Sapphire City

Sapphire City
Chapter 29: Anak Kecil dan Sarang Penuh Rambut


__ADS_3

Setelah menemukan senter, Yuda tak sengaja memasuki ruang seni tak jauh dari lokasi dia menemukan senter, didalam ada banyak patung manusia sedang memahat dari papan kayu tipis. Salah satu patung, seorang diri berdiri dekat papan tulis. Itu pasti dosennya. Yuda mengambil salah satu pisau pahat dari salah satu patung. Walau tak setajam pisau dapur, lebih baik dari pada tak ada senjata sama sekali.


            “selain pisau pahat, ada lagi enggak ya?” ucap Yuda.


            Jika diperhatikan papan kayu yang diukir memiliki berbagai bentuk ukiran, walau bila diperhatikan baik-baik semuanya menjurus pada 1 tema, ada beberapa mahasiswa yang telah selesai memahat papan kayu mulai beralih ke tahap pewarnaan. Warna yang mereka pilih tidaklah asal-asalan, seoalah warna tersebut menggambarkan tema dan ciri khas yang mereka ambil.


            Tak ada apapun yang bisa diambil untuk dijadikan senjata, maka Yuda memutuskan keluar dari ruang seni dan kambali menelusuri lantai. Tidak seperti sebelumnya, rambut dilangit lorong tidak bereaksi atau bergerak pelan seperti terakhir Yuda lihat. Walau seisi lorong dan beberapa kelas tertentu dimasuki rambut-rambut milik matis, tidak ada satu helai yang bergerak meski Yuda sudah beberapa kali melewati mereka. Itu berarti rambut-rambut ini hanya akan bergerak apabila si matis ada dilantai ini.


            Setelah sekian lama mencari Yuda berhasil menemukan tangga menuju keatas dan kebawah secara bersamaan, kebetulan kedua anak tangga tersebut ada disatu tempat. Tambahan lift gedung tepat disamping tangga. Ini memudahkan Yuda untuk mengetahui sekarang dia ada dilantai berapa. Ada petunjuk diatas pintu lift, keterangan mengenai informasi setiap lantai digedung kampus. setiap informasi dikelompokan per lantai dan memiliki background warna putih kecoklatan, kecuali satu kelompok informasi berwarna kuning dengan tanda atasnya bertuliskan ‘lantai 7’. Itu berarti Yuda berada dilantai tempat lokasi permata kosong. Entah ini suatu keberuntungan atau bukan. Tapi yang jelas ini menjadi kesempatan Yuda untuk mengecek dimana lokasi pertama kosong, sehingga jika dia berhasil menemukan teman-temannya dan hendak mentransfer permata sapphire ke permata kosong, tidak perlu susah-susah mencari kesana kemari.


            Niatnya sih begitu, sampai pintu lift terbuka begitu saja dihadapan Yuda. Mulanya dia kira ada seseorang didalam lift tersebut. tetapi tidak ada siapapun disana, hanya lantai kosong dan sebuah boneka.


            “boneka?!”


            Diperhatikan baik-baik boneka tersebut sangat mirip dengan boneka yang akhir-akhir ini Reza bawa selagi dia kesurupan, selain itu ada kesan seram dalam boneka tersebut yang membuat Yuda merasa dia ingin kabur saja dari boneka ini, tapi disisi lain ada rasa penasaran muncul begitu saja dalam dirinya seolah-olah tubuh dia tergoda untuk menyentuh boneka tersebut.


            “perasaan macam apa ini, seperti boneka itu memintaku untuk menyentuhnya” guman Yuda.


            Akal sehatnya berkata untuk tetap ditempat beda dengan tubuh yang berusaha untuk maju. Mau berusaha segimana pun, pada akhirnya kaki pertama dia berhasil menginjakan kaki masuk kedalam lift. Ukiran wajah pada boneka berubah, menjadi senyuman lebar tapi menakutkan. Begitu lebar senyumannya disertai gigi terpamerkan bagaikan taring hewan buas.


            “woaaaa” teriakan Yuda berhasil membuat dia sadar dan terjatuh kebelakang. Pintu lift tertutup rapat, suara katrol dan gesekan kabel bergerak kebawah. Yuda harus bersyukur dia masih bisa selamat dari godaan tidak menyenangkan.


            Tapi jika dilihat kebelakang, sedari awal Yuda melihat boneka tersebut, boneka itu jelas-jelas seperti menggoda Yuda untuk menyentuhnya. Ditambah fisik dan ukuran sama persis dengan yang Reza bawa. Itu berarti selagi dia terpisah dengan Yuda, Mirna dan Luca. Reza tak sengaja menemukan boneka tersebut di lobby dan dia tergoda untuk menyentuhnya. Hingga pada akhirnya dia pun kesurupan.


