
Pukul 23.30 WIB,
Tama sudah masuk ke ruang operasi. Ray akan menjadi dokter bedah Tama dan memimpin tim dokter yang mengoperasi Tama malam itu.
Rendy akan menjalani operasi tangan esok hari. Saat ini, keluarga Rendy sudah datang dan menjaganya di RS.
Rendy masih saja menanyai keadaan Tama pada Dimas dan Ray. Ia sangat syok dan merasa bersalah atas apa yang terjadi.
Ray berulangkali harus menenangkan sahabatnya itu hingga ia harus terpaksa memberikan Rendy obat tidur agar Rendy lebih tenang dan bisa istrirahat.
Waktu di luar ruang operasi sudah berjalan. Tiga puluh menit sudah terlewati.
Pak Dany dan Pak Wisnu menunggu di luar ruang operasi, sedangkan Dimas menemani Nala yang masih belum sadarkan diri.
Bu Katy dan Vio sudah mengetahui apa yang terjadi pada keluarganya. Mereka akan terbang ke Jakarta pukul tiga pagi waktu Korea Selatan dan akan tiba di Jakarta pukul delapan pagi.
Pukul 01.20 WIB,
Nala terbangun, ia mengedarkan pandangannya. Dimas terduduk sambil mengaji disamping Nala.
“Kaak..” ucap Nala pelan
Dimas tersenyum menatap adiknya
“Hei jangan bangun dulu dek..” ucap Dimas membantu Nala berbaring kembali
“Mas Tama kak, aku mau liat mas Tama..” ucap Nala
“Tenang dulu ya.. Tama saat ini sedang menjalani operasi. Kita doakan agar operasi suamimu lancar..” jelas Dimas
“Apa? Aku mau kesana kak, aku mohon aku ingin menunggu mas Tama disana..” mohon Nala
“Dek.. kamu harus disini istirahat, Tama akan baik-baik saja..” Dimas menenangkan Nala
Nala menggelengkan kepalanya
“Kamu harus istirahat, kasihan anakmu..” ucap Dimas pelan
Nala terdiam menatap Dimas
“Anak?” tanya Nala
Dimas mengangguk pelan
“Kandunganmu sudah tujuh minggu..” jelas Dimas
Nala menatap perutnya yang masih rata, ia mengelus perutnya pelan. Nala terisak mengingat suaminya.
Dimas memeluk adiknya yang menangis
“Mas Tama harus kuat.. mas Tama harus tau kalo aku sedang mengandung anaknya dan ia akan segera menjadi ayah..” tangis Nala dalam pelukan Dimas.
Kini, sudah tiga jam dokter melakukan operasi pada Tama. Nala memohon kembali agar bisa menunggu Tama di luar ruang operasi.
Dimas yang tak tega pun akhirnya luluh. Ia mengantar Nala dengan menggunakan kursi roda.
“Nala..” pak Dany menghampiri menantunya
“Papa.. bagaimana mas?” tanya Nala
“Masih belum selesai, sebelum masuk tadi Ray bilang kemungkinan operasinya akan memakan waktu tiga sampai empat jam..” jelas pak Dany
Nala memandangi pintu ruangan dimana suaminya saat ini berada. Ia berdoa didalam hati meminta keselamatan untuk suaminya.
__ADS_1
“Kenapa kamu kesini nak?” tanya pak Wisnu
“Nala terus memaksa ingin kesini Yah..” ucap Dimas
“Seharusnya kamu istirahat sayang.. kamu harus sehat demi anakmu..” ucap pak Dany
Nala tersenyum menatap kedua ayahnya.
Kreeeekk…
Pintu ruang operasi terbuka, Ray dan tim dokternya keluar dari sana.
“Bagaimana kondisi mas Tama?” ucap Nala pada Ray
Ray tersenyum menatap Nala
“Alhamdulillah operasinya berjalan lancar. Kita akan lihat perkembangannya pasca operasi apakah ada kondisi lainnya, namun saat ini pasien sudah dalam kondisi stabil dan akan dipindahkan ke ruang observasi terlebih dulu..” Jalas Ray
Semua orang bersyukur mendengarnya.
“Terima kasih nak..” ucap pak Dany pada Ray dan semua tenaga medis yang membantu.
Pak Dany mengurus perawatan anak-anaknya dengan fasilitas terbaik. Ia juga memberikan hal yang sama untuk Rendy.
Suster menghampiri Nala dan mengantarnya ke ruangan yang baru.
“Tunggulah disini sebentar nak, suamimu akan segera dipindahkan juga kesini..” ucap pak Dany
Nala mengangguk pelan lalu membaringkan tubuhnya.
