Sebuah Cerita Tentang Kita Dan Rasa

Sebuah Cerita Tentang Kita Dan Rasa
#51


__ADS_3

“TUNGGUUU!!!...” teriak seseorang dari arah pintu


 


Seketika semua orang menoleh ke asal suara


Rendy berjalan dengan tegap, wajahnya terlihat merah padam menatap Ray dan Adelia


“Jadi, gua Udah dilupain?” protesnya


Ray dan Adelia tersenyum canggung menatap Rendy


Tama dengan sigap menghampiri Rendy lalu menuntunnya untuk duduk


“Tar aja protesnya.. lu ngerusak suasana aja..” bisik Tama agak keras ditelinga Rendy


Rendy menatap Tama dengan sinis


“Biarin aja.. gua bales sekalian pasangan perusak suasana ini..” ucap Rendy ikut berbisik


Nala yang ikut gemas langsung menghampiri Rendy dan menjitaknya keras.


“Sini duduk” ucapnya memelototi Rendy


 


“Yuuk semuanya kita lanjutkan.. hehehe..” ucap Nala pada semua orang


Ray dan Adelia pun kemudian melanjutkan kegiatannya..


Tiga.. Dua.. Satu…


 


Duaarrr!!!


Adelia dan Ray memecahkan balon bersamaan


Seketika potongan kertas kecil berwarna biru keluar berserakan dari dalam pecahan balon tersebut


“Yeaayyyy.. It’s a Boy..!!!” sorak semua orang berbahagia


Adelia dan Ray saling berpelukan haru


Ray mencium kening istrinya itu dengan sangat bahagia.


 


Rendy berlarian menangkap potongan-potongan kertas biru itu dengan semangat


“Yeayyy ponakan gua cowokk..” teriaknya sambil berloncat-loncat


Tama dan Nala mengerutkan kening mereka menatap Rendy si random itu.


Rendy dan Ray saling berpelukan bahagia


“Yey anak gua cowok Ren..” teriak Ray


 


Keseruan mereka berlanjut hingga malam hari.


Nala dan keluarganya menginap di hotel dekat apartemen Ray. Mereka akan pulang ke Bandung esok pagi. Bu Utari juga akan pulang bersama dengan Nala, ia sudah berada di rumah anaknya cukup lama. Saat ini ada orangtua Adelia yang akan berjaga menemani anak dan menantunya disana.


 


Setelah acara selesai,


Rendy dan Tama sedang berada di Coffee shop dekat kantor Rendy. Mereka sedang membicarakan Aldi yang selama ini masih mengganggu Rendy.


“Trus gimana dia?” tanya Tama


“Gua sih santai, Cuma agak risih aja sama bocah ga jelas itu..” ucap Rendy sambil meminum kopinya


 


Dreett.. Dreett..


Rendy menatap ponselnya


“See?..” Rendy memperlihatkan ponselnya pada Tama


Terdapat nama Aldi menelpon Rendy


 


“Ada apa?” Rendy menjawab telpon Aldi dan mengaktifkan pengeras suara agar Tama bisa mendengarnya


“Eh bangs*t gua mau ketemu sama lu!” ucap Aldi di seberang sana


“Lu kalo mau ketemu gua ya sini aja samperin.. ngapain telpon-telpon? Berasa pedekate amat lu..” ucap Rendy


“Okay, posisi lu dimana?” tanya Aldi

__ADS_1


“Kopi manis.. jangan lama-lama lu, gua sibuk” ucap Rendy


Tama tertawa pelan melihat kekonyolan Rendy


Rendy mematikan telponnya lalu tertawa


“Anjir geli banget gua, jangan-jangn tuh orang homodun jadi suka sama gua, risih banget tiap hari telpon terus..” tawanya


 


Satu jam kemudian, Rendy dan Tama masih anteng menunggu kedatangan Aldi.


“Mana nih katanya mau datang?” gerutu Rendy


“Ah males banget gua, Udah ah ayo balik.. Nala Udah nyuruh gua balik kandang nih..” ucap Tama


“Iya dah..” Rendy pun bangun dari duduknya lalu mereka keluar dari café


 


Tama dan Rendy masuk kedalam mobil, mereka pergi menggunakan mobil Rendy karena mobil Tama sedang dicuci.


“Gua ikut sampe Car Wash aja Ren..” ucap Tama


“Loh jadinya diambil sekarang?” tanya Rendy


“Iya, tadi orangnya ada chat..” jawab Tama


Rendy mengangguk lalu melajukan mobilnya pelan.


 


Tiba-tiba..


 


DRUAARRGGHHHH!!!!!...


 


Mobil Rendy terbalik ditabrak kencang dari belakang oleh truk besar.


