Sebuah Cerita Tentang Kita Dan Rasa

Sebuah Cerita Tentang Kita Dan Rasa
#36


__ADS_3

Dua hari berlalu,


Rendy termenung didalam kamarnya, rasa sesak di dada membuatnya sulit untuk fokus dalam melakukan apapun. Ini kali keduanya ia merasakan sakit patah hati, dulu Nala membuatnya enggan bersekolah hingga tiga hari dan ia pun kemudian terancam diberhentikan dari sekolah oleh ayahnya sendiri jika terus tidak ingin masuk.


“Kalo gua ga mau gawe, tar gua dipecat dong? Dulu gampang bapak gua kepsek, lah sekarang dikira bapak gua yang punya instansi?” gerutunya sambil meninju-ninju guling.


 Ia pun bergegas untuk mandi karena pagi ini baru saja pulang bertugas.


 


Bandung,


Pukul 18.30 WIB,


“Yah, tadi katanya ayah mau ke rumah pak Maman dulu?” ucap Nala melihat ayahnya dan Tama baru saja pulang dari masjid.


“Astaghfirullah, ayah lupa nak, yaudah ayah pergi dulu sebentar ya.. assalamu’alaikum”. Ayah pun berlalu


“Hati-hati Yah..” ucap Tama


“Ngobrolin apa sih mas sampe ayah kelupaan gitu?” tanya Nala


“Tadi Cuma nanyainn pembangunan dirumah aja sayang, ayah tanya sudah sampe mana..” jawab Tama


“Hmmm.. pantes, ayah kan paling semangat kalo udah ngomongin gituan”. Ucap Nala sambil menepuk keningnya


“Iya, kaya anaknya ini..” goda Tama tertawa


Tawa mereka pun terhenti karena ada taxi yang berhenti tepat didepan rumah. Nala dan Tama yang ada di halaman pun penasaran dengan siapa yang datang.


“Nalaaa…. Tamaaa….” Seseorang keluar taxi dan berlari langsung memeluk Tama dan merengek


Tama dan Nala pun terkejut dan hanya saling tatap.


“Huhuhuhu… kenapa sih Tuhan tuh ga adil banget sama gua..huhuhu..” rengeknya semakin menjadi


“Kenapa sih Ren? Sedih banget?” tanya Nala sambil mengelus-elus punggung Rendy


“Naura punya pacaaarrr…huaaaaahhk..” ucap Rendy lalu memeluk Tama kembali


Tama dan Nala pun hanya saling pandang dan mengobrol dengan kode


“Udah Ren, gapapa.. sabar yaa.. cewek kan masih banyak tar gua bantu cariin pacar deh..” ucap Tama mengelus punggung Rendy yang masih memeluknya


“Ga mau, gua kapok… Gua ga mau jatuh hati lagi nanti jatuh beneran trus patah hatinya.. huaaahhkk..” ucap Rendy terbata-bata


Rendy masih merengek-rengek dalam pelukan Tama, seolah tidak ingin berhenti


“Kakak, boleh tolong bantu ambil barang dirak atas? aku ga sampe…” ucap seseorang mangejutkan mereka


Rendy yang hafal dengan suara itu pun mengangkat wajahnya mencari asal suara


“VIOOO….” Teriaknya langsung melepaskan pelukan pada Tama


Vio yang melihat Rendy pun ikut terkejut

__ADS_1


“Nal, kok ada vio disini?” tanya Rendy pelan menatap Nala


“Gua ajak, buat makan malem bareng soalnya dia sendirian dirumah..” ucap Tama


“Kenapa ga bilang dari tadi..” bisik Rendy pada Tama


Tama pun mengerutkan keningnya


“Vio mau dibantuin apa? Ayoo abang Rendy bantuin..” senyum Rendy mengembang sambil menuntun Vio kedalam rumah dengan wajah bingung


Nala dan Tama pun bengong melihat mood sahabatnya langsung berubah 180 derajat itu


“Katanya kapok, sekarang udah ganjen lagi..” ucap Nala


 Tama pun tertawa..


 


Satu jam kemudian,


Rendy masih anteng membantu Vio menyiapkan perlengkapan makan di meja.. sambil sesekali menjahili vio dan tertawa.


“Mas, hati-hati nanti ade kita kena modus..” teriak Nala menatap Rendy sambil menuangkan air minum


Rendy pun menatap dengan tatapan sinis kearah Nala


“Tihati Ren lecet, badan abangnye gede” Goda kak Dimas


Tama pun menunjuk dua jarinya kearah mata Rendy sambil memasang wajah peringatan


Semua orang tertawa karena baru kali ini mereka bisa membalas kejahilan Rendy.


