Sapphire City

Sapphire City
Chapter 26: Misi di Kampus


__ADS_3

Sebuah misi baru datang kepada Yuda, ditengah dia sedang asik bermain bersama teman satu asramanya. Semuanya terjadi begitu cepat, walau sudah seminggu berlalu semenjak Yuda membuat insiden markas penuh wangi parfum.


            Yuda bersama Luca pergi keruang aula, dimana mereka dipanggil untuk penjelasan mengenai misi yang akan mereka terima. Ini adalah kedua kalinya Yuda 1 misi bersama Luca, pastinya dia tidak akan merasa canggung tidak seperti misi sebelumnya Yuda merasa sangat canggung, walau ada Mirna tetapi dia belum begitu kenal Mirna dilingkungan ini.


            Pintu aula terbuka lebar, 3 orang menunggu dalam. Ada Mirna dan juga Rizky. Rizky melambaikan tangan kepada Yuda dan Luca.


            “loh Rizky kamu udah balik?” Tanya Yuda.


            “yep, aku tidak bisa terus-terusan galau bukan” Rizky tersenyum lebar.


            Kehadiran Rizky membuat Yuda maupun Luca terasa sangat lega, pemuda itu absen beberapa hari dari misi karena masih dalam masa berduka atas kematian Gin, sekarang dia sudah mendapat kembali semangatnya dan bisa ikut dalam misi kembali sebagai seorang operator.


            “semuanya sudah disini ya” Mirna datang bersama seorang laki-laki tinggi yang sekiranya lebih tinggi dari Yuda, berkulit sawo matang, mata coklat, rambut hitam pendek berantakan.


            “halo ini pertama kali kita bertemu ya” pemuda disamping Mirna secara inisiatip memperkenalkan dirinya “namaku Reza, aku satu angkatan sama Mirna. Salam kenal ya”


            Yuda dan Luca satu persatu berjabat tangan dengan Reza.


            Tanpa basa basi lebih lama, sebagai seorang operator Rizky menjelaskan mengenai misi mereka. Misinya tingkat B, berlokasi di sebuah kampus swasta jalan dipati ukur. Kampus tersebut memiliki sebuah gedung dengan lantai lebih dari 10, sehingga akan sulit terlebih dikarenakan listrik mati, mereka tidak bisa menggunakan lift.


            “gedung 10 lt lebih tanpa lift, ini penyiksaan namanya” Luca sudah merasakan lututnya lemas.


            “eskalator ada?” Tanya Yuda.


            “kabar buruknya enggak ada eskalator” jawab Rizky tersenyum kecil.


            Mengiraukan rasa protes dari 2 pemuda. Rizky kembali melanjutkan penjelasan soal misi, dari hasil pengintaian. Walau ini adalah misi tingkat B, tetapi seperti matis di stasion. Matis ini memiliki kemampuan aneh. Selain itu, didalam gedung kampus selalu ada bayangan anak-anak berlarian dan suara tawa anak-anak. Tentu itu membuat wajah Yuda berubah menjadi pucat pasih.

__ADS_1


            “untuk Reza” Rizky melirik Reza “maaf ya meski kamu seorang sniper, tetapi dalam misi ini tidak ada tempat yang pas untuk tempat kamu menembak”


            “ya aku tau itu” Reza mengakuinya “aku bisa pake senjata lain”


            Dari yang Rizky jelaskan, sosok matis ada kemungkinan anak-anak entah jumlahnya berapa tetapi yang jelas untuk misi ini aga menantang karena cuman mengirim 4 orang saja. Terlebih yang jadi masalah baru adalah, jumlah permata kosong ada 4, permata sapphire yang boleh mereka bawa 1 buah saja. Rizky menggambarkan gambaran denah gedung kampus, 4 permata sapphire berada di lantai berbeda dibasemen lantai pertama, lantai 4, lantai 7 dan lantai 11. Lalu untuk ketua timnya adalah Mirna.


            “ada yang mau bertanya?” Tanya Rizky.


            “ini soal matisnya” Yuda yang pertanya bertanya “tadi katanya matis ini memiliki kemampuan seperti yang terakhir kami lawan distatiun. Apakah sudah keungkap apa kekuatannya”


            “memang belum jelas seperti apa kekuatannya, tetapi saat ini bagian dalam kampus tersebut diselimuti sesuatu seperti kain hitam”


            “kain?” bukan cuman Luca yang terkejut tetapi baik Yuda, Reza dan Mirna sama terkejutnya.


            “aku tau kalian bertanya-tanya. Tapi hasil penyelidikan tim pengintai ada kemungkinan matis ini dapat mengendalikan kain-kain tapi masih prediksi ya, karena belum jelas”


            “apa benar matisnya ada lebih dari 1?” kali ini Reza yang bertanya.


