
Setelah diberi penanganan, kini Alena tengah tertidur akibat obat bius yang diberi.
sebelum itu Aiko dan Lee mii ra sudah menghubungi orang tua Alena diindonesia. Mereka sangat panik ketika mendapat telfon dari teman anak nya itu.
tanpa menunggu lama mereka pun langsung terbang ke korea menggunakan jet pribadinya.
**
"Sayangg, kamu baik baik sajaa" ujar Dinda yang tengah mencium putrinya itu.
"Eomma Alena baik baik saja. Ia hanya tertidur akibat obat bius" jawab Aiko.
Dinda pun mengangguk paham, Aiko sudah menceritakan semuanya kepada Dinda.
Dinda sangat Akrab dengan Aiko dan Mii ra, karna Alena sudah mengenalkan mereka berdua. Dinda sangat bersyukur karna Alena sudah mulai membuka hati dan juga sudah sedikit demi sedikit berubah seperti dulu.
Sementara itu Wijaya dan Dr kang sedang berbincang bincang membahas tentang kondisi Alena. Kondisi Alena tidak lah parah hanya saja beling kaca dan trolley yang menimpa punggungnya mengakibatkan ia agak susah bernafas sebentar.
"Apa putriku baik baik saja dokter?" Tanya Wijaya kepada Dr kang
Dr kang tersenyum "tuan tidak perlu khawatir, Alena sudah membaik dan lukanya tidak terlalu parah" jelasnya
"Putri ku itu selalu seperti itu, ia selalu mengorbankan dirinya untuk orang lain" wijaya mulai bercerita. Dokter kang hanya mendengar tanpa bersuara.
"Ia selalu melindungi orang orang disekelilingnya. Dulu sewaktu dia kecil, ia selalu melindungi kembarannya. Ia rela dihukum oleh gurunya hanya karna melindungi kembarannya agar tak mendapatkan hukuman. Bahkan ia rela membersihkan toilet demi kembarannya" sambungnya mengingat Alena kecil sambil tersenyum kecut
Dokter kang tersenyum "anda benar Tuan, Putri Anda sangatlah baik hati" ujarnya menanggapi cerita dari wijaya
Wijaya tersenyum "Ia sangat pintar dan penurut. Walaupun sedikit keras kepala. Bahkan disaat kembarannya menghembuskan nafas terakhirnya, Ia rela jika ia dipanggil Dengan nama Alexa agar mama nya tidak sedih. Ia selalu menahan dirinya agar tetap kuat. Selalu mengerti keadaan kami walaupun sebenarnya keadaannya lah yang harus dipahami. Ia selalu menutupi lukanya demi melihat orang bahagia" ujarnya lagi.
"Terimakasih sudah membuat putriku kembali seperti dulu walaupun belum sepenuhnya, setidaknya ia sudah membuka hatinya kepada mu dokter" sambungnya dan lantas membuat dokter kang sangat terkejut
"Maaf Tuan, saya bukan bermaksud lancang mendekati putri anda" ujarnya tak enak hati
Wijaya tersenyum "saya sudah tau semuanya, jika kau menyukai putriku maka berjuanglah untuk meyakinkannya dan jangan pernah mengecewakannya karna seperti sebelumnya ia pernah sangat hancur kehilangan calon suaminya. Saya tidak melarang Anda untuk mendekati putri saya. Namun yang perlu anda ketahui kami seorang Muslim. Jika anda keberatan dengan itu, Anda sebaiknya tidak melanjutkannya" tegas Wijaya, ia tak ingin putrinya terluka lagi
__ADS_1
Mendengar penuturan dari Ayah wanita yang ia cintai seakan memberi restu, Dokter kang pun mengangguk dengan mantapnya "terimakasih telah berbicara jujur atas perasaan Anda Tuan, saya sangat bahagia mendengarnya. Saya benar benar mencintai putri Tuan dan untuk Pertimbangan Agama Tuan, saya sudah beberapa bulan ini mempelajari itu. Insha allah saya Akan mengikuti Agama keluarga Tuan" jawabnya dengan mantap sambil tersenyum
Lagi lagi wijaya tersenyum dengan keberanian pria disampingnya "saya tidak memaksa Anda untuk memuk Agama keluarga saya dokter" wijaya memperjelas maksud perkataannya tadi
"Sama sekali tidak Tuan, saya benar benar serius. Namun saya akan lebih memperdalam kajian saya, agar tidak ragu ataupun terpaksa" jawabnya
"Baiklah dokter, Alena itu putri saya satu satunya, saya titipkan kepada Anda disini tolong jaga dia ketika saya dan istri saya kembali ketanah Air" minta wijaya.
