
Suasana kampus makin mencekap, rambut-rambut dilangit dari berbagai sudut tiba-tiba saja melipat membentuk kain hiasan seperti di undangan. Beberapa kaca pecah begitu saja setiap mereka lewati. Tetapi ada 1 hal yang membuat mereka bingung, dimana sosok matis tersebut berada. Kalau berjalan keatas lalu kebawa lagi hanya karena mencari sosok gadis kecil dan boneka hanya membuang-buang waktu. Sempat terpikir oleh Mirna untuk memancingnya dengan permata sapphire, karena entah kenapa saat dia disekap walau senjata dan alat komunikasi dilucuti tetapi tas berisi permata sapphire tidak dibawa sama sekali, entah itu senjata atau tidak tapi yang pasti jika memang sengaja maka memancing matis keluar dengan permata sapphire tidak akan membuahkan hasil apapun.
Tak ada ide apapun yang terpikir oleh mereka semua untuk memancing matis selain mencari keseluruh lantai gedung kampus. kalau pun harus berpencar lagi, Luca menolak tegas, karena Yuda sedang terluka dilengannya karena ditusuk (oleh Reza yang kesurupan). Jadi akan menjadi masalah besar Yuda sendiri dengan kondisi seperti itu.
Ide gila dan aneh keluar begitu saja dari benak Yuda, meski dia tak yakin teman-temannya akan setuju.
“ide apa Yud?” Tanya Luca.
“ayo main petak umpet” jawab Yuda.
Luca dan Reza terbengon, Mirna memandang Yuda sinting.
“aku tau kalau ini ide aneh, tapi saat aku dikejar matis. Rasanya seperti matis tersebut ingin bermain denganku”
Ekspresi teman-temannya masih tak berubah.
“oh ayolah ucapanku serius nih” Yuda berusaha meyakinkan teman-temannya “si matis itu, setiap dia mengejarku, dia tuh kaya anak kecil yang mencari temannya yang bersembunyi”
Teman-temannya masih terdiam.
“aduh dengar ya, ketika dia mengejarku dan saat aku bersembunyi, dia bilang aku susah dicari lalu pergi begitu saja”
Pada akhirnya Mirna menghela napasnya “jadi maksudmu selama ini si matis hanya bermain-main bersama kita gitu?”
Yuda mengangguk cepat.
Mirna angkat tangan, tidak lagi yang bisa menjabarkan ide lain selain Yuda. Mereka sudah kehabisan akal.
Orang pertama mengajukan diri untuk berhitung adalah Yuda.
“Masa kamu!” protes Mirna.
“kan aku yang punya ide, pastinya aku yang harus berhitung” kata Yuda membela dirinya.
Mirna menggelengkan kepala “tangan kamu terluka gitu, pisaunya saja masih tertancap”
“jujur deh kamu serem banget ngejabarinnya” kata Yuda “lantas siapa yang mau?”
Tak ada satu pun yang mengajukan diri. Mirna sempat menimbang-nimbang. Mirna melirik Reza, pemuda itu langsung menggeleng cepat, sepertinya dia enggan berurusan lagi dengan matis tersebut setelah kasus sebelumnya. Tapi, jika Luca yang berhitung, yang ada mereka sama saja seperti memberikan domba kepada macan, sebab Luca sudah menginjak sisi Matis. Pada akhirnya, Mirnalah yang harus berhitung.
“jadi aku ya” wajah Mirna cemberut habis.
“enggak ada lagi mba yang cocok” kata Luca.
Mirna meminta bilah pisau milik Yuda untuk berjaga-jaga, dia juga memerintahkan teman-temannya untuk bersembunyi ditempat yang tak jauh dari lokasi dia. Tapi apapun yang akan Mirna lakukan mereka juga harus siap ditempat.
“aku hitung sampe 10 ya?” Mirna bersiap menutup mata menghadap dinding.
“jangan 20 aja” kata Reza.
Itungan pertama, ketiga pemuda langsung bersembunyi. Mereka tidak perlu berunding akan bersembunyi dimana. Karena ini harus benar-benar seperti permainan petak umpet jadi lokasi mereka bersembunyi hanya merekalah yang tau.
“sepuluh”
Masih terdengar suara orang berlari…..mereka masih mencari tempat sembunyi.
“sebelas, dua belas, tiga belas”
Hihihihihihi.
Tidak boleh berhenti, tetap menghitung, Mirna tetap menghitung.
