
Dinda mengamati setiap cctv jalan cipaganti, selagi tim Lina tengah bersembunyi disalah satu rumah (kebetulan pintu masuk terbuka lebar). Cctv yang dia incar adalah dilokasi dimana terjadi kabut. Walah tindakan dia bisa dibilang lumayan percumah, tetapi Dinda ingin memperhatikan sedikit saja. Karena dia sempat terpikir dari ucapan Lina saat dia minta dibawakan lampu ultraviolet. Dari sinilah, Dinda berpikir ‘walau para matis dapat membuat diri mereka menghilang bukan berarti jejak mereka tidak’. Jika di aspal tidak ada jejak, bagaimana ditanah dan rumput, salah satunya saat matis-matis berjalan melewati rumput, tak mungkin rumput tersebut tidak menyisakan bekas apapun.
Kedua mata Dinda tidak terlepas dari layar cctv dan gps lokasi timnya. Tiap detiknya dia pasti akan meluangkan waktu mengamati kondisi para Frontline sebelum kembali melihat cctv diwaktu tim Lina diserang.
Dari posisi atas cctv, kabut terlihat begitu tebal. Dinda memutas kembali video cctv diwaktu tim Lina masuk kedalam kabut, masih terasa tidak bisa melihat apapun. Semua seperti terasa sia-sia saja jika dia melihat cctv walau sudah diputar berkali-kali.
Dinda gimana kondisi diluar?, Tanya Lina dari headset.
“Sejauh ini aman, belum ada matis yang mendekat kearah kalian” jawab Dinda, melihat layar map.
Ini benar-benar berat, kita tidak bisa melawan matis ditengah kabut. Keluh salah satu anggota laki-laki.
Lampu penerangan yang kita bawa bukan lampu kabut. Tambah Mirna.
“soal itu jangan khawatir” kata Dinda “Drone baru yang baru saja diterbangkan dilengkapi lampu kabut, jadi nanti akan dinyalakan saat kalian memasuki kabut”
Baguslah. Kata Andy
Tapi masalah utama kita, matis harimau bisa menghilang, ditambah karena dia harimau jadi-jadian pasti masih memiliki wujud lain. Kata Lina
Baik Lina, Dinda dan anggota lain masih memutar otak untuk melawan para matis tersebut. lampu kabut dan ultraviolet masih belum bisa memecahkan masalah utama mereka.
__ADS_1
Dinda tiba-tiba saja berdiri dari kursi, dia melihat tajam kearah cctv. Ada pergerakan rumput dekat trotoar diluar kabut, walau singkat, rumput bergerak tersebut tidak mungkin bergerak karena angin, jika angin pasti rumput disekitarnya juga ikut bergerak. Ini menandakan matis melewati tempat itu. Tapi ini saja masih belum cukup, sepanjang jalan cihampelas tidak ada taman, kecuali taman-taman kecil penghias sebelah trotoar. Itu kurang cukup menjadi patokan untuk menghadapi matis Harimau. Kalau misalnya Mirna difokuskan tetap berdiri ditaman trotoar para matis pasti sadar kalau itu hanyalah umpan dan tidak akan terpancing.
Lina berserta para Front Line tengah mengisi peluru senjata mereka, kecuali Mirna berjaga dekat pintu keluar, ditemani sebilah pedang dan lampu Neon menyala didekat dia. Lina masih menunggu waktu yang tepat bagi dia dan teman-temannya untuk keluar dari rumah mewah ini. Secara kebetulan ketika mereka mencoba kabur dan menghindar dari serangan Matis, ada rumah mewah dijalan Cipaganti yang gerbang dan pintunya terbuka lebar. Dari depan pintu masuk, beberapa patung-patung manusia tengah bersalaman sepertinya sang pemilik rumah sedang kedatangan tamu. Kesempatan inilah diambi langsung Lina dan teman-temannya untuk bersembunyi sampai sekarang.
Mungkin perkara kabut sudah bisa diatasi, tetapi masalah matis dapat menghilangkan dirinya belum. Walau ada lampu ultraviolet, itu saja belum cukup. Lina terlalu percaya diri mengambil keputusan dengan meminta tim backup membawa lampu ultraviolet, tapi ternyata keputusan tersebut hampir sia-sia. Para matis tersebut benar-benar seperti sosok harimau yang cepat dan lincah. Untuk menjatuhkan satu saja harus mengetahui posisi mereka dengan tepat dan benar tanpa kesalahan sedikit pun.
