
Sebisa mungkin Yuda harus berlari jaga jarak dari White Lady, karena dia jelas-jelas mengejarnya dari belakang sambil melempar beraneka ragam pecahan kaca. Berkeping-keping kaca mendarat tepat disamping Yuda, lemparan White Lady makin tambah jauh, kalau gini dia cocok jadi atlit lempar barang.
Jalan didepan berbelok Kearah kiri, Yuda memilih memutarkan badan menghadap langsung kearah sang matis, dia arahkan senapannya, pelatuk ditarik, tembakan demi tembakan meluncur, setiap peluru hanya mengenai kaca-kaca yang matis kendalikan, tak ada satupun yang langsung mengenai matis.
Melihat usahanya tak membuahkan hasil, Yuda langsung lanjut berlari. Tapi dia tersadar kalau senjatanya sudah kehabisan peluru. Peluru cadangan yang dia punya hanya untuk pistol. Dengan sangat terpaksa Assault Rifles miliknya dibuang.
Selagi berlari, Yuda menembaki matis dengan pistol milik.
“Assault Riflesku kehabisan peluru terpaksa aku buang” Yuda Ucap.
Tak masalah, tetap fokus ulur waktu. Balas Lia.
Si matis benar-benar tidak lelah sama sekali, padahal Yuda saja sudah lumayan lelah karena lari terus. Tapi bagaimana bisa dia tidak kelelahan.
Ada beberapa meja dan kursi dipinggir jalan, dengan cepat Yuda menandang meja-meja beserta kursinya kejalan untuk menghalangi si matis. Tapi ya dia sendiri tau itu hanya bisa menghambat sebentar saja.
Bahkan setelah 5 menit dia terus mengulur waktu, masih belum ada kebar dari tim yang lain apakah persiapan mereka selesai atau tidak.
Yuda sendiri sudah lumayan tidak kuat terus menerus mengulur waktu dikejar matis, apalagi dia juga tidak tau sampai kapan ini peluru pistol bisa bertahan.
Semacam ide gila keluar dari isi kepala Yuda, tidak ada lagi niat untuk berlari-lari. Yuda berdiri disebuah jalan setapak bebatuan hias yang setiap ruasnya ditutupi atap besi berogga dihiasi tanaman merambat.
Disisi kanan jalan adalah parkiran mobil, sedangkan sisi satu lagi lahan terbuka hijau lengkap dengan kursi taman, air mancur ditengah dan beberapa penyiram rumput otomatis.
White Lady muncul dihadapan Yuda, wajah dia benar-benar tertutup oleh topeng, tak bisa Yuda jelaskan semenakutkan apa itu topeng, tetapi itu adalah topeng tanah lihat, terlebih topeng sang matis adalah topeng yang dipake dengan cara digigit bagian dalamnya agar topeng tersebut tidak lepas.
Sesuatu terbesit dalam pikiran Yuda, apa jadinya jika dia memotong topeng tersebut, entah menjadi hal buruk atau bagus. Kalau ingin dicoba terlalu sukit untuk Yuda, tetapi jika Mirna yang melakukannya mungkin saja dia bisa.
Itu hanyalah pemikiran cadangan, untuk sekarang dia tidak akan mengambil resiko untuk mendekati matis tersebut.
Lagi-lagi Yuda kembali menembaki si mati. Ukiran batu dilantai melayang keatas dengan paksa, batu itu entah mengapa begitu keras dan bisa menangkis tembakan Yuda. Telekinesis si matis memiliki pengaruh juga?.
Dibalik tangan kanan yang tengah menembaki matis, tangan satu lagi mengeluarkan bom dari balik tas kecil. Ketika penglihatan matis tertutup oleh batu yang dia kendalikan sendiri. Yuda langsung melempar bom tepat diatas simatis.
Cahaya terang keluar dari bom tersebut, membuat si matis berteriak nyaring karena mata dia tidak bisa melihat apapun. Dari balik cahaya tersebut ada yang melepas cepat seperti kilat dan mengenai lengan kiri matis sampai berdarah.
