Sebuah Cerita Tentang Kita Dan Rasa

Sebuah Cerita Tentang Kita Dan Rasa
#54


__ADS_3

Nala menatap lengan Rendy yang patah


“Lu harus diobati Ren..” tatap Nala


“Nanti, setelah gua tau kalo Tama baik-baik aja..” ucap Rendy


“Tapi gua yang ga baik-baik aja..” ucap Nala


“Lu jahat kalo sampe biarin diri lu kenapa-kenapa.. lu tau kan gua selalu butuh lu di hidup gua? Lu tau kan gua ga bisa sendirian?.. sekarang mas Tama belom bisa nemenin gua, masa lu juga mau biarin gua sendiri sih Ren?” air mata Nala menetes


“Ga gitu Nal..” Rendy menghapus air mata Nala


“Mana mungkin gua biarin cinta gua sendirian..” ucap Rendy


Nala tersenyum


“Kalo gitu, lu harus sembuh.. ayo temenin gua terus..” ucap Nala menatap Rendy


Rendy menoleh ke arah  Ray yang sedari tadi disampingnya


Ray mengangguk dan tersenyum pada Rendy


“Okay.. siapin semuanya Ray..” ucap Rendy


Orangtua Rendy langsung bersyukur. Ibu Rendy memeluk Nala dan berterima kasih.


 


“Janji ada di samping gua pas gua sadar dari operasi?” ucap Rendy pada Nala


Nala mengangguk


“Janji..” senyumnya.


 


Ray memeluk kedua sahabatnya itu dengan bahagia.


 


Kreekk..


“Nal.. Tama sudah sadar..” Dimas terengah berlari menghampiri Nala


Semua orang menoleh ke arah Dimas.


“Alhamdulillah..” ucap semua orang


“Nal.. ayo..” Ray menuntun Nala


Nala menoleh ke arah Rendy.


Rendy mengangguk dan tersenyum


“Pergilah..” ucapnya


Ray dan Dimas menuntun Nala perlahan.


 


 


Disisi lain,


Tama terbangun..


Bu Katy dan Vio sudah berada disamping Tama.


“Kakak?..” ucap Vio terkejut melihat Tama membuka matanya


“Son..” bu Katy memegangi tangan anaknya dengan bahagia


“Papa… kakak sadar..” teriak Vio memanggil pak Dany


 


Pak Dany bergegas menghampiri Tama.


“Mam.. Pa..” ucap Tama pelan


“Ya sayang.. ini mami papa..” tangis haru bu Katy


“Kenapa aku disini mam?” ucap Tama


“Tidak apa-apa son, kamu hanya mengalami sedikit kecelakaan..” ucap pak Dany menenangkan Tama


 


“Mas…” Panggil Nala dari arah pintu


Air mata Nala sudah mengalir bahagia mendekat pada suaminya.


Tama melihat Nala bingung


“Nala?..” ucap Tama


“Ya mas.. ini aku..” senyum Nala menciumi tangan Tama


Tama terkejut lalu melepaskan tangannya dari genggaman Nala

__ADS_1


 


“Mas?..” Nala heran


“Nal, kamu kenapa ada disini?” tanya Tama bingung


“Apa aku kecelakaan saat antar kamu pulang? Tapi, bukannya aku sudah mengantarmu sampai rumah?” ucap Tama yang masih kebingungan


 


Semua orang langsung terdiam mendengar keanehan sikap Tama


Ray langsung mendekat dan mengecek kondisi Tama.


 


“Heyy Tam.. coba lihat sini..” Ray mengecek kondisi Tama


“Apa yang lu inget terakhir?” tanya Ray


Tama menatap Ray sinis, dia heran kenapa dokter yang menanganinya bicara non formal padanya.


“Tam..” ucap Ray lagi


Tama terdiam mengingat apa yang terjadi


 


“Malam itu, Dikantor aku lihat Nala duduk sendirian dan bekerja sampai jam malam. Lalu aku menawarkan diri untuk mengantarnya pulang.. seingatku, aku sudah sampai ke rumah Nala dan mengantarnya dengan selamat..” ucap Tama sambil mengingat-ingat


 


Nala terkejut dengan apa yang Tama ucapkan


“Mas, itu kan kejadian satu tahun yang lalu..” ucap Nala mengejutkan semuanya


“Ya Tuhan..” bu Katy terduduk lemas di tenangkan oleh Vio


 


Ray terdiam, ia langsung tau apa yang terjadi pada Tama.


