Sapphire City

Sapphire City
Chapter 19: Bayangan dalam Stasiun Kereta Api part 3


__ADS_3

Ledakan cahaya kebakaran dapat terlihat dari balik gerbong kereta, Yuda hampir deg-degan setengah mati jika terjadi sesuatu pada Andy dan Deren. Tapi Rizky mengkonfirmasi Yuda dan teman-temannya kalau Andy melempar granat sebagai opsi akhirnya, dia dan Deren berhasil melarikan diri tetapi efek ledakan granat tidak bisa melukai duplikat shadow. Kerena ledakan itu juga, mendadat hujan didalam stasiun karena alat pemadam menyala. Asap kebakaran dari granat perlahan mengecil.


            “Kita tetap pada rencana. Mereka berdua pasti baik-baik saja” ucapan Gin sedikit membuat Yuda merasa lega dan tetap fokus pada Misi.


            Gin tetap memimpin jalan menuju lokasi selagi Yuda dan Luca mengikutinya dari belakang. Tetapi satu hal yang terpikir oleh Yuda, dimana Shadow. Jika yang dihadapai Andy adalah duplikatnya maka sosok asli shadow dimana.


            Tiba-tiba saja muncul duri-duri diujung jalan, ukuran duri tersebut begitu besar dan cukup menutupi seluruh jalan didepan. Saat hendak bertolak kebelakang, lagi-lagi duri-duri muncul dan kali ini sampai mengelilingi mereka semua, tak ada jalan untuk kabur sama sekali. Padahal tak ada kaca disekitar mereka, jalan diseliling pun tak menghasilkan bayangan apapun. Tetapi Yuda memperhatikan sekitar mereka. Dipenuhi genangan air, dari sinilah duri-duri bermunculan, walau cuman genangan air, tetapi air juga sudah seperti cermin yang dapat memantulkan bayangan.


            “kita dikepung” kata Yuca.


            “persiapkan senjata kalian” perintah Gin.


            Shadow muncul dari belakang, dia keluar dari genangan air begitu saja. Seperti cairan hitam, perlahan keluar dan membentuk tubuh seperti manusia. Namun dia tak memiliki wajah.


            Bang dia shadow yang asli bukan duplikat! Rizky memperingatkan kakaknya lewat headset.


            Yuda tanpa pikir panjang apapun langsung menembak shadow tersebut. tetapi dia tiba-tiba berubah menjadi genangan air hingga peluru dari Yuda melesat percumah.


            Luca yang pertama tersadar melihat kebawah kakinya, genangan air yang dia injak berubah menjadi hitam pekat.


            “SEMUANYA!”


            Berkat  teriakan Luca, Yuda dan Gin langsung melompat kesamping. Tetapi untuk Luca dia tidak sempat. Dia berhasil menebas setiap duri yang hendak melukainya tetapi tidak seluruh duri-duri tersebut berhasil dia tebas. Salah satu duri berhasil mengenai kaki kiri Luca sampai berdarah.


            “Luca kamu enggak apa-apa?” panggil Yuda.


            “tenang saja” jawan Luca walau dalam dirinya tidak.


            “kita benar-benar dipojokkan” ucap Gin.

__ADS_1


            “kaca, genangan air, apapun yang bisa memantulkan bayangan akan menguntungkan shadow” ucap Yuda.


            “terlebih seluruh stasiun sudah dipenuhi air” lanjut Gin.


            “sekarang gimana?” Tanya Yuda.


            “pertama kita harus keluar dulu dari situasi ini dan obati luka Luca” jawab Gin.


            Gin mengeluarkan sebuah granat dari salah satu barangnya. Itu bom cahaya yang dapat membuat mata silau. Jika ada itu bisa ada peluang tapi masalahnya rute pelarian dan satu granat saja tidak cukup. Yuda merogoh barang bawaan dia sendiri. dia membawa bom asap.


