Sapphire City

Sapphire City
Chapter 21: Motivasi


__ADS_3

            Upacara pemakaman Gin telah selesai dilaksanakan, lebih tepatnya upacara penghormatan terakhir. Jenazah Gin tidak dikubur ditanah. Setelah dibersihkan jenazahnya dimasukan kedalam peti mati lalu disimpan dalam ruangan khusus Jenazah, disana setiap front line atau anggota yang tewas dikumpulkan yang nanti akan diserahkan kepada keluarga ketika semuanya berakhir. Keluarga tidak akan pernah tau mengenai kematian asli dari anggota front line atau organisasi yang tewas, karena sedari awal mereka menerima jenazahnya, mereka hanya tau kalau Gin tewas karena kecelakaan, bukan hanya pihak keluarga tetapi kerabat dan orang yang mereka kenal juga akan berpikir seperti itu, kecuali para anggota organiasi yang mengetahui kebenarannya, semua itu telah dirancang sedari dulu.


            Ketika upacara pemakaman, Yuda memperhatikan Rizky. Adik dari Gin, dia tidak pernah meninggalkan peti jenazah sang kakak. Dia terus menemaninya, tak rasa lelah apapun dalam wajahnya yang kelabu dan penuh kesedihan. Padahal mereka berdua adalah dua saudara yang sama-sama terpilih diwaktu yang bersama-sama tetapi terpisah disaat yang tidak diduga.


            “abang, maaf”  Rizky terus mengusap peti jenazah kakaknya “maaf bang, seharusnya aku tidak lengah, maaf”


            Rizky terus menerus menyalahkan dirinya atas kematian sang kakak. Yuda jadi memikirkan, bagaimana diposisi seorang operator, mereka memang tidak seperti Front line yang terjun langsung, tetapi beban mereka juga sangat besar mereka harus terus memantau kondisi dan situasi ketika misi. Apalagi mereka juga bertanggung jawab atas keselamatan front line itu senditi.


            Senny tiba-tiba saja menghampiri Rizky “sudah Rizky sudah, kamu jangan terlalu menyalahkan dirimu”


            “tapi itu semua salahku sen” Rizky menundukan kepalanya disamping peti Jenazah.


            Yuda memberanikan diri untuk menghampiri Rizky, dia juga jadi kepikiran atas kematian Gin, sebab pemuda itu tewas karena berusaha melindunginya. Walau ada kemungkinan Rizky akan menyalahkannya tetapi Yuda tak ingin bersembunyi atau berlari seperti orang pengecut.


            “Rizky” panggil Yuda.


            Rizky maupun Senny sama-sama melirik ke Yuda.


            “maaf, sejujurnya yang patut disalahkan adalah aku, akulah yang lengah saat itu, maafkan aku”


            Yuda melihat reaksi Rizky kepadanya, pemuda tersebut awalnya menundukan kepala sambil membuang muka, aga lama dia terdiam, tetapi tak ada raut emosi dalam diri Rizky hanya kesedihan. Tetapi jantung Yuda berdetak kencang akan reaksi Rizky kepadanya entah dia akan menerima amarah atau amukan atau juga dimaki-maki. Tetapi kemudian Rizky berdiri dia berhadapan dengan Yuda, mata merahnya menunjukan kalau betapa dia sangat kehilangan sosok kakak baginya.


            “sejujurnya aku ingin menyalahkanmu” ucap Rizky sambil mengepal tangannya “tapi aku teringat ucapan abang” tangan kanan Rizky mengusap air mata yang keluar dari matanya “abang dia berusaha melindungimu, dari dulu abang tidak pernah menyesal atas segala tindakannya selama disini, abang itu dia selalu berusaha keras supaya keluarganya aman itu saja. Kamu tidak salah apa-apa Yud”


            Yuda kira dia akan menerima amarah dari Rizky, tetapi ternyata tidak. Seolah-olah Rizky ingin menanggung semua itu seorang diri, bukan sebagai seorang operator tetapi sebagai seorang adik.


            Setelah hari upacara pemakaman Gin, Rizky diberi libur selama 3 hari. Itu adalah keputusan dari Verdic sang ketua. Seorang adik yang baru saja kehilangan kakaknya butuh waktu untuk menenangkan diri sampai dia siap kembali untuk bertugas. Sehingga posisi Rizky sebagai operator senior pun terpaksa digantikan oleh orang lain, tetapi Verdic sendiri tak ingin memaksa Rizky kembali bertugas karena itu semua tergantung dari kondisi Rizky itu sendiri apakah siap lagi untuk bertugas atau enggak.


