
Setelah beberapa bulan mempersiapkan acara lamaran ku dengan dokter kang, dan tiba lah yang ditunggu tunggu. Malam ini adalah acara lamaran yang diadakan di seoul sedangkan akad nikahnya di adakan diindonesia. Tamu undangan sudah hampir semuanya datang.
Setelah beberapa acara sambutan yang sudah ditampilkan, kini tibalah acara puncak yaitu lamaran. Kini aku dan kedua orang tuaku sudah berdiri dipanggung yang sudah di tata dengan sangat indahnya begitu juga dengan dokter kang yang didampingi oleh paman dan bibi nya yang merawat nya setelah kepergian ibu nya. Mereka sangat menyayangi dokter kang dan juga mereka menganggap dokter kang itu adalah anaknya karna mereka tak memiliki keturunan.
Dokter kang tersenyum sangat bahagia dan begitu juga dengan aku. Setelah menyampaikan maksud dari pihak laki laki, kini tibalah pemakaian cincin kejari calon pengantin. Ya tradisi yang kami gunakan lebih dominan ke tradisi diindonesia kampung halamanku.
Setelah semuanya selesai, semua para tamu undangan pun bertepuk tangan. Begitu juga dengan sahabatku Aiko dan Lee mii ra yang tak kalah hebohnya. Acara inti sudah selesai kini para tamu undangan pun dipersilahkan untuk menyantap makanan yang sudah disediakan.
"Aku sangat bahagia" bisik dokter kang
Aku pun tersenyum "aku juga sangat bahagia sayang" jawabku
"Hmm chagiaa.. aku kesana sebentar ya. Ingin menemui temanku" izin dokter kang. Aku mengangguk, dan juga aku ingin menemui Aiko dan Lee mii ra.
Setelah cukup lama berbincang, aku melirik kearah dokter kang yang sedang berbincang dengan temannya. Namun aku tak sengaja melihat perempuan memakai topi berjalan kearah dokter kang. Perasaanku seketika menjadi tidak enak, aku pun berlari kearah dokter kang dengan cepatnya tanpa memperdulikan para tamu yang melihatku. Seakan tau aku berusaha mencegahnya ia pun melajukan jalannya. Aku sangat terkejut melihat benda yang ada ditangannya. Itu pisau sangat tajam. Tanpa pikir panjang aku langsung memeluk punggung Dokter kang "chagiiaaa... akkhhh" teriakku bersamaan dengan tertusuknya pisau dibagian pinggangku. Rasanya sangat sakit sehingga aku hanya bisa mendengar secara samar pekik an dari orang orang sekelilingku tak beberapa lama aku pun tidak tau apa apa lagi.
Author POV
"Jika aku tak bisa mendapatkan mu! Maka Jalang itu juga tidak bisa mendapatkanmu!!!" Gumam Yee Rim disudut gedung itu. Ya ia sedang menyaksikan acara lamaran Alena dan juga Dokter kang.
Ia menggenggam pisau yang sangat tajam ditangan kanannya. Setelah puas menatap, kini saatnya ia beraksi. Ia memakai topi untuk mengelabui orang orang dan tak lupa pula ia meletakkan pisau itu didalam tasnya.
Semakin lama ia berjalan mendekati dokter kang, namun Yee Rim merasa kesal karna Alena memperhatikannya dan akan berusaha mengacaukan rencananya "dasar jalang!!"gumamnya langsung mempercepat jalannya.
Hitungan detik ia akan menusuk punggung dokter kang, begitu juga dengan Alena yang segera memeluk dokter kang sambil berteriak "chagiaa..akkh" dan hasil ia lah yang terkena tusukan.
Semuanya berteriak melihat kejadian itu, dengan cepat pihak keamanan pun langsung menangkap yee rim untuk diamankan.
Sedangkan Alena sudah tersungkur dilantai dengan lumuran darah dipinggangnya "chagiaaa...." teriak dokter kang yang langsung membawa Alena kepelukannya.
__ADS_1
Ia dengan sigap melakukan pertolongan pertama terlebih dahulu. Dengan mata yang sudah mengeluarkan butiran air "kenapa kau lakukan ini sayang" gumamnya sambil membalut luka dengan dasinya itu agar mengurangi darah yang keluar.
Berbeda dengan Dinda orang tuanya Alena yang langsung pingsan tak sadarkan diri melihat putrinya tergeletak tak berdaya.
Eyang yang langsung dibawa oleh sinta pun tak sanggup untuk berjalan lagi. Keadaan semua disana sangat kacau dan berantakan.