 


“Nak Ray, apa yang terjadi?” tanya pak Dany


Ray menatap kearah Nala dan Tama


 


“Kita harus melakukan CT scan.. Kemungkinan, Tama mengalami trauma dikepalanya yang mengakibatkan hilangnya memori jangka pendek..” ucap Ray perlahan


 


Semua orang terkejut dengan apa yang Ray ucapkan.


 


Nala menatap sendu suaminya.. namun, Tama menunduk dan tak berani membalas tatapan Nala.


 


***


 


Sore harinya,


Adelia menggenggam tangan Nala, ia sungguh merasa bersalah. Jika ia tidak mengadakan acara pasti semua tidak akan terjadi.


Nala bersandar di pundak Adelia sambil menunggu Tama selesai melakukan CT Scan.


 


Beberapa saat kemudian,


Tama diantarkan kembali ke kamarnya.


Ia terheran karena ada beberapa orang yang tidak ia kenali berada disana.


 


Semua orang kemudian keluar dari ruangan Tama. Ray menghampiri dan menjelaskan hasil pemeriksaannya.


“Hilangnya memori jangka pendek tidak permanen, Tama bisa mengingat dengan sendirinya. Namun, kita tidak bisa memaksakan itu.. biarkan dia perlahan mengingatnya..” Jelas Ray


 


Nala hanya menunduk mendengarkan penjelasan Ray. Ia mengusap pelan perutnya.


Bu Katy yang melihatnya langsung menghampiri Nala


 


“Sayang.. kamu harus sabar ya.. kamu harus kuat demi kalian semua..” ucapnya mengusap lembut kepala menantunya itu


Nala tersenyum tipis menatap ibu mertuanya


Semua orang merasa sedih menatap Nala.

__ADS_1


 


Dua puluh menit kemudian,


Ray mengantarkan Adelia pulang, Dimas dan ayah juga kembali ke Hotel. Orangtua Tama dan Vio pun ikut ke Hotel dan memesan kamar disana.


Ray meminta semua orang memberikan ruang untuk Nala dan Tama. Ray berharap dengan begitu, Tama akan merasa nyaman dengan Nala dan tidak lagi bersikap canggung.


 


Nala masuk kedalam ruangan, ia berjalan perlahan ke arah bangkar.


Tama terdiam menatap Nala yang semakin mendekat. Dadanya bergemuruh, ia masih belum terbiasa akan kehadiran wanita yang begitu ia sukai ada disampingnya saat ini.


 


“Mas ingin makan sesuatu?” tanya Nala pelan


Tama menoleh dengan gugup


“Tidak, terima kasih Nal..” jawabnya


Wajah Tama sudah memerah tersipu malu


 


Ada perasaan kosong di dalam hati Nala, sapaan sayang yang biasanya ia dengar kini tak ada.


 


Nala membaringkan tubuhnya pada bangkarnya. Tama yang melihat itu cukup terkejut.


“Apa kamu juga sakit Nal?” tanya Tama


Nala hanya tersenyum dan mulai memejamkan matanya.


Tama merasa khawatir dengan Nala, ia baru menyadari jika wajah Nala begitu pucat.


 


Dreett..


Tama menoleh kearah ponsel Nala yang menyala tergeletak di atas nakas yang memisahkan bangkar mereka.


Tama terdiam memperhatikan gambar pada ponsel itu. Karena penasaran, Tama mengambil ponsel tersebut.


Ia sangat terkejut melihat gambar dirinya bersama Nala menggunakan busana pengantin..


 


Draaghh…


Tama menjatuhkan ponsel itu.


Nala yang terkejut langsung bangun dan melihat apa yang terjadi.


“Mas? Kenapa?” Nala menghampiri Tama


 


Tama masih terdiam menatap layar ponsel itu, ia kemudian menatap Nala didekatnya.


“Apa kita sudah menikah?” tanya Tama pelan


Nala terkejut menatap suaminya


Tama menunjukan gambar yang berada pada ponsel Nala itu.


 


“Nal..” tanya Tama penasaran


 


Nala terdiam tidak tahu harus berkata apa. Ray memintanya tidak memaksakan Tama untuk mengingat kecuali Tama sendiri yang mengingatnya.


 


“Nal, tolong jawab aku..” mohon Tama


 


Nala menatap Tama lalu mengangguk pelan


Mata Tama terbelalak, ia begitu tak percaya.


Mana mungkin ia bisa menikahi wanita yang selama ini ia cintai diam-diam. Nala bahkan begitu sulit ia dekati selama ini.


Tama kembali mengecek layar ponsel itu, ia kembali dikejutkan dengan bulan dan tahun yang tertera disana.


 


“April 2021?” tatap Tama


“Bukannya sekarang masih maret 2020?” lanjutnya


Tama memegangi kepalanya


***

__ADS_1


__ADS_2