Sebuah Cerita Tentang Kita Dan Rasa

Sebuah Cerita Tentang Kita Dan Rasa
#41


__ADS_3

Sore harinya,


Adelia kini sudah dipindahkan ke ruang rawat inap setelah melakukan beberapa proses pemeriksaan. Wajahnya sudah mulai menghangat. Ray tertunduk sambil terus berdoa.


Ray melihat tas Adelia yang terjatuh kemudian mengambilnya dan memasukan beberapa barang yang keluar. Ray terdiam memegang beberapa obat dan vitamin ibu hamil yang bahkan belum diminum oleh istrinya. Tangis Ray kembali pecah membayangkan bagaimana Adelia merasa sendirian saat dirinya bahkan membutuhkan suaminya. Ray begitu sangat menyesal.


 


“Mas Ray..” ucap Adelia pelan


Ray seketika menatap Adelia


“Sayang..” ucap Ray sambil mengecek gerakan bola mata Adelia yang masih lemah


“Sayang.. kamu denger aku?” tanya Ray


Perlahan, Adelia membuka matanya. Ia mengedarkan pandangan dan menatap Ray yang berada dihadapannya


“Mas..” ucap Adelia pelan


“Ya sayang.. aku disini” ucap Ray mencium tangan Adelia


Adelia meringis merasakan perutnya yang sakit


Ray yang melihat itu langsung menghubungi Alma.


Tak lama kemudian Alma datang dengan seorang suster. Ia menghampiri Adelia dan mengecek keadaannya.


Alma meminta suster memasukan obat pada infusan Adelia dan meresepkan beberapa obat yang harus diminum.


“Syukurlah pasien sudah melewati masa kritis, kondisinya mulai stabil, tapi harus masih harus dipantau.” Ucap Alma kemudian pamit


Adelia mengusap perutnya, air matanya tumpah


“Bayiku..” Adelia menangis dalam pelukan Ray


“Tolong selamatkan Bayiku mas..” ucap Adelia


Ray hanya bisa memeluk istrinya itu dengan erat dan memohon ampun. Ia sangat berdosa kepada istrinya. Disaat Adelia membutuhkannya, ia malah pergi menjauh dan bersikap jahat.


“Maafkan aku sayang, maafkan aku..” ucap Ray


 


 


Malam harinya,


Ray pulang ke apartemen untuk mengambil beberapa keperluannya dan Adelia selama dirumah sakit.


Adelia masih terdiam mengusap-usap perutnya. Kondisinya saat ini lebih baik dan perutnya sudah tidak sering terasa sakit. Adelia mengambil ponselnya dan berusaha menghubungi seseorang.


“Hallo..” ucapnya pelan


“Adel?.. kamu kenapa kok suaranya lemes gitu?” tanyanya


Adelia terisak


“Del, jawab aku, kamu kenapa?” tanya nya lebih khawatir


“Nal… Bayiku nal..” ucap Adelia masih dalam tangisnya

__ADS_1


“Bayi?..” Nala terbangun dari duduknya


“Aku ga mau kehilangan Bayiku Nal..” Adelia tergugu


Nala terdiam mencerna ucapan Adelia. Tama yang melihat wajah Nala memucat dan tangan bergetar langsung menghampiri Nala.


“Sayang, ada apa?” tanya Tama berbisik


Nala menatap Tama dengan wajah syok sambil terus mendengarkan penjelasan Adelia di telepon. Air mata Nala sudah bercucuran.


Ayah dan kak Dimas yang berada disana pun menatap Nala dengan khawatir.


“Bisa tolong antarkan ibu kesini Nal? Aku butuh ibu..” ucap Adelia pelan


Ray yang baru tiba mendengar Adelia sedang menelepon langsung mengampirinya. Adelia memberikan ponselnya pada Ray.


“Hallo Nal..” ucap Ray


“Ray ada apa sebenernya? Adel kenapa?” suara Nala sudah mulai panik


“Tolong kami Nal..” ucap Ray pelan


Nala langsung menutup telponnya.


“Kita harus ke Jakarta sekarang mas.. aku ke ibu dulu..” ucap Nala kemudian ia berlari menuju rumah Ray


Tama mengejar Nala dan berusaha menenangkannya


Sesampainya di rumah Ray, Nala yang biasanya ceria memanggil ibu kini menghapus air matanya sebelum membuka pintu, dengan tangan bergetar ia berusaha menguasai dirinya.


