
15 menit setelah setelah kejadian sebelumnya, diadakan rapat darurat. Verdic sebagai ketua pemimpin jalannya rapat, diikuti beberapa petinggi, salah satunya Lia. Lia memperlihatkan video rekaman kejadian yang dialami tim pengintai sebelumnya, pada awalnya para anggota rapat tidak terkejut aka nisi video tersebut, tetapi setelah mereka melihat baik-baik ciri-ciri orang yang diseret tersebut, mereka semua tidak bisa menyembunyikan rasa terkejutnya, karena jelas sekali orang yang diseret tersebut bukanlah anggota mereka. Sebab setiap anggota yang bertugas keluar pasti sudah diketahui tim pengawas khusus, selain itu tidak mungkin ada orang terpilih yang terlewat. Setiap orang-orang yang terpilih untuk mengikuti pertempuran Ini pasti sudah diketahui oleh markas.
Banyak dari mereka berpendapat kalau orang yang diseret adalah matis yang menyamar sebagai manusia dan berniat menjebak tim pengintau, tetapi hal itu dibantah tim hardware, jika memang itu matis, sensor drone atau cctv pasti akan langsung membaca kalau itu matis, namun apa yang sensor baca pada cctv dan drone bukanlah matis melainkan manusia.
Berbagai pertanyaan dan rasa bingung menghantui seisi ruang rapat, apalagi mereka semua tidak bisa membayangkan apa yang terjadi pada manusia tersebut didalam mall setelah diseret paksa masuk. Awal sekarang Verdic meminta tim pengintai untuk masuk kedalam dan menyelidiki keadaan, sampai sekarang belum juga ada balasan dari mereka.
Seseorang dari pemimpin utama Frontline, berpendapat kalau itu semua bagian dari kemampuan matis. Sang pemimpin Frontline menjelaskan kalau ada kemungkinan manusia tersebut adalah manusia yang telah dibuat batu dari awal, tetapi tiba-tiba dilepas begitu saja oleh matis. Tentunya hal itu sulit diterima oleh seisi anggota rapa. Memang matis memiliki kemampuan diluar nalar yang bahkan bisa mengungguli manusia, tetapi………sulit untuk mencerna pernyataan tersebut, karena selama puluhan tahun, tidak pernah ada matis yang memiliki kemampuan tersebut. kalau memang iya ada matis yang memiliki kemampuan seperti ini, itu berarti warga sipil tidak bersalah malah ikut terlibat dengan hal yang bahkan mereka tidak akan mereka mengerti.
Tiba-tiba saja seseorang mengetok pintu ruang rapat dengan sangat keras. Lia membuka pintu ruang rapat, Rizky terlihat lelah habis berlari, dia membawa tablet ditangan kanan.
“maaf mengganggu rapat penting, tapi kalian semua harus melihat ini” Rizky menyerahkan tablet ke Lia untuk diperlihatkan kepada semua orang, dia menjelaskan kalau itu adalah hasil pengintaian dari tim pengintai, ditambah setelah melihat ini mereka tidak bisa maju lebih jauh kedalam mall.
Lia menampilkan video dari tablet Rizky lewat layar Proyektor. Sebuah video yang direkam sengaja dari kamera gopro, terpasang disalah satu anggota tim pengintai. Biasanya kamera gopro jarang dipakai, karena hasil pengintai dari tim selalau dilaporkan dari hasil pengamatan mereka ditambah rekaman karema cctv, tetapi karena ini situasi darurat. Jadinya mereka butuh bukti tambahan.
Tidak ada suara apa-apa, hanya ada keheningan,bahkan saat mereka memasuki mall lebih dalam, suara sunyi dan gelap menyambut mereka semua. Sampai terdengar suara seseorag berteriak. Secara naluri seluruh anggota tim pengintai berlari menuju asal suara. Hingga mereka tiba disalah satu toko baju diujung. Kondisi toko baju tersebut begitu berantakan, baju-baju berceceran dimana-mana. Dinding dan langit-langit dihiasi cakar dan jejak kaki dan tangan begitu jelas.
