Sapphire City

Sapphire City
Chapter 50: Gedung Sekolah Part 3


__ADS_3

    Oh tidak, si matis emak-emak, dia balik lagi ke lobby. Teriak Rizky lewat headset, btw boleh aku panggil dia matis emak-emak?.


    “suka-suka kamu aja lah” ucap Senny.


    Tidak ada pilihan lain selain keluar dari kamar mandi, menurut Senny dia merasa mereka harus pergi dari tempat itu dari pada sembunyi.


    Yuda aga kurang yakin dengan isi pikiran Senny, tapi karena dia adalah ketuanya, Yuda tidak bisa protes apa-apa, ditambah situasi saat ini mereka sedang kejepit.


    Inginnya mereka sembunyi disalah satu ruang kelas dekat kamar main, tapi seluruh kelas dilorong ini sudah dikunci. Raden menyarankan mendobrak pintu ruang kelas. Tapi tindakan dia langsung ditolak mentah-mentah Senny karena hal itu akan menimbulkan suara kerasa yang memancing matis.


    Satu-satunya jalan lain yang menjadi pilihan terakhir, menaiki tangga menuju lantai 2. Meski Senny belum main naik tangga ke lantai 2, tapi situasi yang memaksa.


    Jika lantai satu isinya ruang kelas untuk kelas 3, di lantai 2 ruang kelas untuk kelas 2. Tapi sama seperti dibawah, ruang kelas disini rata-rata sudah dikunci, tidak ada satu pun yang terbuka. Ini pertanda buruk, sulit untuk Yuda dan yang lain sembunyi dari matis.


    Rizky memberi informasi kalau pergerakan matis aga lambat, kemungkinan besar dia tidak tau kalau lawannya telah pergi kelantai 2.


    “baguslah kalau matis emak-emak tidak kesini” kata Senny, dia tersadar dari ucapannya sendiri “loh kenapa aku malah nyebut nama matis sesuai idemu sih!”


    Enggak apa-apalah Sen, dari pada enggak ada nama, ucap Rizky.


    “kalau kamu yang kasih nama biasanya enggak pernah bagus” protes Senny sudah paham cara Rizky kasih nama matis.


    Wah jahat bener!, protes Rizky.


    Yuda bisa melihat kalau kedua orang ini ternyata begitu mengenal satu sama lain, sampai-sampai selera penamaan saja tau. Pasti karena sudah lama mengenal.


    “sekarang kita akan lanjut ke lantai….” Ucapan Senny terhenti.


    Ada suara dinding runtuh dari lantai bawah, suaranya begitu keras bahkan terasa gempa. Firasat Yuda sudah tidak enak, dia merasa kalau matis itu melakukan sesuatu dibawah yang bisa saja membahayakan.


    “tadi suara apa?” tanya Luca.


    “kaya suara dinding runtuh gitu” ucap Raden.


    “Rizky bisa hacking cctv sekolah enggak?” tanya Senny.


    Wah jujur aja aku enggak mau ngehack cctv diluar kendali kita, Rizky berniat menolak perintah Senny, oh gitu, ya ok-ok. Aku udah dapat izin bentar.


    “semua tetap waspada” perintah Senny.


    Masing-masing dari anggota saling melihat sekitar lorong sekolah tanpa bergerak sedikit menunggu kabar dari Rizky.


    Apaan ini!, Rizky berteriak begitu keras sampai-sampai telinga Yuda sakit mendengarnya.

__ADS_1


    “ada apa?” tanya Senny.


    Dinding….din..dingnya, hancurrrrrrrrrrrr!, teriak Rizky.


    “eh tadi dia bilang apa? Hancur?” tanya Yuda.


    Hancur, berlubang, dinding 2 ruang kelas hancur, ucap Rizky.


    Yuda tidak bisa berkutik dengar ucapan Rizky, kekuatan matis satu ini diluar perkiraan, bahkan lebih gila dari matis-matis yang Yuda hadapi selama ini. Bagaimana bisa?.


    Tak berhenti disitu saja, si matis terus menerus menghancurkan dinding, suara kerasnya begitu kencang ditambah, ada sedikit retakan dilantai.


    “bahaya, kalau tuh matis terus ngancurin dinding, bisa-bisa ini lantai 2 roboh” kata Luca.


    “apa dia sengaja?” tanya Luca.


    “dari pada sengaja, aku merasa dia sedang mencari kita” jawab Senny.


    Aku sependapat dengan Senny, kata Rizky. Setiap matis itu menghancurkan dinding, dia selalu melirik sekitar.


    “karena enggak sabar jadinya menghancurkan dinding menjadi solusi” kata Raden.


    “terus sekarang gimana?” tanya Luca “peluru dan pedangku saja tidak bisa menggores dia, ditambah kekuatannya bisa menghancurkan tembok”


    “kalau misalnya kita biarkan dia terkubur dalam bangunan gimana?” tanya Yuda.


