Sapphire City

Sapphire City
Chapter 46 : Matis Misterius


__ADS_3

    Yuda dan Raden berkendara motor melewati beberapa kendaraan disepanjang jalan cihampelas. Untuk saat ini dia bisa melihat dengan jelas cahaya permata sapphire di bangunan mall.


    Posisi permata itu jelas-jelas ada didalam, tetapi cahayanya dapat terpancar jelas keluar. dikala gelap gulita seperti, cahaya sapphire bagaikan lampu penerangan. Suasana suram dan gelap disekitar jalan cihampelas seperti sirna hanya dengan cahaya itu.


    Kalau tidak salah, waktu kota Bandung masih normal ada satu lagi permata sapphire disekitar jalan cihampelas. Dia ingat pernah melihatnya dengan jelas.


    Motor berhenti didekat pintu masuk rumah sakit, mereka berdua terpaksa berhenti disini karena jalan menuju sekolah Yuda tertutup oleh kepadatan kendaraan. Sela-sela jalan pun ditutupi motor.


    Seingat dia, terakhir keadaan normal seperti biasa itu karena sekarang hari kamis, bukan sabtu. Umumnya disini jalan akan dipenuhi kendaraan apabila dihari libur atau weekend.


    “ayo” padahal Yuda belum selesai memarkirkan motor, tapi Raden sudah mai, main cabut saja.


    Yuda hanya bisa geleng-geleng kepala saja, entah kedepannya seperti apa, apapun itu dia harus bisa kerjasama dengan Raden, tanpa ada satu pun senior disisi mereka.


    Ini seperti misi ujian untuk Yuda, biasanya akan dimentori senior, sekarang karena dia sudah melalui banyak misi dari mudah sampai susah, mungkin ini saat untuk uji kemampuan. Walau dalam diri Yuda, dia merasa kurang yakin.


    Tidak butuh waktu lama, mereka berdua tiba didepan gerbang sekolah SMA Mutiara Langit.


    Gerbang sekolah masih terbuka lebar walau hanya segelintir siswa yang keluar dan masuk (meski wujud mereka sudah menjadi patung batu).


    Ada siswa yang tengah menaiki sepeda motor untuk pulang, beberapa menunggu dijemput sambil duduk dibangku depan gerbang, ada juga beberapa siswi mengenakan selendang dipinggang, mereka anggota sanggar tari dan beberapa dari siswa membawa semacam replika pedang dan tombak, pastinya itu siswa anggota ekskul jepang.


    Bukan hanya siswa dan siswi SMA, beberapa guru berkumpul diluar gerbang sekolah membawa lengkap membawa tas atau barang-barang seperti map. Para guru itu pasti hendak pulang kerumah setelah segela urusan disekolah selesai.


    Dibalik tembok sekolah, terpancar sinar biru. Ternyata memang ada permata sapphire di dalam gedung sekolah ini. Kalau cahayanya terpancar jelas banget, itu berarti masih aman.


    “balik lagi kesekolah, tapi bukan untuk belajar” komentar Yuda “aga sedih melihatnya”

__ADS_1


    “itu sekolahmu?” tanya Raden berdiri tak jauh dari Yuda, suara dia terdengar aga keras mungkin karena sepi disini.


    “iya ini sekolahku” jawab Yuda “Raden sendiri masih SMA atau Kuliah?”


    “aku SMA” jawab dia dengan nada acuh.


    Diluar dugaan, Yuda awalnya mengira Raden itu mahasiswa, tapi ternyata dia masih SMA sama seperti Yuda.


    “SMA mana?” tanya Yuda lagi walau aga enggak enak nanya terus.


    “SMA Negeri di jalan Belitung” jawab Raden, enggak melirik kearah Yuda.


    Apa telinga Yuda bermasalah, rasanya dia enggak salah dengar, tapi Raden bilang dia dari SMA Negeri dijalan Belitung. Seingat Yuda SMA disana terkenal sangat bagus dan selalu menghasilkan siswa-siswi pintar berprestasi dan kebanyakan siswa SMA sana pasti berhasil masuk kampus Negeri.


    “tunggu itukan SMA terbaik di Bandung, lu siswa disana?” tanya Yuda enggak yakin.


    Entah kenapa rasanya Yuda seperti habis ditampar. Dibalik sifat Raden yang aga kurang ramah dan terkesan seperti acuh, ternyata dia bersekolah di SMA terbaik di kota ini, jadi ingat pepatah ‘jangan menilai orang dari sampulnya’.


