Sebuah Cerita Tentang Kita Dan Rasa

Sebuah Cerita Tentang Kita Dan Rasa
#63


__ADS_3

Tama sudah dipindahkan ke ruang rawat inap. Nala tertidur di sofa sedangkan Rendy dan Dimas pulang untuk membawa beberapa barang yang Nala dan Tama butuhkan.


 


Dreeett.. Dreeett..


 


Ponsel Nala sudah dua kali berdering namun tak terjawab karena Nala masih tertidur akibat kelelahan.


Nala membuka matanya perlahan dan mengambil ponselnya yang berdering untuk ketiga kalinya.


 


“Sayang sedang apa? Apa mami ganggu?..” suara bu Katy diseberang sana


“Mami?.. oh tidak mam, maaf aku baru jawab telponnya..” jawab Nala lemas


“Loh kenapa suaramu sangat lemas nak? Kamu baik-baik saja kan?” tanya bu Katy


“Tidak mam, aku baik-baik saja.. hanya saja..” suara Nala terhenti menatap Tama yang masih tertidur belum sadarkan diri karena obat penenang yang dokter berikan


 


“Sayang? Ada apa? Jangan buat mami khawatir..” bu Katy mulai cemas


“Aku dan mas Tama sedang berada di rumah sakit mam, mas Tama mengalami serangan panik saat naik mobil sore tadi..” ucap Nala perlahan


“Ya Tuhan.. kenapa kamu ga kasih tau mami dan papa? Tunggu mami disana ya sayang, tolong kirim mami pesan ruangan kalian.” Ucap bu Katy lalu menutup telponnya.


 


 


Disisi lain,


Bu Katy berjalan cepat menemui suaminya


“Papaa..” teriak bu Katy saat menemukan suaminya yang sedang berada di taman


“Ada apa Mi?..” pak Dany terkejut dengan teriakan istrinya


“Tama masuk rumah sakit lagi.. dia kena serangan panik, ayo kita kesana..” ucap bu Katy lalu bergegas mengambil tas nya


Pak Dany kembali terkejut dan langsung meminta sopirnya untuk menyiapkan mobil


 


“Bagaimana bisa terjadi mam?..” tanya pak Dany didalam mobil


“Tama sepertinya trauma naik mobil Pa..” ucap bu Katy


Pak Dany memegang kepalanya yang terasa pusing


“Bagaimana ini? Kenapa Tama jadi seperti ini sekarang?..” ucap pak Dany


“Apa sebaiknya kita bawa Tama berobat keluar negeri Pa? rumah sakit adikku sangat bagus di Australia..” tanya bu Katy


Pak Dany menghembuskan nafasnya


“Tidak mungkin mam, Nala saat ini sedang mengandung.. dia juga harus bekerja, tidak mungkin kita memisahkan mereka berdua..” ucap pak Dany


Bu Katy ikut bingung dengan apa yang harus dilakukan untuk putranya itu


 


 


Lima belas menit kemudian,


Bu Katy dan Pak Dany memasuki rumah sakit, mereka sangat terlihat khawatir dengan keadaan putra mereka.


 


Tok.. Tok.. Tok..


 


Nala membukakan pintu untuk kedua mertuanya itu.


“Mam..” Nala memeluk ibu mertuanya dengan erat


“Bagaimana suamimu nak?” tanya pak Dany


“Mas harus menjalani perawatan disini beberapa hari dan akan ditangani oleh psikiatri Paa..” ucap Nala pelan

__ADS_1


“Ya Tuhanku…” bu Katy memegangi dadanya yang terasa sangat sesak


 


Mereka berjalan perlahan mendekati bangkar Tama.


“Mas diberi obat penenang agar lebih baik dan sudah tidur satu jam..” ucap Nala menatap suaminya


Bu Katy dan Pak Dany mengangguk dengan wajah sendu menatap putra mereka


 


“Bagaimana kabarmu nak?” tanya pak Dany setelah mereka duduk dan lebih tenang


“Aku baik-baik saja Paa..” senyum Nala


“Apa makanmu berselera sayang?” tanya bu Katy mengelus pundak Nala


“Iya mam, aku jarang merasa mual hanya sesekali saja..” ucap Nala


“Syukurlah.. kapan jadwal check up lagi?” tanya bu Katy


“Seharusnya besok mam, tapi aku belum dapat dokternya..” jawab Nala


“Hemmhh.. apa mau mami kenalkan dengan dokter kandungan mami sayang?” ucap bu Katy


“Dokter kandungan mami di Bandung?..” tanya Nala


“Iya, dokter yang dulu bantu Vio lahir.. kalau suamimu kan lahirnya di Australia, maklum cucu pertama jadi grandma dan grandpa inginnya mami lahiran disana..” senyum bu Katy


“Baiklah mam..” senyum lebar Nala


“Baiklah, mami akan menghubunginya ya?” ucap bu katy


Nala mengangguk dan tersenyum


 


Pak Dany dan bu Katy sangat bersyukur memiliki menantu yang sangat baik dan penuh kasih sayang seperti Nala.


