
Harusnya Mirna dan Derec pergi ke Bandara menyusul tim Frontline disana, tetapi karena mereka berdua mengalami luka setelah pertarungan dengan matis White lady, jadinya seluruh tim memutuskan untuk kembali ke markas.
Didalam mobil, Gilang yang menyetir, sedangkan Andy duduk dikursi depan. Derec dan Yuda ditengah, sedangkan Mirna dan Siska dibelakang. Lia tidak henti-hentinya mengabarkan kalau beberapa tim Frontline senior sedang diterjunkan kesana.
Namun saat mereka tiba dibandara, keberadaan matis yang menghancurkan permata sapphire tidak ditemukan, dan itu membuat seisi operator markas menjadi kebingungan dan beberapa kali ngescan area bandara untuk melihat jejak matis.
“Derec aku ingin Tanya sesuatu” Tanya Yuda “bukannya waktu terakhir aku misi sama Mirna di jalan Abdul Rahmatsaleh, katanya di Bandara enggak ada permata kosong, kenapa sekarang ada?”
“oh soal itu, sebenarnya dimarkas ada beberapa permata sapphire cadangan” jawab Derec “kalian mungkin tau setiap misi, pasti itu permata harus dibawa untuk mentransfer cahaya tapi, tapi semakin sering di transfer maka cahayanya akan redup lalu berubah menjadi permata kosong, dari permata kosong itulah beberapa tim pertahanan menanam permata tersebut ditempat yang sudah ditaklukan”
“jadi permata sapphire yang di bandara bukanlah permata asli sana?” Tanya Andy..
Derec mengangguk “benar, karena ada beberapa tempat paling strategis di kota Bandung tetapi tidak memiliki permata, makanya kita tidak ada pilihan lain selain menanam permata markas dilokasi tersebut”
“tapi sekarang permata itu pecah” ucap Mirna.
“apa dampaknya?” Tanya Siska.
“jika pertama sapphire berhasil dihancurkan oleh matis, maka itu akan mengundang matis lain untuk datang ketempat itu” jawab Derec.
Yuda, Andy dan Siska sama-sama kaget mendengarnya, itu berarti ada kemungkinan bandara akan jatuh lagi menjadi wilayah babi ngepet seperti sebelumnya. Tak bisa dia bayangkan jika pertempuran yang dia dan Mirna alami akan terjadi lagi.
Tapi rasanya itu enggak mungkin, karena babi ngepet udah mereka kalahkan, kalau pun akan ada sekumpulan matis yang menyerang, pastinya jenisnya berbeda.
“maaf aku mau tanya, tapi ini mengenai misi sebelumnya” ucap Gilang “waktu itu kan katanya ada warga sipil yang diseret sama matis, kira-kira dia ada dimana, kita tidak menemukannya selama didalam”
Derec terdiam sejenak, bahkan Yuda pun baru teringat hal itu dan ucapan Gilang ada benarnya, didalam mall bahkan selama mereka lari dari kejaran matis, sosok warga sipil yang diserang matis tidak ada dimana pun.
__ADS_1
Pada akhirnya Derec pun angkat bicara “pada saat kita keluar dari mall, tim pengintai datang dan langsung mengamankan bangunan mall, sayangnya mereka tidak menemukan korban”
Yuda terdiam, seolah-olah dia tidak salah dengar.
“apa kalian ingat kapala manusia yang ditemukan dibawah eskalator?” tanya Derec tentu membuat semua orang dalam mobil kaget dan sudah bisa menebak jawaban dari pertanyaan Derec. “dialah warga sipil yang diseret itu, ketua tim pengintai sudah mengkonfirmasi ulang wajahnya, karena dia masih ingat wajah korban yang diseret masuk sama matis”
“itu berarti setelah dia diseret, si matis langsung…” Andy tak mampu melanjutkan ucapannya.
Ini benar-benar pukulan terbesar dalam tim, Yuda terlalu fokus untuk menghindar dari serangan matis sampai lupa soal sosok korban yang diseret matis itu sendiri. justru sedari awal mereka masuk memang sudah ditandai oleh matis, mau pergi mencari pun tetap sulit, bahkan kalau memutuskan untuk mencari korban enggak akan mendapat hasil apapun, karena korbannya sudah mati.
Apa yang dirasakan Yuda, dirasakan juga oleh semua orang didalam mobil, bahkan Derec sebagai ketua tim pun sama bersalahnya.
Maaf teman-teman, suara Lia keluar dari radio mobil dia terdengar begitu pelan dan serak, Drone pengintai sudah melakukan scan berkali-kali dan tidak menemukan sensor manusia hidup selain kalian berenam, bukannya aku tidak ingin memberitaukan kalian….