    “itu tidak mungkinlah” jawab Senny langsung membantah ide Yuda “senjata kita tidak bisa menggores dia, apalagi reruntuhan bangunan”


    “racun gimana?” tanya Luca “bukannya ada tim yang pake racun buat ngalahin matis?”


    “kalau jarum racunnya bisa nembus ototnya pasti bisa” jawab Senny enggak yakin.


    Segala ide enggak ada yang bagus, semua buntu begitu saja,


    Lantai tiba-tiba saja roboh didekat mereka, tidak ada pilihan lain selain lari untuk menyelamatkan diri.


    Semua orang lari sekencang-kencangnya menuju tangga lantai 3, bagaimana pun mereka harus mengamankan permata kosong, kalau semisalnya bagunan sekolah ini benar-benar roboh total, setidaknya permata kosong tidak boleh hancur.


    Semua orang tiba ditangga ke lantai 3. Tetapi pijakan Yuda hancur, hampir saja dia jatuh kalau saja tangannya tidak cepat berpegangan ke permukaan lantai 2.


    “Yud kamu enggak apa-apa?, sini aku bantu” Luca mengulurkan tangannya membantu Yuda.


    Yuda melihat si matis didekat dia bergelantungan berjalan menjauh, dia terlihat tidak berniat menghancurkan dinding.

__ADS_1


    “Senny, aku mau ngikutin itu matis, kalian semua lanjut kelantai 3” pinta Yuda.


    “eeehh apa kau gila?” tanya Luca kaget.


    “tak masalah kok, kalau misahnya aku dalam bahaya tar tinggal lari” jawab Yuda.


    Semua orang enggak yakin mau membiarkan Yuda pergi sendirian mengikuti matis. Tapi melihat wajah Yuda yang serius, Senny mengikuti permintaan Yuda.


    Yuda melepas pegangannya, dia terjatuh dan mendarat diatas tumpukan lantai 2 yang roboh ke lantai 1. Tidak ada serpihan yang tajam sehingga Yuda bisa mendapat dengan aman. Dia juga memberikan kode ke teman-temannya kalau dia berhasil mendarat dengan selamat.


    Setelah melihat Yuda berdiri diatas serpihan lantai 2 dengan selamat, Senny dan yang lain langsung lanjut naik ke lantai 3.


    Yuda memiliki firasat kalau matis menghentikan tindangannya karena ada semacam alesan tersendiri. Dia sangat yakin itu, karena setelah melalui banyak misi dan pertempuran, setiap matis yang Yuda hadapi pasti memiliki sifat mereka masing-masing, sehingga tindakan mereka kadang diluar nalar.


    Mengikuti matis dari belakang bukanlah perkara mudah, Karena dirinya sendiri takut kalau ketauan yang ada tembok berikutnya pasti akan menghantap wajahnya.


    Pergerakan matis itu berhenti dikamar mandi. Itu kamar mandi yang tadi Yuda dan teman-temannya sembunyi.


    Si matis berdiri tepat didepan kamar mandi. Yuda mengamati dari kejauhan kalau matis itu terlihat seperti marah, sangat marah.


    “Rizky ada cctv dekat pintu masuk kamar mandi?” tanya Yuda.


    Ada sih, bentar aku cek, takutnya hancur. Jawab Rizky.


    Tidak butuh waktu lama, Rizky memberitau Yuda kalau ada cctv samping kamar mandi, lebih tepatnya dekat pintu masuk lobby.


    Si matis itu, entah kenapa dia lagi marah ke patung siswa, ucap Rizky.


    Tiba-tiba saja terdengar suara seperti barang jatuh, suaranya lebih seperti batu yang terjatuh dan terbelah.


    Eeehhh setelah badan patung manusia dihancurkan, teriak Rizky.


    Ucapan Rizky membuat Yuda kaget dan bertanya-tanya, kenapa matis itu melakukan hal seperti itu. Padahal para matis pasti tidak memperdulikan para patung manusia dan lebih menyerang anggota Frontline.


    Bentar, kalau Yuda pikir-pikir, patung-patung didepan kamar mandi itu mereka adalah siswa pembully, Raden saja sudah mengkonfirmasinya. Diantara semua patung, hanya ada 1 patung saja yang kondisinya masih utuh, itu adalah patung korban bully.


    Lagi-lagi suara batu hancur, matis itu kembali menghancurkan patung??.


    “jangan-jangan!” guman Yuda.


    Entah kenapa Yuda mendapat jawaban dari hancurnya patung manusia yang hancur, dari tindakan si matis, dia jelas-jelas tidak suka sifat pembully dan membencinya. Kemungkinan ketika dia melihat patung-patung manusia yang merudung satu patung manusia didalam kamar mandi, memicu amarahnya dan langsung merusak patung manusia pembully tersebut.


    Tetapi kenapa matis bisa memilii sifat seperti itu hanya untuk korban bully?.[]

__ADS_1


__ADS_2