Sebuah Cerita Tentang Kita Dan Rasa

Sebuah Cerita Tentang Kita Dan Rasa
#52


__ADS_3

Nala menutup mulutnya saat melihat Tama terbaring di bangkar


Pakaian putih Tama berubah menjadi merah kecokelatan dipenuhi darah.


 


Perlahan, Nala jalan mendekati bangkar Tama.


 


“Mas..” ucap Nala pelan menatap Tama


Wajah Tama dipenuhi dengan lebam, kepalanya terbalut perban


 


“Gimana kondisinya Ray?” Nala berusaha menguasai dirinya


Ray terdiam menatap Tama


“Ada pendarahan di kepala, Tama harus segera di operasi malam ini juga..” ucap Ray perlahan


Nala terduduk dilantai, ia menangis sejadinya.


Ray memeluk Nala dengan erat sambil terus menenangkannya.


“Nal..” Ayah ikut menenangkan Nala


 


“Gimana kondisi Rendy?” Nala tergugu menatap Ray


“Rendy sudah sadarkan diri tapi dia masih syok. Tangan kanannya patah dan harus dioperasi juga, kita masih nunggu ayah Rendy datang untuk persetujuan tindakan..” jelas Ray


“Kakak lihat kondisi Rendy dulu..” Dimas bergegas menemui Rendy yang berada di ujung ruangan


“Ya Allah..” Nala semakin menangis


 


“Nal, aku tau ini sangat berat untukmu. Tapi, Tama sangat butuh kamu sekarang Nal..” ucap Ray menguatkan


“Tolong kuatkan diri kamu, kita harus mengurus beberapa perizinan untuk tindakan medis Tama..” Ray mengusap kepala Nala pelan.


 Nala menatap Tama dan menghapus air matanya. Ia sekuat tenaga bangun dan menguatkan dirinya.


“Apa yang harus aku lakukan Ray?” tanya Nala


“Pertama, hubungi orangtua Tama.. kamu harus berkomunikasi juga dengan mereka untuk keputusan apa yang harus diambil..” ucap Ray


“Betul nak, hubungi ibu dan ayah mertuamu..” titah ayah


Ray menuntun Nala duduk disebuah kursi.


 


Nala mengeluarkan ponselnya lalu mencoba menghubungi mertuanya.


Bu Katy dan Vio saat ini masih berada di Korea Selatan. Jadwal kepulangan mereka masih tiga hari lagi.


 


“Hallo.. Papa..” sapa Nala pelan


“Hallo nak? Ada apa sayang? Tumben sekali selarut ini telpon papa?” ucap Pak Dany di seberang sana


“Papa..” Nala terisak tak kuasa menahan tangisnya


Pak Dany yang terbaring langsung terbangun dan mendengarkan Nala


“Ada apa sayang? Kalian baik-baik aja kan?” pak Dany ikut panik mendengar tangisan Nala


“Mas Tama kecelakaan Pa.. Papa tolong segera kesini..” tangis Nala


Pak Dany terkejut dan berdiri


“Apa? Bagaimana kondisi Tama?” tanya pak Dany


“Mas Tama harus segera di operasi, ada pendarahan dikepalanya.. saat ini di RS Karya Sehat” ucap Nala


“Okay sayang, tunggu papa sebentar. Papa akan segera kesana.. kamu yang sabar ya sayang..” ucap pak Dany langsung memutus telpon Nala

__ADS_1


 


Ia langsung menghubungi seseorang


“Siapkan Helikopter, saya akan ke Jakarta sekarang juga..” ucapnya lalu menutup telpon


 


 


Dua puluh menit kemudian,


Tama dipindahkan ke ruang ICU.


Nala terus memegangi tangan suaminya dan duduk disamping Tama sambil beristighfar.


 


Ray datang menghampiri Nala


“Nal..” Ray memegang pelan pundak Nala


Nala menoleh kearah Ray


“Ada yang datang mencarimu..” Ucap Ray


Nala mengangguk pelan, ia mencium tangan Tama lalu keluar dari ruangan itu


 


Nala terdiam melihat pria seusia Dimas menunduk hormat dihadapannya. Nala menatap pria itu, wajah yang tak asing namun Nala tak yakin pernah melihatnya dimana.


“Selamat malam bu Nala, saya Ari sekretaris pak Dany. Pak Dany meminta saya datang kesini menemui bu Nala..” ucap Ari


“Dimana papa?..” tanya Nala


“Pak Dany masih dalam perjalanan bu, sekitar tiga puluh menit lagi akan sampai.. Ini kartu nama saya, jika ada hal yang harus di urus tolong katakan pada saya..” jelas Ari


“Terima kasih..” ucap Nala


Ari menunduk hormat, ia berjaga di luar ruangan untuk memudahkan Nala jika ingin minta bantuannya.