Tetapi jejak pergelangan tangan tersebut tampak berbeda dan umumnya. Terlebih seperti setengah dikepal, dengan lubang-lubang disetiap ujung jari. Sorot senter diarahkan kesamping toko, jejak makin berjalan keujung, hingga mereka menemukan sesuatu yang menempel didinding, membelakangi kamera.
Terlihat kedua kaki dan tangan begitu menempel erat didinding, pakayannya serba putih layaknya dress compang-camping, rambut hitam panjang lurus pemanjang kebawah, pajang rambut tersebut diperkirakan setengah dari tubuhnya. Tetapi penampilannya dari belakang, telah membuat seisi ruang rapat terkejut setengah mati, seolah-olah mereka ‘pernah melihatnya’.
Kepala matis tersebut, berputar 360 derajat, tepat menghadap tim pengintai. Video diakhiri dengan teriakan para tim pengintai yang berusaha keluar dari mall dengan selamat.
Seketika ruang rapat hening seketika, tidak ada seorang pun yang berbicara. Hingga Verdiclah yang memecahkan keheningan.
“para tim pengintai, mereka selamat?” Tanya Verdic.
“mereka semua selamat, saat ini mereka sedang berjaga diperempatan dibawah jalan sukajadi” jawab Rizky.
Dari apa yang mereka lihat, Verdic sudah mengambil kesimpulan mengenai matis yang harus mereka hadapi, karena matis tersebut dulunya sudah pernah mereka temui, dan tentunya dia bukanlah lawan yang mudah untuk dihadapi.
Yuda bersama Andy, Mirna dan 3 lagi anggota timnya Deren, Gilang dan Siska sedang dalam perjalanan menuju sebuah mall terkenal diBandung, mereka mendapat misi rank A dan misi ini bisa dibilang adalah misi darurat. Pada mulanya misi ini ingin menerjunkan Deren, Mirna dan beberapa anggota senior, tetapi kebanyakan anggota senior sedang dalam misi dan tugas. Maka terpaksa orang baru harus dilibatkan, terlebih yang diikut sertakan adalah mereka yang telah memperoleh penilaian bagus dalam misi-misi sebelumnya, dengan kata lain hasil rekomendasi Mirna dan Deren.
Gilang dan Siska sama seperti Yuda dan Andy, anggota baru dalam organisasi ini. Keduanya telah beberapa kali mengikuti misi bersama Deren. Gilang adalah pemuda rambut hitam ikal berkulit gelap dia tidak terlalu tinggi, tetapi cukup diatas rata-rata. Siska seorang gadis berkerudung, tingginya cukup sepantar Mirna, kulit putih bak orang bali. Diantara seluruh anggota tim, hanya siska saja yang merasa gugup, karena ini adalah kali pertama dia menjalankan misi tingkat A, sehingga tangan dia aga sedikit gemetar walau sudah ditenangkan oleh Gilang.
Deren mengendarai mobil melewati berbagai mobil dan motor yang terparkir sembarangan ditengah jalan (mau gimana lagi, penumpangnya jadi patung). Dia tidak berniat memarkirkan mobilnya dilokasi para tim pengintai, alesannya simple, males jalan menanjak kelokasi mall. Emang betul sih kalau parkirin mobil di perempatan bawah paster, pasti mereka harus jalan kaki kearah mall, itu pun kalau mereka mau. Ya sebagian anggota dalam mobil setuju dengan isi pemirikan Deren, tapi ya resiko harus di tanggung, jalan berbelok-belok seperti hendak kegunung.
Meski memakan waktu aga lama (dua orang pusing sampai ngefly). Akhirnya mereka tiba juga dilokasi mall. Tanpa ada rasa takut sedikit Deren memarkirkan mobil diparkiran depan mall. Satu persatu dari anggota tim turun.
