
Sudah jam 7 pm, Yuda beserta teman-teman satu kamarnya, pergi ke kantin untuk makan. Yuda yang terakhir keluar dari kamar asramanya. Dia memperhatikan nomor pintu kamar, no 065. Jika dia perhatikan, lorong ini hanya berisi kamar asrama. Itu berarti seluruh markas yang terletak dibawah kantor pemerintah ini kemungkinan sangat luas. Selain itu ada yang membuat Yuda penasaran, jika tempat ini dibawah kantor pemerintah provinsi. Itu berarti ada semacam pintu khusus yang terhubung ke kantor pemerintah. Kalau ada, pasti ada disuatu tempat.
Lokasi kantin tak jauh dari asrama. Ketika pintu kantin terbuka, didalamnya begitu luas. Ada sekitar 20-30 meja makan. Jika Yuda bisa menggambarkannya kantin ini memiliki sebuah dapur besar yang dibatasi dengan sebuah kaca sehingga bisa diihat orang-orang sedang masak didalam. Ada sebuah meja parasmanan seperti diundangan pernikahan.
Makanan yang dihidangkan pula berupa makanan sunda dan nasi merah. Selain itu juga ada jendela kaca besar yang menemani orang-orang dikantin, dibalik jendela kaca adalah taman besar seperti yang Yuda lihat di aula. Sebuah pemandangan yang cukup menghibur matanya selama didalam kantin.
Yuda mengambil sepiring nasi merah, sup asem, kentang mustofa dana yam serundeng. Dia duduk bersama Andy dan teman-teman satu asramanya di meja yang sama dengan enam kursi. Seakan semuanya merasakan apa yang Yuda rasakan, perlakukan ini sangatlah aneh dan terkesan mewah. Kamar asrama yang begitu nyaman, hidangan di kantin. Lokasi markas yang tak terpikirkan orang-orang. Ditambah kondisi dan situasi diluar.
“menurutmu berapa lama kita disini terus?” Tanya Putra.
“entahlah” jawab Andy “rasanya aku enggak bisa bayangkan berapa hari yang akan kita jalani”
“dengan kondisi diluar, pasti kita tidak bisa membedakan siang malam kecuali lihat jam” ucap Reno.
Terdengar suara piring jatuh.
Asalnya dari maja yang letaknya tak jauh dari tempat Yuda. Suara itu menyebabkan orang-orang disini langsung melirik asal suara. Terjadi keributan dua pemuda, salah satunya memegang kerah leher sampai dinaikan keatas.
“hei kamu tuh enggak sopan banget ya!, kalau udah salah minta maaf!” ucap pemuda yang memegang kerah baju.
“aku bilang enggak mau”
Dengan penuh emosi, dia yang tadi memegang kerah baju, langsung memukul wajah orang yang dipegang sampai terjauh. Karena keributan ini, orang-orang sekitar langsung memenangkan mereka. Bahkan dia yang telah memukul langsung digiring keluar.
__ADS_1
“bukannya orang itu, yang membentak ketua Vedric” ucap Hizam.
Yuda secara reflek berdiri dan langsung melangkah kearah pemuda yang masih belum berdiri, dia masih merabah luka pukulan dipipinya.
“kamu enggak apa-apa?” Yuda mengulurkan tangannya.
“aku enggak perlu bantuanmu” pemuda itu menetis bantuan Yuda.
“Hei! Niat mau bantu kok dibalas gitu” Andy datang menyusul Yuda.
“ciihh”
Langsung saja dia pergi begitu saja keluar dari kantin.
Keesokan hari, pukul 9 am. Latihan dimulai. Yuda, Andy dan Luca yang sama-sama mengambil Frontline mendapat latihan pencak silat. Dari instruksi sebelum latihan memegang senjata sungguhan, pertama mereka akan belajar seni bela diri pencak silat. Selain itu bukan hanya Front line yang juga belajar pencak silat. Seluruh posisi wajib bisa pencak silat. Pencak silat sangat diwajibkan dipelajari karena, apabila ketika bertarung dengan matis lalu mereka kehilangan senjata atau lepas dari tangan setidaknya masih bisa bertarung dengan tengan kosong.
Seperti halnya seorang pemula yang baru belajar pencak silat, pertama semua anggota frontline diberi pelatihan dasar pencak silat, tetapi karena pelatihan hanya diberi waktu 2 minggu, Yuda berserta 24 orang survivor dituntut untuk mempelajari cara bertarung dalam waktu singkat.