            “kalau gitu, cara untuk membebaskan Reza dengan membuang boneka yang dia pegang” kata Yuda berhasil menemukan titik temu.


            Ya tidak akan semudah itu, jika Yuda menyentuh boneka selagi berusaha melepaskannya dari tengan Reza, sama aja dia jadi ikut bagian dari kaun Reza. Satu-satunya cara dengan melepas tanpa perlu menyentuhnya, itu pun kalau tidak ada tantangan apapun.


...***...


            Niat sebelumnya ingin cari permata kosong, tapi kondisi teman-temannya jauh lebih penting, untuk saat ini Yuda memilih untuk turun kelantai 6, setidaknya dia berharap teman-temannya tidak senasip seperti Reza. Kalau pun mereka kerasukan, dia harus cari cara supaya boneka tersebut terlepas dari tengan teman-temannya.


            Lantai 6, ada beberapa banner yang menyambut Yuda. Banner Seminar Arsitektur dan Desain, Fun Sport, Open Reklutmen Himpunan Mahasiswa dan masih ada lagi yang tak sempat Yuda lihat karena gelap.

__ADS_1


            Tidak ada lorong gelap yang menyambut Yuda, hanya sebuah lantai luas seperti aula dekat dengan jendela kaca gedung membuat lantai ini tidak begitu gelap dan bisa melihat keluar gedung kampus dari kaca. Tak ada apapun dalam lantai luas ini, kecuali dipinggir-pinggir terdapat replika berbagai gedung dan bangunan yang dibuat mahasiswa. Mungkin lantai ini digunakan para mahasiswa untuk memamerkan hasil karya mereka. Berbagai ukuran rambut menggantung manis seperti biasa dilangit-langit, tetapi kali ini bukan hanya dilangit-langit saja, ada beberapa helai rambut menempel di jendela, dinding, bahkan pintu keruang kelas terdekat. Ini membuat Yuda cemas, bahkan sampai sekarang dia masih ragu untuk menyentuh sehelai rambut, dikhawatirkan jika disentuh matis datang kesini.


            “enggak mungkin yang lain ada disini” kata Yuda.


            Itulah yang dipikirkan pada awalnya, sampai dia mendengar suara dari sebuah pintu kaca yang ditutupi rambut tebal.


            Tok tok tok


            Kalau semua dunia ini dalam keadaan normal, pasti suara yang Yuda dengar hanya seperti angin lewat. Kesunyian dan kehampaan membuat suara yang harusnya terdengar kecil, terasa seperti keras dan menggema. Tanpa berpikir curiga, Yuda berlari keasal suara, dia tak peduli meski harus menyentuh rambut-rambut terkutuk ini, setidaknya apa yang dia harapkan ada didepan matanya. Satu persatu setiap helai rambut dia tepis, hingga menyisakan pintu kaca gelap.


            “halo ada orang” kata Yuda.


            “Yuda itu kamu?”


            Suara Luca, dari balik ruang gelap, sosok orang yang memanggilnya menampakan diri, itu Luca, dia selamat.


            “Luca kau selamat? Baik-baik saja kan?” Tanya Yuda begitu senang melihat temannya selamat.


            “begitulah, ketika aku bangun, aku sudah ada ditempat gelap ini” jawab Luca.


            “sejak awal aku bangun sudah sendiri disini, seluruh senjataku dilucuti” jawab Luca.


            “sama aku juga” kata Yuda, dia menunjukan pisau pahat  kepada Luca “mundurlah”


            Luca mundur perlahan kebelakang, membiarkan Yuda menghancurkan kaca pintu. Sekuat tenaga dia hancurkan kaca pintu walau susah. Tapi, pada akhirnya dia berhasil dan mengeluarkan Luca dari sana.


            “Terima kasih Yud” kata Luca.


            “sama-sama”


            “Jujur aja, apasih yang dipikirkan matis itu sampai mengurung dan memisahkan kita semua” kata Luca


            Yuda menggelengkan kepala “entahlah” Yuda meneritakan kepada Luca bagaimana dia terbangun, kemampuan si matis, boneka yang muncul di lift, semua yang dia alami hingga sampai kesini.

__ADS_1


            “jadi begitu, ada kemungkinan Reza kerasukan karena boneka” kata Luca.


            “iya itu menurut pendapatku” kata Yuda.


