
Mobil terparkir diluar gerbang sekolah, demi keamanan bersama, lebih baik parkir diluar dari pada dilahan parkir yang disediakan halaman sekolah. Padahal lahan parkir jelas-jelas masih ada tempat kosong.
Turun dari mobil, sudah terasa hawa seram dari dalam sekolah, ini belum masuk lingkum sekolah masih diluar gerbang. Gerbang tertutup rapat, bangunan sekolah 3 lantai dengan arsitektur tempo dulu yang masih lengket khas belanda, dihiasi patung-patung manusia berkeliaran disetiap sudut.
Tidak ada cahaya apapun yang terpancar didalam, hanya permata kosong menunggu diberi cahaya permata sapphire.
Dalam pikir Yuda, dia merasa sangat menyesal ikut dalam misi ini.
“boleh enggak aku pulang, balik ke markas” kata Yuda.
“aku Juga” Luca sependapat “lebih enak pulang”
2 pukulan mendarat di atas kepala Yuda dan Luca. Mereka berdua terpaksa jongkok Manahan sakit pukulan manis dari Senny.
“Senny sakit” keluh Yuda.
“iya ih, kalau berdarah gimana?” kata Luca.
“biarin sakit, seenak jidatnya mau pulang” kata Senny aga emosi.
“kita cuman bercanda doang kok” Yuda berusaha membela diri.
“iya ih, marah melulu tar cepat tua” Luca lagi-lagi dapat pukulan kedua.
Yuda tak berniat bercanda lagi, Senny terlalu seram, cuman disindir dikit saja udah tersinggung, gimana tar pas didalam, pasti matis udah pada kabur melihat wajah serah Senny.
Kalian ini, udah tau cewek itu enggak suka diomongin fisiknya, kata Rizky lewat headset.
Kalau Yuda ingat-ingat lagi, Sela sahabatnya pasti langsung emosi kalau berat badan dia dikritik, tapi kalau masalah emosi karena tersinggung baik Sela dan Senny sama-sama seram. Yuda kapok enggak akan lagi ngomogin fisik perempuan, lebih baik cari aman saja.
Semuanya ayo fokus ke misi, Rizky mengingatkan, ini misi berat loh, tingkat A, anggota Frontline yang diterjunkan cuman 4 orang.
Tidak ada yang bisa dilakukan, misi tingkat A anggota yang terjun cuman 4 orang. Yuda, Luca, Raden dan Senny sebagai pemimpin. Operator Rizky.
Alesan kenapa hanya bisa terjunkan 4 orang karena, beberapa anggota frontline lain diturunkan ke berbagai lokasi, tim pengintai melaporkan ada pergerakan matis tingkat S diberbgai lokasi, makanya butuh anggota lebih untuk mengatasinya.
Ditambah, sudah 5 hari setelah kabar bandara diserang matis, sebanyak 6 anggota frontline dan 2 backup terluka parah, itu karena matis yang mereka hadapi adalah matis monyet kulit hitam, tingkat S.
Bagi anggota baru seperti Yuda pasti baru pertama dengar, tetapi bagi mereka yang sudah lama di organisasi sudah mengenal matis tersebut, apalagi menurut para frontline yang diterjunkan kesana, sosok penampilan dan kemampuan dia tidak banyak berubah, tetapi bagaimana matis itu melawan para anggota frontlinelah yang jadi masalah.
__ADS_1
Lawan yang sulit butuh waktu berhari-hari untuk bisa menaklukannya, Lia sebagai operator yang ikut membantu, tidak henti-hentinya menatap layar monitor, dia tak ingin sama sekali kehilangan jejak si matis yang terus menerus berpindah dengan lincah dari sana kesini.
Meski sulit, para tim frontline dibantu backup akhirnya bisa mengalahkan matis tersebut meski harus pulang dengan penuh luka-luka.
Kemenangan melawan matis tingkat S, memicu matis tingkat S lain berdatangan diberbagai tempat. Karena itulah banyak anggota frontline diterjunkan baik itu yang penyerang atau pertahanan.
Menurut Rizky, ini sudah masuk dalam ******* pertempuran.
Aku akan jelaskan ulang misinya, Rizky mulai menjelaskan, misi kalian menaklukan gedung sekolah SMA di jalan Belitung ya, menurut laporan, didalam hanya ada 1 matis saja.
“satu doang enggak ada penambahan kan?” tanya Raden.
Enggak kok, jawab Rizky, dari drone juga sudah dikonformasi ada 1 matis, dan dari tim pengintai katanya fisik matis kaya emak-emak.