    Entah baru saja berjalan selama 15 menit, Raden tiba-tiba ingin berpencar, padahal tugas ini terlalu beresiko jika pergi seorang diri. Tapi Raden (udah dilarang sama Yuda), main pergi begitu saja.


    Alesan dia main pergi karena dia bosan diem saja tanpa jalan-jalan disekitar jalan cihampelas. Ini belum satu jam, tapi udah main bosan saja. Tak ingin sendiri Yuda ingin ikut sama Raden. Cuman dia melarangnya.


    Menurut Raden walau mereka berpencar, tetap harus ada satu orang tetap diposisi. Ucapannya memang benar, tapi resiko tetapi ada.


    Resikonya tidak seperti misi Frontline pada umunya yang matis sendiri sudah diketahui tingkatan dan jumlah, kalau tugas mempertahankan mereka tidak bisa menebak matis mana yang menyerang atau jumlah yang menyerang berapa.


    Raden tetap pada pendiriannya meski sudah dikasih tau Yuda. Pada akhirnya mau tak mau dia harus mengalah. Meski berpencar, tapi headset untuk komunikasi harus diaktifkan, kalau itu Raden tidak keberatan.

__ADS_1


    Ditinggal sendirian didepan gerbang sekolah, suasana gelap gulita, hanya ada penerangan dari lampu senter terpasang dibaju plus cahaya sapphire gedung sekolah. Ini mengingatkan Yuda saat pertama kali dia mengalami situasi ini.


    Saat itu dia mengira semua ini adalah mimpi buruk, yang mengejutkan lagi melihat semua orang menjadi patung batu. Diruang kelas, lobby, diluar bahkan kucing sekalipun menjadi patung. Dunia seperti menyisakan Yuda satu-satunya yang hidup.


    Rasa takut dia bertambah saat melihat bebi ngepet seukuran mobil muncul dan hendak membunuhnya. Makhluk yang awalnya dikira hanya dalam cerita mistis masyakarat sampai masuk dalam film dan game, berdiri tepat dihadapannya.


    Waktu itu, Yuda mengira dia akan tamat, tapi Mirna datang menyelamatkan. Lalu dia dibawa ke markas Harja. Disana Yuda belajar kalau yang dia alami semua ini adalah nyata.


    Sekarang, disini dia kembali mengalami lagi, berdiri sendirian dalam gelap, dikelilingi manusia patung batu.


    Ada pembeda dikala dulu dan sekarang, kalau dulu dia tidak bisa apa-apa hanya berusaha lari untuk bertahan hidup, tetapi sekarang, Yuda mengangkat senjata untuk melawan para matis.


    Duk duk duk.


    Suara langkah kaki, terdengar keras. Asalnya dari pertigaan yang mengarah kejalan cipaganti. Kalau semisalnya itu Raden dia tidak mungkin berjalan seperti ini, anggota organisasi biasanya memberitau dulu kalau mau menyusul ketempat Yuda.


    Yuda menggenggam erat senjatanya, dia yakin yang datang bukanlah manusia. Pelan-pelan Yuda berjalan melewati setiap mobil dan motor ditengah jalan satu persatu menuju pertigaan.


    Setibanya dipertigaan, dia langsung sembunyi dibalik mobil, mengecek peluru dalam senjata, mengambil napas panjang.


    Pelan-pelan Yuda melihat dari balik besi mobil, awalnya memang tidak ada apapun dijalan, tetapi dilihat baik-baik memang ada sesuatu yang mendekat. Postur tubuhnya seperti manusia berjalan dengan 2 kaki. Aga tinggi, tetapi sosok dia tidak jelas seperti apa, karena sebagian wajahnya tertutup tudung.


    Tak mungkin dia manusia atau anggota organisasi, karena cara dia berjalan terlalu misterius……….


    Yuda tau sosok dihadapannya telah melempar sesuatu, karena tiba-tiba saja kaca mobil didekatnya pecah begitu saja. Membuat Yuda mau tak mau berlindung dari pecahan kaca mobil.


    Ada suara benda jauh yang ikut bersama pecahan kaca. Sebilah pisau tajam, sosok itu barusan melempar pisau sampai tembus 2 kaca mobil segaligus.

__ADS_1


    Ini jelas-jelas bukanlah manusia, yang berdiri dihadapan Yuda adalah Matis.[]


__ADS_2