Yuda memandangi bangunan mall, terlihat gelap dan sepi, seperti tidak pernah diinjaki orang sama sekali, padahal ini adalah salah satu mall paling terkenal dibandung. Yuda sudah beberapa kali datang kesini, dan harus dia akui, dia memang suka mall ini. Walau pun harga makanannya tidak ramah dompet.
Masing-masing mempersiapkan berbagai senjata, kebanyakan adalah senjata api kecuali Mirna, dia selalu pedang. Tak lupa berbagai jenis granat.
Apa kalian masih persiapan?
“masih Lia” jawab Deren.
Ok, jangan dibuat buru-buru . Lia mengingatkan.
Operator kali ini adalah Lia, dan ketua tim Deren. Alesan kenapa operator Lia, karena misi ini ‘cukup’ spesial, tetapi dilokasi Lia dia tidak sendiri, Rizky ikut membantunya disamping. Kedua operator itu tau betul seberapa sulit tingkatan misi ini, sehingga keduanya saling mengajukan diri untuk menjadi operator. Bahkan tim pengintai yang selama ini menunggu dibawah, diharuskan menunggu diluarkan gedung mall apa bila terjadi hal yang tidak diinginkan.
Yuda teringat saat mereka breafing sebelum pergi. Lia menjelaskan matis yang akan mereka lawan bukanlah sembarang matis, dia juga menjelaskan sosok matis tersebut pernah muncul beberapa tahun lalu, dan bisa dikatakan dia sangat kuat dan mengerikan.
“harusnya yang dikirim dalam misi ini adalah anggota senior” ucap Lia menjelaskan “ tetapi mereka semua sedang dalam misi, dan kita butuh tim cepat, maka dari itu kami mengutus kalian”
Lia menampilkan cuplikan video cctv hasil dari pengintaian lokasi. Video menampilkan mall bagian depan, beberapa orang tim pengintai terlihat mengamati dari kejauhan, sampai ada seseorang terlihat berlari keluar dari mall dengan begitu panik. Para anggota tim langsung berlari untuk menghampiri orang tersebut. tetapi dalam sekejap orang itu tiba-tiba saja diseret tak kasat mata masuk kembali kedalam mall.
Tentu melihat video itu membuat seluruh orang berkeringat dingin tak percaya. Apalagi saat Lia menjelaskan orang yang diseret tersebut ada kemungkinan warga sipil.
“semua persiapan sudah?” Tanya Deren.
Seluruh anggota menganguk serius.
“baiklah kita masuk bersama”
Lampu penerangan yang terpasang didada masing-masing anggota dinyalakan. Yuda mengamati setiap sudut mall, banyak patung orang sedang asik berjalan secara kelompok membawa tas belanjaan, diantara mereka membawa anjing peliharaan entah itu besar atau kecil, baik anjing pun ikut menjadi patung. Berbagai toko berjajar didalam mall area jalan outdoor seperti toko baju, peralatan mandi, parfum dan masih banyak lagi. Deren sebagai ketua tim, memimpin teman-temanya menyusuri lantai utama mall, untuk mencari dimana keberadaan manusia tersebut. Karena misi kali ini ada 2 goal. Selain menghidupkan permata kosong, mereka juga harus mencari warga sipil yang diseret dalam video. untuk lokasi permata kosong, Lia sudah menemukan lokasinya lewat drone. Ada dilantai teratas mall, bagian ruang terbuka. 4 permata kosong terletak dalam satu tempat yang sama, tersusun rapih membentuk persegi empat.
Tidak ada apapun yang mencurigakan dilantai utama mall ini, semuanya tampak normal dan biasa saja (kegelapan dan patung orang-orang). Bahkan dibagian lorong belakang mall pula masih terlihat tidak ada apapun yang mencurigakan. Andy menyarangkan Deren untuk langsung pergi kelantai atas. Tetapi insting Deren mengatakan, mereka semua harus turun kelantai bawah.
“aku tidak tau apa yang kalian lihat, tapi dibawah tampak seram” ucap Siska.
“aku sependapat denganmu” Andy setuju dengan ucapan Siska.
