Sebuah Cerita Tentang Kita Dan Rasa

Sebuah Cerita Tentang Kita Dan Rasa
#50


__ADS_3

Nala berjalan menuju luar dan ingin melihat siapa yang datang. belum sampai ia kedepan pintu, Tama mengejutkannya karena masuk secara tiba-tiba


“Maass.. ih kaget aku..” Nala memegangi dadanya


Wajah Tama seketika pucat melihat Nala ada didepan pintu


“Siapa yang datang mas?..” tanya Nala


“Hemmhh.. itu ada orang antar barang..” ucap Tama gugup


“Hemh? Barang apa?” Nala heran karena ia tidak memesan barang apapun


 


Tama menggaruk tengkuknya yang tak gatal dan tersenyum canggung


 


“Sayang, aku ada sesuatu buat kamu..” ucap Tama kemudian


“Apa mas?” heran Nala


“Hemmh, maaf ya aku baru bisa kasih hadiah pernikahan hampir dua bulan kita menikah.. soalnya, lumayan lama dipesannya dan hari ini baru sampai..” senyum Tama


Nala menatap suaminya


“Masih ada hadiah pernikahan?” tanya Nala


Tama mengangguk antusias


“Ya ampun mas, aku aja ga kasih apapun ke kamu..” Nala merasa bersalah


Tama tersenyum memeluk istrinya


“Kamu hadiah yang paling berharga buatku..” ucap Tama


Nala melepaskan pelukan dan menatap Tama


“Udah jago banget gombalnya sekarang..” tatap nya tak percaya


Tama tertawa dan mencium kening Nala


“Yuk kita liat hadiahnya..” Tama menuntun tangan Nala dengan semangat


Nala mengikuti suaminya berjalan keluar rumah..


Sesampainya di luar pintu, Nala terkejut melihat kebawah..


Terdapat sebuah mobil SUV berwarna merah dengan pita besar dibagian depan mobil yang terparkir dihalaman rumah mereka.


“Mas.. itu mobil siapa?” tanya Nala pelan


“Mobil kamu sayang..” senyum Tama


Nala menoleh kearah Tama tak percaya


“Mas.. serius hadiahnya itu?” tatap Nala dengan wajah terkejutnya


Tama langsung terdiam menatap istrinya


“Kenapa sayang? Apa kamu ga suka?” tanya Tama pelan


Nala menggelengkan kepalanya menatap hadiah mobil itu


“Aah mas, ga deeh..” Nala mulai terisak


Tama terkejut melihat istrinya mulai menangis


“Sayang maafin aku, maaf kalo kamu ga suka.. nanti aku ganti yang lain ya? Kamu pilih yang kamu suka..” Tama berusaha menenangkan Nala yang menangis


Tama memeluk istrinya itu


“Ga mau diganti yang lain, aku sangat suka.. aku suka banget..” ucap Nala tergugu menatap Tama


Tama yang kebingungan hanya mengerutkan keningnya


“Mas jahat.. aku merasa sangat bersalah..” ucap Nala kemudian


“Mas selalu kasih semua yang terbaik buat aku, sedangkan aku ga pernah kasih apapun untuk kamu..” ucapnya lagi


“Makasih sayang.. makasih selalu buat aku bahagia..” Nala menghapus air matanya


Tama tak kuasa menahan harunya mendengar ungkapan hati istrinya itu. Ia bersyukur karena Nala selalu merasa bahagia bersamanya.


Tama memeluk erat Nala.


 

__ADS_1


Tama kemudian menuntun Nala untuk melihat-lihat mobil barunya.


Nala begitu antusias masuk kedalam mobilnya. Ia begitu sangat senang dan berulang kali menciumi suami gemasnya itu.


 


Sesaat kemudian, Nala tersadar akan sesuatu dan menatap tajam Tama


“Kok jadi horor?” ucap Tama


“Mas, kok kamu punya banyak uang? Emang gaji kamu cukup buat beli semua ini? Kamu beli tanah didaerah strategis trus bangun rumah dan sekarang beli mobil mewah ini buat aku?” tatap Nala menyelidik


Tama yang ditatap seperti itu tak bisa menahan tawanya.


“iih malah ketawa.. mas, ini uang halal kan?” tanya Nala lagi


Tama makin dibuat ketawa terbahak oleh ucapan istrinya itu. Air matanya bahkan membasahi sudut mata.


“Maaf sayang, tapi kamu lucu banget..” Tama berusaha menahan ketawanya sambil memeluk Nala


“iihh jangan peluk-peluk.. jawab dulu mas..” cemberut Nala


“Ya mana mungkin aku menafkahimu dengan uang ga halal sayang..” ucap Tama


“Lalu?..” tatap Nala


“Aku punya saham diperusahaan papa.. sejak dulu aku juga senang menabung..” ungkap Tama


Nala mengerutkan keningnya


“Emang boleh kamu punya saham?” tanya Nala


“Boleh, asalkan bukan saham milik negara dan tidak berhubungan dengan pekerjaanku..” jelas Tama


Nala terdiam menatap Tama tak percaya


“Ih liatinnya begitu banget.. nih, sini aku kasih liat..” Tama membuka ponselnya


Ia memperlihatkan beberapa ketentuan etika kerja dalam melakukan bisnis diluar pekerjaanya. Ia menjelaskan secara detail kepada Nala dan juga memperlihatkan berapa banyak saham dan keuntungan yang dihasilkan.


