Sebuah Cerita Tentang Kita Dan Rasa

Sebuah Cerita Tentang Kita Dan Rasa
#35


__ADS_3

Adelia mengambil kotak kecil itu dan membukanya. Terdapat cincin wanita dan sepucuk surat.


Adelia terkejut saat membaca tulisan yang ada pada kertas itu dan membungkam mulutnya sandiri.


Sementara, Ray yang sedang memotong tanaman pagar seolah teringat sesuatu, ia pun langsung melempar gunting yang ia pegang dan berlari kearah rumahnya.


“Kenapa tuh anak?”. Ucap kak Dimas yang heran melihat tingkah Ray


Nala hanya mengangkat bahunya dan melihat Ray yang panik dan tergesa-gesa masuk rumah


Ray berlari menaiki tangga menuju kamarnya, kemudian ia membuka pintu dan mendapati Adelia sedang memegang cincin dan surat ditangannya.


Adelia menatap kedatangan Ray yang tampak panik dan terengah. Ia meletakkan cincin dan surat itu diatas meja kemudian pergi meninggalkan Ray dengan air mata yang sudah membasahi pipi cantiknya itu.


“Del…” Ray mencoba menggenggam tangan Adelia. Namun, Adelia melepaskannya dan pergi begitu saja.


Ray pun berjalan perlahan mendekati meja dan mengambil cincin dan surat itu. Ray terduduk di ujung ranjang sambil menatap dua benda yang ia pegang itu dengan wajah penuh sesal.


Sedangkan Adelia duduk dihalaman belakang. Ia membungkam mulut dan menahan isak tangisnya.


Adelia merasa dirinya begitu bodoh dan sangat naif. Berulang kali ia selalu luluh dan percaya bahwa seiring berjalannya waktu Ray akan bisa menyayanginya dengan tulus. Namun, surat yang Ray tulis menampar harapannya begitu saja.


***


Ray meremas surat yang ia genggam dan mengutuk dirinya sendiri.


Surat yang ia tulis untuk Nala, dihari dirinya menyakiti Nala. Surat yang menjelaskan bagaimana dirinya sangat terluka dan kecewa karena Nala memutuskan untuk bersama Tama. Surat yang menjelaskan bahwa sampai kapan pun dirinya tidak akan ikhlas jika harus menikahi Adelia dan akan membunuh dirinya sendiri jika pernikahan itu sungguh terjadi.


Air mata Ray menetes begitu saja. Ia menyesali apa yang ia lakukan. Ia bahkan menulis surat itu pada saat dirinya hilang akal.


Hari itu, pada saat Nala pergi menggunakan taxi, Ray pulang kerumahnya dan langsung berkemas untuk segera pergi ke Singapura. Ia lupa untuk membuang tulisan luapan hatinya dan masih tersimpan didekat cincin yang ia beli untuk Nala.


Ray teringat mengenai surat itu karena melihat Nala menggunakan cincin pertunangannya dan langsung terlintas dibenaknya cincin yang ia beli untuk Nala dan surat itu masih berada di kamarnya bersama Adelia saat ini.


 


Setelah beberapa lama, Adelia pun kembali kekamar dengan wajahnya yang sembab.


“Aku ingin pulang ke Jakarta sekarang mas..” Ucap Adelia pelan tanpa melihat Ray


Adelia langsung memasukkan barang-barangnya ke koper.


“Del, tolong dengarkan penjelasanku dulu..” Ucap Ray lembut


Adelia tidak menghiraukan ucapan Ray dan terus merapikan barang-barangnya

__ADS_1


“Del.. tolong dengarkan dulu..” Ray terus berusaha memohon


“Del..”


“Mas, tolong.. aku ingin pulang..” ucap Adelia dengan berurai air mata


Sakit dan sesak di dadanya sangat menyiksa. Adelia sudah tidak dapat membendung tangisnya. Ia masuk kedalam toilet lalu menyalakan shower untuk menyamarkan suara dan menangis sepuasnya.


Ray menyadarkan kepalanya diambang pintu toilet sambil terus berusaha bicara dengan istrinya.


 


***


Bogor.


Rendy keluar toko bunga dengan wajah yang begitu berseri-seri sambil mencium buket bunga yang ia beli. Rendy tidak tau jenis bunga yang disukai Naura, ia pun memilih semua jenis bunga cantik disana.


Rendy melajukan mobilnya memasuki parkiran café milik Naura. Ia tersenyum lebar saat melihat Naura sedang menulis menu spesial hari itu pada blackboard diluar pintu.


“Naura…” Panggil Rendy sambil menutup pintu mobilnya


Naura terkejut dengan kedatangan Rendy


“Sayang, belum selesai?” tiba-tiba seorang pria datang dari balik pintu dan merangkul pundak Naura


 


Setelah beberapa lama melajukan mobilnya, Rendy membanting stirnya dan berhenti pada bahu jalan. Nafasnya terengah seolah masih mencerna apa yang terjadi.