Lantai bawah tampak begitu gelap gulita jika dilihat dari atas, bahkan aura tak nyaman dapat dirasakan dari ujung kaki walau kaki mereka belum menyentuh lantai dibawah sama sekali.
“ayo” perintah Deren.
Keenam anggota tim berjalan kelantai bawah dengan eskalator, tetapi eskalator tersebut mati, sehingga mereka hanya menuruni anak tangan dengan langkah kaki mereka.
Setibaknya mereka dilantai bawah. Yuda melirik kearah platform disamping pegangan escalator, tertulis angka ‘1’. Ini adalah lantai 1 mall. Sebelumnya mereka ada dilantai 2. Selain itu didepan mereka masih ada tangga eskalator menuju lantai paling bawah mall, Basemen.
“lantai ini, kalau enggak salah Fashion dan toko buku” kata Gilang.
__ADS_1
“yaaa, aku biasanya sering kesini sama teman-teman sekolah” kata Siska.
Kondisi lantai satu masih sama dengan lantai dua. gelap gulita, sepi tak bersuara kecuali suara mereka, lalu patung…….
“ini aneh” kata Mirna.
“aneh gimana?” Tanya Andy.
“enggak ada patung manusia” ucap Deren.
Ucapan Deren tentu membuat semua orang tercengang.
“bisa saja kan orang-orang lebih banyak ke lantai atas” kata Gilang berusaha tidak percaya.
“itu enggak mungkin Gilang” Yuda membantah ucapan Gilang “mall ini tuh paling terkenal di Bandung, dan lantai 1 salah satu lantai yang paling banyak pengunjungnya, setidaknya kita harusnya bisa melihat patung manusia diawal kita menginjakan kaki dilantai ini”
“tapi enggak ada satu pun” kata Andy “gila tempat ini serem banget ihhhh”
“aku setuju Andy” kata Yuda.
Masing-masing dari mereka menyebar mencari petunjuk, tetapi bukan berarti mereka harus benjalan menyusuri seluruh lantai 1. Cukup disekeliling saja. Andy dan Gilang memasuki toko baju terdekat, mengamati sambil…..(melirik baju-baju tetapi berhenti karena mereka dipelototin Mirna dari kejauhan). Deren mengamati bagian lorong gelap tak jauh dari lokasi eskalator. Lorong tersebut begitu gelap dan sunyi, dia bisa saja menyusuri lorong tersebut, tetapi dia menghentikan niatnya tersebut, karena dalam situasi ini mereka harus tetap bersama.
Yuda baru saja selesai melihat beberapa toko-toko kecil, sampai langkah kakinya berhenti didepan toko buku. Siska sigadis berkerudung terdiam mematung mengamati pintu masuk toko buku tersebut.
“ada apa?” Tanya Yuda.
“coba lihat, disebelah pintu masuk toko” Siska menunju sebelah pintu toko.
Ada bercak-bercak darah segar, bahkan dari kejauhan pun terlihat darah tersebut masih baru.
“bukan hanya darah, tapi ada tengkorak manusia juga”
Deren muncul dari belakang Yuda
“itu berarti dia ada disekitar sini” tambah Mirna.
“semuanya siapkan senjata ditangan, aku tidak tau kejuatan macam apa yang akan kita terima nanti” perintah Deren.
Sesuai perintah Deren, semua orang langsung memegang senjata masing-masing, dia juga memimpin teman-temannya menuruni tangga eskalator kelantai bawah, basemen.
“hei Mirna” panggil Andy.
“soal mantis yang suka laki-laki dan benci perempuan. Itu benar?” Tanya Andy, tidak percaya.
“kalau matis tersebut sesuai 4 tahun yang lalu, berarti itu benar” jawab Mirna.
“jadi walau pun fisik sama, tetapi belum tentu sifatnya sama seperti 4 tahun lalu?” Tanya Yuda.
Mirna mengangguk “benar, terkadang kita akan menemui matis yang sama persis 4 tahun yang lalu, tetapi belum tentu mereka memiliki sifat dan kemampuan yang sama”
“tapi pernahkan ketemu yang benar-benar sama persis?” Tanya Yuda.