“semuanya kumpul dulu” perintah Lina.
Lina mengeluarkan handphone dari salah satu tas kecil. Dia atur layar menampilkan map jalan cipaganti.
“batasnya adalah perempatan bawah jalan layang” lanjut Mirna “plus cipaganti atas”
“sejauh yang kita tau, setiap matis datang mereka akan memunculkan kabut, disaat bersamaan sosok mereka menghilang” kata Lina “jadi kemungkinan melawan kecil. Sampai kita bisa menemukan cara untuk mendobrak kemampuan mereka”
“membuat mereka berhenti menghilang dan menendangnya keluar kabut” kata Mirna.
“tapi masalah kedua, matis Harimau putih adalah harimau jadi-jadian” kata Front Line laki-laki.
__ADS_1
“ada kemungkinan mereka memiliki wujud lain. Bisa saja wujud manusia” kata Lina.
“jika mereka memiliki wujud kedua manusia. Bisa jadi perkara baru. Kita tidak tau kemampuan apa yang mereka miliki jika sudah dalam wujud manusia” kata Front Line laki-laki kedua.
Semua orang terdiam, bahkan Andy sendiri pun bingung. Baru kali ini dia menjalankan misi sampai tersudut seperti ini. Mungkin karena dia selalu menjalani misi paling besar class B. karena ini Class A pastinya tantangan baru baginya dan bukan hal mudah untuk dipecahkan. Lina sampai ketua tim saja, dia sampai berpikir keras untuk bisa mengalahkan para matis tersebut.
Dinda tidak berhenti mengamati cctv, hingga dia memutuskan untuk mengamati layar map hasil pantauan drone model terbaru. Layar map memperlihatkan titik lokasi para tim Front Line, Tim Backup dan matis. Dilayar posisi kedua tim, salah satunya tim Lina masih dia ditempat mereka dan belum ada tanda-tanda bergerak (tim backup tidak boleh bergerak dari posisi sampai perintah turun). Sementara pergerakan matis, mereka tidak pernah berhenti, terus mencari tim Lina disepanjang wilayah mereka.
Dinda membuka rekaman map beberapa menit lalu. Disaat tim Lina pertama memasuki wilayah jalan Cipaganti. Setiap layar map selalu direkan secara otomati guna untuk riset atau enggak semacam mempelajari pergerakan matis jika memang ada matis yang pergerakannya mirip.
Sejauh yang dia lihat, tidak ada keanehan apapun. Setiap sosok matis menghilang maka titik keberadaan mereka pun ikut menghilang, drone tak mampu membaca sosok makhluk yang bisa menghilangkan dirinya. Benar-benar sulit, rasa kesal dan takut menghantui Dinda. Dia memang sudah memiliki pengalaman 2 periode (1 angkatan dengan Mirna) dan beberapa kali ikut dalam bagian misi class A. tetapi, setiap dia dalam posisi ini. Seakan dirinya merasa……..
Dinda mendekatkan dirinya kelayar map, dia memelototi layar dengan seksama, melihat ada lingkaran dengan warna coklat aga pucat dan samar – samar hampir tidak terlihat. Lingkaran coklat tersebut, terlihat dimenit saat tim Lina terkepung dalam kabut. Ada lima lingkaran, dan mereka mengelilingi Lina dan kawan-kawan. Sesaat salah satu lingkaran langsung maju kearah tim Lina (lingkaran biru) lalu kemudian berhenti, diikuti tim Lina yang berlari menjauh dari lokasi menuju tempat aman. Beberapa saat kemudian kelima lingkaran coklat tersebut menyebar. Salah satu dari lingkaran coklat berubah menjadi lingkaran merah, diikuti keempat lainnya.
Dinda langsung berdiri dari kursinya, senyuman lebar terpangpang jelas diwajahnya. Dia baru saja menyaksikan sebuah keajaiban, dimana lingkaran coklat tersebut adalah sosok matis Harimau tengah menghilang, kondisi tersebut berhasil terbaca oleh Drone, walau gambarannya samar-samar dan hampir tidak terlihat. Mata jeli Dinda bisa melihatnya.
“Lina” panggil Dinda dengan girang.
__ADS_1
Ada apa Dinda?. Jawab Lina.
“aku tau posisi mereka saat menghilang”.