Sebuah Cerita Tentang Kita Dan Rasa

Sebuah Cerita Tentang Kita Dan Rasa
#31


__ADS_3

Nala dan Ray pun kemudian terdiam dengan pikiran masing-masing


“Tolong sayangi Adel dengan tulus Ray..” Ucap Nala pelan


“Hmm…” Jawab Ray singkat


“Apa lu juga tulus sayang sama Tama?” tanya Ray menatap Nala


Nala menganggukan kepalanya kemudian tersenyum lebar


“Berusaha ikhlas dan memaafkan diri sendiri lalu belajar merasakan tulus dan hangatnya kasih sayang dia, itu hal yang buat gua makin lama semakin takut kehilangan dia..” Jawab Nala


“Kita ga bisa terus menerus hidup dalam masa lalu Ray..” lanjut Nala memegang pundak Ray


Nala pun bangun dari duduknya dan beranjak untuk kembali kekamar nya namun, langkahnya terhenti karena Ray memegang tangannya.


Nala membalikkan badannya menghadap Ray dan mendapati wajah sahabatnya sudah bercucuran air mata.


Ray perlahan mendekatkan tubuhnya pada Nala kemudian memeluk gadis yang begitu ia cintai itu. Tangis Ray sudah tidak dapat dibendung lagi. Nala hanya mengelus-elus punggung Ray dengan lembut.


“Semuanya akan baik-baik aja Ray..” Ucap Nala


Disisi lain, tidak jauh dari tempat mereka berada, Adelia menatap Ray dan Nala dari balik pepohonan, air matanya pun sudah membasahi pipi cantiknya.


Beberapa waktu yang lalu, Adelia tidak sengaja melihat Ray keluar kamar dengan wajah sendu pun dengan diam-diam mengikuti Ray dan kemudian menjadi saksi antara Ray dan Nala dimalam itu.


Hati Adelia sangat sakit namun, kenyataan bahwa Ray sangat mencintai Nala tidak akan bisa dipungkiri. Mungkin akan sangat berat baginya tapi inilah kenyataan yang sebenarnya, akan menjadi istri dari seseorang yang tidak bisa mencintainya.


 


***


Keesokan harinya,


“Duuhhh.. kok wajah pengantinnya sembab gini sih? Pasti begadang yaa?” ucap MUA yang akan merias wajah Adelia


Bu Rani yang mendengar hal itu pun langsung menghampiri anaknya itu


“Tolong ambilkan es batu yaa.. kita kompresi dulu..” ucap bu Rani pada asisten MUA


“Kamu kenapa Del? Semalam ga bisa tidur?” tanya sang ibu


“Hmmm iya bu, mungkin kena sindrom menuju halal..” tawa Adelia yang disambut tawa oleh yang lainnya juga


“Kamu tuh ada-ada aja, seharusnya kamu lebih hati-hati ini hal yang paling penting untuk calon pengantin..” ucap bu Rani


“Iya bu.. maaf yaa..” Adelia pun berusaha membujuk sang ibu


Tak lama kemudian wajah Adelia pun dikompres menggunakan es batu. Ia menatap wajahnya pada cermin dan berusaha untuk lebih tegar menghadapi hari ini.

__ADS_1


 


Sore harinya,


Pelaksanaan akad nikah Ray dan Adelia pun akan segera dimulai.


Ray sudah terduduk di kursi akad nikah bersebrangan dengan ayah Adelia.


Hari itu, wajah Ray lebih sendu dari sebelumnya.. Nala tidak pernah lupa tentang garis wajah yang menatapnya nanar.


Langkah Nala terasa berdetak lambat saat tangan Ray menyambut tangan lainnya dan mengucapkan nama wanita yang selama ini sangat mencintai laki-laki itu.


Beberapa saat kemudian, diiringi gemuruh suara bahagia semua orang yang  mengatakan “SAH”.


“Ray, ku berdoa yang terbaik untukmu..” batin Nala


Tama mengenggam tangan Nala  dengan lembut, Nala menatap tunangannya itu pun tersenyum


Adelia kemudian dengan perlahan memasuki ruangan dengan langkah anggun menggenggam tangan sang ibunda.


Wajahnya yang begitu cantik tersenyum menatap wajah suami yang kini ada dihadapannya. Ray masih terdiam dengan wajah datarnya menatap Adelia.