Sungguh bukan ini yang ia bayangkan selama ini.


 


Pukul 19.45 WIB,


Jakarta,


Adelia terbaring dikamarnya. Sejak kepulangannya dari bandung siang tadi, ia belum juga mau keluar dari kamar. Air matanya sudah tidak keluar namun, luka hatinya masih begitu menganga.


Ia terdiam sambil terus menatap foto pernikahannya yang terpasang di dinding.


Tok.. Tok.. Tok..


Ray mengetuk kamar istrinya itu namun, selalu tidak mendapatkan jawaban. Ray membawa baki makanan untuk istrinya karena Adelia belum makan apapun sejak sarapan tadi pagi.

__ADS_1


Ray membuka pintu kamar perlahan, ia kemudian meletakkan makanan pada nakas. Ray duduk perlahan diujung ranjang dan melihat istrinya yang tertidur membelakanginya.


“Adel..” panggil nya pelan. Namun Adelia tetap diam


Ray pun terdiam sejenak


“Lima bulan lalu, saat terakhir kali aku pulang ke Bandung. Hari dimana orangtua kita menentukan tanggal pernikahan kita. Kamu pasti tau apa yang aku rasakan saat mendengar keputusan itu. Kamu tau bahwa aku masih belum bisa menerima kenyataan bahwa aku harus bener-benar melepaskan Nala.” Ray menarik nafasnya


“Namun, Malam itu, aku melihat Nala dan Tama berpelukan dan tertawa bahagia di hadapanku”. Ucapan Ray terhenti sejenak


“Melihat orang yang aku cintai selama bertahun-tahun bahagia bersama oranglain, bukan merupakan hal yang cukup mudah bagiku. Banyak sekali angan-angan yang sudah terangkai dalam benakku”.


“Kenyataan aku harus menikah dan kenyataan bahwa dia sudah tidak mencintaiku, sangat menghancurkan aku.. lalu, aku meluapkan apa yang aku rasakan dan menggenggam cincin yang aku beli untuknya.” Tunduk Ray


“Kamu tau apa yang aku lakukan padanya?” Nafas Ray mulai sesak mengingat-ingat kejadian menyakitkan itu


“Aku menarik tangannya dari genggaman tangan Tama.. aku memaksanya masuk kedalam mobil lalu melajukan mobil itu dengan kencang. Yang ada didalam pikiranku saat itu adalah aku ingin mati bersama orang yang aku cintai..”


suara Ray sudah serak dan air matanya sudah mengalir begitu saja


Adelia perlahan bangun dengan wajah yang sudah dibahasi air mata lalu menatap Ray yang tertunduk


“Aku bahkan menyakiti fisiknya dan membentak memaksanya agar dia mau menikah denganku saat itu..” Ray memejamkan matanya


“Nala.. aku tidak akan pernah lupa dengan raut wajahnya, dia menangis dan sangat ketakutan. Dia bahkan berulang kali memohon padaku untuk melepaskannya. Tapi, aku terus menyakitinya..” Ray menangis tertunduk


Adelia memegang tangan suaminya itu. Ray menatap istrinya perlahan.


“Itu alasanku pulang mendadak ke Singapura tanpa menyelesaikan urusanku, itu alasan kenapa sikapku acuh dan begitu dingin terhadapmu, itu kenapa Rendy datang dan menghajarku habis-habisan."


"Selama hampir lima bulan, wajah Nala selalu menghantuiku. Wajahnya yang begitu ketakutan dan tangis menahan sakit memohon ampun padaku”. Ray semakin menangis dan tidak bisa lagi melanjutkan kata-katanya.


Adelia langsung memeluk suaminya itu dengan erat.


“Maafkan aku Del, sungguh maafkan aku..” ucap Ray tergugu


“Aku sangat tersiksa Del, aku sangat tersiksa karena harus menahan diriku sendiri untuk tidak peduli denganmu, aku sangat tersiksa melihatmu terluka karena sikapku. Aku berdosa Del, aku berdosa..” Ray perlahan menatap istrinya itu.


“Aku mengumpulkan keberanian untuk menemui Nala dan meminta maaf padanya.. aku memohon ampun pada Nala, dan setelah itu rasanya batu besar yang selama ini menindih dadaku hilang."


" Aku mencoba untuk memaafkan diriku sendiri agar aku bisa melanjutkan hidupku, dan aku berjanji pada diriku untuk selamanya akan mempelakukanmu dengan baik, aku akan terus berusaha..”


ucap Ray menatap Adelia lalu mengecup lembut kening istrinya itu.


Adelia dan Ray pun lalu berpelukan dalam tangis mereka.

__ADS_1


“Maafkan aku mas..” ucap Adelia


***


__ADS_2