            Tak ada lagi yang mau bertanya. Mirna sebagai ketua tim meminta anggotanya untuk bersiap-siap kemudian berkumpul ditempat biasa sebelum pergi berangkat misi.


 


            Jalan dipati ukur adalah sebuah jalan yang terkenal ramai karena dekat dengan kawasan dago yang selalu menjadi kawasan tujuan wisata dikota Bandung. Jika pergi ke jalan dago atas terus kesana maka akan sampai dikawasan kota Lembang. Tak heran setiap sabtu dan minggu selalu ramai oleh wisatawan dari luar kota bandung.


            Mobil yang dikendarai Yuda, Mirna, Luca dan Reza telah tiba dilokasi kampus swasta. Mobil diparkirkan didekat pintu masuk basemen. Mirna yang pertama keluar dari mobil, sebagai ketua kelompok dia langsung melihat sekeliling termasuk bagian luar gedung salah satunya pintu masuk. Disisi lain Yuda dan yang lain mempersiapkan perlengkapan dan senjata. Reza orang yang baru Yuda kenal rupanya menggunakan jenis senjata yang sama dengan Yuda, itu berarti ada dua orang yang bertarung digaris depan, dua orang digaris belakang.


            Jika dilihat dari bawah keatas, gedung kampus ini memang sangat tinggi sekali, seakan-akan seperti gedung pencakar langit dikota Jakarta. Dilantai pertama, lobby kampus pintu terbuka lebar dan tak menutup, walau didepannya ada beberapa patung manusia. Mahasiswa kampus yang sedang kuliah.

__ADS_1


            Yuda menghampiri Mirna yang sedari tadi serius memperhatikan pintu masuk kampus. Wajahnya begitu serius memperhatikan kaca gedung kampus, kaca kampus yang bening membuat apa yang didalam dapat terlihat dari luar. Tetapi yang terlihat dari luar bukanlah aktifitas patung mahasiswa melaikan berbagai kain hitam, bukan, diperhatikan baik-baik itu adalah rambut hitam, berhelai-helai rambut hitam, memanjang lurus dari atas kebawah, jumlahnya tak sedikit menghiasi langit-langit dan seluruh isi lobby.


            Suara tawa anak-anak menggema keluar dari gedung, meski suaranya kecil tetapi Yuda dan Mirna dapat mendengarnya dengan jelas. Seketika bulu kuduk Yuda berdiri, karena suara tersebut terdengar menyeramkan. Dari balik kaca gedung, bayang-bayang anak kecil berumur sekitar 7 atau 8 tahun mengetuk kaca berkali-kali, entah dari mana anak kecil tersebut muncul tetapi, tatapan matanya kosong, hanya tersenyum lebar dan melambaikan tangan kepada Yuda. Setelahnya dia masuk kembali kedalam, dan menghilang begitu saja.


            “jujur serem” Yuda tak bisa menahan rasa takut dia sendiri.


            “lumayan” Mirna menghela napas panjang.


            Luca dan Reza menyusul keduanya, wajah kedua pemuda itu berubah pucat pasih melihat pintu masuk kampus yang gelap penuh kain-kain putih menggantung.


            “waduh aku beneran masuk rumah hantu” komentar Luca.


            Mirna memandang satu persatu anggota dia. Wajah pucat menyelimuti mereka semua, termasuk Reza, padahal dia dan Reza satu angkatan tapi mau bagaimana lagi, mau sepengalaman apapun. Jika memasuki tempat seram pasti membuat bulu kuduk berdiri. Bahkan Mirna sekali pun walau dia tak ingin menunjukan rasa takutnya, tetapi dia bisa merasakan kalau jari-jarinya aga gemetar. Dengan cepat Mirna menampar kedua sisi pipinya bersamaan. Ketiga pemuda dihadapannya terkejut. Itu adalah cara Mirna untuk menghilangkan rasa takut dan membangkitkan rasa percaya dirinya.


            “ok semua siapa jiwa dan mental?” Tanya Mirna.


            “siap” Yuda ragu sedikit.


            Luca mengangguk.


            “ada rencana?” Tanya Reza.


            “pertama kita akan masuk kedalam bersama lalu menyusuri setidaknya sampai lantai tiga, melihat situasi” jawab Mirna.


            Yuda dan Reza menyarungkan senjata mereka di punggung, untuk sekarang masing-masing dari mereka memegang senter untuk penerangan. Sedangkan Mirna dia akan memimpin jalan, Luca berada dibelakang.


            “Rizky tolong kasih tau kami kalau ada matis” perintah Mirna.

__ADS_1


            Ok Mir suara Rizky terdengar di headset.


            “kita masuk” dengan rasa percaya diri walau takut, seluruh anggota tim masuk kedalam kampus.[]


__ADS_2