“Senyum dikit dong pengantin lelakinya kok tegang sekali..” goda penghulu yang disambut tawa oleh hadirin


Ray pun menoleh ke arah Nala, lalu ia menyunggingkan senyumnya dengan perlahan menatap Adelia.


Setelah beberapa prosesi akad nikah selesai. Adelia dan Ray pun kembali kekamar untuk beristirahat sebelum melanjutkan resepsi pernikahan mereka pada malam hari.


Setelah kepergian Ray, Adelia terduduk lemas dan menangis. Air matanya sudah tak bisa ia tahan lagi, rasanya sangat menyesakkan didada. Melihat bagaimana Ray begitu sedih dan sangat berat hati di prosesi akad nikah tadi membuat hati Adelia yang berusaha ia kuatkan pun runtuh begitu saja.


 


Sudah satu jam Ray meninggalkan Adelia pun kemudian kembali ke kamar. Ray melihat Adelia sudah berganti pakaian dan menghapus riasannya tertidur diatas ranjang. Ia kemudian masuk kedalam kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya.


Beberapa saat kemudian selesai mandi, Ray membaringkan tubuhnya pada sofa dan menatap Adelia yang tampak lelah.


“Maafkan aku Del..” ucap Ray pelan


Adelia berusaha menahan air matanya agar tidak jatuh dan terus memejamkan mata.


 


***


Keesokan harinya,


Pernikahan Ray selesai dilaksanakan.


Tama, Nala dan keluarganya bersiap untuk kembali pulang ke Bandung. Mereka pun berpamitan dengan keluarga Adelia di lobby hotel.

__ADS_1


“Titip jaga ibu ya Nal Tam..” Ucap Ray sambil memeluk Tama


Bu Utari saat itu akan satu mobil dengan Nala dan Tama menuju Bandung. Ray dan Adelia tidak bisa mengantarkan ibu ke Bandung karena mereka akan langsung bertugas sore harinya di rumah sakit.


Keluarga Nala kemudian berangkat pulang, sedangkan Rendy sudah kembali bertugas sejak pagi.


 


Ray, Adelia dan keluarganya kembali ke apartemen mereka, orangtua Adelia akan kembali ke Padang esok hari.


“Adel..” suara Ray menghentikan langkah Adelia yang akan masuk kedalam kamarnya.


“Ya mas?” Adelia menoleh kearah Ray


“Nanti aku antar kerumah sakit ya?” ucap Ray


“Hmm.. ga usah mas, kamu juga kan ada operasi malam ini, nanti takut telat” senyum Adel lalu meninggalkan Ray diruang tamu


Saat ini, mungkin menghindar dari Ray akan sedikit mengurangi rasa sedih di hati Adelia. Ia tidak ingin memaksakan kebersamaan mereka.


Ray terduduk sambil terus menatap pintu kamar istrinya itu. Ia sudah berjanji kepada ayah Adelia untuk menjaga putrinya namun, ia masih terus saja menyakiti Adelia secara sengaja atau pun tidak.


***


Keesokan harinya,


Nala dan Dwi sedang rapat di salah satu perusahaan yang bekerja sama dengan mereka. Sudah beberapa jam mereka membahas proyek yang akan mereka jalani pada awal tahun ini.


“Baiklah kita break makan siang dan istirahat dulu ya bapak ibu..” ucap moderator


Nala dan Dwi pun merapikan barang-barang mereka.


“Mbak Nala dan mbak Dwi apa mau makan siang bersama saya?” ucap kepala pelaksana


Nala dan Dwi hanya saling pandang


“Terima kasih pak Rega atas tawarannya..” ucap Nala tersenyum


“Dengan senang hati pak”. Sahut Dwi kemudian menyikut tangan Nala dan tersenyum lebar kearah pria muda itu


Nala yang sudah tau Dwi tidak akan menolak dan memiliki maksud terselubung hanya mengekor dengan pasrah sahabatnya itu.


“Ga boleh deh liat yang beningan dikit..” gerutu Nala dikuping Dwi


“hahaha tau aja Nal gua suka soto bening” ceplos Dwi sambil tersenyum kecut kearah Nala memperingatkan sahabatnya itu


“Kenapa?” Jawab Rega menengok kearah Dwi dan Nala yang ribut berdua dibelakang


“Hmmm… ga apa-apa pak ” jawab Dwi dan Nala sambil menggelengkan kepala mereka dan tersenyum lebar

__ADS_1


***


__ADS_2