). Bergegas dia pergi kearah parkiran.
Pintu keluar lobby markas terbuka otomatis, memperlihatkan parkiran yang dipenuhi berbagai mobil dan motor dari segala jenis.
Yuda melihat seorang pemuda berdiri dengan perasaan jengkel menunggu seseorang. Dari kejauhan dia merasa seperti mengenali orang tersebut. saat didekati ternyata dia adalah laki-laki yang waktu itu protes ke ketua Verdic. Entah sudah berapa lama Yuda tidak melihat wajahnya.
Tapi ketika dia pikir-pikir lagi, saat Yuda menerima tugas ini, katanya ada seorang lagi yang ikut bersamanya. pada mungkin dia orangnya.
__ADS_1
“apa kamu Yuda?” laki-laki didepan Yuda.
“iya benar, kamu itu yang satu angkatan denganku kan, bentar namamu…” wah Yuda lupa nama dia.
Entah kenapa reaksi dia seperti jengkel “Raden, namaku Raden”
“salam kenal ya Raden” Yuda mengulurkan tangan untuk salaman, tapi ditolak mentah-mentah sama Raden.
Untuk saat ini dia harus tahan diri, karena bagaimana pun juga dia harus kerja sama dengan Raden.
Tiba-tiba saja sebuah kunci melayang tepat kearah dia, secara refleks Yuda langsung menangkapnya. Dilihat ini adalah kunci kendaraan, kunci motor. Didepan Raden sudah berdiri samping sepedah motor ninja!!!, dia sudah memegang helm dan menatap Yuda tajam.
“buat apa bengong” ucap Raden kasar “ayo pergi, kamu yang ngendarain motor”
Perlu waktu untuk Yuda memahami situasi dan akhirnya dia sadar, rupanya tugas kali ini tidak ada yang mengantar, lebih tepatnya mereka harus berangkat sendiri, dan sekarang dia harus mengendarai motor ninja sambil bonceng Raden.
Mau tak mau hanya bisa mengalah dari pada ribut sebelum berangkat, yang ada tar saksi ronde kedua menanti.
Motor ninja ini, walau bodynya terlihat baru padahal sebenarnya sudah sering dipakai, seluruh kendaraan disini benar-benar terawat dengan sangat baik,
Mesin motor dinyalakan, pertama Yuda dulu yang naik, diikuti Raden dikursi penumpang belakang. Walau dia sudah beberapa kali mengendarai motor (kalau kesekolah sih jarang), tapi ini pertama kalinya dia menggunakan motor ninja, lumayan jugalah.
Ini adalah kali pertama Yuda keluar dari markas tanpa ditemani senior satu pun, hanya ada dia dan Raden, sama-sama junior generasi baru didalam organisasin.
Tiba dilokasi, ada sekitar 2 tenda petugas berdiri disamping mobil mini bus. Beberapa orang keluar masuk dari dalam tenda. Masing-masing dari mereka membawa senjata ditangan.
Didekat tenda seorang perempuan aga pendek, tinggi dia sekitar dibawah 150an, wajahnya manis, rambut hitam pendek, dipinggung ada tabung berisi anak panah beserta busur khas atlet panahan.
“kalian Yuda dan Ragen” panggil perempuan loli itu.
“benar” jawab Yuda.
“Ketua Aditya menunggu kalian”
Si perempuan loli ini (entah kenapa Yuda ingin menganggapnya begitu) mengantar mereka berdua ketempat ketua Aditya, dia ternyata sedang mengawasi keadaan.
Ketua Aditya ini seorang pria paruh baya, tinggi, mengenakan topi, rambut pendek kecoklatan.
“jadi kalian Yuda dan Raden, Natasya makasih sudah membawa mereka” ucap Aditya.
__ADS_1
“iya ketua Aditya, saya permisi dulu”
Gadis bernama Natasya itu pergi meninggalkan Yuda dan Raden bersama Aditya.
Aditya melihat satu-satu dari mereka berdua “ini pertama kalinya kita bertemu, aku Aditya ketua utama defense, aku tidak perlu memberitau tugas kalian, karena dari record kalian berdua sama-sama pernah turun dibagian pertahanan atau defense, jadi seperti yang kalian tau sekarang seluruh pertahanan sedang diperketat, termasuk mewaspadai pergerakan matis Independen”
Matis yang bergerak seorang diri dan tidak memiliki wilayah sendiri, Yuda sudah pernah melihat mereka secara langsung, tapi tak pernah dia berhadapan dengan mereka.
“saat ini, sudah ada 7-10 pergerakan matis independent tercatat”.
“eh” Yuda terkejut “jumlah mereka memang sebanyak itu”
“segitu belum semua, ada kemungkinan jumlah mereka masih bertambah”
Tak bisa Yuda bayangkan matis territorial saja yang jumlahnya bisa lebih dari satu sudah kerepotan, lah ini independent jumlahnya bisa lebih dari 10, enggak kebayang seperti apa sosok mereka.
“untuk saat ini kalian berdua akan ditempati di jalan cihampelas atas, dekat SMA Mutiara Langit”
Kedua alis Yuda terangkat, dia akan berjaga tepat didekat sekolahnya sendiri, enggak bisa dia percaya, ada kemungkinan bisa saja dia melihat teman-teman dan guru sekolahnya dalam sosok patung batu.
“kalian boleh pakai motor untuk menuju kesana, jangan lupa komunikasi harus selalu aktif, kalau terjadi apa-apa beritau operator secepatnya”
Ketua Aditya pergi meninggalkan Yuda dan Raden masuk kedalam tenda. Yuda melirik kearah Raden, pemuda itu tengah mempersiapkan kedua pistol, jika diingat-ingat kembali Yuda tidak melihat Raden membawa senjata berat ditangannya.
“kenapa ngelihat-lihat?” tanya Raden dengan kasar.
“ah itu, kamu enggak bawa senjata lain?” tanya Yuda.
“oh” suara Raden berubah tenang “aku lebih terbiasa menggunakan double pistol, selain itu, aku ini atlet Pencak Silat, jadi ada kala aku melawan mereka hanya dengan tangan kosong”
Diam-diam ternyata pemuda didepan Yuda adalah seorang atlet silat, itu berarti ilmu bela diri dia lebih tinggi ketibang orang-orang dimarkas.
“ cepat kita kelokasi” ajak Raden.
“ok ayo”
Kedua pemuda itu, kembali keparkiran dan langsung menaiki motor menuju ke SMA Mutiara Langit.[]
[1] Kamu yang disana siapa, kenapa menyerang kesini?
__ADS_1