“pernah” jawab Mirna “tapi itu bukan aku yang ngalamin, Deren dan sahabatnya 8 tahun lalu”
“Sahabatnya?” kata Andy.
“sahabatnya siapa? Apa dia sedang misi?” Tanya Yuda.
Mirna menghentikan langkahnya, selagi Siska, Gilang dan Deren tetap berjalan menuruni anak tangga. Menyisakan perasaan bingung bagi Andy dan Yuda.
“orangnya sudah tiada”
Baik Andy dan Yuda terkejut tak berkata-kata.
“dia tewas 4 tahun yang lalu, oleh matis yang sekarang kita hadapi”
Mirna kembali melanjutkan langkahnya tanpa menoleh sedikipun ke kedua pemuda dibelakangnya, yang masih terdiam dan tidak ada niat untuk ikut melangkah menuruni anak tangga
“jadi itu sebabnya Deren begitu terobsesi sama misi ini” kata Andy.
“terobsesi gimana?” Tanya Yuda melirik kearah Andy.
“yaa dia itu sebenarnya baru saja selesai misi loh, belum istirahat 1 hari malahan. Pas dia dengar ada misi tentang matis Lady ini. Dia langsung ajuin diri”
“apa mungkin dia ingin balas dendam?” ucap Yuda.
“kayanya, yaa lu lihat sahabatmu sendiri mati didepanmu, pasti sakit banget bro”
“ya pastinya”
Yuda jadi teringat kedua sahabatnya yang sampe sekarang masih menjadi sosok patung batu. Melihat kedua sahabat dia menjadi patung batu saja sudah membuat hatinya pedih, tetapi kalau melihat mereka berdua tewas depan matanya itu lihat pedih lagi. Pastinya sakit hati Deren saat itu lebih menyakitkan sampai-sampai dia rela tidak istiharat demi bisa balas dendam atas kematian sahabatnya tersebut.
__ADS_1
Setibanya mereka dilantai basemen, pemadangan yang menyambut mereka dibawah adalah sebuah supermarket luas, bisa dibilang hampir seluruh area basemen adalah swalayan. Bahkan awal mereka mencapai kaki eskalator sudah disambut tumpukan keranjang dan troli belanja. Tetapi itu bukan hal utama yang ingin mereka lihat. Tidak ada satu pun patung manusia dilantai ini, semuanya terasa kosong, seperti tidak diinjak oleh manusia sama sekali. Terlebih hawa dingin begitu mengental ditempat ini. Begitu dinginnya seakan-akan AC menyala, padahal mesin apapun dimall ini tidak ada satu pun yang hidup.
Deren perintah teman-temannya untuk bersiaga dan tidak boleh terpisah, insting buruk dia telah merambat.
“dimana-mana troli berserakan tapi enggak ada satu pun patung manusia” kata Gilang
“serem banget ih” komentar Siska.
Hihihihihihihi.
Terdengar suara tawa wanita disegala penjuru, suara tawa seram seperti difilm-film horror Indonesia.
“entah kenapa kaya mendengar suara kuntilanak” kata Siska.
“bukan kaya lagi Siska. Emang suara kunti kali” tambah Andy.
Setelah dari anggota tim sudah mulai ketakutan, walau mereka seperti ingin menutupi rasa takut, yaa mereka sudah tidak bisa menutupinya. Lia sebagai operator berusaha menghibur Siska dan menguatkannya, bagaimana pun dia salah satu anggota perempuan baru didalam tim, meski misi sebelumnya dia memperoleh hasil yang bagus, tapi tetap saja dia belum berpengalaman dalam misi tingkat A, apa lagi ini adalah yang dimatanya terbilang dadakan. Tidak seperti Siska, Mirna justru tidak menunjukan rasa takut sama sekali pada suara tawa wanita seperti kuntilanak tersebut. dia terlihat sudah kebal. Gilang saja sampai kagum kepada Mirna.