“empat belas, lima belas, enam belas”
Sudah tidak terdengar suara langkah kaki, mereka semua telah bersembunyi.
“tujuh belas, delapan belas, Sembilan belas, dua puluh” Mirna menghela napas “siap atau tidak aku akan mencari”
Mirna membalikan badannya.
“eeehhh”
Niatnya dia ingin langsung pura-pura mencari, tapi dihadapan dia berdiri gadis kecil. Gadis yang sama yang bayang-bayangnya muncul saat merasuki Reza. Gadis kecil itu berdiri sambil menggendong boneka.
Ehehehe abdi ketauan[1]
Sekujur tubuh mirna tegang, dia benar-benar terlihat seperti gadis kecil pada umumnya, tapi wajahnya tertutup poni rambut.
“berarti engkeu, sim kuring nu ngitung[2]” kata Mirna pelan.
__ADS_1
Hehehe abdi resep ngitung[3]
Mirna maju berniat mencari teman-temannya yang lain. Dia berjalan melewati si matis. Dengan cepat Mirna membalikan badannya, dia mengeluarkan belati dari balik baju dan langsung menusuk boneka yang dibawa si matis. Teman-teman Mirna sedari tadi bersembunyi dan mengamati dari kejauhan menampakan dirinya dengan senjata lengkap.
Si matis terkejut bonekanya telah tertusuk, dia mundur perlahan-lahan sambil terisak.
Neng Yuyu, hik Neng Yuyu, NENG YUYUUUUUUUU!
Hal berikutnya yang terjadi lampu senter yang dibawa Yuda dan Luca tiba-tiba saja pecah, seketika seisi tempat menjadi gelap gulita. Tak begitu lama lampu dilangit-langit menyala remang-remang.
Pandangan mereka tertutuk pada sosok matis yang sekarang telah menghilang, menyisakan beberapa helai rambut hitam terpotong.
Mirna memumut helai rambut “ini bukan boneka asli”
“tambah marah dia” komentar Luca perasaan dia sudah tak enak.
Yuda dan Reza sama-sama melirik kearah langit-langit, tidak ada sehelai rambut yang menghiasi langit-langit seperti biasa.
“enggak ada” kata Yuda.
“rambut-rambut yang biasanya ada dilangit jadi hilang” tambah Reza.
Mirna dan Luca ikut melihat kelangit-langit gedung. Mereka terkejut, seluruh langit-langit bersih tak bersisa rambut secuil pun. Keanehan yang bahkan tidak pernah mereka bayangkan sama sekali. Padahal sebelumnya rambut-rambut ini menjadi ancaman jika si matis ada dilantai ini. Tetapi sekarang semenjak Mirna menusuk boneka Neng yuyu, seketika rambut-rambut hitam hilang begitu saja. Seluk-beluk tanda Tanya tersirat dalam diri Yuda. Sebenarnya apa yang sedang terjadi.
AAAAAAAARRRRHHHHH!!!
Suara teriakan diikuti lantai bergetar. Dia marah, si matis benar-benar marah. Pasti amarah dia sudah tidak bisa direda kembali.
“hei lihat” Luca menunjuk anak tangga ke lantai berikutnya.
Kumpulan rambut hitam diikat menjadi satu kepang besar seukuran ular anaconda besar menjalar menuju lantai atas. Seperti ‘umpan’ nyata untuk Yuda dan yang lain, atau lebih jelas ‘undangan langsung’
“ayo ikuti” kata Mirna.
Sesuai instruksi Mirna. Yuda, Luca dan Reza mengikuti pemimpin mereka menyusuri setiap anak tangga yang dilalui ikatan rambut raksasa. Berbekal senjata tanpa senter (toh hancur, tapi lampu-lampu semuanya menyala remang-remang). Setiap lantai yang dilewati, tidak ada satu pun helai rambut menghiasi langit-langit seperti biasa, kecuali rambut ikat kepang dianak tangga. Rambu tersebut tidak berbelok sama sekali. Sampailah mereka dilantai 10, pemandangan tak terbayangkan ada didepan mata Yuda dan semuanya.
...***...
Dinding, lantai, langit-langit bahkan jendela dan pintu sekali pun tertutup rambut-rambut hitam. Cahaya merah lampu menyelumuti setiap sudut tempat. Menambah kesan seram tak terbendung dari lantai ini. Tak bisa dibayangkan padahal lantai-lantai sebelumnya setiap helai rambut hanya menggantu kebanyakan dilangit-langit, tapi sekarang seluruh lantai 10 dipenuhi rambut-rambut tanpa terkecuali.