Warga yang berada disana langsung berhamburan melihat apa yang terjadi.


Jalanan yang cukup lengang membuat truk itu bisa kabur dengan mudah meskipun sudah dikejar dan diteriaki oleh beberapa warga.


 


Kondisi mobil Rendy ringsek parah.


Karena lokasi yang berdekatan dengan kantor Rendy, beberapa polisi yang berada disana pun langsung berlarian mengecek tempat kecelakaan.


 


Terlihat Rendy dan Tama tak sadarkan diri dengan darah yang membasahi tubuh mereka.


 


“Panggil ambulance..” teriak salah satu polisi yang mengenali Rendy


 


 


Dilain sisi,


Nala yang sedang bermain dengan si kembar tiba-tiba merasakan pusing di kepalanya.


“Tante kanapa?” tanya Saba yang melihat Nala memucat


Sinta yang berada disana langsung mendekat dan mengecek keadaan Nala


 


“Masih pusing nak?” tanya ayah yang dibalas anggukan Nala


“Tolong minyak angin dimeja mas..” ucap Sinta pada Dimas


Sinta mengoleskan minyak angin ditubuh Nala


 


“Sini biar aku cek..” Dimas duduk disamping Nala


“Aku bukan beruang kak..” celetuk Nala pada kakaknya


“Yeee biarpun kakak dokter hewan tetep aja kakak itu dokter..” ucap Dimas sambil mengecek kondisi adiknya


Nala tersenyum sambil memperhatikan Dimas mengecek dirinya


 


Sesaat kemudian, ekspresi wajah Dimas sulit diartikan

__ADS_1


“Kenapa kak? Bikin orang takut aja..” tanya Nala


“Nal, kamu terakhir haid kapan?” tanya Dimas


Diberikan pertanyaan seperti itu, Nala kemudian baru sadar bahwa dirinya sudah lama terlambat datang bulan.


“Oya aku telat haid kak” Nala langsung terkejut


“Apa aku hamil?” tanyanya lagi pada Dimas


Dimas tersenyum


“Lebih baik tes pakai alat tes kehamilan ya, biar lebih yakin..” senyum Dimas mengembang


Semua orang yang ada disana langsung berbahagia dan meminta Nala langsung memastikan kehamilannya itu.


 


Dreett.. Dreett…


“Ray?” Dimas mengerutkan keningnya melihat telpon dari Ray


 


“Hallo Ray..” Dimas manjawab telponnya


“Kak.. Nala sama kakak?” tanya Ray


“Iya Nala lagi sama kakak..” jawab Dimas


Nala yang namanya di sebut langsung mendekati Dimas


“Ponselnya dimana? Kenapa dari tadi orang telpon ga diangkat?” suara Ray bergetar


“Ponsel kamu mana Nal?” tanya Dimas pada Nala


Nala memberikan kode jika ponselnya tertinggal dikamarnya


 


“Ada apa Ray?” Dimas sudah membaca ada yang tidak beres


Ray menarik nafasnya dalam


“Kak jangan panik.. tolong antar Nala ke RS tempatku bekerja sekarang, Tama dan Rendy kecelakaan.. Kondisi keduanya cukup parah, Tama kritis..” ucap Ray perlahan dan jelas


Dimas langsung menatap Nala dengan wajah terkejutnya


“Okay, kami kesana sekarang..” Dimas menutup telponnya


 


Dimas terdiam sesaat menatap Nala


“Kenapa kak?” tanya Nala yang sudah tak enak hati


Dimas mendekat dan mengelus wajah adiknya itu.


“Ikut kakak yaa?..” ucap Dimas


“Kemana?” tanya Nala pelan


Dimas sungguh tak kuasa menyampaikan kabar buruk tersebut pada Nala dan keluarganya


 


“Tama dan Rendy kecelakaan..” ucap Dimas perlahan


“Astaghfirullah..” teriak semua orang


 


Nala terdiam manatap Dimas, seketika ia tak mengerti dengan apa yang Dimas sampaikan


Dimas yang melihat adiknya syok langsung memeluknya


Air mata Nala menetes begitu saja. Ia masih terdiam dalam pelukan kakaknya.


 


Sesampainya di rumah sakit,


Nala berlari mencari keberadaan Tama dan Rendy.


Tangisnya sudah tak terbendung lagi. Nala berlari sekuat tenaga dengan Dimas dan ayah dibelakangnya.


 


“Nal..” Ray menatap kedatangan Nala


Nala menutup mulutnya saat melihat Tama terbaring di bangkar


Pakaian putih Tama berubah menjadi merah kecokelatan dipenuhi darah.

__ADS_1


***


__ADS_2