            “Gin” panggil Yuda “aku ada rencana”


 


 


            Gin membopong Luca yang kakinya terluka selagi Yuda bersiap untuk menembak. Sang shadow belum menampakan dirinya lagi sejak tadi. Entah dia membiarkan Yuda dan yang lainnya atau enggak. Tetapi jika dia memberiarkan mangsanya seharusnya duri-duri sudah lama hilang. itu berarti dia masih ada sini, mengawasi hingga waktu yang tepat untuk menyerang.


            Gin berdiri dibelakang Yuda, dia lempar bom cahaya tempat didepan Shadow kilatan cahaya menyiulaukan mata, walau shadow tak memiliki wajah, tetapi bom cahaya ternyata berefek padanya. Dengan cepat Yuda langsung menembaki sisi duri-duri, hingga membuka jalan kearah lobby. Gin dan Luca jalan duluan selagi Yuda dibelakang memperhatikan si Shadow yang masih belum bergerak, kedua tangannya yang sembula berubah menjadi bilang pedang, terus menerus menutupi wajah hitam tersebut.  sebelum si Shadow tersadar, Yuda melempar bom asap. Asap putih menyelimuti area shadow membuat dia tidak bisa melihat dan mengetahui kemana arah Yuda dan yang lain pergi. Karena marah dan kesal dan kembali berubah menjadi genangan air.


 


           


            Didalam salah satu ruangan lobby. Gin mengobati luka kaki Luca, sedangkan Yuda berjaga didekat pintu berharap Shadow tidak muncul didekat mereka.


            Kalian baik-baik saja? Suara Deren tiba-tiba saja terdengar dalam Headset.


            “kurang baik” jawab Gin “kaki Luca terluka saat ini kita ada disalah satu ruangan dekat lobby. Kalian?”

__ADS_1


            Aku dan Andy, kita tengah menuju lokasi permata kosong. Jalan ke gerbong ujung terbakar percumah kalau kesana jawab Deren.


            “hati-hati bisa saja Shadow kearah kalian. Banyaknya genangan air cukup menguntungkan dia”


            Aku pikir lebih baik Deren dan Andy berhenti Rizky tiba-tiba saja memotong pembicaraan diantara mereka


            Kenapa? Tanya Deren, suara dia terdengar terkejut.


            Shadow itu dia berdiri menjaga permata kosong, aku enggak mau memutus harapan kalian cuman. Aku yakin dia mengutus duplikannya, karena sekarang posisi Shadow ada di permata kosong yang di tuju Deren dan Andy Rizky menjelaskan.


            “dia tau kalau selama ini kita cuman berusaha memancing dia keluar” ucap Gin.


            Yuda tiba-tiba saja terpikir sebuah ide “hei menurut kalian apakah Shadow akan muncul disetiap genangan air?”


            “sejauh yang kita lihat tadi, iya” jawab Luca.


            “bagaimana kalau genangannya bukan air?” Tanya Yuda.


            “bukan air maksudnya?” Gin terdiam akan pertanyaan Luca. Setiap air pasti akan memantulkan bayangan, walau air tersebut keruh sekalipun, tetapi jika yang memantulkan bukanlah genangan air biasa, apa Shadow akan tetap muncul?.


            “Yuda, ucapanmu memberikan kita jalan keluar” ucap Gin senang.


            Yuda tersenyum karena ucapan dia rupanya memberikan peluang untuk jalan keluar.


            “hei Deren, apa ditempatmu ada toko-toko jual makanan goreng?” Tanya Gin.


            Sepertinya ada ucap Deren walau aga ragu.


            “dengar ini rencana yang cukup beresiko tetapi kita tidak ada peluang lain” Gin melirik Luca “Luca kamu masih sanggup untuk bertarung?”

__ADS_1


            “masihlah, aku tetap ingin tetao bertarung”


            Gin mengangguk senang “ok kalau gitu ini rencananya”.[]


__ADS_2