 


Beberapa saat kemudian makan malam pun berlangsung.


“Jadi, kira-kira kapan pembangunannya selesai nak?” tanya ayah pada Tama


“Sekitar satu minggu lagi Yah, hanya tinggal finishing aja..” jawab Tama


“Pembangunan apaan Tam?” Rendy pun tidak mengerti dengan yang dibicarakan


“Rumah.. lagi bangun gazebo, mushola sama tambah toilet untuk bagian luar” ucap Tama


“Loh kenapa renov?” tanya Rendy


“Kan nanti acara nikahan disana Ren, supaya nyaman dan tamu juga leluasa jadi ga harus masuk kedalem rumah..” Jelas Nala


“Ooowhh..” Rendy pun hanya mengangguk-anggukan kepalanya


 


Setelah selesai makan dan mengobrol. Mereka pun berpamitan, Rendy ikut pulang diantarkan Tama dan Vio.


“Cie dianterin calon abang ipar..” Goda kak Dimas pada Rendy

__ADS_1


“Gak!!..” jawab Nala dan Tama serentak


Rendy langsung cemberut. Vio dan kak Dimas pun tertawa.


 


***


Keesokan harinya,


 


“Nal, ini pak Rega kirim email untuk revisi..” Dwi menyodorkan laptopnya


“Lagi?..” ucap Nala terkejut


Dwi hanya mengangkat bahunya. Nala pun membaca email tersebut lalu menepuk dahinya


“Loh ini kan konsep yang awal? Katanya kemaren minta direvisi karena kurang relevan? Kok malah disuruh balik lagi pake yang ini?” ucap Nala kesal


“Tau tuh, udah pusing-pusing mikirin konsep baru, malah bolak balik” sahut Dwi


Tama yang sedang berada disekitar mereka pun mendengar Nala dan Dwi berdebat


“Dwi, Nala.. tolong ikut keruangan saya sebentar ya..” ucap Tama


Nala dan Dwi pun menunduk pasrah, dengan lemas mereka masuk keruangan Tama untuk siap dimarahi.


 


Sesampainya diruangan Tama, mereka pun duduk saling berhadapan. Tama terdiam beberapa saat membaca email yang Rega kirimkan pada Dwi.


“Kenapa bisa seperti ini? Bukannya konsep kalian sudah matang dari awal?” tanya Tama menatap Nala dan Dwi bergantian


“Betul mas, kami sudah mengirimkan konsep yang matang dan pada saat meeting pun mereka puas dan setuju. Tapi, beberapa hari kemudian, mereka meminta konsep yang baru dengan alasan seperti yang di email mas, kami langsung mengerjakan dan mengirim email kepada mereka. Tapi, setelah tiga kali revisi mereka minta konsep awal..” jelas Nala


“Tolong kirim email ke saya revisian yang kalian kasih ke mereka”. Ucap Tama


Dwi pun langsung mengirimkan pada Tama.


Tama mengecek dengan fokus, Nala dan Dwi hanya saling pandang khawatir mendapatkan omelan dari bosnya itu.


“Apanya yang salah dari ini?..” ucap Tama sambil mengecek kedua kalinya


Setelah beberapa saat,


“Dwi, tolong kirim email kepada mereka, minta untuk alasan yang jelas dan detail kenapa kita harus sampai merevisi tiga kali seperti ini. Kalo mereka tidak bisa memberikan alasan yang memuaskan untuk kita, kita cari perusahaan lain..” ucap Tama serius


“Tapi mas, ga mungkin kita cari perusahaan lain sedangkan waktu kita sudah deadline”. Ucap Nala bingung


“Justru kita yang harusnya komplain ke mereka, kita loh yang akan menggunakan jasa mereka bukan sebaliknya. Kenapa jadi kita yang harus menyesuaikan dengan kemauan mereka?. Masih banyak yang mau kerja sama dengan kita Nal, kalian ga usah khawatir, nanti saya bantu..” jawab Tama pada Nala dan Dwi


Nala dan Dwi pun kemudian keluar ruangan Tama dengan lemas. Mereka lalu mengerjakan apa yang Tama minta.


Tama terdiam melihat Nala terduduk lemas dan memegang kepalanya. Ia tau jika ini hanya permainan Rega.

__ADS_1


“Kekanak-kanakan sekali dia..” ucap Tama sambil mengepalkan tangannya


***


__ADS_2