Sapphire City

Sapphire City
Chapter 47 : Sebuah Pesan


__ADS_3

    Pisau berterbangan entah dari mana, dan langsung menancap didepan kaki Yuda. Jumlahnya tidak terhitung, bahkan sampai sekarang kumpulan pisau terus terbang dari arah simatis menuju Yuda.


    Tanpa pikir panjang, dia memutuskan memukul kaca mobil didekatnya dengan menggunakan ujung senapan, dia buka kunci mobil, pintu terbuka dan Yuda langsung melompat kedalam mobil. Berlindung dari hujan pisau.


    Padahal misi terakhir dia sudah mengalami hujan pecahan kaca, sekarang hujan pisau. Tapi makin kesini pisau-pisau yang terlempar kearahnya makin kuat sampai tembus langit-langit mobil. Terpaksa Yuda menendang pintu mobil dengan keras sampai terbuka.


    Sambil berlari menghindari kumpulan pisau yang menghujaninya. Yuda menembak si matis, tetapi matis itu langsung berlindung dari balik pohon.


    Dirasa tidak ada pisau-pisau yang muncul kearahnya, Yuda menggunakan kesempatan ini untuk langsung menghubungi Raden.


    “Raden, halo Raden” panggil Yuda.


    Aga lama, setelah beberapa detik Raden menjawab panggilan Yuda.


    Yuda ada apa?, Tanya Raden.


    “Cepat kesini, ada….”


    Entah bagaimana tiba-tiba saja pisau melayang cepat membuat luka goresan dipipi Yuda sampai berderah, bukan hanya itu tak disengaja headset ditelinganya terjauh ketanah. Pisau lain muncul dan membelah headset menjadi dua.


    Matis itu cukup pintar, dia tidak membiarkan Yuda menghubungi Raden untuk meminta bantuan, kalau kaya gini dia harus menghadapi itu matis sampai sekitaranya Raden muncul. Pastinya itu pemuda sadar kalau Yuda tidak mungkin memutuskan komunikasi tanpa alesan.


    Jadi untuk sekarang Yuda harus mengulur waktu sampai bantuan datang. Entah kenapa akhir-akhir ini dia selalu menjadi tukang ulur waktu.


    Dari balik baju, matis kembali mengeluarkan pisau.


    “sebenarnya berapa banyak pisau yang dia miliki sih” protes Yuda.


    Yuda langsung menembaki matis tersebut sebelum dia berniat melempar pisau. Matis itu terdesak karena tembakan Yuda, dia memilih untuk kembali sembunyi.

__ADS_1


    Sedari tadi, Yuda mengira itu matis memiliki semacam kekuatan telekinesis atau apalah, karena bagaimana dia melempar pisau sangat tidak masuk akal. Bagaimana bisa dia melempar pisau begitu keras sampai menancap keatas tanah, paling parah menancap diatap mobil.


    Mau dipikir seperti apapun, matis tetap lah matis, mereka pasti memiliki kekuatan diluar logika manusia.


    “bagaimana pun juga aku tidak boleh membuat dia melepar pisau” guman Yuda.


    Yuda kembali menembaki si matis tanpa ampun. Walau dia cukup penasaran dengan wajah dibalik tudungnya tersebur. Tetapi kalau dia mencoba mendekat entah berapa pisau lagi yang akan melayang kearah wajahnya.


    Namun jika diperhartikan baik-baik, matis itu dia lebih memilih menghindar dari peluru ketibang melempar pisau. Ada dua kemungkinan, pertama karena Yuda terus menembakinya, kedua dia sudah kehabisan pisau.


    Jika diperhatikan baik-baik, dia kehabisan pisau.


    “sudah enggak bisa nyerang lagi nih” Yuda tersenyum.


    Untuk sekarang Yuda bisa senang, tetapi rasa senangnya hanya sesaat karena matis itu bergerak diluar prediksi Yuda.


    Tak terpikir oleh Yuda kalau dia bisa dijatuhkan oleh matis itu dengan mudah, padahal dia mengira itu matis hanya memiliki kemampuan untuk melempar pisau, tetapi bagaimana ceritanya dia bisa menghilang begitu cepat, lalu berakhir dengan tendangan mau sampai terjatuh.