“aku ingin angkat tangan” guman Luca.
Permata Sapphire digedung sekolah, jumlahnya ada 2. Keduanya sama-sama di lantai 3, dimap lokasinya masing-masing diujung gedung, Kata Rizky.
“itu berarti ada kemungkinan kita harus berpencar atau enggak” kata Senny.
“menurutku sih lebih baik jangan berpencar” saran Raden.
“kalau enggak salah sekolahmu disini kan?” tanya Yuda.
“iya” jawab Raden sambil mengangguk “makanya aku cukup kenal sama gedung sekolah ini, tapi kita tetap tidak tau seperti apa kemampuan matis ini”
“kalau gitu Raden kamu mau enggak jadi pemandu?” tanya Senny.
Yuda dan Luca langsung kaget mendengar pertanyaan dari Senny tersebut, dia langsung main minta Raden jadi pemandu .
“aku sih tak masalah” jawab Raden langsung terima begitu saja.
Yuda ingin bantingin kepala ke pintu mobil, Raden yang disini sama yang pertama dia kenal kenapa sifatnya beda jauh sih, kok disini dia kesannya nurut sama Senny, padahal waktu pertama ketemu kasar dan tak pedulinya luar biasa.
“apa Raden biasanya sifatnya kaya gini?” bisik Luca ke Yuda.
“waktu pertama ketemu dia bicaranya kasar” jawab Yuda.
“sama, ke aku juga” Luca sependapat.
__ADS_1
Bahkan Luca sama herannya dengan Yuda,
Masing-masing dari anggota frontline mempersiapkan senjata mereka. Yuda dengan Assault Rifles dan beberapa pisau dipinggang, Luca membawa sebilah pedang dan handgun, sedangkan Raden dan Senny sama-sama membawa double handgun. Itu berarti teknik mereka bertarung hampir mirip.
“jangan lupa masing-masing bawa dua bom” Senny membagikan bom 2 buah ke setiap anggota. Bom cahaya dan asap.
“enggak ada bom yang bisa meledak?” tanya Luca, lagi-lagi ingin ajak Senny bercanda.
“mana mungkin aku bawa” jawab Senny.
Seluruh barang-barang sudah dipersiapkan, keperluan tambahan dimasukan dalam kantong pinggang, seperti P3K, bom dan senter cadangan.
“baiklah, pertama sebelum naik ke lantai 3, kita akan opservasi dulu di tiap lantai” Senny menjelaskan sebagai ketua tim “melihat situasi dan keadaan, dirasa aman baru naik kelantai selanjutnya”
GRRAAAAAAAAAAAAAAA!!!
Raungan teriakan terdengar begitu jelas sampai luar gerbang, sampai-sampai Rizky yang diruang operator langsung membantingkan headsetnya karena suara teriakan tersebut begitu kencang sampai membuat telingatnya sakit.
“i…itu suara matisnya kan?” tanya Yuda.
“aku bisa mendengar Rizky membantikan Headset” komentar Senny.
Telingaku sakit banget, komentar Rizky.
Kali ini suara dentungan langkah kaki, begitu jelas sekali suaranya meski langkah kaki tersebut aga terkesan lambat.
Dari balik jendela sama-samar Yuda dan teman-temannya melihat sosok matis itu, berjalan melewati jendela, tubuh dia besar dan gempal, jendela gedung sekolah terkenal karena tinggi hampir setinggi dinding lantai itu sendiri, tertutup oleh tubuh gempal matis.
“jendela pun kalah tingginya sama matis” komentar Luca.
“bakal berat ini” tambah Raden.
“ayo masuk”
Senny memimpin anggotanya masuk kedalam sekolah, Raden membuka gerbang sekolah, satu persatu dari mereka masuk kedalam pelantaran sekolah. Sambutan berupa patung-patung siswa, siswi berserta guru dan karyawan tepat dihadapan.
Yuda menghentikan langkahnya, dia sadar ada seseorang yang tertinggal. Raden berhenti dibangku dekat taman sekolah. Dia memperhatikan patung sekelompok pemuda berjumlah 4 orang sedang asik bersenda gurang.
Tapi setelah itu Raden kembali menyusul Yuda dan yang lainnya menuju pintu masuk sekolah. Jika diperhatikan baik-baik patung-patung manusia itu pasti teman-teman Raden, melihat teman sendiri menjadi patung batu seperti ini rasanya sangat berat, Yuda paham perasaan itu, karena dia juga sudah pernah melihat sendiri patung batu sahabatnya.[]
__ADS_1