Nala terkejut hingga menutup mulutnya.


“Jadi, suami aku itu termasuk sugar daddy dong?” Nala memelototkan matanya


Tama mengerutkan kening


Nala tertawa terbahak melihat ekspresi Tama yang sedang menyombongkan diri.


“Hahaha… betapa beruntungnya aku memiliki suami si tampan muda nan kaya ini..” tawa Nala


“Nanti aku bikin novel deh judulnya.. Bukan sugar daddy..” ucap Nala sambil terus tertawa


Tama yang gemas pun mengacak-acak rambut istrinya itu.


 


***


Diakhir pekan,


Nala bersama keluarganya sedang bersiap diri akan berangkat ke Jakarta. Nala mengecek semua barang-barang yang ia bawa.


“Sayang, oleh-oleh buat Adel dimana ya?” tanya Nala kepada Tama


Tama menoleh dan ikut mengecek


“Oya, aku lupa tadi simpan di dapur..” Tama segera bergegas masuk kedalam rumah


“Sudah siap nak?” tanya ayah yang menggendong Suly.


“Sudah Yah..” senyum Nala


Nala dan Tama akan satu mobil dengan ayah sedangkan kak Dimas dan keluarga kecilnya menggunakan mobil sendiri.


“Widdiiihh ganteng banget nih mobil baru..” kak Dimas celingukan melihat interior mobil Nala


“Kita test drive ke Jakarta kak..” tawa Tama dari belakang


“Ga berminat tuker sama mobil kakak Nal?” goda Dimas


“Enak aja..” cemberut Nala menjitak kakaknya


 


Setelah semua siap, mereka pun berangkat menuju Jakarta.


 

__ADS_1


Selama perjalanan, Nala asik menonton drama korea. Ia bahkan sesekali menghiraukan pertanyaan Tama.


“iihh mas, aku lagi nonton..” protes Nala dikursi belakang sambil menselonjorkan kakinya


Ayah dan Tama yang ada didepan menengok sekilas pada Nala


“Hemmh.. pantesan..” ucap ayah


Tama tertawa menoleh kearah ayah.


 


Ueekkkk…


Tiba-tiba Nala merasa mual dan ingin muntah


Tama langsung meminggirkan mobilnya mendengar istrinya itu


“Sayang, kenapa?” Tama menoleh kearah Nala


“Aduuhh muaall..” jawab Nala sambil memegang uluh hatinya


 


Tama mengambil kotak P3K dan memberikan Nala minyak angin.


“Kamu dari tadi nonton mungkin nak jadi pusing..” ucap ayah


Nala mengangguk sambil mengoleskan minyak angin ditubuhnya


 


Setelah membaik, Tama kembali melajukan mobilnya.


Nala kemudian memutuskan untuk tidur agar rasa mulanya hilang.


 


Pukul 15.30 WIB,


Keluarga Nala tiba di restoran tempat acara syukuran kehamilan Adelia. Dimas dan keluarga kecilnya sudah sampai terlebih dulu dan sudah berada di dalam.


Nala yang masih merasa pusing, duduk sejenak sambil minum air putih dingin dimobil


“Mau masuk sekarang sayang?” Tama mengelus punggung Nala


Nala mengangguk dan mengambil oleh-oleh yang ia bawa untuk Adelia


Mereka berjalan perlahan masuk kedalam restoran.


 


Adelia dan Ray tampak bahagia dengan kedatangan keluarga Nala.


Mereka saling berpelukan melepas rindu


“Aduuhh anakku makin cantik saja..” bu Rani langsung memeluk Nala


Orangtua Adelia datang dari Padang sejak dua hari yang lalu.


“Ibu dan ayah sehat-sehat kan?” senyum Nala mengembang


“Tentu saja nak, ayah dan ibu minta maaf karena tidak bisa hadir di pernikahan kalian ya?” ucap ayah Adelia pada Nala dan Tama


“Tidak apa Yah, mohon doanya untuk kami..” senyum Tama


Mereka mengobrol dengan bahagia.


Acara syukuran itu merupakan makan bersama keluarga sekaligus pengumuman jenis kelamin bayi yang Adelia kandung.


Semua keluarga sangat antusias dengan saling menebak jenis kelamin si jabang bayi. Sebagian suara menjagokan bayi laki-laki yang Adelia kandung.


Adelia dan Ray bersemangat akan memecahkan balon yang akan memberitahu jenis kelamin anak mereka itu.


Semua keluarga sudah mulai menghitung mundur


Lima.. Empat.. Tigaa…


 


“TUNGGUUU!!!...” teriak seseorang dari arah pintu


 


Seketika semua orang menoleh ke asal suara


***

__ADS_1


__ADS_2