 


 


Sore harinya,


Tama sudah sadarkan diri dan saat ini sedang bersama orangtuanya. Kondisi Tama sudah membaik dan sudah mulai lebih tenang.


 


“Santai aja Nal, jangan lari-larian..” teriak Rendy saat melihat Nala tergesa lari kedalam kamarnya


Nala hanya menoleh dan mengacungkan jempolnya ke arah Rendy


 


“Ini den minumnya..” sapa bi Inah memberikan segelas es kopi pada Rendy


“Wah makasih bi..” senyum Rendy


 


Rendy menatap sekeliling dan tersenyum melihat bingkai foto para sahabatnya saat pernikahan Nala dan Tama yang terpanjang di meja .


 


Empat puluh menit kemudian,


Nala dan Rendy kembali ke RS dan membawa semua kebutuhan mereka. Rendy akan stay di RS bersama Nala.


 


“Iya Ray santuy aja, doain aja Tama baik-baik aja ya..” ucap Rendy yang saat ini sedang menelpon Ray


“Akhir minggu gua pasti balik ke Bandung sama Adel, Ren..” ucap Ray


“Okay siap..” Rendy menutup teleponnya


 


 


 


Disisi lain,

__ADS_1


Jakarta


 


“Bagaimana mas?” tanya Adelia yang sedari tadi penasaran dengan kabar Tama dan Nala


“Alhamdulillah sudah membaik sayang..” senyum Ray


“Alhamdulillah.. aku packing sekarang ya mas?” ucap Adelia sambil mengambil koper disamping lemari pakaian


“Loh kan masih empat hari lagi sayang..” Ray mengerutkan keningnya


“Gapapa mas biar ga ada yang ketinggalan..” ucap Adelia


Ray hanya mengangguk dan menggaruk kepalanya sambil menatap istrinya yang begitu telaten memasukan beberapa pakaian mereka kedalam koper.


 


“Hemmmhh.. sayang, menurut kamu gimana kalo kita liburan?” tanya Ray mendudukan dirinya di kursi


“Liburan?..”Adelia menoleh kearah suaminya


“Iya.. babymoon.. kamu mau kemana?” senyum Ray


“Ih kamu, sahabatmu lagi sakit kok malah ngomongin liburan sih?” Adelia menepuk pundak suaminya


“Yaa.. kalo Tama Udah membaik, kalo Udah keluar dari RS..” ucap Ray


Adelia terdiam sejenak


 


“Kita kan ga ada honeymoon pas nikah, ya aku pengen aja gitu liburan sama kamu..” ucap Ray


“Hemmhh.. Emang mas mau liburan kemana?” tanya Adelia


“Enaknya kemana sayang?” antusias Ray


Adelia mengerutkan keningnya


 


“Terserah mas, tapi yang jelas aku ga mau ke pantai.. mas kan tau semenjak hamil aku paling ga bisa panas-panasan..” ucap Adelia


“Iya juga ya? Duh kemana ya sayang?” Ray langsung mengambil ponselnya dan mencari-cari referensi destinasi untuk liburan mereka


 


Adelia menggelengkan kepalanya dan melanjutkan kegiatannya meninggalkan Ray yang asik dengan ponselnya.


 


***


Keesokan harinya,


Bandung


 


Tama saat ini sedang melakukan pemeriksaan. Nala dan Rendy menunggu di luar ruangan dengan harapan besar akan kesembuhan Tama.


 


Tama akan melakukan Hipnoterapi. Seorang Hipnoterapis akan mengeksplorasi pikiran, perasaan atau ingatan menyakitkan yang Tama alami tetapi tersembunyi di dalam alam bawah sadar.


Tama akan dibuat rileks dan fokus sehingga terdorong untuk menceritakan ketakutan, rasa sakit atau trauma yang dialami termasuk kapan pertama kali hal itu muncul.


Hipnoterapis kemudian akan memberikan sugesti tertentu kepada Tama yang tujuannya adalah untuk merubah perilaku, kebiasaan hingga persepsi tertentu ketika menghadapi permasalahan yang menganggu Tama kala itu.


Tama akan diajari cara menghadapi hal yang ditakutkan, dikhawatirkan atau dirasakan sehingga rasa tersebut dapat berkurang bahkan sirna.


Setelah sugesti itu masuk, Hipnoterapis akan mengembalikan Tama ke alam sadar.


 


 


Empat puluh menit kemudian,


Suster memanggil Nala dan Rendy masuk ke dalam ruang terapi Tama.


Terlihat Tama dan terapis sedang duduk saling berhadapan. Tama tersenyum menatap kedatangan Nala.


 

__ADS_1


“Silahkan duduk..” sapa terapis


***


__ADS_2