Ibu yang senang dengan kehadiran Nala dan Tama pun tersenyum


“Nal, ibu baru aja selesai bikin kue ini, baru mau panggil kamu eh udah kesini aja..” ibu tersenyum


“Bu, kita duduk sebentar ya disana..” Tama menuntun ibu dan Nala duduk di kursi makan


Ibu yang heran melihat Nala terdiam dengan mata merah pun merasa tidak enak hati. Nala meraih tangan ibu dan menggenggam nya erat.


“Bu.. malam ini, ibu ikut Nala dan mas Tama ke Jakarta yaa?..” suara Nala tercekik


Ibu mengerutkan dahinya menatap Nala tidak mengerti


“Adelia saat ini sedang sakit, Adelia bilang ke Nala kalo dia butuh ibu sekarang. Adelia pengen ibu ada disana..” ucap Nala perlahan


“Adelia sakit? Sakit apa nak? Kenapa Ray tidak telpon ibu?” wajah ibu langsung berubah panik


Nala tertunduk dan berusaha mengatur napasnya


“Adelia saat ini sedang mengandung, tapi kondisi kehamilannya sangat lemah. Adelia sudah dua kali mengalami pendarahan bu..” jelas Nala


Ibu yang seorang bidan sangat mengetahui kondisi apa yang menantunya itu hadapi. Ibu memegangi dadanya dan merasa tubuhnya lemas. Tama berusaha memegangi ibu supaya tidak jatuh.


“Tunggu sebentar nak, ibu berkemas dan ganti baju dulu..” jawab ibu lemah


“Nala bantu ibu ya?..”


Nala dan ibu kemudian pergi ke kamar untuk bersiap-siap sedangkan Tama mengecek dan memastikan keadaan rumah aman untuk di tinggal pergi.


Sepuluh menit kemudian, Nala pulang kerumahnya untuk juga mengemas barang-barangnya. Tama menjelaskan apa yang terjadi pada ayah dan kak Dimas yang sedari tadi khawatir.


“Mas, kamu gimana? Apa sempat untuk pulang dulu ambil keperluanmu?” tanya Nala

__ADS_1


“Itu gampang Nal, aku bisa beli disana..” jawab Tama


“Nal, kabari ayah dan kakak ya nanti..” ayah memegangi tangan Nala


“Iya Yah, Nala pergi dulu ya Yah..” ucap Nala yang dibalas anggukan khawatir ayah dan kak Dimas


Tama langsung menyiapkan mobilnya, Nala menuntun ibu masuk kedalam mobil dan mereka pun berangkat.


 


***


Jakarta,


Rendy yang mendapatkan kabar dari Tama langsung bergegas ke rumah sakit. ia menuju meja informasi menanyai kamar rawat Adelia.


“Adelia Praratya..” ucap Rendy


“Dikamar VIP 203, pak..” jawab petugas sambil menunjuk arah


Rendy berlari kecil menuju kamar tersebut


 


Tok..Tok..Tok..


Ray menoleh kearah pintu, ia mendapati Rendy berdiri diambang pintu dengan wajah khawatirnya. Ray mendekati Rendy dan langsung memeluk sahabatnya itu.


“Gimana kondisinya sekarang?” tanya Rendy pelan sambil menatap Adelia yang sedang tertidur


Ray hanya menggelengkan kepalanya pelan, air matanya berlinang menyesali apa yang terjadi. Hati Rendy sungguh sakit melihat sahabatnya itu, ia mengusap punggung Ray.


“Sabar Ray, Allah akan menjaga Adel dan anak kalian..” ucap Rendy


Ray menatap Adelia dengan tatapan kosong.


 


 


Dua jam kemudian,


Nala, Tama dan ibu sampai dirumah sakit. Tama menuntun ibu pelan menuju ruangan Adelia.


“Assalamualaikum..” salam ibu


“Wa’alaikumsallam” jawab Ray dan Rendy menatap kehadiran mereka


Ray yang melihat ibu langsung memeluknya dengan erat, ia menangis menumpahkan semua sesak di dadanya.


Nala mendekati Adelia yang tertidur, ia mengusap wajah Adelia dengan lembut. Air matanya juga tak bisa ia bendung lagi.


“Adelia sudah melewati masa kritisnya, dokter bilang Adelia dan janinnya sangat kuat. Tapi kondisi Adel masih tidak bisa diprediksi..” ucap Ray pelan


Perlahan Adelia membuka matanya. Senyumnya mengembang melihat Nala berada dihadapannya. Nala memeluk Adelia dengan lembut.


Ibu mendekati Adelia dan bergantian memeluk menantunya itu.


“Makasih ibu sudah mau datang..” ucap Adelia pelan


Ibu hanya mengangguk sambil terus memeluk Adelia.

__ADS_1


 


***


__ADS_2