Sebuah Cerita Tentang Kita Dan Rasa

Sebuah Cerita Tentang Kita Dan Rasa
#58


__ADS_3

Nala menghampiri Rendy kemudian memeluk erat sahabatnya itu. Ia menangis dan bersyukur karena Rendy tidak meninggalkannya.


 


“Jangan kenceng-kenceng peluknya.. tangan gua masih sakit..” rintih Rendy


Nala melepaskan pelukan dan memukul sahabatnya itu


“Awas aja kalo berani kabur..” ucap Nala tergugu


“Mana mungkin aku meninggalkanmu cintakuu..” ucap Rendy dengan wajah jailnya


Ray, Rendy dan nala tertawa dan berpelukan.


 


Tama? Jangan tanya bingung dan cemburunya dia saat ini melihat sang istri di peluk oleh dua orang lelaki.


Ia merasa pernah melihat kejadian itu sebelumnya. Namun ia tidak yakin.


 


“Kenapa Tam? Berasa dejavu yak?” goda Rendy tertawa


Tama mengerutkan keningnya


“Apa kalian pernah kaya gini didepanku?” tanya Tama bingung


 


Rendy mendekat pada Tama


“Dulu muka lu kaya kepiting rebus, persis nih kaya gini..” tawanya


Nala dan Ray pun ikut tertawa mengingat kejadian dulu ketika Tama pertama kali bertemu dengan Ray dan Rendy saat Nala sakit.


 


Benar ucapan Ray, kepolosan Tama saat ini akan jadi sasaran empuk kejailan Rendy


“Siap-siap ya Tam..” teriak Ray dengan tawanya


 


Tama hanya menoleh dengan wajah kebingungan yang membuat semuanya tertawa kembali.


 


***


Ari berjalan memasuki lobby hotel, pria berusia tiga puluh tujuh tahun itu berjalan tegap dengan wajah datarnya menatap pintu lift yang masih tertutup. Wajahnya yang tampan dan kulit sawo matang menampakkan aura manly membuatnya menjadi pusat perhatian beberapa wanita disana.


 


Ting…


Ari langsung masuk ke dalam lift. Ia menghubungi seseorang disana.


“Bawa dia ke tempat biasa..” ucapnya kemudian menutup telponnya


Ia keluar dari lift menuju kamar pak Dany dan bu Katy.


 


Tok.. Tok..


“Masuk..” ucap pak Dany dari dalam


Dengan langkah lebar ia pun masuk ke dalam kamar lalu menunduk hormat.


 


“Bagaimana?..” tanya pak Dany


 


“Dalam perjalanan ke tempat biasa pak..” ucapnya


Pak Dany berpikir sejenak


 


“Apa semua bukti sudah kuat?” tanya pak Dany

__ADS_1


“Sudah pak..” jawab Ari


“Buat dia tanda tangan perjanjian lalu serahkan ke polisi beserta semua bukti”. Ucap pak Dany


 


“Oya, urus pengunduran diri Tama..” lanjutnya mengejutkan Ari


“Pengunduran diri?” tanya Ari


Pak Dany menatap Ari dengan sendu


 


“Apa bapak sudah bicara dengan Tama?..” tatap Ari


Pak Dany menggelengkan kepalanya pelan


 


“Kita tidak tau sampai kapan Tama akan kehilangan ingatannya, selama itu, ia tidak mungkin pergi bekerja seperti biasa. Aku hanya tidak ingin anakku kesulitan..” tatap pak Dany


“Bukannya ia hanya kehilangan ingatan satu tahun ini? Mungkin ia tidak akan begitu kesulitan jika mengikuti alur pekerjaannya..” ucap Ari


“Yaa.. tapi, jika dia terlalu memaksakan diri itu akan berbahaya untuk memori jangka panjangnya, Ray mengatakannya semalam..” ucap pak Dany


Ari menatap pak Dany dengan tatapan datarnya. Ia tidak mengira jika kondisi Tama separah itu.


 


“Urus dulu kecoa itu, selanjutnya kita pikirkan nanti..” ucap pak Dany


Ari menunduk hormat kemudian berjalan kearah pintu


“Temuilah Tama, apa kau tidak mengkhawatirkannya?” ucap pak Dany menghentikan langkah Ari


Ari hanya menoleh dan menunduk lalu pergi dari sana


 


 


Ari terdiam didalam lift, banyak hal yang ia ingat dalam kepalanya. Semakin ia menjauh maka semakin lelah ia untuk merasa baik-baik saja.


 


 


 


“Kak Ari…” teriak seseorang


Ari menoleh ke asal suara


Vio berlari ke arahnya lalu memeluk pria itu dengan erat.