Begitu pula dengan Aiko dan Lee mii ra yang tak hentinya menangis yang lemas dan duduk dilantai.
Setelah menghentikan darahnya, kini Dokter kang langsung membopong Alena kedalam mobil.
"Saya akan ikut" ujar Wijaya kepada Dokter kang.
"Pa biar saya saja yang membawa Al kerumah sakit, papa jaga lah mama terlebih dahulu" jawab nya tergesa gesa
Wijaya pun mengangguk dan kembali kedalam hotel. Melihat keadaan istrinya yang sedang ditangani oleh Rangga.
"Aiko pastikan darahnya tidak terlalu banyak keluar dan juga pastikan detak jantungnya masih normal" perintah dokter kang kepada Aiko
"Sebentar lagi kita akan sampai, pastikan ia tetap bernafas dengan baik" perintahnya lagi.
Setelah sampai diruang emergency, kini dokter kang sedang memeriksa Alena. Dengan air mata yang terus mengalir dipipinya dan juga mata yang memerah. Ia sangat cepat dalam menangani Alena.
Setelah detak jantung Alena normal, dokter kang sedikit lega "kita harus segera melakukan operasi karna pembuluh yang pecah mengakibatkan darah terus mengalir. Dan tolong siapkan 10 kantong plastik darah golongan B" perintah dokter kang kepada Aiko. Aku langsung mengangguk diikuti oleh perawar yoon.
Darah yang dikeluarkan oleh Alena sangatlah banyak namun syukurlah detak jantungnya masih normal. "Bertahanlah sayang" ujar dokter kang kepada Alena.
Setelah semuanya selesai, Alena pun siap untuk dioperasi.
"Apa dokter kuat? " tanya Dokter in guk sebagai rekannya melakukan setiap operasi. Dokter kang mengangguk "aku harus menyelamatkan calon istri ku dok" jawab dokter kang dengan yakinnya.
__ADS_1
Operasi pun segera dimulai, luka yang dialami oleh Alena cukup parah. Dan harus ditangani dengan sangat hati hati.
Aiko bertugas untuk memastikan detak jantung dan tekanan pada Alena stabil. Sesekali Aiko melirik kearah Alena, lagi lagi Air matanya pun tak bisa ia tahan lagi. "Dokter, tolong fokus lah" ujar perawat disamping Aiko. Aiko kembali tersadar dan segera mengangguk. "Kamu harus kuat Al"gumamnya.
Tiga jam pun sudah berlalu, kini Alena sudah selesai dioperasi. Kondisinya cukup baik dan operasi berjalan dengan lancar.
Alena dibawa kekamar VVIP dirumah sakit ini. Keluarga Alena pun sudah menunggu diluar ruangan. Semuanya sudah merasa lega karna Alena sudah berhasil menjalani operasinya.
"Maafkan Saya pa sudah gagal menjaga putri anda" ujar Bersalah Dokter kang sambil berlutut dihadapan wijaya
"Kang, kamu tidak harus seperti itu. Ini bukan salah kamu nak" ucap Dinda.
Wijaya pun membawa Dokter kang kepelukannya "ini bukan salah mu nak. Kita semua tau Bahwa putri ku itu tak pernah memikirkan dirinya demi menyelamatkan orang yang ia sayang" suara Wijaya terdengar parau.
"Maaf kan maafkan Saya pa" lagi lagi kalimat itu pun terdengar ditelinga wijaya.
"Kau tak bersalah, bahkan saya berterimakasih karna kamu sudah menyelamatkan putriku" jawab Wijaya dengan masih paraunya
Kini Dokter kang kearah Dinda, ia berlutut dikaki dinda "maafkan saya ma. Maafkan saya" ujarnya dengan kalimat yang sama
"Kamu tidak salah nak. Jangan seperti ini. Bangunlah hikss hikkss"
"Saya gagal menjaga putri mu ma. Maafkan saya"
Dinda mengangguk "tidak apa apa. Ini sebagai pelajaran untuk kita semua agar lebih berhati hati lagi dalam menjaga Alena" tenang Dinda dan diikuti oleh anggukan semua orang.
Lagi lagi ia meminta maaf kepada Eyang.
Begitupun seterusnya, dokter kang terus meminta maaf kepada keluarga Alena. Atas kelalain menurutnya yang ia perbuat.
__ADS_1
Note : terimakasih atas like dan vote nya untuk Author teman teman๐๐