"Saya siap menjaga putri Anda Tuan" jawabnya dengan mantap.
Mereka pun kembali bercerita tentang Alena sewaktu kecil.
Wijaya sudah tau tentang dokter kang yang selalu menjaga Alena disini, ia mengetahui nya dari bodyguard yang menjaga Alena dari kejauhan. Awalnya wijaya sempat melarang, namun ia akhirnya sadar jika apa yang ia lakukan itu salah, ia tak bisa memaksa Alena lagi karna Alena sudah dewasa bahkan sudah waktunya menikah. Maka itulah ia hanya memperhatikan dari kejauhan, bahkan ia sedikit lega mendengar Dokter kang yang sudah mempelajari Agama islam. Walaupun Alena belum bercerita tentang pria yang tengah mendekatinya, Wijaya dan Dinda sudah tau jika Dokter kang itu cocok untuk Alena. Dan mereka ingin melihat putri sematawayangnya bahagia dan karna itulah ia memberikan restu kepada dokter kang.
***
Hari sudah mulai sore, namun tak membuat semangat dokter kang berkurang, ia selalu menjaga Alena, bahkan ia makan diruangan Alena. Ia tak ingin meninggalkan Alena walaupun kedua orang Tua Alena diruangan ini juga.
melihat itu Wijaya dan Dinda semakin yakin jika Pria dihadapan mereka adalah jawaban dari Allah atas doanya selama ini. Senyum pun terukir indah dikedua pipi mereka.
Aiko dan Lee mii ra sudah pergi mengerjakan pekerjaannya masing masing, karna Alena yang memintanya.
"Dokter istirahatlah, pasti dokter sangat lelah karna sedari kemarin dokter tak pulang" ujar Alena merasa kasihan kepada dokter kang
"Aku tidak apa apa, apa kamu merasakan sakit? Dimana? Disini?" Tanyanya tanpa mendengarkan ucapan Alena
"Aku sudah membaik dok, istirahatlah dan kembali bekerja. Dari semalam dokter terus disini, ingat dokter itu sangat dibutuhkan. Ayo beristirahatlah"
Mendengar ucapan Alena, dokter kang pun mengangguk "baiklah aku akan pulang untuk beristirahat, dan nanti malam aku akan berjaga disini" ujarnya sambil melirik jam dipergelangan tangannya
"Bagaimana dengan pasien yang butuh dokter?" Tanya Alena cemas
"Aku sudah meminta izin untuk cuti hari ini dan besok aku mulai bekerja lagi" jelasnya
Alena pun mengangguk "baiklah berhati hatilah"
__ADS_1
"Aku pamit dulu" pamitnya sambil membelai pucuk kepala Alena. Setelah berpamitan kepada Alena, ia juga berpamitan kepada kedua orang Tua Alena.
"Sayang" kini suara Dinda memulai pembicaraan
"Iya ma? Kenapa?" Tanya Alena memastikan
"Hmm tidak apa nak" jawabnya lagi, ia sedikit ragu untuk mengutarakan ucapannya karna ia takut membuat Putri nya tak nyaman dan marah
Alena menghembuskan nafasnya pelan, ia tau betul apa yang dimaksud dengan Mama nya itu.
"Maaa apa salah Al ingin membuka hati lagi? Apa Al tak akan kecewa lagi?" Tanyanya
Dinda tersenyum begitu juga dengan Wijaya "kamu tidak salah Nak, Mama sangat senang jika kamu ingin memulai hubungan lagi dengan pria yang baik seperti dokter kang" ujarnya
"Sayang, papa keluar dulu ya mengangkat telfon dari rekan kerja" ujar Wijaya memotong pembicaraan. Ia tau betul jika Alena masih canggung membahas tentang percintaan
"Iya Pa" jawab mereka serentak.