            Luca dan Yuda sama-sama berjalan menyusuri lantai enam hingga mereka menemukan tangga menuju kebawah. Luca tak berniat mencari benda untuk dijadikan senjata seperti yang Yuda lakukan, dia cukup menggunakan tinjunya sendiri, tetapi kalau beruntung dan menemukan benda berguna dia pasti akan menggunakannya.


            Sekarang tinggal mencari Mirna. Yuda cuman kebetulan saja menemukan Luca, tetapi untuk Mirna dia tidak memiliki petunjuk sama sekali bagaimana bisa menemukan gadis itu dimana pun. Si matis pasti menyembunyikannya antah dilantai atas atau bawah. Bisa saja Yuda dan Luca memutuskan untuk berpencar mencari Mirna cuman kalau seperti itu mereka harus berpencar. Resiko memang besar jika berpencar dan itu membuat yuda sekali pun enggak yakin berkata kalau dia ingin berpencar dengan Luca, tetapi justru Lucalah yang mengajukan untuk berpencar.


            “eh berpencar?” kata Yuda kaget.


            “iya itu pasti lebih cepat, lagi pula kalau bersama takutnya tidak akan sempat” kata Luca.


            “tapi masalahnya kalau kita berpencar, kita tidak bisa berkomunikasi satu sama lain” Yuda masih tak yakin berpencar adalah ide yang bagus.


            “tak masalah, kita tinggal bertemu dititik tertentu” kata Luca, keputusannya sudah bulat. Yuda yang melihat raut wajah Luca dari balik cahaya senter tau kalau pemuda itu sudah tidak memiliki kata mundur.


            “tapi kamu enggak ada senter_”


            Luca mengambil benda dari balik baju, senter kecil yang dikalungkan. Dia telah mempersiapkan cadangan senter rupanya. Keseriusan Luca membuat Yuda menyerah, mereka sepakat untuk berpencar dan bertemu kembali dilantai 6, karena lantai itu memiliki lorong luas sehingga cocok untuk menjadi area bertemu. Luca memilih pergi kelantai atas dan Yuda kebawah.


...***...


            Yuda sudah menyusuri 2 lantai (lantai 4 dan 3), tidak ada apapun yang terasa aneh selain rambut menghiasi langit-langit lantai seperti biasa. Tidak ada sosok Mirna maupun sosok Reza. Benar-benar tempat yang luas dan tinggi, membuat Yuda sekali pun lelah, kalau dia berhasil dan kembali pulang dengan selamat bersama teman-temannya, dia ingin mengajukan libur 5 hari karena misi menyiksa hidup.


            Lantai 2, lantai yang harusnya dia telusuri bersama teman-temannya diawal dia memasuki gedung kampus. sekarang hanya dia seorang yang akan menyusuri lantai ini. Ada banyak patung manusia, lebih tepatnya patung-patung manusia memenuhi jalan menuju 1 ruangan sehingga lorong yang hendak Yuda lewati tertutup.


            rambut penghias langit-langit bergoyang-goyang lembut, pertanda buruk, matis ada dilantai ini. Yuda yang panik barusaha mencari tempat untuk bersembunyi dia tak mungkin menghadapi matis saat ini, terlalu sulit. Diantara keramaian patung ada jalan kecil menuju lorong sebelah kiri. Papan petunjuk jalan bertuliskan ‘toilet’. Tidak ada pilihan lain selain berlari masuk kesana. Terlalu panik bersama jantung berpacu tak peduli pintu toilet apa yang dia buka, terpenting saat ini dia harus bersembunyi. Dia bersembunyi didalam salah satu ruang kloset duduk, menaiki kloset tersebut.


            Terdengar suara langkah kaki bukan suara sepatu dari luar toilet. Itu pasti Reza, dia ada dilantai ini. Itu berarti Yuda harus memutar otak untuk membebaskan Reza dari kesurupan. Perlahan pintu kamar mandi terbuka, tak ada satu pun yang masuk kedalam, pintu tertutup kembali. Suara langkah kaki perlahan mengecil.


            “haaaaaaaaa, hampir saja” kata Yuda menghela napas panjang.


            Yuda mengintip dari balik pintu masuk kamar mandi, memastikan si matis sudah pergi menjauh. Dirasa sudah aman. Yuda keluar dari kamar mandi. Walau dia merasa tenang, itu hanyalah rasa tenang sesaat, setelah ini ketegangan luar biasa akan menghampiri dia sendiri.

__ADS_1


            “tu..tunggu” Yuda melihat pintu toilet dan terdiam “aku masuk toilet perempuan” satu hal yang terpikir oleh Yuda “aku tak lihat apa-apa”


            Apapun itu, untung dia sedang sendiri.[]


__ADS_2