Sapphire City

Sapphire City
Chapter 8: Markas Rahasia dibawah Gedung


__ADS_3

Naik mobil keliling kota bandung saat malam minggu, itu sudah biasa. Tetapi menaiki mobil dikala malam tak biasa seperti ini, adalah pengalaman tak terduga. Bahkan jika dilihat dari jendela pun, semua yang ada diluar benar-benar tak biasa. Semua orang menjadi patung batu, kendaraan bertumpuk-tumpuk dijalanan seperti waktu yang dihentikan, berasa malam terasa sangat suram dan menakukan, lampu diberbagai tempat semuanya mati, kecuali satu. Cahaya biru Kristal, seperti yang Yuda temukan di ruang kelas bimbel. Cahaya tersebut menerangi sebagian kota. Kecuali bayangan hitam yang berdiri disalah satu bangunan kota. Menatap dengan aura nan menakutkan.


              “jangan terlalu lama menatap keluar” 


 Mirna duduk disamping Yuda. Didepan ada dua orang laki-laki, salah satunya dikursi pengemudi.


         “yang ada kamu malah akan melihat sesuatu yang akan terbayang dalam hidupmu”


         Cara bicara Mirna, aga berbeda dengan Mirna yang dikenal saat masih disekolah.


         “maaf aku mau Tanya, sebenarnya apa yang sedang terjadi?” Tanya Yuda.


 Mirna membuang muka dan menatap keluar “aku enggak bisa menjelaskannya, nanti saat sudah sampai, kamu akan mendapatkan semua jawaban yang ingin kamu tanyakan”


       “lalu sebenenarnya, kita mau kemana?”


        “markas, sebuah tempat untuk diperuntukan mengatasi permasalahan ini”


 Semuanya terasa membingungkan, Mirna enggak menjawaban pertanyaan dari Yuda, seakan dia bukannya tempat yang tepat untuk menanyakan apa yang sedang terjadi disini. Tetapi orang awam pun masih ingin sekali mengetahui kejelasan saat ini juga mengenai apa yang tengah terjadi.


 Segitu mobil melaju dibawah jalan layang Antapai, tetapi tidak bisa terus melaju sepanjang jalan, mobil mengambil jalan cipaganti, untuk mengambil rute jalan potong memasuki cihampelas. Itu terpaksa dilakukan, karena jalan masuk ke jalan layang tertutup macet. Itu informasi yang terdengar oleh Yuda dari pengemudi mobil.


Jalan cipaganti, jalan yang diwarnai pepohonan besar sepanjang jalan. Membuat jalan ini menjadi sangat sejuk meski sedang musim kemarau, tetapi karena tidak ada lampu yang menyala, kesannya saat sedang dihitan belantara, ditambah suara raungan macan? Sejenak Yuda terdiam, tak mungkin ada macan dijalan cipaganti, apa mungkin kabur dari kebun binatang, tapi ketika keluar dari bimbel, Yuda melihat bukan hanya manusia saja yang menjadi patung batu, kucing sekalipun kena dampaknya.


         “apa mungkin harimau putih” guman laki-laki dikursi depan.


                   “kayanya” Mirna sependapatan.


       “gimana mau dilawan?” Tanya pengemudi.


 “jangan” kata Mirna “harimau putih lebih berbahaya daripada babi ngepet, terlebih pasti harimau putih itu adalah jelemaan, kita bertiga saja tidak akan cukup melawannya, selain itu” Mirna melirik Yuda “misi kita adalah membawa survivor dengan selamat kemarkas”


  “ok, kalau gitu ini akan jadi laporan mengenai keberadaan harimau putih dijalan cipaganti”


    “tapi belum tentu harimau putih, ini masih asumsi” saran Mirna.


 Yuda menangkap pembicaraan mereka dengan seksama, harimau putih, jelmaan. Terasa aneh mendengarnya. Emang Yuda pernah dengar kalau terkadang suka ada jelmaan-jelmaan dari makluk tertentu. Tapi bagaimana bisa semua itu terasa nyata. Jika diingat kembali kejadian sebelumnya, babi ngepet yang waktu saja nyata. Lantas harimau putih yang mereka maksud pula nyata?.