Yuda melempar garpuh taman seukuran sekop kecil kearah lengan matis sampai berdarah. Saat dia berlari tak sengaja Yuda melihat peralahan berkembun tertata rapih dalam rak. Sepertinya ini adalah peralahan kebuh edukasi untuk anak-anak.
Melihat ada kesempatan emas, Yuda dengan cepat mengambil garpuh taman tersebut tanpa matis itu ketahui. Sekarang lengan matis tersebut terluka karena serangan Yuda.
Yuda persiapan selesai, sekarang cepat bawa matis kelokasi, suara Lia muncul dari Headset.
__ADS_1
“ok aku ke…”
Seluruh batu disetapak jalan yang diinjak Yuda tiba-tiba saja melayang makin tinggi dan tinggi mengelilingi Yuda. Dilihat si matis, dia berdiri padahal darah menetes banyak dari lengannya, namun masalah utamanya aura disekeliling dia terasa begitu tak nyaman.
“wah ini masalah” ucap Yuda berkeringat dingin.
Seluruh jari-jari White Lady menunjuk kearah Yuda, kemudian dia kepal, menyebabkan batu-batu melayang tersebut melesat cepat kearah Yuda.
Tak habis akal, Yuda langsung sleding kearah parkiran mobil, menghindari bebatuan yang menghujaninya. Dia berlari kencang menuju titik lokasi yang telah ditentukan.
“aku kesana sekarang” Yuda melirik kebelakang “dia mengikutiku”
Lagi-lagi matis menghancurkan kaca-kaca mobil dan langsung menghujainya ke Yuda, tapi kali ini bukan hanya kaca mobil saja, besi-besi dari body mobil ikut dilumat oleh matis dan dibuat seperti bamboo runcing.
Mau depan dan belakang sama-sama hujani, Yuda langsung lompat kesamping, dan berlari melewati berbagai mobil-mobil yang terparkir disana. Entah ada berapa jumlah mobil disini, cuman hampir semua mobil disekeliling Yuda jadi bahkan senjata matis.
Tiba akhirnya Yuda dititik pertemuan. Sebuah lapang luas ditengah-tengah parkiran mobil. Yuda terus berlari dan berlari ketengah. Matis memasuki lapangan.
Mirna muncul dari samping matis, dia hendak menusuk dada matis dengan pedangnya, tetapi entah bagaimana dia begitu pas sekali menahan serangan Mirna, tangan kanan tiba-tiba saja langsung memegang besi pedang Mirna. Bukan hanya itu saja, dia mengangkat pedang beserta Mirna yang belum melepas pegangannya dan langsung membanting gadis itu keatas aspal.
Suara tubuh Mirna yang mengenai aspal begitu keras sampai terdengar jelas ditelinga Yuda. Pedang Mirna juga sudah berpindah tangan ke simatis. Sekarang dia berniat menusuk balik Mirna.
Mirna langsung berguling kesamping menghindar tusukan pedang. Yuda cepat menembaki matis tersebut memberikan kesempatan untuk Mirna kabur. Gilang, Andy dan Siska muncul dari balik mobil dan ikut menembaki matis tersebut.
“Siska!” teriak Andy.
Bongkahan aspal tersebut menghancurkan mobil. Tetapi Siska berhasil selamat berkat Gilang.
Semua tetap fokus, Lia mengingatkan.
Derec muncul dibelakang matis, gerakan dia sama sekali tidak diketahui matis. Bahkan sampai Mirna (masih kuat dia) kembali berdiri dihadapan simatis,
Masing-masing tangan Derec memegang permata Sapphire dan permata kosong, dia mengunggu timming yang tepat untuk mentransfer cahaya permata Sapphire, itu berarti Yuda dan yang lain harus mengulur waktu satu menit lebih supaya portal muncul.
Mirna kembali melempar bom diatas matis, tapi matis itu langsung melindungi dirinya dengan selendang, tapi sebenarnya itu hanya pengalih perhatian supaya Mirna bisa mengambil kembali pedangnya, mau matis itu kena efek atau enggak Mirna tidak peduli. Sampai matis itu membuka seledangnya, dia melihat Mirna sudah memegang pedangnya kembali.
