Sapphire City

Sapphire City
Chapter 32: Keluarga Mirna


__ADS_3

            Berita sosok matis independek raksasa yang diklaim adalah buto ijo telah menjadi gossip hangat seisi markas. Ada yang menganggap kalau itu cuman berita bohong ada pula yang percaya dan takut jika bertemu dengan matis tersebut. sehingga beberapa anggota organisasi yang terbilang masih anggota baru menjadi lebih takut lagi jika mereka hendak mengambil misi. Apalagi kondisi sekarang ½ kota Bandung telah berhasil diterangi oleh cahaya permata sapphire, sehingga semua orang beranggapan karena itu matis independent mulai menampakan dirinya.


            Bagi para senior organisasi Harja, matis Independent adalah matis yang memiliki level jauh diatas matis territorial, sehingga jika ingin melawan mereka tidak sembarang orang bisa ikut dalam misi, hanya mereka yang memiliki pengalaman dan skill tinggi untuk bisa mengikuti misi mengalahkan matis independent, sedangkan  para pemula pada umumnya hanya ditugaskan dimarkas atau mempertahankan daerah tertentu jika misi mengalahkan matis Independent keluar.


 


...***...


            Yuda terduduk sendirian diatas Kasur, dia tengah istirahat diruang perawatan setelah 2 hari sebelumnya tangan dia terluka karena ditusuk. Karena itu lengan kanan dia harus mendapat jahitan dan pengobatan penuh. Selain itu dalam beberapa hari Yuda tidak diizinkan untuk menjalankan misi sampai lengan dia sembuh total. Ya sebenarnya sih Yuda sangar bersyukur bisa beristirahat setelah misi terakhir adalah misi tersulit yang pernah dia ambil hingga membuat dia sendiri tersiksa dan sangat ingin mendapat libur.


            Tok tok tok.


            Ada yang mengetok pintu ruang rawatnya. Yuda mempersilahkan dia masuk. Luca datang seorang diri membawakan Yuda sekeranjang aneka buah.


            “gimana keadaanmu?” Tanya Luca.


            “lebih baiklah, walau kayanya aku enggak bisa misi selama beberapa hari, mungkin 1 minggu” jawab Yuda.


            “enaknya” kata Luca merasa iri.


            “kamu sendirikan juga dapat libur”


            “cuman 5 hari”


            “itu sih lamalah”


            Kedua pemuda itu saling bersenda gurau selagi Luca memotong beberapa apel. Dia bercerita kalau seisi markas tengah membicarakan soal matis independent yang mereka temui di misi sebelumnya.


            “si buto ijo ya” kata Yuda.


            “jujur saja sih, aku enggak mau berhadapan dengannya, gimana cara kita mengalahkan raksasa” Luca memberikan sepotong apel kepada Yuda.


            Yuda menerima apel yang telah dipotong dari Luca dan memakannya “aku pun, kok bisa kita bertemu dengan mereka secepat ini”


            “entah mungkin cuman kebetulan” kata Luca “oh iya, Andy dia dapat misi kelas A”


            Yuda terkejut “Andy serius?!”


            Luca mengangguk “serius, tadi aku ketemu dia dilorong, tegang bangetlah dia”


            Pasti teganglah dia. Misi kelas A bagaikan mimpi buruk untuk anggota baru. Yuda dan Luca saja mereka kira misinya kelas B ternyata A, sudah merasakan bagaimana susah dan pusing misi tersebut gimana dengan Andy. Yuda hanya bisa berharap Andy bisa kembali selamat.


...***...

__ADS_1


            Yuda tak ingin hanya duduk manis diruang rawat, bosan tidak ada hiburan apa-apa (kecuali hp sih), tidak ada larangan bagi pasien jalan-jalan keluar, kecuali luka parah. Toh luka dia tidak parah sama sekali, jadi bisalah jalan-jalan keluar.


            Seperti biasa lorong markas penuh dengan aktivitas setiap anggotanya ada pula yang sedang istirahat seperti Yuda. Tapi, dari balik semua misi yang sudah dikerjakan setiap anggota tidak ada yang tau sampai kapan pertempuran ini akan berakhir padahal ini sudah lewat 2 bulan lamanya tapi tidak ada kata done muncul. Terlebih padahal waktu berjalan lama, tidak ada seorang pun merasakan hari berganti, mungkin karena matahari tidak ada, ditambah semua ini dalam keadaan waktu berhenti, hingga tidak ada seorang pun yang mengkhawatir hari berganti.


            Tanpa sadar Yuda berjalan sampai menuju ruang gudang senjata, disini senjata setiap anggota disimpan mau itu senjata utama atau cadangan. Ada staf khusus mengatur setiap senjata dimana senjata-senjata itu akan disimpan dan ditandai pemiliknya, tapi senjata tertentu saja yang ditandai pemiliknya, biasanya itu adalah senjata khusus seperti pedang.


            “si Mirna ambil misi lagi?”


            Ada suara orang membicarakan Mirna. Yuda menghentikan langkahnya dan mengintip siapa yang tengah membicarakan Mirna. Ada 2 sosok didekat pintu masuk gudang senjata. Laki-laki dan perempuan. Reza dan Senny.


            “iya, tadi aku ketemu dia disini” kata Reza.


            “bukannya dia diberi waktu istirahat 1 minggu” kata Senny “kenapa malah ambil misi”


            Yuda terkejut mendengar kalau Mirna mengambil misi lagi, padahal baru 2 hari setelah misi di gedung kampus sekarang malah ambil lagi, dia emangnya enggak lelah gitu. Yuda saja lebih ingin istirahat beberapa hari dulu baru ambil misi lagi.