“tidak apa-apa Lia” ucap Derec “lagi pula ini juga salahku sebagai ketua tim karena tidak cepat tanggap, biar aku saja yang menerima saksi”
Setiba dimarkas, tim Yuda berserta Lia langsung dipanggil menghadap petinggi, mereka memang aga kecewa karena Yuda dan teman-temannya tidak berhasil menyelamatkan warga sipil walau dalam misi ini mereka berhasil mengalahkan matis tingkat A.
Maka Derec dan Lia mendapat hukuman kurungan penjara selama 2 bulan, selain kurungan Derec tidak diizinkan ikut misi Frontline setelah terbebas, dia hanya boleh ikut menjadi tim pertahanan saja. Sedangkan Lia, karena ketolederannya tersebut setelah masa kurungannya selesai dia akan dipindahkan ke tim hardware.
Sedangkan Yuda, Andy, Gilang, Siska dan Mirna mendapat hukuman kurungan selama 2 minggu. Hukuman yang mereka terima terbilang ringan berkat Derec dan Lia. Seorang senior yang menanggung seluruh kesalahan tim demi junior.
“organisasi ini benar-benar tegas” ucap Yuda.
Saat ini Yuda dikurung bersama Andy, Mirna bersama Siska dan Gilang dikurung sendiri-sendiri disamping kurungan penjara Yuda dan Andy. Tetapi penjara Derec dan Lia lokasinya berjauhan dari mereka.
“iya, mereka tidak segan-segan menghukum kita kalau ada kesalahan” ucap Andy.
__ADS_1
“tentu saja, Karena organisasi ini menanggung resiko dan tanggung jawab besar” Gilang menjelaskan “makanya kalau ada kesalahan, hukumannya pun enggak main-main”
“masih untung kita dipenjara tidak lama” tambah Mirna “bayangkan kalau hukumannya 1 atau 2 tahun penjara”
“wah keburu kota Bandung kembali normal” kata Andy.
“ya tak masalah sih” kata Yuda “emang sepantasnya kita tanggung jawab”
Lagi pula emang Yuda masih merasa bersalah karena misi terakhirnya, dan entah kenapa rasa bersalah tersebut masih mengakar didalam dirinya.
“aku juga sama” Mirna sependapat dengan Yuda “selama pengalamanku, ini baru pertama kali kejadian seperti ini terjadi”
Mirna yang biasanya selalu terlihat kuat, baru kali ini dia terdengar lesuh seolah tak berdaya. Yuda mengerti ucapan Mirna. Begitu pula yang lain masih meratapi rasa bersalah.
Kalau pun bisa, Yuda tak ingin masa hukumannya 2 minggu, kalau bisa ditambah, tapi keputusan telah diambil dan dia hanya bisa menerimanya.
Tetapi bagaimana dengan Derec dan Lia, mereka berdua yang paling menanggung kesalahan satu tim, terutama Derec, dia sepertinya paling merasa terbebani, dia sampai rela menanggu hukuman terberat sebagai ketua tim. padahal seharusnya Derec tidak perlu seperti itu, namun saat Yuda teringat kembali ucapan Derec saat dia ingin menanggung seluruh beban kesalahan, entah kenapa justru dialah yang paling merasa bersalah karena insiden ini.
“sebenarnya saat kita kepisah waktu itu, aku Derec dan Siska sudah berusaha mencari korban” ucap Andy.
“eh tapi kenapa Derec enggak bilang, lalu Lia juga?” tanya Gilang.
“sepertinya mereka enggak ingin kasih tau” jawab Siska “saat itu juga kita enggak bisa mencari lama-lama mengingat situasi”
Yuda kembali terdiam mendengar penjelasan Siska, memang saat itu, baik Yuda maupun yang lain sama-sama mewanti-wanti pergerakan matis, mau dia yang sedang dikerja atau Andy, Siska dan Derec yang terpisah dari rombongan Yuda.
Di Bandara, para Frontline sedang menyusuri setiap sudut bandara mencari keberadaan matis yang sampai sekarang belum ditemukan sosok batang hidungnya. Bahkan dicari kelandasan juga tidak ada.
__ADS_1
Justru para Frontline ini tidak sadar kalau sebenarnya mereka sudah diintai sejak pertama kali mereka menginjakan kaki dibandara.
Matis tersebut sengaja bersembunyi menunggu saat yang tepat untuk menyerang, sosok mereka yang masih bersembunyi dan tidak meninggalkan jejak apapun, membuat baik Frontline atau operator kesulitan melacak mereka.[]