             


 Mobil keluar dari jalan layang antapani, disambut dengan lapangan gasibu. Bahkan lapanga gasibu sekalipun ada patung orang-orang yang tengah olahraga maupun sekedar nongkrong disana. Mobil berbelok memutari lapangan gasibu, sampai gedung sate terlihat didepan mata Yuda. Bagian bawah satenya, ada cahaya biru yang begitu terang, bahkan lebih terang dari pada yang Yuda bawa. Mobil melaju memutari gedung sate, hingga mereka sampai digerbang belakang gedung sate. Dua penjaga bersenjata lengkap membuat gerbang untuk mereka.


  “eh, markas yang dimaksud di gedung sate?” Tanya Yuda bingung.


“bukan” jawab Mirna “lebih tepatnya dibawah gedung sate”


 Yuda kebingungan, ‘dibawah gedung sate’. Mana ada hal seperti itu. Tetapi justru mobil terus melaju keparkiran baseman, seumur-umur Yuda tidak pernah datang ke gedung sate, walau sekarang disini ada museum yang bisa dikunjungi, tetap saja dia belum pernah. 

__ADS_1


 Mobil berhenti, tetap didinding kosong. Sang pengemudi membuka jendela mobil, lalu menunjukan sesuatu dari lengan kanannya seperti sebuah jam pada dinding kosong, awalnya Yuda mengira tidak ada apa-apa, sampai-sampai layar putih kecil tiba-tiba muncul begitu saja dari dinding kosong


                Ada tulisan ‘Akses diterima’


 Tiba-tiba saja yang semua dinding kosong, naik seperti pintu gerbang, menghasilkan rute jalan rahasia. 


       Mobil kembali bergerak masuk kedalam.


 Dinding-dinding kaca menyambut kedatangan rombongan Yuda, terlihat jelas sekali apa yang ada didalam dinding tersebut. banyak manusia yang tidak menjadi batu, terlebih kebanyakan dari mereka seperti seusia Yuda atau mungkin lebih sedikit. Bukan hanya itu saja mereka semua menjalani aktivitas berbeda-beda. Makan, olahraga, program computer, beladiri, latihan menembak, bahkan ada juga latihan duel. Semua kegiatan ini sangat tidak bisa didepan mata Yuda. Seakan-akan mereka semua sedang mempersiapkan sesuatu.


 Mobil berhenti disebuah parkiran luas. Ada beberapa keamanan lengkap dengan senjata api seperti penjaga gerbang gedung sate, Yuda mengamati sekitar setidaknya ada beberapa mobil pribadi warna hitam, truck tentara berjumlah tiga, motor matik dan non matik sekitar 20-30. Semuanya tersusun rapih dan siap digunakan kapan saja. 


 “kami berdua kembali keruang utama untuk melaporkan situasi” dua pemuda yang duduk dikursi depan mobil pergi meninggalkan Yuda dan Mirna.


  “kalau gitu kamu ikut aku”


 Yuda ikuti ucapan Mirna tanpa bertanya, karena dia sendiri pun tidak tau harus bagaimana ditempat yang bahkan tidak diketahui semua orang ini.


Yuda dan Mirna memasuki sebuah lorong panjang, dinding-dinding lorong berwarna cream ditambah setiap pintu yang dilewati berasa seperti ada rahasia-rahasia didalamnya, karena pintu besi sepasang tersebut tidak ada ukiran apapun kecuali papan nama diatasnya. Seperti ruang konsultasi, ruang perawatan, kantin, ruang latihan dan lain-lain yang tak bisa dibaca Yuda. Tetapi walau kesan lorongnya entah kenapa seperti rumah sakit, tetapi masih ramai orang-orang berbagai usia, mereka juga mengenakan pakayan yang unik-unik. 


 Mirna yang memimpin jalan berbelok ke kiri, yang diujungnya ada dua pintu dengan papan bertuliskan ‘ruang tunggu survivor’. Dia memuka pintu. Didalam ada sekitar 20-25 orang. Mereka berbagai usia dan seperti dari berbagai tempat, laki dan perempuan ada disana.


            “kamu tunggu disini, sampai nanti ada yang panggil” 


 Mirna pun pergi dan menutup pintu ruangan. Tinggalan Yuda beserta orang-orang yang dari penampilan mereka bernasip sama seperti Yuda.


