
Nala cukup bingung namun tidak ambil pusing, dia langsung menuju kamar mandi untuk membersihkan badan dan berganti pakaian.
Sedangkan, Tama berlari dari lantai dua kamarnya sambil berusaha memakai sweater oversize berbahan rajut dan menggigit kunci mobilnya.
“Kak mau kemana jam segini?”. Sang ayah yang sedang mengambil air minum di dapur terkejut melihat putranya berlari terburu-buru.
“eh papa, hehe keluar bentar pa.. serius sebentar doang yaa..” jawab Tama sambil bergegas
“Hati-hati kak” Teriak sang ayah
“Okay pa.. love youuu…” Teriak Tama sambil menutup pintu. Pak Dani hanya menggeleng melihat kelakuan putranya itu dan kembali ke kamar untuk beristirahat.
Setelah 15 menit Nala selesai dan bersiap untuk istirahat, ia mengecek ponselnya tapi, tidak ada pesan atau pun telpon balik dari Tama. Sesaat setelah ia membaringkan tubuhnya di kasur, ponselnya berdering.
“Mas Tama..” senyumnya
“Hallo mas, kok tadi mati vc nya?” Tanya Nala
“Hai sayang..” Tama terengah berusaha mengatur nafasnya
“Nal, aku dihalaman rumah kamu sekarang..” lanjutnya
Nala yang terkejut langsung membuka jendelanya dan melihat Tama berada disana sambil tersenyum melambaikan tangan. Nala pun langsung berlari kecil keluar rumah.
“Mas, kok kesini?” ucap Nala terengah
Bukannya menjawab pertanyaan Nala, Tama hanya berjalan mendekati kekasihnya itu dan langsung memeluknya lembut.
“I miss you so much, sayang..” ucapnya sambil terus mengeratkan pelukan
Nala tersenyum sambil juga memeluk Tama. Kemudian Tama membuka sweater bagian depannya dan menyelimuti kekasihnya itu dengan sweater yang ia pakai.
“Hmmm.. anget banget..” sandar Nala di dada bidang Tama.
Dilain sisi,
“Ray ayoo berangkat, tar gua ketinggalan kereta..” Rendy melihat Ray mematung didepan jendela kamarnya.
“Ray.. kereta gua jam 12 loh”. Rendy yang masih saja tidak dihiraukan Ray lalu berjalan kearah sahabatnya. Rendy kemudian melihat arah kemana sahabatnya itu menatap. Disana, terdapat Nala dan Tama yang sedang tertawa sambil perpelukan. Rendy lalu menatap Ray dan menepuk bahunya.
“Gua tunggu dibawah..” ucap Rendy meninggalkan Ray sendiri. Rendy tau ini adalah saat terberat bagi Ray namun, ia tidak bisa melakukan apa-apa untuk dua sahabatnya itu.
Saat Rendy membuka pintu depan, Tama sudah berjalan kearah mobilnya sedangkan Nala sudah masuk kedalam rumah.
Ray yang masih tidak beranjak dari tempatnya hanya memandangi lampu kamar Nala yang sekarang sudah padam. Kemudian ia pergi menyusul Rendy untuk mengantarkannya ke stasiun karena Rendy akan kembali ke Jakarta.
Didalam perjalanan, Ray maupun Rendy hanya diam tanpa satu patah katapun. Rendy sesekali melirik kearah sabahatnya yang hanya fokus dengan kemudinya. Sesampainya di stasiun mereka berpelukan untuk berpisah.
“Besok hati-hati balik ke singapurnya..” ucap Rendy melepaskan pelukan
__ADS_1
“Hmmm..” senyum Ray.
***
“Selamat pagi heyyy si burung cintaa…” suara Dwi memecahkan konsentrasi Nala
“Apaan burung cinta?” Nala mendongkakan kepalanya
“Lah itu.. love bird. Berdua-duaan bermesra-mesraan, kaya lu sama ononoh tuh..” mata Dwi melotot menatap Tama diruangannya.
“Wiiiii…” Nala balik memelototi Dwi
Seperti dugaan Nala, sepanjang hari Dwi menggodanya tanpa henti hingga dirinya harus beberapa kali memelototi Dwi karena khawatir terdengar oleh karyawan yang lain.
“Kamu kenapa sayang?” Tama melihat wajah Nala yang kelelahan
“Duh mas tar aja deh ceritanya.. srius aku capeee banget hari ini, ayok kita pulang..” Nala pun membuka pintu mobil. Namun, mereka dikejutkan oleh kedatangan mobil Ray dihadapan mereka. Ray pun keluar mobil dan menatap Tama.
“Nal yuk pulang..” ucap Ray
“Ada yang pengen gua omongin” sambungnya sambil menatap Tama datar
“Apaan sih Ray? Nanti aja kalo gua udah sampe rumah..” tolak Nala
Ray kemudian menatap Tama masih dengan tatapan yang sama.