            Reza menghela napas panjang “kamu tau sendirikan dia sedang buru-buru”


            Wajah Senny menjadi muram “kau benar, selama ini dia tidak pernah menyerah mencari ‘mereka’?


             Mencari? Siapa yang Mirna Cari? Pikir Yuda.


            Tak sadar Yuda melangkah kedepan. Reza dan Senny sadar mereka diawasi, mereka menghampiri sosok yang mengintip dari balik belokan lorong. Yuda pada mulanya ingin langsung sembunyi tapi, sosok dia sudah ketauan karena Reza sudah ada dibelakangya. Pemuda seniornya ini ternyata sangat cepat mengejar mangsa pengintip.


 


            Ketiga anggota Front Line duduk bersama kantik pojok dekat kaca taman. Senny membawakan mereka segelas teh hangat.


            “tidak apa-apa kok. Sudah terlanjut juga” kata Reza.


            “Yuda harusnya kamu kan diruang rawat kok disini” kata Senny.


            Yuda merasa seperti kepergok kabur “aku bosan jadi pergi deh”


            Reza menggelengkan kepala “lain kali jangan ya, kesehatan itu penting”


            Tanpa dikasih tau pun Yuda sudah tau “oh iya, tadi kalian bilang Mirna sedang mencari seseorang itu siapa ya?”


            Reza dan Senny saling bertukar pandang, seakan mereka saling membalas siapa yang ingin angkat bicara. Pada akhirnya Sennylah bicara.


            “orang tuanya” jawab Senny.


            “orang tua Mirna? Emangnya mereka hilang?” Tanya Yuda.

__ADS_1


            “bukan hilang, tapi diculik” jawab Reza.


            Yuda tidak bisa berkata apa-apa, sebuah berita yang baru kali ini dia dengar.


            “diculik? Sama siapa?” Tanya Yuda.


            “matis” jawab Senny.


            Banyak pertanyaan muncul dalam benak Yuda, dia ingat bentul penjelasan ketua Verdic kalau matis dilarang menculik manusia lagi. Tetapi kenapa mereka menculik orang tua Mirna.


            “aku tau apa yang kamu pikirkan Yuda” kata Reza “tapi ini bukan sekali para Matis melanggar perjanjian mereka”


            “apa maksudmu?” Tanya Yuda bingung.


            “sebagian anggota disini keluarga mereka diculik” kata Senny.


            Yuda terdiam kehabisan kata-kata.


            “tidak ada yang tau apa alesan para matis menculik keluarga anggota organisasi ketibang anggota itu sendiri, entah itu balas dendam atau apa enggak ada yang tau” kata Reza.


            “apa tidak ada cara untuk menyelamatkan mereka?” Tanya Yuda.


            Senny menggelengkan kepala “enggak ada sama sekali sampai sekarang. Menyebrang portal terlalu berbahaya. Banyak anggota organisasi yang kehilangan keluarga hanya bisa pasrah. Termasuk ketua Verdic”


            “loh ketua Verdic juga?” Tanya Yuda.


            “kakak perempuan dia diculik” jawab Reza “ketua Verdic yatim piatu, dia hanya hidup sama kakaknya, awalnya dia berusaha yakin kakaknya masih hidup tapi harapannya pupus”


            “karena enggak tau nasib mereka?” Tanya Yuda lagi.


            Senny perlahan angkat bicara tapi dia aga ragu “dulu ketua Verdic pernah berhadapan 1 matis independent. Matis itu memamerkan tengkorak manusia yang digantung disabuknya” Senny terdiam lagi “dari situlah, ketua Verdic berasumsi kalau kakaknya sudah tewas”


            “tapi hanya Mirna saja seorang diri sampai sekarang percaya kedua orang tuanya hidup” Reza menambahkan.


            “apa mereka menargetkan keluarga Front Line?” Tanya Yuda lagi.


            “enggak Cuman Front Line, dulu pernah seorang operator adiknya diculik” jawab Reza “para matis itu mereka seperti random, enggak ada yang tau siapa yang jadi target mereka. Bahkan setelah penculikan kedua orang tua Mirna. Ketua Verdic mengumpulkan orang-orang kepercayaannya untuk mengungkap misteri penculikan, sampai sekarang enggak ada titik temu”


...***...


            Yuda hanya duduk diam diatas tempat tidur ruang rawatnya. Rasa takut menyelimuti dirinya, setela penjelasan dari kedu senior. Dia jadi takut, takut ketika keluarga akan menjadi target penculikan matis. Tak bisa terbayang jika hal itu terjadi. Namun yang tidak bisa Yuda bayangkan adalah perasaan Mirna. Bagaimana gadis itu mengetahui keluarganya diculik bagaimana dia selama ini menjalani hidup bertahun-tahun tanpa orang tua, membayangkannya saja bikin hati sakit dicabik-cabik.


            Bagaimana bisa para matis itu berpikir menculik anggota keluarga organisasi, itu yang Yuda pikirkan. Semakin dipikirkan semakin Yuda takut jika dia mengalaminya. Seperti mimpi buruk, bahkan sekarang bukanlah mimpi. Jika Yuda tidak ingin keluarganya menjadi target penculikan, dia  hanya bisa berdoa saja.[]

__ADS_1


__ADS_2