Bau busuk tercium tak jauh dari lokasi. Yuda menghampiri asal bau busuk tersebut. bau busuk yang dia cium begitu busuk dan menyengat, sampai-sampai dia harus menutup hidungnya sendiri dengan lengan kiri. Pelan-pelan dia mendapati bau busuk berasa dari bawah eskalator. Baru mendekat, kaki Yuda menginjak genangan air merah……darah. Dia tidak bisa menahan rasa terkejut melihat tumpukan daging mayat manusia dibawah eskalator. Mayat-mayat tersebut terlihat segar bahkan tidak membeku atau berubah menjadi patung sama sekali. Warna pucat kulit, baju-baju, terlebih rambut-rambut hitam begitu jelas terlihat. Beberapa kali dia berusaha memastikan dengan menyorot satu persatu mayat tersebut dengan senter, matanya sama sekali tidak salah, itu bukan patung, mayat manusia sungguhan. Kaki Yuda kehilangan kesembangan dan terjatuh.
Teman-teman Yuda langsung datang ketempat Yuda, awalnya mereka mengira Yuda terlihat atau gimana. Tetapi ketika melihat melihat raut wajah Yuda yang memucat menatap kearah bawah eskalator. Seluruh teman-temannya tidak bisa menyembunyikan raut kaget mereka. Apa lagi pemandangan yang paling mengerikan diantara semuanya, dipaling atas bukit. Kepala wanita tanpa tubuh dengan wajah terkejut melirik keatas.
“itu bukan anggota kitakan?” tanya Gilang berkeringat dingin dan suara gemetar
“bukan” jawab Siska, wajahnya sudah pucat pasih dan sama gemetarnya “pastinya bukan”
“lantas itu kepala siapa?!” tanya Gilang yang begitu emosi.
“pengunjung mall” ucap Mirna pelan.
Mendengar apa yang yang Mirna ucapkan seketika membuat seluruh rekan-rekannya terkejut.
“seharusnyakan warga biasa tidak ikut terlibat!” Andy marah.
“kalau bukan warga, terus siapa!?” bentak Gilang.
Deren angkat bicara untuk memisahkan Andy dan Gilang. Tapi, dia juga ikut merasakan apa yang 2 temanya rasakan, harusnya warga sipil tidak terlibat dengan semua ini, mereka harusnya menjadi patung dan dalam keadaan tertidur. Tapi mereka disini dan terbunuh. Itu berarti spekulasi saat rapat mengenai matis yang memiliki kemampuan melepas kondisi mematang warga sipil memang ada.
Yuda perlahan-lahan bangun dan memberanikan diri mendekati kepala wanita tersebut. terlihat kepala wanita tersebut menatap keatas, seakan-akan dia terkejut habis melirik. Bukan hanya itu saja leher wanita itu seperti ditarik paksa dari kepalanya, bercak darah kental menempel pada pipi, terlihat baru.
Tatapan mata yang serius seolah memberikan petunjuk, bahwa apa yang dilihat wanita tersebut bukanlah sesuatu yang ingin dia lihat. Kepalan kedua tangan Yuda menguatkan tekadnya, kalau dia harus berani, percumah latihan selama dua minggu yang diikutinya jika dia tidak bisa memberanikan diri untuk menatap apa yang mayat wanita tersebut tatap.
Maka Yuda, tanpa harus memikirkan ulang yang akan dia lakukan, langsung melihat sesuai apa yang dituju mayat wanita. Satu kata keluar dari mulut Yuda “eehh”. Tidak ada apapun disana. Bahkan langit-langit dinding yang seharusnya menunjukan keganjalan, tidak ada apapun disana. Melawan rasa takut, Yuda melangkah pelan kedepan, ketitik yang dia pikir ada sebuah petunjuk yang dapat dia dapat disana. Gilang dan Siska mengikuti Yuda dari belakang, karena hanya dia satu-satunya yang bergerak setelah melihat tumpukan mayat. Yuda melangkah menuju dinding pojok, ada goresan seperti cakar, ukuran cakar sebesar kuku wanita dewasa.