“enggak apa-apa kalau diinjak?” Tanya Yuda.
Luca yang pertama menginjak kumpulan rambut, tidak ada reaksi apa-apa, hanya kesan aneh terasa disekujur tubuhnya.
“aku jadi rindu karpet dan lantai licin” kata Luca.
Tempat ini benar-benar sudah menjadi sarang yang begitu menyeramkan bahkan jika ingin mencari jalan keluar, hanya ada 1. Tangga tadi mereka lewati, tidak ada lagi selain itu. Anak tangga lain (termasuk anak tangga ke atas) sudah tidak ada. Memotong atau membuka setiap helai rambut tidak ada gunanya, mereka begitu keras dan berat seperti kain yang beratnya puluhan ton.
Tak begitu jauh mereka melangkah. Dihadapan mereka ada cahaya merah lampu menyorot kebawah, redup tapi mencolok. Ada seseorang dibawah sorot cahaya. Dia berdiri disamping kursi menghadap kebelakang. Si gadis matis, dia tertawa, tawanya menggema, siapapun bisa mendengar begitu jelas suara tawa dia.
Pandangan Yuda tertuju pada kursi samping matis. Tidak terlihat ada seseorang yang duduk diatas kursi tersebut. tetapi ada berhelai-helai rambut menjulai turun dari kursi, rambut hitam, sama seperti rambut diseluruh tempat ini. Perasaan Yuda tak enak, dia begitu tegang sampai-sampai dia terdiam seperti patung. Bukan hanya dia saja yang merasanya, teman-temannya yang lain sama tegangnya. Mereka bisa menebak-nebak siapa dibalik kursi tersebut. apalagi rambut-rambut yang selama ini mereka lihat dari awal masuk kedalam kampus berasal dari kursi tersebut.
Kumpulan rambut dibawah, mendorong kaki kursi sampai berputar 180 derajat. Tak ada seseorang yang duduk diatas kursi itu, tetapi tak ada yang bisa mereka sangka-sangka akan sosoknya. Boneka Neng Yuyu, duduk begitu manis diatas kursi, rambutnya begitu panjang lebih panjang dari yang Yuda lihat. Panjangnya bisa dibayangkan, masuk ke kumpulan rambut dibawah kaki kursi. Semua rambut diatas, dinding, lantai adalah rambut Neng Yuyu, dan Neng Yuyu dihadapan mereka adalah sosok Neng Yuyu yang asli.
Boneka tersebut awalnya tersenyum, tidak ada yang bisa melihat mata boneka karena tertutup poni rambutnya. Tetapi dari balik senyuman tersebut, gertakan gigi seperti taring hewan karnivora dia pamerkan. Kumpulan rambut dari belakang kursi Neng Yuyu menyerang, Mirna dia menebas rambut tersebut dengan pedangnya sendiri. segala penjuru rambut-rambut menyerang mereka. Yuda dan Reza menembak setiap rambut, Luca dan Mirna menebas, tapi itu tidak membuahkan hasil apapun. Semakin mereka memotong dan menembak, semakin rambut-rambut tersebut menyatu kembali. Bahkan terlalu banyak yang dipotong, hingga rambut-rambut tersebut menggeliat-liat seperti cacing, mengingkat kaki keempat frontline tersebut.
Mereka semakin didesak, mau melawan segimana pun sedari awal lantai ini adalah sarang utama mereka.
Sekarang, cacing rambut merambat ketubuh, membungkus bagian bawah kaki seperti kepongpong. Sedikit demi sedikit, rambut meraih tangan mereka membuat mereka tak berdaya memegang senjata sendiri.
Si gadis matis, berjalan perlahan mendekati Yuda, dia meraih wajah Yuda.
Akang maen yu?[4]
Yuda merasakan tubuhnya seperti hendak dikendalikan, gadis ini dia juga memiliki kemampuan seperti boneka Neng Yuyu. Dia harus sadar, sadar, sadar, tak boleh goyah, kalau enggak, dia akan menjadi budak boneka para matis ini. Tapi, kekuatan si matis begitu kuat, bahkan kedua tangan Yuda begitu gemetar karena berusaha melawan.
DUAARR!
Yuda merasakan tubuhnya kembali. Dia terbebas. Tubuh si matis tergeletak dihadapannya. Yuda melirik kesampingnya. Itu Reza. Padahal tangannya telah terbungkus rambut tapi dia masih bisa meraih senjata sendiri.