Selepas subuh, Dimas dan Pak Wisnu kembali ke hotel untuk beristirahat. Sedangkan pak Dany beristirahat di kamar terpisah yang ada didalam ruangan Nala dan Tama.
Tama dipindahkan ke ruang rawat inap. Nala terbangun mendengar pintu dibuka. Nala tersenyum melihat Tama, bangkar mereka bersebelahan sehingga Nala bisa tidur dengan menggenggam tangan suaminya.
“Tidurlah Nal, suamimu sudah baik-baik saja..” senyum Ray
Nala tersenyum menatap Tama
“Terima kasih Ray..” ucap Nala tulus
Ray menghampiri Nala dan mengelus kepalanya
“Kamu harus sabar, harus kuat..” ucap Ray
Nala mengangguk dan tersenyum
***
Jam tujuh pagi, Nala terbangun dari tidurnya. Ia mengecek kondisi suaminya yang masih belum sadarkan diri. Nala mengambil handuk kecil dan membasahinya, ia membersihkan perlahan wajah dan lengan Tama.
“Mas, bangunlah.. aku kangen kamu..” ucap Nala pelan menatap Tama
Nala kemudian mengingat akan Rendy, ia berjalan perlahan menuju pintu keluar.
“Nal.. mau kemana?” Ray mengejutkan Nala dibalik pintu
“Mau liat Rendy..” ucap Nala
Ray terdiam dan ragu untuk mengatakan pada Nala.
__ADS_1
“Nanti aja ya? Rendy..” ucapan Ray terhenti
“Rendy kenapa?” Nala mulai khawatir
“Ray..” Nala menggenggam tangan Ray
Ray menarik nafasnya
“Rendy masih syok, dia masih menyalahkan dirinya atas apa yang terjadi pada Tama. Dia menolak perawatan bahkan mengamuk dan mengabaikan kondisi tangannya.. semalem aku harus kasih dia obat tidur supaya dia tenang dan tidur. tapi pagi ini, Rendy mengamuk lagi..” ucap Ray perlahan
Mata Nala terbelalak, ia merasa bersalah karena tidak memperhatikan keadaan Rendy sejak semalam.
Nala berjalan kencang menuju ruangan Rendy. Ray mengejarnya.
Sesampainya didepan pintu ruangan Rendy, Nala tercengang karena mendengar keributan dari dalam.
Perlahan, Nala membuka pintu dan terkejut melihat isi ruangan yang sudah berantakan. Ibu Rendy memeluk anaknya itu supaya lebih tenang.
“Nala?..” ayah Rendy terkejut melihat Nala datang
Rendy langsung menoleh ke arah Nala dengan tatapan sendu
Nala perlahan berjalan mendekati sahabatnya itu.
“Ren..” sapa Nala pelan
Nala duduk dipinggir bangkar Rendy
Rendy terdiam menatap Nala
Nala mengusap wajah sahabatnya yang penuh lebam itu. Seketika Rendy menangis tersedu. Ia mengeluarkan semua rasa sesaknya. Rasa bersalah yang begitu besar sangat menyiksanya.
Nala memeluk Rendy dan mengusap lembut punggungnya.
“Maafin gua Nal, Maafin gua..” Rendy tergugu dalam tangisnya
Nala terus mengusap punggung Rendy. Ia menunggu sampai Rendy bisa menenangkan dirinya.
Rendy terus menangis.
Beberapa saat kemudian, Rendy melepaskan pelukan Nala.
Nala mengusap air mata sahabatnya. Ia tidak pernah melihat Rendy sehancur itu, Rendy yang selalu ceria dan selalu menjadi penguat hidupnya begitu rapuh saat ini.
Rendy akan menjadi sosok yang sangat rapuh jika ia melakukan hal buruk atau melukai orang-orang yang ia sayangi.
“Nal.. Maafin gua, Maafin gua..” ucapnya menatap Nala
Nala menggeleng pelan
“Ga ada yang salah, semua sudah takdir dari Tuhan.. Mas Tama baik-baik aja sekarang..” ucap Nala pelan
“Gimana kalo Tama ga bangun?” sendu Rendy
“Dia akan bangun, dia kuat.. Lu tau kan sebucin apa dia dan dia ga bisa tanpa gua? Dia pasti akan segera bangun dan langsung cari gua..” senyum Nala
Rendy tersenyum mendengar ucapan Nala
Nala menatap lengan Rendy yang patah
“Lu harus diobati Ren..” tatap Nala
__ADS_1
“Nanti, setelah gua tau kalo Tama baik-baik aja..” ucap Rendy
***