SEBATAS RASA (I'M A Doctor)

SEBATAS RASA (I'M A Doctor)
S.2 Awal yang baru


__ADS_3

"Assalamualaikum ma. Mama apa kabar?"Ucapku ke pada mama disebrang telfon sana


"Waalaikumsalam sayang. Mama baik saja nak. Kamu kapan pulang. Mama rinduuu" jawab mama terdengar sedikit memohon.


Aku pun tersenyum " belum tauuu ma. Al masih sibuk banget buat nyelesaiin skripsi akhir ini tapi Al janji akan segera pulang" tenangku


"Yasudah kamu jaga kesehatan jangan selalu bergadang dan jangan lupa makan ntar sakit. Jangan lupa sholat nak"


"Iyaaa iyaa ma. Mama juga jaga kesehatan love youuu more. Titip salam juga sama papa dan eyang"


"Iyaa sayang. Assalamualaikum Sayang"


"Waalaikum salam ma. Tuttt..tuttt"


Sambungan telfon pun terputus.


Ya semenjak kepergian Raka semuanya pun berubah dengan berjalannya waktu namun tidak denganku. Aku yang sempat down kini telah bangkit lagi dan memutuskan untuk menyambung kuliah kembali di negri Ginseng.


Tak terasa kini sudah genap 5 tahun kepergian Raka. Tak banyak yang berubah dengan diriku ya sama seperti dulu yang berbeda hanya sikap ku yang cenderung lebih pendiam dan lebih dingin kepada orang disekelilingku. Aku hanya berteman dengan Ani yaitu anak nya mbok jum yang dari kampung. Mama memohon untuk membawa Ani pergi bersama ku walaupun aku menentang keras namun mama terus memohon dan akhirnya aku menuruti keinginan mama.


"Non tidak lapar?" Tanya Ani


Aku pun mengalihkan pandanganku ke Ani yang sedang berdiri didepan pintu kamarku " nanti saja An" jawabku


"Apa Ani boleh masuk non?" Tanyanya lagi.


Aku pun mengangguk memperbolehkannya untuk masuk kekamarku.


"Apa non tidak bosan?" Tanya nya lagi.

__ADS_1


Aku pun melirik kearah sumber suara "emangnya kamu bosan An?" Tanyaku kembali


Ia tak menjawab dan hanya menunduk "An kalau aku nanya tolong dijawab"


Ia mengangguk sebagai jawaban iya.


Aku pun tersenyum "Ani Ani menjawab itu saja sangat takut. Sudah ku bilang santai saja jika bersamaku. Kau tak perlu takut anggap aku sebagai kakak atau teman mu"


"Ba...aik nona" jawabnya masih gugup. Ani sangat polos dan sangat jujur walaupun sudah kurang lebih 4 tahun kami tinggal bersama tetap saja ia sangat sungkan atau sedikit takut kepadaku. Walaupun seperti itu kadang ia bertingkah sangat lucu yang membuatku sedikit terhibur olehnya.


"Baiklah kita akan makan diluar hari ini dan sekalian berbelanja bulanan. Bukankah stock makanan sudah hampir habis"


"Alhamdulillah baik siap Nona" jawabnya dengan semangat.


Ia sangat bersemangat jika pergi keluar denganku. Tentu saja bersemangat karna ia hanya keluar jika aku dan dia akan berbelanja bulanan. Aku sangat sering menyuruhnya berbelanja sendirian namun dia tak pernah mau karna ia trauma atas kejadian 2 tahun lalu


Flashback on


Aku yang baru bangun tidur pun terkejut mendengar suara tangisan Ani "An kamu dimana sekarang? " tanyaku


"Ani tidak tau Nona. Tolong Ani tolong hikss hikss hikkss"


"Tunggu disana jangan kemana mana"


Aku pun bergegas bangun dan segera mencari kunci mobil dan bergegas menyusul nya dengan mobil ku. Aku pun melacak Gps ponsel milik Ani dan akhirnya aku menemukan keberadaannya.


Setelah sampai disana aku pun langsung melihat Ani yang terduduk menangis disalah satu halte dengan beberapa orang mengelilinginnya.


"Maaf oppa ini adik saya" ucapku kepada pria yang sedang berdiri dihadapan Ani

__ADS_1


Ia pun mengangguk dan memberikan jalan.


Aku pun membawa Ani menuju mobil.


"Kamu kok bisa kayak gini sih An? Pergi sendirian lagian kamu kan belum banyak ngerti bahasa disini" tanya ku kepada Ani yang sudah merasa tenang.


" An..i tadi mau beli.. bakso Non karna bakso udah habis. Ani mau bikinin Non makanan jadi Ani pergi sendiri"


Aku pun menggelengkan kepala "yasudah lain kali jangan diulangi ya" jawabku sambil memijat pelipis ku dengan tangan kiri


"Non kepalanya pusing ya?"


Aku pun mengangguk "iyaa sedikit" jawabku yang masih fokus melihat jalan


"Sebagai permintaan maaf Ani, Ani akan urut kepala Non"


Aku pun mengangguk lagi tanda setuju atas tawaran Ani


*F*lashback off


"An kamu mau beli ice cream?" Tawarku kepada Ani


Ani pun dengan semangat mengangguk tanda ia sangat setuju.


Kini setelah berbelanja kami menikmati ice cream ditaman. Cuaca sangat bagus hari ini karna sudah memasuki musim semi.


Usia ku dan Ani terpaut 6 tahun karna Ani saat ikut denganku ia baru saja lulus SMA. Kini usia ku sudah 27 tahun tapi aku masih enggan untuk membuka hati ku untuk seorang pria. Rasa trauma takut kehilangan masih menyelimuti hati ku. Entah sampai kapan aku pun tak tau biarlah semuanya berjalan dengan sendirinya.


Mama pun tak pernah membahas jodoh atau pernikahan kepadaku karna ia tak ingin membuatku sedih yang berkepanjangan.

__ADS_1


Note : terimakasih sudah membaca cerita ini dan jika teman teman menyukai cerita ini mohon meninggalkan like dan comentnya agar author tambah semangat. Love uuu💕


__ADS_2