“Lihat!” teriak Mirna.
Boneka Neng Yuyu, ekspresi wajahnya berubah, marah, dibalik poni dua cairan darah mengalir turun.
AAAAAAAARRRRRRRRRHHHHHHHH!!!!!
Kepongpong-kepongpong hitam terlepas, berubah jadi kumpulan tali dan mengikat para empat front line keatas langit. Kedua tangan Reza diikat bersamaan, kaki kanan dan kiri Luca ditarik keatas, salah satu tangan Yuda ketarik, tapi Mirna yang paling parah. Leher dialah yang ketarik. Ini paling gawat, ketiga permuda tersebut memandang Mirna tak berdaya, melihat teman mereka terikat sambil kedua tangan meronta-ronta berusaha melepas ikatan tersebut. mereka harus melakukan sesuatu atau tidak, Mirna akan kehabisan napas…..
__ADS_1
Reza melirik ke sisi lain kursi matis, ada benda bulat didekatnya.
“pssst Yud” panggil Reza “ambil ini”
Yuda melirik Reza cepat, pemuda itu melempat senjata yang selama ini dia pegang walau kedua tangannya terikat bersamaan keatas, entah dia jeli atau apa padahal dalam kondisi seperti ini, masih sempatnya dia mengamankan senjata ditangan. Salah satu tangan bebas Yuda berhasil menangkap senjata dari Reza, walau sakit (karena luka ditusuk). Pemuda itu juga memberitau Yuda kalau dia harus menembak ke sasaran didekat kursi boneka. Ada benda bulat didekat kursi, itu granat!.
Granat tersebut pastinya saat diambil matis tak sengaja terjatuh dan mengani kumpulan rambut, lalu saat para rambut ditarik ke lantai 10, granat itu juga ikut ditarik.
Tangan dia begitu berat, bahkan hanya memegang bagian atas senapan, dia juga cukup kesulitan menyentuh platuknya sambil menahan rasa sakit karena lukanya sendiri, tapi, hanya dia seorang saja yang bisa memegang senjata, pelan-pelan dia arahkan senjatanya kesasaran tembak. Boneka Yuyu menyadari Yuda hendak menembak, dia berteriak, ikatan disalah satu tangannya semakin kuat bahkan membuatnya kesakitan. Saat itu juga Yuda menarik platuknya, suara peluru keluar dari senapan. Si boneka Yuyu langsung membuat prisai untuk melindungi dirinya sendiri. tetapi dia salah, sasaran Yuda adalah granat didekatnya. Peluru mengenai sasaran, ledakan pun terjadi, diikuti Yuda dan teman-temannya yang langsung terbebas dari jerat ikatan rambut boneka Yuyu.
Ledakan tersebut menciptakan lubang besar tembus keluar, kursi beserta bonekanya ikut hancur tidak bersisa. Yuda dengan cepat memeriksa kondisi Mirna, sedari tadi dia berusaha menahan jerat ikatan dilehernya.
“Mir…Mir…Mirna!” teriak Yuda, dia meraih tubuh Mirna.
Reza memeriksa gadis itu “dia pingsan, pasti karena sesak napas”
“setidaknya dia baik-baik saja” kata Yuda.
Luca berdiri menatap tempat yang menjadi terakhir sosok si boneka matis, tidak ada satu pun yang tersisa, rambut-rambut sudah berhenti bergerak.
“kita….” Kata Luca tak percaya “berhasil mengalahkan matis tingkat A”
“iya, matis itu sudah kalah” kata Reza.
...***...
Yuda terduduk dilobby kampus, selagi para tim backup mengobati luka di lengannya. Dia tidak habis pikir, selama mereka terjebak didalam kampus, para tim backup sudah tiba dilokasi kampus, cuman mereka tidak bisa masuk karena pintunya dikunci oleh kumpulan rambut.
Salah seorang tim backup menjelaskan, kalau mereka dikirim setelah komunikasi antara markas dengan tim frontline Mirna terputus. Lia langsung mengirim tim backup berjumlah 10 orang untuk membantu dilokasi. Tetapi setelah tiba ditempat, mereka tidak bisa masuk kedalam. Rambut-rambut mengunci pintu dari dalam. Saat mereka berusaha masuk lewat basemen percumah, pintu basemen sama-sama terkunci. Hingga terdengar suara ledakan dari lantai antas, barulah disitu rambut-rambut yang mengunci pintu tiba-tiba terlepas.