        “hei apakah kamu yang terakhir” ucap dia.


         “terakhir maksudnya?” Yuda belum bisa mencerna ucapan dia.


 “terakhir yang diselamatkan, kita semua disini disebut survivor oleh mereka, mungkin karena kita orang-orang yang lolos dari manusia batu”


  “oohh, kalau itu kurang tau, Mirna tidak sebut aku yang terakhir”


   “hmmm” pemuda tersebut teringat sesuatu “tadi kamu bilang Mirna”


            Yuda mengangguk.


            “kamu kenal dia?”


            “bisa dibilang iya”


   “kalau gitu kamu tau dong apa yang sedang terjadi”


Yuda menggelengkan kepala “dia tidak mau menjelaskan detilnya”


   Pemuda hanya menggaruk kepala belakang “sama aja deh, berarti cuman bisa menunggu”

__ADS_1


   Pemuda tersebut mengajak Yuda duduk bersama di salah satu kursi dekat dinding.


              “sorry lupa kenalan, namaku Andy. Mahasiswa UPI”


           “Yuda, SMA Mutiara Langit”


            “kelas berapa?”


           “dua, kalau kak Andy kuliah jurusan mana sama tahun keberapa?”


 “panggil saja Andy enggak usah pake kak, aku jurusan pendidikan Luar Biasa, sekarang tahun ke dua”


 Yuda merasa mengobrol dengan Andy terasa nyaman, dia bahkan tindak ingin dipanggil kak, seakan dia ingin bisa mengobrol santai dengan Yuda.


      “Jurusan pendidikan luar biasa itu apa?”


                 “itu jurusan untuk mengajak anak-anak yang memiliki kebutuhan khusus”


             “seperti yang” Yuda mengisyaratkan kepada Andy tentang apa yang hendak dia jelaskan.


 “benar sekali, bisa dibilang saat belajar aku harus memahami anak kebutuhan khusus, mereka tidak seperti siswa normal lainnya”


 Lalu kali ini Yuda bertanya, dimana posisi Andy saat Fenomena ini terjadi. Andy menjelaskan kalau dia sedang dalam perjalan pulang dari rumah temannya, tetapi ditengah jalan, baru saja jalan kaki keluar gang, tiba-tiba hari gelap begitu saja. Pas 15 menit kemudian, dia baru diselamatkan.


            Yuda merasa iri pada Andy, karena dia tidak melihat makhluk-makhluk aneh.


        “Yuda juga melihatnya, aku dengar dari yang lain mereka melihat makhluk aneh”


       “aku bukan melihat lagi, tapi ketemu babi ngepet!”


 Andy terkejut, itu bukanlah pengalaman tak menyenangkan “masih beruntung kamu bisa selamat, babi ngepet itu gede loh”


“aku pun masih tak percaya bisa selama dan sekarang ada disini”


 Pintu terbuka, ada sekitar 3 orang berpakayan jas abu dan hitam seperti kantoran, tetapi aga kurang formal. Salah satunya gadis berkerudung putih membawa tablet. Seorang laki-laki memberitaukan kepada semua yang diruangan untuk berbaris dan mengikuti mereka untuk menuju ruangan lain.


    Yuda, Andy dan yang lain mengikuti instruksi dari pemuda tersebut.


 Mereka semua diarahkan kesebuah ruangan yang letaknya aga jauh, tetapi setelah masuk sebuah alua besar dihiasi kaca putih yang dalamnya taman kecil, sinar menyilaukan dalam taman seakan sebagai peganti matahari.


 Ada seseorang berpakayan serba hitam berdiri menghadap ke kaca, entah kenapa postur tubuh dan gaya rambut Yuda seperti mengenalinya. 


    Semua orang telah masuk, pintu aula ditutup rapat.


            “selamat datang para Survivor, di Markas Biru Sapphire”


 Orang itu berbalik menghadap semuanya, Yuda kaget melihat sosoknya. Walau hanya baru melihat beberapa kali, tetapi Yuda tidak pernah lupa akan sosok wajahnya. Dia kakaknya Mirna.[]

__ADS_1


__ADS_2