Sebuah Cerita Tentang Kita Dan Rasa

Sebuah Cerita Tentang Kita Dan Rasa
#32


__ADS_3

Rega, Nala dan Dwi pun kini duduk di salah satu restoran tak jauh dari perusahaan tersebut. Setelah memesan beberapa menu, Dwi izin ke toilet sedangkan Nala duduk canggung berhadapan dengan Rega.


“Saya sudah beberapa kali mendengar tentang mbak Nala dari rekan saya..” senyum Rega


“Oya? Semoga bukan tentang hal yang buruknya ya pak?” tawa kecil Nala


“Ooh engga, engga.. bukan hal yang buruk tentunya..” sambut tawa Rega


“Saya sempat berpikir rekan kerja saya begitu berlebihan saat memuji kinerja mbak Nala. Tapi, selama meeting tadi saya baru sadar bahwa pujian yang saya dengar itu bukan hanya mitos..” senyum Rega


“Terima kasih.. Semoga saya tidak mengecewakan ya pak..” senyum Nala


Nala dan Rega kemudian terdiam beberapa saat ketika pelayan menyajikan pesanan mereka. Nala menoleh beberapa kali kearah lorong toilet tapi, Dwi masih saja tidak muncul kembali.


“Sebetulnya jika mbak Nala tidak keberatan. Jika diluar kantor seperti ini, boleh kok hanya memanggil nama saya saja. Usia kita rasanya tidak jauh..” Ucap Rega kemudian


Nala yang masih belum fokus dengan apa yang dikatakan Rega karena memikirkan Dwi yang belum juga kembali hanya tersenyum mengangguk.


“Hmm.. Pak Rega maaf sepertinya saya harus menyusul Dwi ketoilet untuk mengecek apakah dia baik-baik aja..” Nala pun langsung pergi ketoilet


Rega hanya menatap punggung Nala yang semakin menjauh darinya.


"Sial, dia cantik banget.." ucap Rega


Sesampainya di toilet, Nala mencari keberadaan sahabatnya itu. Benar saja Dwi sedang terduduk dengan wajah paniknya.


“Wi kenapa?” cemas Nala menghampiri Dwi


“Duh Nal.. tembuus..” rengek Dwi sambil memegang perutnya yang keram karena datang bulan


“Hah kok bisa? Emang ga sadar kalo hari ini mau dapet?” ucap Nala dan hanya dibalas gelengan oleh Dwi


“Nal, lu lanjutin meetingnya sama pak Rega ya? Gua izin balik duluan, ga mungkin kan gw balik lagi kesana?” ucap Dwi melas


“Okay ga apa-apa, nanti gua telpon mas Tama..” jawab Nala


Nala kemudian mengambil pembalut didalam tas nya dan memberikan pada Dwi. Nala memang selalu sedia beberapa di dalam tas. Setelah Dwi selesai bersih-bersih kemudian Nala melilitkan outer yang ia pakai di pinggang Dwi untuk menutupi noda.


“Thanks ya Nal, sori gua balik duluan..” Dwi memasang wajah sedihnya


“Ga usah mikirin gua Wi, udah sana pulang. Hati-hati yaa.. kabarin sampe rumah” cemas Nala


Nala pun segera kembali ke meja Rega karena ia tidak enak pergi terlalu lama.


“Mbak Dwi baik-baik aja?” tanya Rega ketika melihat Nala kembali sendirian


“Mohon maaf pak Rega, Dwi ada urusan mendesak jadi sepertinya saya harus melanjutkan rapat sendiri..” Jawab Nala

__ADS_1


“Oh okay, mari silahkan dimakan..” senyum Rega


Mereka pun akhirnya makan siang berdua.


Setelah selesai makan siang, mereka berjalan kembali menuju perusahaan untuk melanjutkan rapat hingga sore hari.


Nala yang tidak ada kesempatan untuk menelepon Tama pun mengirim Tama pesan terkait absennya Dwi.


 


Pukul 17.45


Nala dan Rega berjalan bersama keluar dari lift memasuki lobby setelah menyelesaikan rapatnya. Mereka sesekali masih membahas masalah proyek.


“Rega…” panggil seseorang


“Heeyy.. ya Tuhan, Tama…” Senyum Rega lebar melihat Tama disana. Mereka pun saling berpelukan sesaat dan menanyakan kabar masing-masing.


Nala terkejut melihat tunangannya berada disana.


