Sebuah Cerita Tentang Kita Dan Rasa

Sebuah Cerita Tentang Kita Dan Rasa
#45


__ADS_3

“Tidak pa.. mana mungkin Naura tinggalin papa, Naura akan ikut papa ke Solo..” air mata Naura sudah mengalir menatap ayahnya


“Papa ingin pulang kesana bukan karena supaya kamu bisa pergi, tapi ini sudah menjadi keinginan papa sebelum itu nak..” kata pak Fajar


“Pergilah nak, kejar impianmu selama ini.. Papa akan sangat menyesal jika terus menjadi alasanmu untuk bisa mengejar apa yang kamu impikan..” ucap pak Fajar pelan


“Bukan seperti itu Pa, Papa sama sekali tidak menjadi penghalang apapun. Jangan bilang seperti itu..” mohon Naura


Pak Fajar tersenyum membelai kepala putri semata wayangnya itu.


“Pergilah.. buktikan pada papa jika kamu akan selalu bahagia..” ucap tulus pak Fajar


Naura memeluk ayahnya dan menangis. Ia sangat sedih dan tak tahu harus mengambil keputusan apa. Ia tidak ingin berpisah dari ayahnya namun, ayahnya memberikan ia kesempatan untuk bisa mengejar impiannya.


 


Setelah beberapa saat, Naura masuk ke dalam kamarnya. Ia menatap kertas penawaran pekerjaan ditangannya.


“Apa yang harus aku lakukan?..” ucapnya menatap foto kedua orangtuanya pada meja


 


 


 


Keesokan harinya,


Bandung


 


Hari ini adalah hari pernikahan Nala dan Tama, kedua pengantin itu sangat bahagia menyambut hari yang begitu mereka tunggu.


MUA sedang melakukan riasan natural pada wajah cantik Nala. Akad nikah akan diselenggarakan pukul 16.00 WIB dan akan dilanjutkan resepsi pernikahan pada malam hari.


“Nal…” Rendy begitu takjub melihat Nala yang sudah selesai berhias dan menggunakan kebaya pengantinnya


Nala tersenyum memeluk sahabatnya yang baru saja sampai itu.


“Jahat, kirain ga jadi dateng..” ucap Nala


“Mana mungkin gua ga dateng.. sori gua baru bisa sampe sini..” ucap Rendy yang sedari tadi sudah terharu melihat Nala


Mata Rendy sudah diselimuti kabut tebal dan hanya menunggu air hujan deras mengalir dari sana.


“Gua tunggu diluar yaa..” ucap Rendy dengan suara serak menahan tangisnya


Nala mengangguk dan tersenyum dengan menahan harunya juga menatap Rendy


Rendy keluar dari ruangan dan menutup pintu. Sesaat kemudian, air matanya sudah tak bisa dibendung lagi. Rendy menunduk dan berusaha menguasai diri sambil menghapus air matanya. Dibalik pintu.


“Kok pilih kasih? Gua merit lu ga mewek Ren?” celetuk Ray menghampiri Rendy sambil memberikan tissue


“Aah lu emang perusak suasana..” ucap Rendy mengusap ingusnya


“Nala kan cinta pertama gua, dan dia bakal terus jadi cinta dalam hidup gua..” lanjut Rendy mengusap air matanya


“Oohh.. jadi selama ini ga move on?” goda Ray


“Aaaahh susah emang ngomong sama robot tak berhati kaya lu..” Rendy melempar tissue bekasnya pada Ray kemudian pergi keluar


“Ehh jorookk..” umpat Ray


Rendy mengacungkan jari tengahnya sambil terus berjalan.

__ADS_1


Setelah Rendy berlalu, Ray menatap pintu ruangan Nala berada. Namun, ia mengurungkan niatnya untuk masuk karena tidak ingin bernasib sama dengan Rendy. Ray pun berlalu menyusul Rendy keluar.


 


 


Pukul 16.00 WIB,


Tama sudah siap melakukan ijab khobul, ia duduk bersebrangan dengan ayah Nala. Jantung Tama berdegup begitu kencang menatap sekeliling yang sudah dipenuhi tamu undangan.


 


Beberapa saat kemudian,


“Saya terima nikah dan kawinnya Nala Qeena Ramadiansyah binti Wisnu Ramadiansyah dengan maskawin tersebut dibayar tunai..” Tama mengucapkan ijab khobul dengan satu tarikan nafas


“Bagaimana saksi?” tanya penghulu dengan menatap satu persatu saksi


“SAH” ucap tegas para saksi


“Alhamdulillah….” Seru semua hadirin


 


Setelah selesai pembacaan doa, Nala perlahan berjalan memasuki area pernikahan. Bu Utari menggenggam tangan Nala dengan air mata yang sudah mengalir.


Nala menggenggam erat tangan wanita paruh baya yang sudah ia anggap sebagai ibu kandungnya sendiri.