Setelah wijaya keluar, mereka pun langsung kembali melanjutkan pembicaraan yang sempat tertunda "Sayang, Apa boleh Mama membahas tentang hubungan kamu dan dokter kang?" Tanya Dinda memastikan kepada putrinya. Jika mengenai percintaan, Dinda harus berhati hati bicara kepada Alena agar putrinya tidak tertekan ataupun trauma yang ia alami dulu.
Alena mengangguk "Sayang, jujur mama sangat senang jika kamu ingin membuka hati kepada pria lagi. Mama sangat sedih karna hampir tujuh tahun ini kamu menutup rapat hatimu. Mama takut kamu larut dalam kesedihan dan takut akan cinta. Mama selalu memikirkan kamu Nak, jika suatu saat mama dan papa tidak ada lagi kami hanya ingin melihat putri kami menikah dan memiliki pelindung" tuturnya sambil menahan tangisnya.
"Mama sangat senang karna kamu sudah semakin membaik, Kamu tau Nak setiap malam mama berdoa agar kamu selalu sehat dan mendapatkan kebahagiaan. Mama Tau perasaan yang kamu Alami sangatlah menyakitkan, kamu harus kehilangan kembaranmu dan juga calon suamimu hikss hikss. Kamu selalu menutup diri, Namun sekarang mama tak perlu khawatir lagi karna sepertinya kamu sudah menemukan pengganti Nya" sambungnya yang tak bisa menahan tangisnya
Alena menghapus air mata dipipi cantik Mamanya yang sekarang sudah terlihat sedikit keriput karna dimakan usia "Mama tak perlu khawatir tentang Al ma, Al tau selama ini mama memendamnya sendiri. Al sudah sedikit membaik karna bantuan dari doa mama. Al saat ini hanya Ragu ma, Al tidak mau salah pilih" ujarnya
"Tidak sayang, jika kamu yakin sama Allah, insha allah kamu akan mendapat kenikmatan. Dan ingat sayang, Jika kamu mencintainya jangan terlalu berharap kepadanya tapi berharaplah kepada Allah. Mama sangat bahagia mendengar ini"
Alena tersenyum "terimakasih Ma, namun apa mama memberi restu jika Al bersama Dokter kang?" Tanyak Alena memastikan. Dengan mantap Dinda mengangguk " Mama merestui kalian sayang. Namun jika kalian ingin melanjutkannya ke yang lebih serius, satukan lah perbedaan diantara kalian" ujarnya dan Alena pun mengerti maksud dari Mama nya.
"Ia sudah lebih dahulu mempelajari Agama kita Ma, dan ia sangat bersungguh sungguh, Al awalnya sangat terkejut karna ia ingin mempelajarinya. Bahkan Ia sudah menghafal semua bacaan sholat dalam beberapa hari. Ia sedang memperdalam Al-qur'an bersama Ustad Almer. Terkadang Al melihat Air mata mengalir dipipinya ketika ia membaca tafsiran Dari AlQur'an Ma" cerita Alena
"Wah benarkah sayang? Masyaallah Nak, itu adalah hidayah dari Allah. Mama akan selalu berdoa kepada Allah untuk kebahagiaan kalian. pesan mama, hubungan tak selalu baik Nak, namun kalian harus bisa mengatasinya dengan baik dan benar" Pesan Dinda
Alena mengangguk paham. Berkat Dinda, ia sudah percaya diri dan yakin tentang perasaannya saat ini.
__ADS_1
"Yaallah, semoga ini adalah jalan terbaikmu"Batinnya.
Note : terimakasih ya teman teman atas vote dan likenya. Untuk Visual nya Author sudah membuatnya namuan Part nya tidak bisa diupdate. Dan jika kalian tidak menyukai part ini tolong tidak meninggalkan Komentar yang negatif. Love youuu💕💕