 


Ray menangkap tubuh Nala sebelum ia terjatuh ke lantai.


“Nal..” Ray terkejut karena Nala pingsan


Dimas berlari menghampiri adiknya.


“Ray, tolong panggil dokter kandungan, kakak rasa Nala saat ini sedang mengandung..” ucap Dimas mengejutkan Ray


 


Ray menggendong Nala dan membawanya ke ruangan lain.


“Sus tolong pasangkan infus..” titah Ray pada suster yang berjaga


“Baik dok..” jawab suster dan langsung menyiapkan perlengkapannya


 


 


Beberapa saat kemudian,


Pak Dany tiba dirumah sakit.


Ia bergegas menuju ruang ICU. Ari menunduk hormat dan melaporkan apa yang terjadi.


“Apa? Nala pingsan?” pak Dany terkejut


 


Pak Wisnu yang kebetulan keluar dari ruangan Tama langsung menghampiri besannya. Mereka saling berpelukan dan menguatkan.


 


“Bagaimana dengan menantuku pak?” tanya pak Dany pada ayah Nala


“Nala masih belum sadarkan diri, ia begitu syok dengan apa yang terjadi..” ucap ayah Nala

__ADS_1


“Ditambah, Nala saat ini sedang mengandung..” lanjut pak Wisnu


Pak Dany memegangi kepalanya


“Ya Tuhan…” ucapnya terkejut


 


“Masuklah terlebih dulu lihat Tama, setelah itu bapak bisa menemui Nala..” ucap pak Wisnu


Pak Dany mengangguk kemudian masuk


 


Ray yang melihat kedatangan ayah Tama langsung menghampiri


“Nak Ray, bagaimana kondisi Tama?” tanya pak Dany


Ray menjelaskan dengan rinci kondisi Tama.


 


“Karena Nala saat ini tidak memungkinkan untuk mengurus perizinan, saya harap bapak yang bisa menggantikannya..” ucap Ray


“Yaa.. tentu saja, tolong lakukan yang terbaik..” ucap pak Dany pada Ray


“Lalu bagaimana dengan menantuku?” tanya pak Dany


“Nala sangat syok, dia sudah melakukan pemeriksaan oleh dokter kandungan.. usia kandungannya tujuh minggu, alhamdulillah janinnya sehat..” Jelas Ray


“Syukurlah..” pak Dany menatap Tama


Ia menghampiri anaknya yang terbaring kaku dengan segala alat terpasang ditubuh Tama


“Kuatkan dirimu nak, istri dan anakmu menunggu..” pak Dany mengusap air matanya.


 


 


 


Dilain sisi,


Terlihat seorang pria duduk diantara gadis-gadis yang sedang menari di iringi musik yang begitu kencang.


“Jadi, mereka ga mati?” tanyanya di telpon


“Ahh sayang sekali.. tapi okelah gua lumayan puas, gua transfer sekarang duitnya, thanks atas kerja bagusnya” ucapnya mematikan telpon


Aldi tertawa puas lalu meminum alkohol yang ia pegang


“Mamp*s lu..” ucapnya sinis


 


***


Pak Dany keluar dari ruangan Tama, ia menghampiri Ari yang berjaga diluar.


“Tolong carikan tiket pesawat penerbangan tercepat untuk Katy dan Vio.. dan untuk kecelakaan ini, kamu pasti tau apa yang harus kamu lakukan..” ucapnya pada Ari


“Baik pak..” Ari menunduk hormat lalu pamit


 


Pak Dany masuk ke dalam ruang rawat Nala, ia menatap sendu anak menantunya itu.


Dimas memberikan ruang pada pak Dany untuk melihat Nala.


 


“Yang sabar sayang.. tolong jaga dirimu dan kandunganmu, Tama akan segera bangun  dan bersama kita lagi..” pak Dany kembali menangis sambil memegang tangan Nala yang terpasang infus.


 Iya menatap sendu wajah Nala yang pucat dan masih belum sadarkan diri.


 


“Permisi Pa.. Ray mengabari jika Tama akan dipindahkan ke ruang operasi sekarang..” Ucap Dimas menemui pak Dany


“Baiklah nak, tolong jaga adikmu disini.. papa akan menjaga Tama disana..” pak Dany mengelus pundak Dimas dengan lembut

__ADS_1


Dimas mengangguk dan membukakan pintu untuk ayah mertua adiknya itu.


***


__ADS_2