 


 


            Yuda terbengong sendiri dikantin, duduk menyendiri didalah satu kursi, padahal telah dua hari lewat semenjak kematian Gin, tetapi tak ada rasa semangat darinya, dia memang tau semenjak dirinya memilih menjadi Front line pasti akan ada resiko yang harus di ambil, salah satunya adalah nyawa. Sekarang dia sudah melihat dengan kedua matanya sendiri kematian karena memilih front line. Benar-benar sebuah resiko besar. Bukan hanya dia saja yang kurang semangat untuk misi. Andy juga sejak pemakaman Gin dia terus berdiam dikamar dan tak beranjak dari sana. Sedangkan Luca, ada di ruang perawatan karena terluka.


            Apapun yang dia pikirkan sekarang entah itu rasa takut karena kematikan atau rasa takut karena melihat orang yang dia kenal tewas didepan matanya. Seluruh rasa takut tersebut seakan membuat hati dia menjadi hampa dan kosong tak memiliki tujuan. Keraguan menyelimuti dirinya, seakan dia seperti sudah tak sanggup untuk menjadi seorang front line. Tetapi jika dia mundur apakah itu adalah pilihan yang tepat.


            Segelas air putih diletakan diatas meja depan Yuda. Padahal dia tidak memesan apapun dikantin dan hanya berniat untuk duduk-duduk saja. Dia melirik kesamping, ada seseorang yang berdiri tepat disampingnya. Mirna. Gadis itu hanya berdiri diam tak berkata dan tak ada ekspresi apapun diwajahnya.

__ADS_1


            “sorry, aku tak ada niat untuk minum”


            “kalau gitu buat apa kamu sendirian disini?” Tanya Mirna.


            “hanya ingin sendiri saja” jawab Yuda.


            “apa kamu kepikiran akan kematian Gin?” Tebak Mirna.


            Tebakan Mirna benar, Yuda tidak bisa mengelak ucapan gadis itu “kenapa kamu bisa tau?”


            “apa yang kamu rasakan pasti dirasakan setiap orang, tak peduli siapapun. Terlebih rasa takut, setiap orang pasti memilikinya”


            “kamu sendiri gimana, kamu takut akan kematian?” Tanya Yuda.


            “aku lebih takut kehilangan daripada kematian”


            Jawaban Mirna membuat Yuda terkejut, orang-orang yang duluan bergabung bareng dengannya pasti pada takut akan kematian mereka sendiri. tetapi Mirna dari pada takut mati dia lebih takut kehilangan teman-temannya. Sedangkan Yuda dia malah takut pada kematiannya sendiri.


            “aku mau misi Defense, kau mau ikut?”


            “kayanya aku tolak deh”


            Tetapi raut wajah Mirna tidak menunjukan rasa apapun.


            “maaf aku memaksa ayo”


            Tiba-tiba aja Mirna menarik baju belakang Yuda secara paksa


            “hei,hei kenapa main Tarik-tarik segala. Akukan sudah nolak”


            Mirna tidak menanggapi protes dari Yuda dan terus menarik pemuda tersebut untuk ikut dengannya. Hingga pada akhirnya Yuda pun menyerah dan ikut dengan Mirna untuk misi Defense.


 


 


            Yuda dan Mirna tiba didepan pintu masuk kampus ITB. Suasana depan jalan depan kampus seperti biasa ramai oleh mahasiswa yang keluar masuk kampus, ada juga beberapa mahasiswa yang sedang makan di pedagang kaki lima dekat kampus. Tetapi keramaian tersebut hanyalah sebatas patung manusia dengan lautan kesunyiannya. Tetapi dibalik lautan kesunyian ada cahaya biru sapphire berasa dari dua tempat. Satu dari kampus dan satu lagi berasal dari sisi depan kampus. Cahayanya bersalah dari komplek masjid depan.

__ADS_1


            Selain itu semakin kesini Yuda selalu merasakan kesan Horror setiap dia mengunjungi tempat penuh patung batu manusia. Bukan hanya patung batu yang bikin horror tetapi kesunyian yang hampir membuat setiap bulu kudut setiap orang pasti berdiri. Apalagi raut wajah setiap patung batu tersebut terukir sangat jelas, contohnya mata, mata pada patung batu tersebut seperti mau bergerak mengikuti siapa saja yang dilewati orang patung batu tersebut.