Dari sinilah, para tim backup langsung berlari menyusuri setiap lantai, sampai menemukan Yuda dan teman-temannya dilantai 10. Yuda dan Mirna dibawah kelobby untuk diobati sedangkan Luca dan Reza dibantu beberapa tim backup mencari lokasi permata kosong.
Lengan Yuda sudah selesai diberikan pertolongan pertama, pisaunya juga sudah dicabut (walau sakit karena dikasih air alcohol), tetapi setelah kembali kemarkas, tangan Yuda kembali diberi pengobatan penuh.
“lenganmu gimana?” Mirna berdiri didekan Yuda, dia sudah sadar dari pingsannya.
“lebih baiklah, kamu sudah sadar ternyata”
Mirna duduk disamping Yuda “iya, mereka memberiku tabung oksigen, ya kamu tau sendiri aku hampir kehabisan napas”
“jujur aja, dari semua misi. Yang ini ngeri” kata Yuda.
“ini masih belum seberapa, masih ada yang lebih berbahaya diluar sana” kata Mirna.
“seperti….”
Salah seorang tim backup tiba-tiba saja berlari masuk lobby dari luar. Dia memberitau semua orang untuk bersembunyi. Awalnya Yuda bingung kenapa tiba-tiba bersembunyi karena ada matis, apalagi tim backup dilobby cukup banyak. Terdengar pula salah satu dari tim backup langsung menghubungi tim Luca dan Reza untuk sembunyi.
“sebenarnya ada apa?” Tanya Yuda.
“ada matis Independen” jawab salah satu tim backup.
Yuda terkejut. Selama ini dia selalu berhadapan dengan matis territorial, belum pernah sama sekali dia melihat sosok matis Independen.
Mirna langsung menarik Yuda, untuk bersembunyi bersama dari balik dinding belakang, didekat dia juga ada beberapa tim backup. Tak ada salah satu dari mereka yang hendak sembunyi ditempat lain, beberapa wajah mereka juga begitu pucat seperti sudah melihat sosok matis tersebut.
Dukkk
DUuuukk
Tiba-tiba saja lantai dibawah Yuda bergetar diikuti suara seperti langkah kaki!
Suaranya makin dekat dan makin keras, getaranya serasa sangat nyata dibawah kaki Yuda seperti gempa kecil. Yuda beserta Mirna mengintip dari balik tembok.
Kaki besar sepanjang mobil sedan turun begitu saja dari langit, membuat mobil-mobil disekitar terlompat. Sosok seperti raksasa tersebut terus melangkah dan melangkah kearah samping selanjang jalan dipati ukur.
Dengan sedikit keberanian Mirna dan Yuda mengendap-undap kedepan, walau sempat dicegat oleh para tim backup, tapi mereka berdua ingin melihat secara langsung sosok matis independek raksasa tersebut. pelan-pelan mereka berjalan kearah dinding jendela. Selagi mereka mengendak-endap sosok raksasa tersebut sudah jalan menjauh dari gedung kampus.
Yuda dan Mirna sudah mencapai dinding kaca, tetapi si matis sudah menjauh. Sosok matis berpenampilan hanya mengenakan celana pendek compang-camping telanjang dada. Ini membuat Yuda teringat akan sebuah dongeng anak-anak, dongeng yang selalu dia baca sewaktu kecil, akan seorang gadis pergi dari rumah orang tuanya (orang tua dia menyuruhnya pergi) untuk menghindar dari raksasa yang hendak menyantapnya, saat dikejar raksasa. Si gadis berbekal bungkusan pemberian dari orang tuanya. Salah satu bungkusan tersebut dilempar berubah menjadi lumpur dan menghisap raksasa. Si gadis bernama timun mas dan raksasa bernama.
“buto ijo” ucap Yuda.
Mirna yang mendengar ucapan Yuda, langsung melihat sosok raksasa tersebut. walah dia sudah lenyap oleh gelapnya malam, tetapi jika bisa disimpulkan ada kemungkinan kalau raksasa itu adalah buto ijo dari dongeng timun mas. Mirna tidak habis pikir matis yang akan mereka hadapi, matis independen adalah sosok buto ijo dalam dongeng anak-anak.[]
[1] Ehehehe aku ketauan
[2] Berarti nanti kamu yang hitung
[3] Hehehe aku suka ngitung
__ADS_1
[4] Kakak main yuk