Dihari kedua, tanpa memakan waktu, Yuda berserta Andy dan Luca akan belajar cara menembak sasaran dengan pistol, layaknya latihan polisi menembak sasaran, mereka diajari cara memegang pistol yang benar, memegang pelatuk dan menembak langsung pada sasaran. Jika ini sudah lancar, maka akan langsung ketahap berikutnya, memegang senjata api yang ukurannya dibilang untuk ukuran tentara.
__ADS_1
Berbagai pelatihan diberikan oleh semua survivor dalam 2 minggu sesuai dengan posisi yang mereka ambil. Mereka yang ambil front line dituntun untuk bisa bertarung dan memegang senjata. Senjata sendiri umumnya adalah senapan, tetapi jika seorang front line ingin mengambil resiko, mereka bisa mencoba opsi lain. Seperti pedang, panah, atau bahkan pisau. Hanya segelintir front line yang berani mengambil resiko bertarung dengan cara berbeda, tetapi itu dibutuhkan karena tidak semua senjata api bisa mengenai para matis.
Untuk seorang operator, kebanyakan mereka mempelajari seluk beluk computer, peta, dalam belajar membaca kondisi dalam waktu cepat. Para front line juga harus bisa membaca kondisi. Tetapi tidak seperti front line yang membaca kondisi langsung ditempat, operator lebih sulit dari itu, mereka harus membaca pergerakan musuh dari layar, itu pun mereka harus mengandalkan berbagai informasi yang mereka dapat.
Bagi para backup, selain mempelajari teknik bertarung seperti front line, mereka juga belajar membaca medan bertarung dan tata seluk beluk kota bandung, karena merekalah yang bertanggung jawab menyalurkan logistik ke frontline. Jika ada beberapa anggota tim frontline terluka, para backup lah yang bertugas menggantikan mereka.
Sedangkan standby. Mereka memang bukan posisi utama, tetapi bukan berarti mereka tidak diberi pelatihan, para standby akan diberi pelatihan dari ketiga posisi. gunanya, jika ketatapan hati mereka sudah tegus, mereka bisa memiliki ketiga posisi tersebut.
Tetapi diantara semua pelatihan dan pelajaran, yang paling utama adalah mempelajari para matis itu sendiri.
Setiap matis memiliki tingkatan dan wilayah mereka sendiri. posisi matis terbagi dari tingkat C sampai S. semakin tinggi tingkat mereka, maka semakin kuat pula mereka, Selain itu tiap matis memiliki skill unik-unik mereka sendiri, sehingga mengalahka mereka seorang diri tidaklah mudah.
Lalu matis memiliki wilayah mereka, namun tiap 4 tahun, wilayah matis selalu berubah-ubah. Sayangnya tidak semua matis memiliki wilayah sendiri, ada pula matis independen. Maksudnya matis yang bergerak sesuka hati. Biasanya matis yang memiliki wilayah sendiri ada yang berkelompok dan memiliki pemimpinnya ada pula yang wilayah yang dikontrol sendiri. namun untuk kasus matis independen, mereka bukan hanya sekedar bergerak sesuka hati, mereka adalah lawan yang tak ingin ditemui para frontline, sebab matis independen memiliki rank A dan S.
Yuda, Andy dan Luca saat ini sedang mempelajari seluk beluk Matis, sejauh ini, mereka diberitau para sosok matis, yang terbilang cukup menakutkan.
“mau Tanya, kenapa matis independen disebut lawan yang tak ingin kita temui?” Tanya Luca.
“mereka bukan lawan yang mudah” jawab instruktur “tidak seperti matis yang memiliki wilayah atau kita sebut matis territorial yang gerakannya dapat kita baca. Matis independen gerakan mereka tidak mudah dibaca, mereka bahkan tak segan-segan memancingmu ke wilayah matis lain lalu bekerja sama dengan mereka”
Yuda, Andy, Luca dan sebagai calon front line terkejut mendengan ucapan instruktur.
“makanya jika kalian bertemu matis independen, aku sarankan jangan coba-coba mendekat atau menantang mereka”
__ADS_1
Luca membaca buku mengenai matis selagi instruktur menjelaskan mengenai cara melawan matis. Ada berbagai jenis matis yang pasti akan dia temui seperti Babi ngepet yang rupanya memiliki lebih dari 1 teritorial, Nurse Death, Bloody Kids, Tuyul,The Curse one dan yang paling membuat Yuda merinding adalah Bloody Dress Women. Karena entah mengapa Yuda merasa merinding hebat saat membaca bagian mengenai dia.[]