    Sekarang sosok matis tersebut berjongkok tepat didepan Yuda, sebilah pedang menancap tepat didepan wajah Yuda, jantung Yuda bisa copot kapan saja atau nyawa sekalipun karena, ini bisa menjadi akhir baginya.


    Tetapi itu matis sama sekali tidak mengangkat pedangnya, malah dia mendekatkan mulutnya ketelinga Yuda.


    “kamu adalah orang yang aku cari, sekarang waktunya belum tepat, tapi suatu hari nanti kita pasti akan bertemu lagi”.


    Apa Yuda enggak salah dengar, matis itu jelas-jelas berbicara dalam bahasa Indonesia bukan sunda, kok bisa jelas-jelas semua matis yang dia temui berbicara bahasa sundah tapi ini.


    Mata Yuda berkedip beberapa kali, kedipan berikutnya sosok matis dihadapannya menghilang begitu saja, perlahan-lahan Yuda berdiri walah sebagain badannya aga sakit gara-agar dikasih tendangan maut.


    Sosok matis itu benar-benar menghilang, jejaknya saja tidak ada dimana-mana.

__ADS_1


    Tapi kata-kata yang dia ucapkan sebelumnya, seolah-olah dia mengelah Yuda, terlebih katanya Yuda pasti akan bertemu dengan matis itu, tapi kenapa Yuda adalah orang yang dia cari.


    Sulit untuk percaya ucapan matis itu, mau dari segi manapun, kemungkinan terbesar pasti itu adalah jebakan. Tapi kalau ingin pasang jebakan kenapa harus Yuda, terlihat jelas kalau dia itu orang baru disini.


    “Yuda”


    Raden muncul dari arah tadi dia pergi, padahal sebelumnya dia selalu memancarkan aura acuh, jelas banget wajahnya terukir rasa cepas.


    “hei kau baik-baik saja, tadi aku barusaha hubungi kamu cuman enggak dijawab” ucap Raden, jelas sekali dia cemas.


    “sorry, tadi ada matis tiba-tiba muncul, waktu aku mau minta bantuan, headsetnya jatoh dan langsung dihancurin matis” jawab Yuda.


    “apa matis!” teriak Raden terkejut “ini kan didalam area pertahanan kok bisa dia masuk”


    “justru itu, aku juga bingung. Tapi sekarang dia sudah pergi kok” kata Yuda.


    Raden melihat Yuda dari atas kebawah “aku lihat kamu lumayan berantakan juga, kalau gitu aku laporan dulu ke Natasya”


    Raden langsung menghubungi Natasya lewat radio headset memberitau situasi yang Yuda alami.


    Tetapi Yuda belum bisa memberitau Raden detil yang dia alami, matis yang berbicara dalam bahasa Indonesia, pasti tidak akan ada yang percaya ucapannya. Untuk sekarang ada baiknya Yuda merahasiakan dulu pengalaman anehnya tersebut.


    Sementara itu ditempat lain dibandara, para anggota Frontline telah berhasil menemukan posisi sang matis yang bersembunyi dilangit-langit lantai dua gedung bandara. Dibantu para operator mereka merencanakan untuk menyergap matis tersebut.


    Tapi sayangnya, matis yang mereka hadapi diluar dugaan karena, disaat proses penyergapan, si matis muncul ditengah-tengah anggota tim yang berkumpul dan berhasil mengalahkan mereka semua satu persatu.


    Salah satu anggota Frontline yang selamat dari serangan matis memberitau operator ciri-ciri fisik matis tersebut. matis itu memiliki tubuh ukuran manusia dewasa tetapi bukan manusia, melaikan monyet kulit hitam lengkap dengan ekor panjangnya.


    Lia sebagai seorang operator yang bertugas memandu tim dibandara terkejut abis sampai berdiri dari kursinya, tak pernah terbayangkan dalam dirinya kalau sosok matis tersebut akan menyerang bandara yang berhasil diduduki manusia.

__ADS_1


    “tadi dia bilang matis monyet kulit hitam” ucap Lia sampai gemetar.[]


__ADS_2