“ini pasti dia” ucap Yuda merabah-rabah bekas cakaran “dia sebelumnya ada disini”
“bukan hanya cakaran” Gilang menambahkan, dia berdiri tepat disamping Yuda. Menunjuk beberapa tetes-tetes darah.
Siska tambah merinding, dia belum siap dengan pertempuran nyata “dia ada disini, aku yakin itu”
Mirna yang posisinya masih siaga merasakan hal janggal, dia tidak yakin akan kejanggalan yang dia rasakan, namun semakin kuat dia merasakannya, semakin nyata apa yang dia rasakan, dan kali ini dia merinding hebat. Saking merindingnya tidak membuat Mirna pesimis, dan itu membuatnya memfokuskan diri untuk tetap siaga dengan posisi siap tempur, pedang yang semula dia sarungkan, kali ini diposisikan siap diambil.
Sekarang teman-teman Yuda juga ikut merinding, Deren sebagai ketua tim, berdiri disamping Mirna memberi komando kepada teman-temannya untuk tetap tenang dan waspada, terlebih apa pun yang terjadi mereka harus siap menyerang.
Merinding hebat disusul oleh suara nan menakutkan yang pasti tidak ingin didengar oleh siapapun. Suara tawa wanita, namun tawanya terkesan menakutkan. Mungkin bagi sebagian warga Indonesia pastinya mereka mengenal tawa wanita tersebut dengan sebuatan tawa kuntilanak.
Andy yang pertama merasa panic “kalian bercandakan, itu suara kuntiloh”
Yuda tidak peduli dengan yang Andy ucapkan, dia tetap fokus melirik sana-sini, setiap sudut dia perhatikan, dia sama sekali tidak membiarkan pertahannya jatuh hanya karena suara menakutkan bak kuntilanak. Sayangnya Yudalah yang pertama merasakan merinding hebat kedua yang bahkan membuat bulu kuduknya berdiri, secepat kilat dia berbalik badan. Sebuah kepala terbalik tersenyum lebar sampai membelah wajah dihiasi noda darah pada bibir menyambut Yuda, yang pertama Yuda lakukan adalah berteriak sekencang-kencangnya diikuti tembakan.
Wanita itu langsung melompat menghindari tembakan Yuda. Dia berdiri cukup jauh dari lokasi.
Sosoknya memang seperti kuntilanak, tinggi tapi kurus, dengan dress putih menutupi kaki tapi aga compang camping, kepala menunduk kebawah diikuti sekujur rambut panjang menutupi bagian kepala depan, kedua tangannya terlentang kebawah memamerkan punggung tangan.
“TEMBAK!”
Satu kata perintah dari Deren. Semua orang menarik pelantuk senjata dan menembaki wanita itu.
Satu tangan kanan wanita direntangankan kedepan. tidak ada satu pun tembakan yang mengenainya, malah tembakan tersebut tertahan secara ajaib, selebih seperti ditahan dengan ruang hampa.
“telekinesis” kata Gilang.
Kali ini wanita itu tertawa, dia juga ikut memamerkan wajah dari balik rambut. Semua yang melihat pasti……terpana…….bukan wajah seram kuntilanat yang mereka lihat, malah seperti wajah wanita cantik.
“ini gawat, jangan lihat wajahnya” teriak Deren.
Hampir terlambat, 2 laki-laki, Andy dan Gilang terpana dengan wajah cantik wanita tersebut. Yuda……….Mirna entah bagaimana berhasil menutup kedua mata Yuda dengan tangannya dari belakang.
“siska sadarkan 2 idiot itu, kita mundur dulu!” perintah Deren.
Bom asap Deren lempar tepat kearah wanita tersebut. seketika seisi lantai ditutup asap putih tebah, wanita matis itu marah, dengan kekuatan telekinesisnya dan menepis seluruh asam dengan mudah. Tetapi, yang ada dihadapannya adalah kosong.[]
__ADS_1