“Tumben Tam ada kesini? Biasanya pak bos ga pernah ninggalin kantor? hahaha” tanya Rega


“Ey kan perusahaan lu partneran sama kantor gua..” jawab Tama


“Hah masa? Kantor lu yang mana? Emang udah pindah tugas?” heran Rega


“Kantor Nala?” Rega menatap Nala dan hanya dibalas anggukan oleh Nala dengan senyum canggung


“Ya ampuunn.. kok ga bilang-bilang?” tawa Rega


“Trus jangan bilang pak bos mau jemput juniornya nih?..” selidik Rega


“hahaha.. engga kok, gua kesini mau jemput tunangan gua..” jawab Tama yang tak hentinya mengejutkan Rega dan Nala.


“Tunangan?..” heran Rega


Wajah Nala yang sudah memerah menahan malu pun tertunduk


“Rega sahabatku kok sayang, ga usah sungkan..” ucap Tama sambil menarik tangan Nala lembut untuk mendekat padanya.


Seolah tidak habis Tama memberikan kejutan pada Rega, kini wanita yang membuat Rega terpikat pun Tama cap sebagai tunangannya.


Wajah Rega seketika menjadi canggung dengan kenyataan dihadapannya itu.


“Yaudah kalo gitu kita pamit ya Ga, Thanks buat hari ini..” Tama pun merangkul Rega yang masih mematung disana


Nala tersenyum juga pamit undur diri. Rega melihat Tama menggenggam tangan Nala hingga hilang dibalik pintu.

__ADS_1


Sesampainya dimobil, Nala menatap sinis kearah tunangannya itu menuntut jawaban. Tama yang merasa hidupnya sedang tidak baik-baik saja pun langsung memeluk Nala.


“Jangan judes-judes ih sayangku..” bujuk Tama


“Mas tuh apa-apaan sih? Kenapa begitu? Itu kan masih area kerjaan?” protes Nala


Tama pun hanya menggaruk kepalanya yang tidak gatal sambil cengir


“Habisnya kamu sendirian disana, kan aku jadi khawatir..” jawab Tama


“Biasanya juga aku suka sendirian kalo meeting sama klien” gerutu Nala


“Iya sih… tapi ini beda sayang..” ucap Tama


“Apanya?..” tanya Nala


“Kamu sama Rega..” ucap pelan Tama


“ya Tuhan.. kamu cemburu sama sahabatmu sendiri?” Nala memelototkan matanya


“Sayang.. aku tau Rega seperti apa, kamu liat kan gimana syok mukanya pas saat aku bilang kalo kamu tunanganku?” ucap Tama


“ya gimana ga syok, aku aja syok dengernya..” cemberut Nala


“Bukan gitu sayang.. yaudah aku minta maaf ya kalo aku keterlaluan.. aku Cuma ga mau Rega nantinya ganggu kamu..” ucapan Tama terhenti sejenak


“Sejak kami kuliah, aku selalu menganggap dia sahabatku. tapi, dia selalu menganggapku saingannya. Apapun yang aku lakukan dan dapatkan, ia akan selalu mengambil alih itu. Aku memang selalu mengalah untuknya karena aku pikir dia sahabatku. Tapi, untuk kali ini.. aku ga akan pernah mau ngalah sama dia. Aku mau dia tau bahwa kamu adalah tunanganku dan segera akan menjadi istriku..” jelas Tama sambil menggenggam tangan Nala.


Nala yang mendengar penjelasan Tama pun sedikit melunak


“Hmmm… yaudah tapi, cukup kali ini aja kamu bersikap tidak profesional kaya gitu, aku ga mau kamu ulangi dengan klien-klien kita yang lainnya..” ucap Nala yang dibalas anggukan dan senyum lebar Tama.


***


Jakarta,


Sudah enam hari pernikahan Ray dan Adelia berlalu. Kini, Adelia dan Ray sedang berkemas untuk pulang ke Bandung. Ini adalah pertama kalinya Adelia akan berkunjung ke rumah Ray.


“Sudah semua Del?..” tanya Ray melihat Adelia menarik kopernya


“Sudah mas..” senyum Adelia


“Yaudah kita berangkat sekarang ya?..” Ucap Ray sambil mengambil koper ditangan istrinya itu


Hubungan Adelia dan Ray memang masih dalam tahap pendekatan namun, komunikasi mereka cukup baik.


Ray sudah mulai terbiasa banyak bicara dan menanyakan kegiatan Adelia setiap harinya. Ray pun selalu menyempatkan untuk menelepon istrinya jika mereka sedang ada waktu luang di rumah sakit.

__ADS_1


***


__ADS_2