
Bandung,
Sudah Dua bulan berlalu setelah kepergian Naura ke Italia,
Rendy sudah mulai menjalankan dinasnya di Bandung. Ia sangat senang karena permohonan pindah tugasnya telah disetujui.
Rendy melajukan mobilnya membelah jalanan kota kelahirannya itu dengan penuh semangat.
“Hallo Nal?..” Rendy mengangkat panggilan telpon Nala
“Lagi di jalan bukan?” tanya Nala
“Iya nih baru jalan, kenapa cinta?” tanya Rendy
“Pengen bakso..” ucap Nala
“Hah?..” Rendy langsung menepikan mobilnya
“Bakso?..” ucap Rendy lagi
“Iya pengen bakso om..” ucap ulang Nala dengan nada memelas
“Ya ampun Nal, dimana ada bakso pagi-pagi gini? Lu mah ada-ada aja.. lontong sayur aja ya?” ucap Rendy sambil celingukan melihat pedagang pinggir jalan
“Iiihh ga mau.. orang anak gua maunya bakso, cari di online gada.” Ucap Nala
“Ya iyalah ga ada, masih pada tutup oy, ngaco deh..” ucap Rendy
“Huuaaa…” Nala mulai menangis
Rendy menepuk jidatnya kebingungan.
Entah kenapa Nala baru mengalami rasa ngidam saat kandungannya sembilan bulan. Rendy selalu menjadi abang online food Nala untuk mencari apa yang Nala inginkan selama masa ngidamnya ini.
“Kenapa sayang?..” tanya Tama bingung melihat istrinya menangis sambil telpon
“Gada baksooo…” rengek Nala menatap suaminya
“Hah? Bakso?..” beo Tama
“Mana ada bakso pagi-pagi gini sayang?..” ucap Tama kembali
“Iihh kamu samanya sama Rendy..” gerutu Nala kemudian memberikan ponselnya pada Tama yang masih dengan wajah bingung.
Tama terdiam menatap kepergian istrinya yang tampak sangat kesal.
“Ren, lu apain bini gua?..” tanya Tama meneruskan panggilan
“Lah bini lu yang ngadi-ngadi..”ucap Rendy
“Haduuhh.. gimana nih orangnya nangis tuh..” Tama menggaruk-garuk kepalanya
“Iya-iya bentar gua cari dulu..” ucap Rendy lalu menutup telponnya
“Ini lakinya siapa, yang kena gua terus..” gerutu Rendy sambil melanjutkan perjalanannya mencari penjual bakso
Tama menghampiri Nala yang tampak sedih menatap danau
“Sayang..” ucap Tama pelan
Nala masih diam dan menghiraukan Tama
“Sayang jangan diemin aku dong..” bujuk Tama memeluk istrinya
“Maafin aku ya? Aku belum berani nyetir, kalo bisa aku pasti langsung carikan apapun yang kamu mau, aku jadi merasa ga berguna jadi suami..” ucap sendu Tama
“Bukan gitu..” Nala membalikan badan menghadap suaminya
“Aku ga tau kenapa tiba-tiba sedih aja..” lanjutnya
__ADS_1
Tama tersenyum dan memeluk Nala
“Hemmhh mending aku masakin yang lain gimana?” tanya Tama
“Hemmhh.. Engga deh aku mau mandi aja..” Nala berjalan masuk kedalam rumah
Tama tersenyum lalu mengikuti Nala masuk ke dalam rumah mereka.
Tama sudah sembuh dari traumanya namun ia masih belum bisa untuk menyetir mobil. Keberaniannya selalu menciut saat mulai menstarter mobil.
Nala sudah lima menit berada di dalam kamar mandi.
Tama menatap kunci mobil yang ada di atas meja, dengan ragu ia mengambil kunci itu lalu berjalan menuju garasi.
Tama membuka pintu mobil dan duduk menatap kemudi. Ia memasukan kunci dan perlahan menghidupkan starternya.
Disisi lain,
Selesai mandi, Nala pergi kedapur untuk membuat susu. Suasana hatinya sudah lebih baik dan melupakan ngidamnya.
“Bu mau makan apa?” tanya bi Inah menatap Nala mengaduk susu
“Hemmhh.. belom pengen makan bi, mau minum ini dulu aja..” seyum Nala
“Wah dede bayinya lagi gerak-gerak ya?” bi Inah mengelus perut Nala yang nampak tendangan si kecil
“Haduh aktif sekali nak..” Nala tersenyum mengusap perutnya
Nala dan bi Inah mengajak bicara sang jabang bayi dengan penuh kebahagiaan. Namun, senyum diwajah bi Inah langsung memudar saat menatap air yang mengalir di kaki Nala.