“Kakak kenapa ga pernah jawab telpon Vio? Vio kangen..” ucap Vio manja


Ari tersenyum mengusap kepala Vio


 


“Sayang..” bu Katy melentangkan tanganya


Ari menatap wanita cantik yang semakin menua itu lalu memeluknya.


“Apa kamu habis menemui papa?” tanya bu Katy


“Iya bu..” jawab Ari


Bu Katy mengusap wajah anak sulungnya itu dengan tatapan kerinduan.


 


“Kapan mami dan papa akan mendengar panggilan yang benar darimu nak?” tatap bu Katy


“Ada pekerjaan yang harus saya lakukan, saya pamit dulu..” Ucap Ari


Ia menunduk hormat lalu pergi. Bu Katy dan Vio hanya memandang kepergian Ari.


 


 

__ADS_1


Ari merupakan anak angkat orangtua Tama, mereka mengadopsi Ari saat usianya masih lima tahun. Saat itu, bu Katy sedang mengandung Tama. Ari ditinggalkan di depan panti asuhan tempat orangtua Tama sering berdonasi. Bu Katy dan Pak Dany langsung mengadopsinya ketika melihat anak kecil bermata coklat terang indah itu, hati mereka langsung terikat satu sama lain pada pertemuan pertamanya.


 


Masih lekat dalam ingatannya, beberapa tahun yang lalu saat dirinya dan Tama selalu menghabiskan waktu bersama.


Tama selalu bicara tentang impiannya yang ingin menjadi seorang arsitek. Tapi, Tama mulai melupakan itu saat Tama mulai diperkenalkan dengan dunia bisnis.


Tama belajar dengan sangat giat karena Tama selalu bilang ingin menjadi seperti kakaknya yang sangat pintar. Namun, saat masalahnya dan Tama muncul, Tama mulai malas belajar dan mengeluh tak ingin lagi belajar.


Tama kemudian kembali mengejar impiannya untuk menjadi seorang arsitek dan itu sangat membuat Ari merasa bersalah.


 


 


 


***


 


Didalam mobilnya,


Ari menatap foto dirinya bersama Tama dan kedua orangtua mereka pada saat Ari masih duduk dibanguku SMP.


Ari sangat bersyukur karena memiliki keluarga angkat yang sangat menyayanginya tanpa membedakan sama sekali. Namun, orang-orang mulai bergunjing dibelakang.


Orang-orang selalu menyakiti Ari dengan cemoohan jika Ari hanya anak angkat dan tak pantas mendapatkan harta orangtuanya saat ini. Mereka selalu membandingkan Ari dan Tama. Mereka selalu mempertanyakan siapa yang akan menjadi penerus perusahaan ayah mereka.


 


 


Tiga puluh menit kemudian,


Ari menghentikan mobilnya disebuah rumah lalu bergegas masuk. Disana sudah ada tujuh orang bertubuh besar yang mengelilingi tiga orang yang terduduk dan terikat tali.


 


Ari menatap ketiga orang itu dengan tatapan sinis. Salah seorang bodyguard meletakkan dokumen dan pena di atas meja.


“Tanda tangan ini, jika kalian melanggar perjanjian ini. Saya tidak akan segan-segan menghabisi kalian semua.” Ucap Ari yang membuat mereka ketakutan


Aldi dan dua orang lainnya bergantian membubuhkan tanda tangan mereka. Orang suruhan Ari menangkap mereka di tempat berbeda saat mereka akan melarikan diri ke kota lain.


Aldi dan dua orang temannya yang menabrak mobil Rendy langsung di bawa untuk diserahkan pada polisi.


 


 


***


Keesokan harinya,


 


Nala berjalan menuju pintu kamar untuk membeli beberapa makanan dan minuman di kantin. Ia dikejutkan dengan Ari yang berdiri tepat dibalik pintu.


“Ya Tuhan..” ucap Nala terkejut memegangi dadanya


Ari yang terdiam menatap pintu kamar pun ikut terkejut karena Nala membuka pintu dengan tiba-tiba


“Anda?..” Nala menatap Ari


Ari menunduk hormat pada Nala


“Mau bertemu mas Tama?” tanya Nala


Ari hanya terdiam menatap pintu dengan ragu. Nala kemudian membuka pintu dengan lebar


“Silahkan masuk..” senyum Nala


 


Dengan ragu, Ari melangkah masuk kedalam ruangan.


Tama yang melihat kedatangan Ari langsung berdiri dari duduknya. Ari terdiam kaku menatap Tama.


“Apa harus menunggu aku seperti ini dulu baru kakak akan menemuiku?” ucap Tama dengan mata berkaca-kaca


***

__ADS_1


__ADS_2