            Disisi jalan pertigaan dekat kampus ada orang-orang yang sedang nongkrong bersama beberapa kawanan kuda yang telah menjadi patung batu. Yuda baru ingat kalau kampus ITB ini dekat dengan kebun binatang sehingga tak jarang kalau jalan ini juga menjadi kawasan tempat wisana naik kuda. Terbukti adanya tempat sewa kuda disini.


            Mirna tiba-tiba saja berjalan mendahului Yuda menuju pintu masuk parkir motor ITB. Yuda yang tak ingin ditinggal segera menyusul Mirna. Namun entah mengapa kesannya disini cuman ada mereka berdua saja, tak ada anggota Front line lain disini.


`           “ngomong-ngomong kenapa misinya disini?” Tanya Yuda.


            Mirna tak jawab pertanyaan Yuda dan tetap fokus kedepan. membuat Yuda hanya bisa menghela napas.


            Tetapi tiba-tiba langkah Mirna terhenti begitu saja. Membuat Yuda kebingungan gadis yang dari tadi diam dan tak memedulikan pertanyaan dari Yuda, memutuskan untuk menghentikan langkahnya?. Yuda sempat berpikir apakah ada matis yang muncul disini sehingga Mirna menghentikan langkahnya. Tetapi Mirna tidak mengeluarkan senjatanya sama sekali, membuat Yuda makin bingung.


            “Lihat itu” ucap Mirna.


            Mirna meminta Yuda melihat Kearah sebrang jalan. Sebuah jalan masuk menuju kompleks masjid. Tapi Mirna tidak menunjuk kearah kompleks dia lebih menunjuk kearah patung manusia yang baru saja keluar dari sana. Kedua mata Yuda membelalak melihat apa yang baru saja Mirna tunjuk. Rasa emosinya membuat dia berlari tergesa-gesa kesana. Jika saja dunia sedang normal mungkin tindakan Yuda akan sangat membahayakan pengguna jalan.


            Dada Yuda seperti dibuat sesak bernapas, dia memang tau kalau pasti cepat atau lambat dia akan melihat pemandangan ini, tetapi melihatnya secara langsung membuat dadanya terasa sangat hancur berkeping-keping. Tapi dia harus siap menghadapi kenyataan apa yang dia lihat. Andre dan Sela sahabatnya berubah menjadi patung batu. Mereka berdua berdiri didepan Yuda. Meski telah menjadi patung batu tetapi canda tawa mereka berdua tak luntur sedikit pun.


            Yuda ingin sekali berteriak, teriak sekencang-kencangnya, dia ingin membebaskan sahabat-sahabatnya dari kurungan batu tersebut. namun dia tak bisa melakukannya. Walah pun patung mereka hancur pun tak akan merubah kenyataan.


            “kapan kamu menemukan mereka?” Tanya Yuda.


            “ketika perjalanan pulang dari misi terakhir” jawab Mirna.


            “kenapa kamu ingin memperlihatkan ini padaku?” Tanya lagi Yuda, kapala tertunduk karena rasa amaran dan sedih.


            “menurutmu, jika melihat mereka berdua, kamu mau apa?”


            Mau apa?, ucapan Mirna membuat Yuda terpikir. Hati Yuda tiba-tiba tergerak. Apa yang dia inginkan selama dia ikut dalam pertempuran bukanlah untuk keselamatan dirinya sendiri tetapi setidaknya untuk melindungi teman-temannya, membuat teman-temannya terbebas dari belenggu penjara batu. Melihat apa yang ada didepan sudah cukup membuatnya sadar untuk apa selama ini dia mengangkat senjata, untuk apa selama ini dia bertarung dan setidaknya membuatnya sadar untuk apa selama ini dia maju.


            “makasih Mirna” ucap Yuda.


            “aku tidak melakukan apapun” jawab Mirna.


            “tapi setidaknya aku ingin terima kasih”


            Sebuah senyuman kecil terukir dari wajah Mirna, gadis dingin yang hampir tak memiliki emosi tersebut ternyata bisa tersenyum. Walau begitu Yuda sangat berterima kasih kepada gadis itu karena berkat dia, Yuda bisa tersadar.[]

__ADS_1


__ADS_2