“Buu.. ini air ketuban sepertinya?..” ucap panik bi Inah
“Aduuhh..” Nala memegangi perutnya yang terasa keram.
Bi Inah langsung mendudukkan Nala di kursi dan memanggil Tama yang berada di luar
Tama yang mendengar teriakan bi Inah terkejut dan langsung mencari tau apa yang terjadi.
“Ada apa bi?..” tanya Tama melihat bi Inah berlari ke arahnya
“Ibu.. Ibu, pak.. ketubannya pecah..” ucap panik bi Inah
“Apa?..” Tama sangat terkejut
“Dimana pak Asep?” tanya Tama
“Pak Asep kan lagi service mobil ibu, pak..” ucap bi Inah
Tama tampak kebingungan karena tidak ada sopir yang akan mengantar mereka ke rumah sakit.
Tama berlari masuk kedalam rumah dan mengecek kondisi istrinya.
Nala masih duduk sambil menahan keram diperutnya.
“Sayang…” Tama menggenggam tangan istrinya
“Duh mas, sakit…” rintih Nala
“Bi tolong ambilkan koper yang isinya keperluan melahirkan, tas saya dan juga Nala di kamar..” ucap Tama
Tama segera menggendong Nala masuk kedalam mobil.
__ADS_1
Bi Inah memasukan semua barang-barang Nala dan Tama.
“Pak gimana ini? Siapa yang menyetir?” tanya bi Inah menatap Nala yang sudah bercucuran keringat
“Sudah dikunci rumah bi?” tanya Tama menghiraukan perkataan bi Inah
“Sudah pak..” jawab bi Inah
Tama bergegas masuk kedalam mobil. Ia terdiam sejenak menatap kemudi.
“Mas.. apa bisa?” tanya lemah Nala menatap suaminya
“Bismillah..” Tama menghidupkan starter dan perlahan menginjak pedal gas dan melajukan mobil
Tama berusaha fokus dan menepis rasa takutnya. Meskipun Keringat nya sudah bercucuran tapi ia tetap berusaha tenang dan mengemudikan mobil dengan cepat menuju rumah sakit.
Bi Inah terus menenangkan Nala yang nampak kesakitan namun tidak bicara apapun karena khawatir akan membuat Tama semakin cemas dan tidak fokus
Sepuluh menit kemudian,
Tama menghentikan mobilnya depan IGD. Ia langsung menggendong Nala masuk.
Beberapa perawat menuntun Tama untuk meletakan Nala pada bangkar. Perawat lainnya mengecek kondisi Nala
“Sudah berapa lama air ketubannya pecah?..” tanya perawat
“sekitar lima belas menit..” Jawab bi Inah
Perawat langsung menghubungi bagian obgyn untuk penanganan lebih lanjut.
Satu jam kemudian,
Keluarga Tama dan Nala sudah berdatangan ke rumah sakit. Mereka menunggu diluar ruangan pemeriksaan Nala.
“Bagaimana son?..” tanya bu Katy melihat Tama keluar ruangan
“Sepertinya Nala harus caesar mam.. bayi kami terlilit tali pusar..” ucap lemah Tama
“Ya Tuhan..” bu Katy dan semua orang sangat terkejut dan khawatir
“Lakukan apapun untuk keselamatan Nala dan bayinya nak..” ucap pak Wisnu
“Iya Yah.. Nala akan segera masuk ruang operasi..”
“Pa.. tolong urus kebutuhan Nala ya? Aku harus menemani Nala disana..” ucap Tama pada ayahnya
“Yaah.. jangan khawatir..” pak Dany mengusap punggung Tama
Tama bergegas kembali masuk kedalam ruangan dan semua orang menunggu dengan harap.
Nala tersenyum menatap suaminya
“Gimana sayang?” Tama menggenggam tangan Nala
“Hemmhh sakit..” tawa pelan Nala
Tama mengecup kening wanita yang sangat ia cintai itu.
“Kalo kamu mau jambak-jambak rambut aku ga apa-apa kok sayang?” ucap Tama yang membuat Nala tertawa
“Loh katanya orang-orang yang nemenin istrinya lahiran suka dijambakin sama istrinya..” senyum Tama
“Hahahah oke oke.. nanti aku jambak yang kenceng..” Nala berusaha menahan tawanya
__ADS_1
***