Mirna terus menyerang simatis selagi yang lain membantu dengan cara menembakinya. Karena dengan cara itu matis akan kesulitan untuk menggunakan telekinesisnya.
Tetapi salah satu selendang matis melilit tangan Mirna yang memegang pedang dan menarik gadis itu kearahnya. tetapi Mirna memberi matis itu hadiah dengan cara menendang perut matis diikuti sikut kaki kiri diarahkan ke gadu, berkat itu Mirna bisa telepas.
Tiba-tiba saja matis melirik kebelakang, portal sudah terbuka, Derec tersenyum lebar ke simatis.
__ADS_1
“jalan pulangmu nona” ucap Derec.
Matis White Lady marah besar dia hendak menyerang Derec dengan kuku-kuku tajam dijemari kanan, tapi Mirna langsung menyerang balik matis tersebut. sedangkan Mirna ditahan kembali hanya dengan pergelangan tangan kiri.
Yuda, Gilang dan Siska kembali menembaki si matis, karena tidak bisa menggunakan telekinesis tembakan mereka tepat mengenai matis tersebut.
Sedari awal, matis sudah ditipu. Ketika Derec menjelaskan rencana palsunya, pasti Matis mendengar lewan Gilang dan Andy, tetapi disaat yang bersamaan dia menggunakan kode morse kalau apa yang dia bilang adalah rencana palsu, sedangkan rencana yang sebenarnya dikasih tau lewat kode morse lewat ketukan besi mobil, Lia sendiri dia tau kalau ucapan Derec hanyalah rencana palsu karena dia melihat lewat kamera Drone.
Karena kesal, matis mengurungkan niat untuk menyerang Derec dan berniat menyerang Yuda dan yang lain. Tapi Mirna dan Derec sekuat tenaga menahan matis tersebut, Mirna bahkan sampai menendang dan menebas, sedangkan Derec menembaki matis supaya itu matis mundur tetapi tenaga dia begitu besar.
“Mirna” teriak Yuda “belah topengnya”
Mirna kembali menendang kesar simatis sampai dia mundur beberapa langkah, lalu dengan cepat Mirna menebas topeng simatis sampai terbelah lalu jatuh dari mukanya.
Setelah serangan Mirna, White Lady tiba-tiba berteriak sambil menutup wajahnya dengan kedua tangannya, dia bahkan tidak ada niat untuk menyerang balik, karena dia terus menerus berteriak seperti menahan rasa sakit. Sampai akhirnya Mirna menusuk matis White Lady dan mendorongnya masuk kedalam portal dibantu Derec, disaat yang bersamaan portal tertutup.
Semua orang langsung terduduk lemas karena berhasil mengalahkan matis.
“akhirnya kita berhasil mengalahkannya” ucap Gilang.
“iya beban dipundakku sudah hilang” kata Andy.
“oh benar, sekarang jadi ringan” kata Gilang.
Siska dan Yuda sama-sama memerika luka Derec dan Mirna. Luka Derec aga terbuka jadi harus diobati lagi, sedangkan Mirna mungkin mengalami memar dipunggu, Yuda tak ingin memeriksa punggung Mirna, bagaimana pun diakan laki-laki.
“biar aku saja yang mengecek kondisi Mirna” ucap Siska “Yuda, Gilang dan Andy rapihkan lagi posisi permata kosong”
“sekalian kamu juga yang transfer” pinta Derec langsung memberikan kedua permata ke Yuda.
“ok baiklah”
Selagi Derec dan Mirna tengah diobati oleh Siska. Yuda, Gilang dan Andy merapihkan kembali posisi permata kosong dan mentransfernya dengan cahaya permata sapphire. Proses tersebut tidak memakan waktu lama, apalagi karena matis berhasil dikalahkan jadinya mereka semua bisa bernapas lega.
Derec, Derec ada masalah, teriak Lia lewat headset.
“ada apa Lia?” Tanya Derec.
Kita dapat kabar kalau Bandara diserang, jawab Lia terdengar panik.
“apa! Bukannya bandara sudah ditaklukan”
__ADS_1
Iya, cuman tim pertahanan disana menemukan kalau permata Sapphire dibandara pecah.[]