Sambil berurai air mata, Nala mendekati Tama yang berdiri menyambutnya.


Bu Utari menyerahkan tangan Nala pada Tama.


“Tolong jaga anak ibu nak..” ucapnya pelan mengelus pipi Tama dengan senyuman dan masih berurai air mata


“Tama janji bu..” Tama tersenyum menyambut tangan Nala


 


Rendy tidak bisa menahan air matanya, sesekali ia menghapus pipinya yang basah. Adelia juga ikut managis bahagia, sedangkan Ray tersenyum dengan mata yang berkaca-kaca menatap kedua pengantin. Adelia menggenggam erat tangan suaminya sambil tersenyum.


Hati Ray begitu bergemuruh dan dadanya pun terasa sesak. Meskipun saat ini Ray sudah mencintai Adelia namun, jauh didalam hati Ray ada satu tempat dimana Nala akan selalu berada.


Kini, Tama dan Nala sudah sah menjadi sepasang suami istri. Setelah saling memasangkan cincin, Tama membaca doa seraya mengecup lembut kening Nala.


 ***


 


Malam harinya, pesta pernikahan pun dimulai. Meskipun pesta tersebut disiapkan untuk makan malam dan hanya mengundang beberapa kerabat dan sahabat, namun suasana malam itu begitu meriah. Nala dan Tama tampak sangat serasi. Nala terlihat sangat cantik menggunakan gaun pengantinnya.



Nala dan Tama menyambut tamu undangan satu persatu.


“Heeemmhh… mas buleku kenapa kamu lebih memilih dia daripada aku..” Dwi terisak didepan Nala dan Tama


Nala dan Tama tertawa kemudian Dwi memeluk Nala dengan erat


“Selamat ya Nal, gua bener-bener bahagia banget buat kalian..” ucap Dwi bahagia


“Mas bule, segimana pun kamu sangat meluluhkan hatiku, tapi awas aja kalo berani macem-macem dan nyakitin sahabatku yang nyebelin ini ya..” Dwi memasang wajah peringatan pada Tama


“Iya iya… makasih banyak ya Wi selama ini selalu support kita..” Tawa Tama menyalami Dwi


 

__ADS_1


Makan malam dimulai dengan dipenuhi rasa bahagia, banyak doa teriring untuk Nala dan Tama.


Namun, ada satu orang yang duduk termenung di surut gazebo


“Kenapa kok duduk disini?” sapa seseorang mengejutkannya


“Eh Vio..” Rendy terbangun dari duduknya


“Bang Rendy lagi ga enak badan?” tanya Vio yang sedari tadi penasaran karena melihat Rendy tidak ceria seperti biasanya


“Hemmhh engga kok, bang Rendy baik-baik aja hehehe.. Vio Udah makan?” Rendy salah tingkah


“Udah..” senyumnya


 


“Cieeee yang lagi pedekatee..” tiba-tiba Adelia muncul dihadapan mereka


“Iihh bumil gemeess..” Vio mengelus-elus perut Adelia dengan antusias


“Huuhh… ga laki, ga bini, kerjaannya perusak suasana mulu..” gerutu Rendy


Adelia dan Vio menghiraukan Rendy karena asik membahas drama yang sedang mereka tonton. Rendy kembali duduk dan berpangku tangan menatap keramaian malam itu.


“Huuufftt.. nasib jomblo..” gerutunya


 


 


Pukul 23.00 WIB,


Nala dan Tama sudah masuk kedalam kamar mereka, pesta makan malam sudah berakhir sejak satu jam yang lalu namun, rumah baru saja benar-benar kosong ditinggalkan semua orang.


 


“Mas Udah mandi?” tanya Nala yang sedang menghapus riasannya


“Udah sayang..” senyum Tama merapikan pakaian kotornya


“Yaudah aku mandi dulu ya mas?..” senyum Nala dan bergegas masuk kedalam kamar mandi


Hari ini sangat melelahkan bagi Nala, sejak kemarin ia tidak bisa tidur dan kurang istirahat yang mengakibatkan badannya begitu letih.


Meskipun begitu Nala sangat bahagia dihari pernikahannya ini. Ia sangat bersyukur karena pernikahannya berjalan lancar tanpa hambatan apapun.


 


 


Beberapa saat kemudian,


Nala selesai dan keluar dari kamar mandi, ia melihat sekeliling namun tak menemukan Tama dikamar. Nala yang sangat letih kemudian membaringkan tubuhnya di kasur.


Kreeekkk…


Suara pintu dibuka, Tama tersenyum sambil membawa segelas coklat hangat untuk istrinya itu.


“Mas abis ngapain?” tanya Nala


“Ini bikinin kamu minuman..” Tama memberikan mug pada Nala


“Waahh.. makasih mas..” senyum Nala mengembang lalu perlahan meminum coklat panasnya


Tama duduk disamping Nala ia mengelus kepala istrinya itu dengan rasa bahagia

__ADS_1


***


__ADS_2