
Berasa main lampu merah lampu hijau, itu yang terpikirkan oleh Yuda, karena mereka semua tidak boleh berlama-lama bersembunyi, apapun yang terjadi mereka harus bergerak menuju jalan kelantai atas, terlalu lama bersembunyi yang ada mereka pasti diserang cepat atau lambat. Siska dan Andy pertama bergerak. Andy sih ingin bergerak aga jauh, tetapi Siska, gadis itu merasakan ketakutan yang mengakar sampai kakinya. Hingga keduanya hanya bisa sanggu melangkah melewati 2 mobil saja.
Mirna dia tanpa aba-aba apapun, melempar batu kearah yang berlawaanan dari si matis, Yuda melihat kelakukan Mirna membuat dirinya membeku karena terkejut, takut matis itu malah akan berlari kearah mereka. Ya dugaannya meleset, matis berjalan kearah posisi batu mendarat. Ini menjadi kesempatan untuk semuanya untuk berjalan menjauh dari posisi matis. Lemparah Mirna yang jauh memberikan kesempatan mereka semua untuk berlari.
Itu kesempatan emas yang bagus, kalau saja bertahan lama. Karena jalur mobil untuk naik kelantai atas telah ditutup oleh simatis. Dia menutup jalur tersebut dengan kumpulan mobil-mobil yang ditumpuk-tumpuk segingga seluruh jalan tertutup tanpa menyisakan lubang sedikit pun.
“pinter juga tuh cewek” kekesalan Derec bisa dirasakan semua orang, tapi bukan hanya dia saja yang mereka kesal, semuanya juga sama.
“apa tidak ada jalan lain?” Tanya Andy.
Siska menunjuk kearah sebuah pintu ganda diujung “disana, ada tangga darurat”
“yaudah kita lewat tangga darurat_”
Mobil melesat hebat tepat disamping mereka, dan menabrak pintu tangga darurat. Semua orang langsung melirik kebelakang, si matis berdiri tepat dibelakang mereka tangan kanan dia direntangkan kedepan, baru saja dia mengendalikan mobil dengan telekinesis, untuk menutup jalan keluar.
Kali ini kedua tangannya sama-sama direntangkan kedepan, lalu dia menjentikan kedua jarinya, tiba-tiba saja lampu mobil disekitar menyala begitu terang,
“aaahh silau” Gilang berusaha menutup matanya.
“apa-apaan ini” teriak Mirna.
Yuda memperhatikan si matis dari balik cahaya lampu mobil, matis itu menyeringat membuat pemuda itu menyadari kalau mereka semua dalam bahaya, ditambah samar-samar terdengar pecahan kaca.
“TIARAP!” teriak Yuda.
Tanpa bertanya apapun semua orang langsung tiarap, dan terakhir yang mereka rasakan adalah suara berbagai pecahan kaca saling beradu tepat diatas mereka dan setelahnya pecahan-pecahan kaca berjatuhan. Segali tiarap Yuda melihat pecahan kaca tersebut begitu tipis dan kecil bahkan hampir tidak bisa dilihat oleh mata, berbeda dengan pecahana kaca yang mereka lihat sebelumnnya, pecahan ini hampir seperti jarum.
“semua cepat bangun kita harus lari” perintah Derec.
Satu persatu mereka bangkit dan mulai berlari, kecuali Deren, dia melempar Granat kearah simatis. Dalam sekejam terjadi ledakat yang membakar apapun disekelilingnya. Kesempatan ini langsung dimanfaatkan semuanya untuk berlari sekuat tenaga meninggalkan lokasi. Tetapi Yuda sangat yakin, ledakan granat tersebut tidak akan pernah mempan kepada matis, bahkan dari balik kobaran api, dia berteriak sejadi-jadinya, tanda kalau dia marah besar.
“SEMUA MENUNDUK!”
__ADS_1
Semua orang langsung menunduk setelah Derec berteriak. Jarum-jarum kaca menancap tepat dihadapan Yuda, matis itu masih sanggup menggunakan telekinesis.
“DEREC!”
Teriakan Siska mengejukan semua orang. Yuda melihat Derec melindungi mereka semua dengan membiarkan tangan kanan, lengan bahkan pundak kanannya terkena duri-duri kaca.
“arg_kalian tidak apa-apa?”
Tidak ada satupun yang jawab, mereka semua terlalu syok akan apa yang dilihat. Tapi Mirna dengan sigap mengambil pistol milik Derec dan langsung menenbak kearah_kobaran api. Api tiba-tiba terbelah membuka jalan untuk sosok dari balik api.
Yuda pertama berdiri “dia bisa mengendalikan api?!”
“tidak” Mirna bantah ucapan Yuda “dia pake besi mobil sebagai prisai” dia buang pistol berganti ke senjata andalannya, pedang.
