
Saat ini, mereka terduduk saling berhadapan dengan Dwi disebuah café. Bak sidang Dwi menyilangkan lengannya di dada, dengan wajah cemberut dia menatap tajam kearah Nala.
“Dwi.. jangan gitu ih liatnya, serem tauk..” rengek Nala
Lalu Dwi menatap kearah Tama. Tama hanya tersenyum sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
“Ohhmaygat… ga bisa ga bisa.. mas bule ini terlalu melelehkan hati gua..” gerutu Dwi
“Okay, jadi kalian itu sebenernya udah jadian, iya?” ucap Dwi
“Dan kalian nutupin dari gua gitu aja? Iya?” Dwi mulai dengan ceramahnya
“Dikantor kalian pura-pura gada apa-apa padahal diluaran kaya gini? Yaampuunn…” sambungnya
“Ya masa dikantor harus pegangan tangan sih Wi.. apa kata orang?” Sahut Nala
“Trus kalo gua ga mergokin kalian, sampe kapanpun kalian ga akan kasih tau gua? Okay fine!!” Dwi sok membuang mukanya.
“Kami hanya ingin professional Dwi, maaf ya jika saya belum memberi tahukan hubungan saya dengan Nala. Seharusnya saya dan Nala ajak kamu makan malam dan kasih tau apa yang terjadi.” Tama berusaha menjelaskan.
Dwi mengedip-ngedipkan matanya yang mulai teracuni oleh pesona Tama.
“Ya Tuhan.. kuatkan iman hamba… aahh sudahlah, kalo gitu nanti pasti saya tagih janjinya ya mas. Udah ah lama-lama disini bisa kekikis iman gua Nal liat cowok lu..” Dwi pun bangkit dan bergegas meninggalkan mereka
“Betewe.. selamat ya kaliaann..” Dwi pun melambaikan tangannya dibatas pintu sambil tersenyum girang.
Tama dan Nala hanya saling pandang dan tersenyum melihat kekonyolan Dwi. Mereka pun memutuskan langsung pulang dan segera memasak.
Pukul 21.00 WIB,
Tama mengantarkan Nala pulang, ia keluar dan membukakan pintu untuk kekasihnya itu.
“Aku akan sapa ayah dulu ga apa-apa kan?” ucap Tama
“iya mas, yuk masuk..” senyum Nala
Nala dan Tama menaiki tangga menuju halaman rumah yang cukup luas. Tama menatap rumah sebelah yang berada di ujung halaman.
“Itu rumah Ray, mas..” ucap Nala
Tama hanya tersenyum dan mengangguk.
“Assalamualaikum..” Nala dan Tama memasuki rumah.
Terlihat pak Wisnu sedang bermain bersama si kembar diruang keluarga
“Wa’alaikumsallam..” Jawab orang rumah
__ADS_1
“Loh ada Tama, silahkan duduk nak..” sapa pak Wisnu dengan ramah
“Terima kasih om”. Senyum Tama
Si kembar pun berlarian memeluk Nala, Dimas yang melihat Tama datang langsung ikut gabung mengobrol diruang depan, sedangkan Nala dan Sinta menyiapkan minuman dan cemilan untuk mereka.
“Jadi, go public nih Nal?”. Goda Sinta yang sedari tadi melihat adik iparnya itu tersenyum
“Ih kakak..” wajah Nala memerah
Sambil menikmati minuman dan cemilan mereka pun duduk bersama diatas karpet bulu lembut sambil mengajak main si kembar. Suly yang sangat suka terhadap Tama pun tidak ingin lepas dari pangkuan Tama.
“Om mata biru, nanti kalo suly sudah besar kita menikah ya?”. Ucapan polos Suly membuat semua orang tertawa
“Oomm Rendy… Oomm Raayy…”. Teriak Saba sambil berlari kedepan pintu melihat Ray dan Rendy yang baru datang dan akan memasuki halaman rumah Ray.
“Sabaaaa….” Teriak Ray yang berlari kecil kearah saba kemudian menggendongnya.
Suly yang melihat Ray juga langsung berlari minta di gendong oleh Ray.
“Ooohh.. jadi kalo ada om Ray, om Rendy jadi dicuekin niih.. okeeyy..” Rendy pasang muka cemberut kearah si kembar.