Ray kemudian menggenggam tangan Nala dan menuntunnya masuk kedalam mobil. Tama hanya menatap kepergian mereka.
Sungguh didalam hatinya memang terasa sesak namun, Tama berusaha mengerti mungkin Ray butuh waktu untuk berpamitan kepada Nala karena setelah ini mereka akan benar-benar terpisahkan dengan pernikahan Ray.
Ray melajukan mobilnya dengan cukup kencang namun masih pada batasnya.
“Ray.. ada apa sih?” Nala yang masih kebingungan menatap Ray yang terlihat datar.
Ray hanya fokus pada kemudinya dan makin melajukan mobil dengan kencang tanpa menghiraukan Nala yang sejak tadi meminta jawaban.
“Ray”
Nala terus meronta karena Ray makin menginjak pedal gas dalam hingga beberapa kali mobil yang dikendarai mereka hampir menabrak kendaraan lain dan tak sedikitpun Ray menghiraukan teriakan Nala.
“Ray stop!! Pliss!!” bentak Nala
Ray pun dengan spontan membanting stirnya dan mengerem dengan kasar ketepi jalan yang cukup sepi. Nala berteriak terkejut dan menatap Ray yang masih terdiam dan menatap kedepan jalan.
Nala mengatur nafasnya. Setelah cukup tenang, Nala menatap kearah Ray.
“Raay…” Nala mencoba melembutkan suaranya berharap Ray mau menjawabnya.
“Ayo kita nikah Nal..” Ray menatap tajam Nala dengan mata yang sudah memerah menahan tangis
__ADS_1
“Ayo kita nikah..” ulangnya
Nala hanya memandang heran dengan sikap sahabatnya itu.
“Kenapa ga jawab gua Nal?! Ayo kita nikah besok atau sekarang kalo perlu!” bentak Ray yang mengejutkan Nala
Semarah apapun Ray padanya. Namun selama ini Ray tidak pernah bersikap kasar apalagi membentaknya seperti itu. Ray mendekat dan mencengkram pundak Nala dengan kasar.
“Ray stop..” Rintih Nala kesakitan
“Jawab gua Nal!” bentaknya semakin mengeratkan cengkramannya pada Nala
“Ray.. Ray stop pliss.. sakiit..” Nala memohon dengan air mata yang sudah membasahi pipi. Nala sangat ketakutan saat ini dengan sikap Ray, dia tidak tau apa yang terjadi. Ray yang melihat Nala menangis seolah tersadarkan atas sikapnya yang sangat kasar dan menyakiti Nala seperti itu.
Ray melepaskan cengkraman tangannya pada bahu Nala.
“Pergilah Nal..” Ucapnya pelan
Nala pun langsung membuka pintu mobil dan berlari menuju taxi yang lewat dihadapannya kemudian ia pergi meninggalkan Ray. Didalam taxi Nala menangis sesegukan, ia syok dengan apa yang ia alami.
Setelah beberapa saat setelah Nala tenang, sopir pun menanyakan tujuannya kepada Nala.
Nala melihat sekeliling dan dia sudah cukup jauh dari tempatnya bersama Ray tadi berada.
“Mbak mau kemana?” ucap ulang sopir sambil melihat Nala kebingungan.
“Hmm.. maaf pak bisa jalan aja dulu nanti saya tunjukan arahnya..” jawab Nala sambil menghapus air matanya.
Beberapa menit kemudian Tama menghubungi Nala namun tidak terangkat karena tangan Nala yang gemetar. Untuk kedua kalinya Tama menghubungi Nala, dengan perlahan Nala meraih ponselnya dan menjawab telponnya.
“Mas..” Jawab Nala pelan
“Kamu dimana Nal?” suara Tama cukup panic.
“Taxi..” jawabnya
“Kasih ponselnya ke sopir” titah Tama
Nala pun memberikan ponselnya ke sopir, beberapa saat terdengar sopir memberikan lokasi mereka saat ini. Tama menyuruh sopir untuk menepikan mobil dan menunggunya datang.
Tama dengan wajah pucat langsung menginjak kencang pedal gasnya. Beberapa waktu yang lalu ia mendapatkan pesan dari Ray untuk menjemput Nala, Ray mengatakan sudah melakukan hal yang buruk kepada Nala.
10 menit kemudian mobil Tama menepi didepan taxi. Tama berlari menuju pintu penumpang dan mendapati Nala terduduk lemah dengan wajah pucat pasih, ia menuntun Nala masuk kemobilnya kemudian mengambil barang-barang Nala dan membayar taxi.
Tama menatap kekasihnya itu lalu memeluknya. Sekali lagi tangis Nala pecah dalam pelukan Tama.
“Gapapa sayang, nangis aja, gapapa..” Tama mengusap lembut punggung Nala.
***
__ADS_1