Derec orang pertama yang menyadari niat dari Mirna “ayo kita mundur”
“mundur?” Siska bingung dengan ucapan dari Derec
Yuda melirik kearah Mirna yang sudah berjalan perlahan Kearah si matis, dari sini dia sadar, kalau gadis itu akan menjadikan dirinya sebagai umpan selagi yang lain melarikan diri. Yuda menarik Siska berdiri, begitu pula Gilang membantu Derec berjalan.
“enggak akan” balas dia.
Yuda beserta yang lain berjalan menjauh, selagi si matis memperhatikan mereka semua dari kejauhan.
“Hei” panggil Mirna “jangan lihat yang dibelakang, ayo lawan aku”
Matis White Lady, belum merespon apa-apa.
“ngomong-ngomong, aku loh yang ngelempar Granat” Mirna tersenyum puas “gimana rasanya?”
Setelah mendengar ucapan dari Mirna, tanpa aba-aba apapun, White Lady mengubah prisai yang sebelumnya dia gunakan untuk menahan kobaran menjadi besi panjang menyerupai pedang hanya dengan telekinesisnya. Setelah selesai, dia serang Mirna tanpa ada permisi sekali pun, mereka berdua saling adu pedang satu sama lain, tidak ada yang saling mengalah, tetapi emosi si matis ke Mirna membuat dia berasa jauh lebih kuat darinya. Namun Mirna tidak ingin ambil pusing dia harus mengulur waktu untuk teman-temannya, selama dia bisa.
“sepertinya disini aman” kata Yuda.
__ADS_1
Gilang membantu Derec duduk, selagi Siska mengobati luka Derec. Yuda tidak habis pikir sedari tadi, si matis selalu saja selangkah didepan mereka, setiap mereka membuat keputusan untuk melangkah, pasti saja matis itu akan ada didepan mereka, sekarang jika mereka tetap para rencana untuk berarti dia harus menemukan jalan lain kelantai atas selagi Mirna mengulur waktu untuk mereka.
“sudah, gimana Derec?” Tanya Siska.
“lebih baik” jawab dia “kamu terampil juga”
“gini-gini, aku ikutan PMR (Palang Merah Remaja) disekolah” kata Siska.
“sekarang, selagi Mirna mengulur waktu, kita harus cari jalan lain untuk naik keatas” kata Derec.
“kalau enggak salah ada lagi” kata Siska “aga jauh sih”
“tak masalah” kata Derec “lebih baik ada dari pada_”
“hei Yuda” tiba-tiba saja Andy menepuk pundak “bisa enggak kamu pijit punggungku”
“punggung?” Yuda memperhatikan Andy, dia terlihat aga lelah “kamu sakit?”
“bukan sakit, tapi punggungku terasa pegal dan aga berat gitu” ujar dia.
“aku juga” Gilang satu nasib dengan Andy “sedari tadi, rasanya punggungku berat gini, padahal aku enggak bawa tas ransel”
Ucapan mereka berdua jelas membuat Yuda, Derec dan Siska kebingungan, tak pernah sekali pun mereka disuruh membawa beban berat sejak awal mereka tiba disini, tetapi kenapa kok mereka seperti merasakan beban seakan-akan habis kerja berat. Jelas-jelas ini terdengar aneh dan mencurigakan, ini adalah kondisi tak bisa, tetapi dari ucapan Gilang barusan, dia bilang sedari tadi.
Yuda kembali berpikir kembali, kembali ke awal mereka tiba disini, awal turun dari mobil, jalan masuk kemall, turun kelantai bawah, pertama kali menemukan bercak darah, kepala mayat perempuan dibawah tangga eskalator, bekas cakaran di dinding, suara tawa matis seperti kunti, sosok matis pertama kali muncul mengenakan dress putih dan wajah ditutupi rambut layaknya mbah kunti, moment saat dia menahan segala peluru hanya dengan kemampuan telekinesis, kemudian dia memamerkan wajah_. Oh Yuda merasa dirinya bodoh, selama ini dia hanya berpikir untuk menghindar dari serangan telekinesi dan melupakan efek dari wajah cantik si matis. Matis itu memamerkan wajah cantiknya bukan karena tanpa alesan, justru itu bagian dari kemampuan dia, apalagi saat si matis menunjukan wajah cantiknya, hanya 2 orang saja yang melihat Andy dan Gilang.
Derec melihat Yuda “Yuda sepertinya kamu sudah mendapat jawabannya”
“iya, kayanya waktu White Lady memamerkan wajah cantiknya ke kita, itu adalah bagian dari serangannya” kata Yuda.
Gilang terkejut, begitu pula Andy dan Siska.
“apa maksudmu?” Tanya Andy.
__ADS_1
“Yuda, rupanya apa yang kamu pikirkan sepemikiran denganku” ucap Derec tersenyum karena senang ada seseorang yang bisa mengambil kesimpulan seperti dia “dengan kata lain” Derec menunjuk Andy dan Gilang “kalian berdua sudah ketempelan”[].