Sikembarpun tertawa dan beralih memeluk Rendy bersamaan. Pemandangan tersebut tidak luput dari semua orang termasuk Tama. Menyadari hal itu, Dimas menepuk pundak Tama dan tersenyum kearahnya seolah mengatakan semuanya baik-baik saja. Tama pun hanya membalas nya dengan anggukan dan senyuman.
“Ray, kapan kamu pulang?”. Pak Wisnu tampak terkejut melihat Ray berada dirumah
“Sudah empat hari Yah, maaf Ray belum sapa ayah semenjak pulang karena langsung ke Jakarta urus berkas untuk pulang ke sini”. Jelas Ray
“Jadi, Ray doang yang di elus?..” Rendy si random dan cemburuan merajuk memasang wajah melasnya
“Sini kakak aja yang elus-elus..” dimas memasang badan dan membuka tangannya kearah Rendy.
“Iihhh jijiiik kamu maaas…” Rendy pun kabur kearah pak Wisnu dan menyandarkan kepalanya dipundak lelaki paruh baya itu membuat sang ayah tertawa.
“Yaampun.. ternyata anak-anak ayah sudah besar sekarang.. tapi dua jagoan ayah masih saja manja seperti dulu.. ahahahah.” Tawa lepas pak Wisnu merangkul Ray dan Rendy dikedua sisinya.
“Oyaa.. anak ayah sekarang nambah satu”. Pak Wisnu menggenggam tangan Tama yang ada dihadapannya dan tersenyum kearahnya.
Tama terkejut dan hanya menunduk tersanjung.
Semua orang disana nampak bahagia, Rendy menatap kearah dua sahabatnya yang terlihat canggung. Ray dan Tama saling tersenyum, Nala yang melihat itu langsung menatap kearah Rendy dan dijawab anggukan oleh sahabatnya itu.
***
Keesokan paginya,
Ray yang akan kembali ke Singapura dalam dua hari sedang merapihan barang-barangnya kedalam koper.
__ADS_1
“Sudah semuanya dibawa nak?”. Bu Utari menghampiri putranya dengan membawakan susu coklat kesukaan Ray.
“Sudah bu..” jawab Ray
“Oya jangan lupa makanan yang udah ibu siapkan untuk Adel juga di bawa yaa?.” Senyum antusias ibu
“Iya bu..” Ray tersenyum melihat ibunya yang semakin tua itu.
Perlahan Ray menyandarkan kepalanya dipangkuan sang ibu.
“Ibu bahagia Ray mau menikah dengan Adel?”. Ucap Ray pelan
“Apapun keputusanmu, ibu akan selalu mendukungmu Ray..” Bu Utari mengusap kepala putra sematawayangnya itu.
“Apa kamu tidak bahagia akan menikah?”. Lanjutnya
Ray hanya diam lalu memejamkan matanya tanpa menjawab pertanyaan sang ibu.
“Nak, jika ada yang masih mengganjal di hatimu lebih baik kamu selesaikan dulu. Ibu hanya berpesan untuk kamu tidak melukai hati oranglain dan hatimu sendiri.” Pinta ibu
“Apapun keputusan Ray, pasti akan melukai salah satu diantara kami bu..” jawab Ray yang masih memejamkan matanya.
Bu Utari sangat mengenal putranya. Ia hanya berdoa yang terbaik untuk kehidupan putranya.
Sore hari,
Tama yang sedang membantu sang ayah membetulkan mesin pemotong rumput di halaman terkejut dengan teriakan Vio dari dalam rumah yang memberi tahunya jika ada telpon untuknya.
Tama bergegas mengambil ponselnya di meja makan. Namun, ia tidak mengenali nomor telpon yang menghubunginya itu.
“Hallo..” sapanya
“Hai Tam, sori ganggu.. ini gua Ray..” suara Ray disebrang sana
“Oh Ray, kenapa Ray?.” Tama cukup penasaran kenapa Ray tiba-tiba menghubunginya
“Ada yang pengen gua omongin, kalo lu ada waktu tolong temuin gua di café kopi jam 7an yaa..” ucap Ray
“Oh okay, nanti gua kesana”. Jawab Tama
“Ok thanks Tam..” Ray memutuskan sambungan telponnya.
Dilain sisi,
“Lu serius mau nemuin Tama, Ray?” Rendy yang sedang tidur dikamar Ray terbangun mendengar Ray menelpon Tama untuk bertemu.
__ADS_1
“Hmm…” Jawab Ray sambil mengecek berkas
***